
6 bulan kemudian.
Kini perut Rena sudah membesar, dia sekarang lebih banyak beristirahat karena tinggal menunggu hari persalinannya.
"Sayang, Mas berangkat ke kantor dulu ya?" ucap Devan sembari mencium kening dan mengelus perut istrinya yang membesar.
"Hati-hati, Mas! gak ada yang lupa kan?" ucap Rena biasanya Devan selalu lupa ada barang yang ketinggalan di ruang kerja, padahal penting.
"Kelihatannya gak, sayang," ucap Devan kemudian pergi ke kantor.
Rena di rumah bersama Ayu, dia membantu Ayu memasak tetapi Ayu melarang.
"Non, istirahat saja! jangan capek-capek," kata Ayu.
"Aku ingin masak, Mbak! buat makan siang Mas Devan," ucap Rena.
"Non Rena, sedang hamil tua, jangan dipaksakan," ucap Ayu lagi.
Rena tidak mau mendengar ucapan Ayu, dia terus memasak walaupun sudah dilarang. Siang hari Rena mengatakan ingin pergi ke kantor Devan, dia hendak mengirimkan makan siang untuk suaminya.
Rena pergi ke kantor Devan dengan memesan taksi online, karena tidak memungkinkan untuk membawa mobil sendiri.
Saat berada diperjalanan Rena merasakan perutnya sakit, dia meminta sopir taksi mengantarkannya ke rumah sakit saja.
"Pak, tolong cepat sedikit! sakit!" teriak Rena.
"Sabar ya, Mbak! jangan melahirkan dulu," ucap Sopir taksi.
Jalan yang mereka lalui terhalang kemacetan, sopir taksi sudah membunyikan klakson agar kendaraan di depannya memberikan jalan.
"Pak, gak ada jalan lain ya? saya sudah tidak kuat," kata Rena memegangi perutnya. Karena merasakan sakit yang teramat sangat, Rena tidak sempat dan tidak kepikiran memberi kabar suaminya.
Setelah lima menit mereka bisa lolos dari kemacetan, dengan kecepatan tinggi sopir taksi itu melajukan kendaraannya.
Tiba di rumah sakit dia berteriak meminta tolong pada perawat yang kebetulan ada di depan UGD. Setelah Rena mendapatkan pertolongan, sopir taksi itu pergi.
Keadaan Rena saat ini sudah lemas, banyak darah yang keluar juga. Untung saja sopir taksi itu tidak terlambat, kalau itu terjadi nyawa Rena dalam bahaya.
"Dok, ada pasien gawat! harus segera ditangani," ucap salah satu suster.
Dokter Alex langsung membawa Rena ke ruang rawat, dia langsung memeriksa keadaan Rena.
"Siapkan ruang operasi, Sus!" ucap Dokter Alex lalu menghubungi Devan untuk memberitahu keadaan istrinya.
__ADS_1
Devan yang kebetulan sedang meeting langsung meninggalkan meeting itu, dia bergegas pergi ke rumah sakit.
"Gimana keadaan Rena, Lex?" tanya Devan.
"Berdoalah semoga masih bisa diselamatkan! kemungkinan dia akan koma, walaupun bisa diselamatkan" jelas Dokter Alex.
"Jangan bercanda kamu!" bentak Devan.
"Cepat tanda tangani surat persetujuan ini! tidak ada waktu lagi untuk bercanda!" Dokter Alex membentak balik Devan.
Devan kemudian menandatangani surat itu, lalu meminta Dokter Alex menyelamatkan Rena. "Lex, gue serahin ke lu! tolong lakukan yang terbaik buat istri gue," ucapnya.
"Pasti!" ucap Dokter Alex kemudian masuk ke dalam ruang operasi.
Setelah lima belas menit, Dokter Alex keluar dari ruan operasi dan menyuruh Devan mencarikan donor darah untuk istrinya.
Devan menghubungi Devia dan Melia, mereka tidak ada yang menjawab telepon Devan. Kemudian Devan memberitahu Andra dan Mamah Nadia.
"Gimana keadaan Rena dan anak gue, Lex?" tanya Devan dengan wajah paniknya.
"Rena melahirkan bayi laki-laki, anak lu sehat! bentar lagi bisa kamu lihat di ruang sebelah, tetapi Rena kehilangan banyak darah! seperti apa yang gue bilang tadi, dia koma," ucap Dokter Alex.
Devan seperti tersambar petir, dia langsung meneteskan air matanya. "Lex, selamatkan istri gue!" teriaknya sambil menangis.
"Kak Devan, kok nangis! bukannya senang anaknya lahir," ucap Devia sembari memegang pundak kakaknya.
"Rena... " ucapnya lirih.
Dokter Alex yang menjelaskan, karena Devan tidak mampu untuk berucap sepatah katapun. Mamah Nadia dan Devia kaget, mendengarkan penjelasan Dokter Alex.
"Ambil semua darah ku! asal kak Rena sembuh," ucap Devia sambil menangis.
Dokter Alex kemudian mengajak Devia masuk ke ruangan Rena dirawat, keadaan Rena yang tak sadarkan diri membuat Devia sedih.
"Dokter, boleh aku bicara sama kak Rena?" tanya Devia.
"Silahkan! tapi jangan lama-lama, Rena butuh darah mu," ucap Dokter Alex.
Devia kemudian menuju ke ranjang dimana Rena terbaring, dia menggenggam tangan Rena yang dingin. "Kak, cepat sadar ya! Devia akan berikan darah ini untuk kakak, bayi kakak nangis tuh! cepat bangun ya," ucap Devia membuat mata Rena mengeluarkan air mata.
Dokter Alex memanggil Devia, lalu menyuruh Devia berbaring di ranjang. Proses transfusi akan segera dilakukan.
"Van, jangan nangis lagi! Mamah tau kamu sedih, lihat bayi mu itu, lucu kan," ucap Mamah Nadia menghibur Devan.
__ADS_1
"Mah, Devan gak bisa hidup tanpa Rena," ucap Devan.
"Permisi Pak, tadi ini barang-barang milik Bu Rena," ucap suster memberikan tas dan kotak makanan milik Rena.
"Makasih, Sus," ucap Devan singkat.
Devan kemudian membuka kotak milik Rena, ternyata makanan. Dia langsung memakan makanan itu, walaupun sudah agak basi.
"Van, itu sudah basi! jangan dimakan," ucap Mamah Nadia.
"Ini pasti Rena masak sendiri, Mah! makanan ini buat Devan," ucap Devan.
Mamah Nadia sangat sedih dan perihatin dengan keadaan anaknya.
Dokter akhirnya memperbolehkan untuk menjenguk bayi Rena, bayi laki-laki yang begitu lucu dan tampan mirip sekali dengan Devan waktu kecil.
Devan tidak tau harus bahagia atau sedih, dengan keadaan ini. Dia tidak sanggup rasanya menjalani kehidupan tanpa istrinya, ia merasa kasihan dengan bayinya juga yang belum merasakan sentuhan seorang Ibu.
"Rena pasti akan bahagia, kalau melihat anaknya selucu ini," kata Mamah Nadia.
"Iya, Mah! dia sangat menantikan kelahiran bayi kita," ucap Devan.
Tak lama kemudian Andra dan Melia baru datang ke rumah sakit, mereka berdua berlarian ingin cepat melihat keadaan Rena dan bayinya.
"Van, mana keponakan gue! lihat dong," ucap Andra.
Devan menunjukkan dimana bayinya, yang hanya bisa dilihat dari balik kaca. Andra turut prihatin dengan keadaan sahabatnya ini, dia juga tidak menyangka kalau akan menjadi seperti ini.
"Rena mana? gue mau ketemu," ucap Melia.
Devan hanya diam, wajahnya terlihat begitu sedih tidak mampu untuk menjelaskan pada Melia bagaimana sebenarnya keadaan istrinya.
Kemudian Mamah Nadia yang mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Rena, Melia langsung menangis. Dua kali sahabatnya membutuhkannya tetapi tidak bisa membantu, dia sangat menyesal dan begitu terpukul.
"Rena!" teriak Melia sambi menangis.
"Tenang, Mel," ucap Mamah Nadia memeluk Melia.
Dokter Alex baru keluar dari ruangan Rena, dia mengatakan kalau sudah selesai transfusi darahnya. Tetapi dia masih memantau perkembangan keadaan Rena lagi, Devia juga sudah dibawa ke ruang rawat untuk beristirahat.
Setelah diperiksa ternyata Rena masih membutuhkan darah lagi. Devia sudah tidak bisa menjadi pendonor lagi, karena masih lemas.
"Biar aku saja," sahut Melia lalu meminta izin pada Devan dan Mamah Nadia. Entah diperbolehkan atau tidak, tetapi Melia sudah menawarkan diri.
__ADS_1