
Rena tidak langsung pulang ke rumah, tiba-tiba dia teringat dengan Melia. Sudah dari kemarin dia belum menjenguk Melia lagi.
"Rena, terimakasih kamu sudah datang," kata Melia memeluk Rena.
"Maaf ya, baru sempat kesini lagi," ucap Rena tersenyum.
"Aku udah baikan kok, tenang saja! kamu mau minum apa?" tanya Melia.
"Air putih aja, Mel," kata Rena.
Rena dan Melia sekarang sedang bercanda dan bercerita, mereka sampai tidak sadar ada seseorang yang mengintai mereka dari balik tirai jendela.
Terdengar suara pecahan pot bunga dari dalam rumah, mereka baru keluar dan memastikan apa yang terjadi.
"Pecah! siapa yang tidak sengaja menyentuhnya," ucap Melia melihat sekeliling rumah.
"Mungkin ada kucing lewat, Mel," kata Rena membantu Melia membersihkan tanah yang tumpah dan pecahan pot.
"Biarin aja, Ren! entar gue panggil tukang buat bersihin," ucap Melia.
"Kalau kita bisa sendiri, tidak perlu menyuruh orang. Jadi kita harus belajar mandiri, tidak selamanya orang lain ada untuk kita," ucap Rena tersenyum.
"Mulai ceramah deh! eh... tapi dah lama lho gak dengar kamu ceramah," ucap Melia.
"Aku hanya mengingatkan! contohnya kita sendiri, saat kamu sakit aku gak bisa selalu ada buat kamu," ucap Rena.
Melia terharu mendengar ucapan Rena, dia kemudian memeluk Rena. Memang benar apa yang dikatakan oleh Rena, kalau dirinya harus belajar mandiri tidak terlalu berharap banyak kepada orang.
Rena kemudian mengajak Melia memasak, dia tau kalau Melia belum makan.
"Rena, banyak sekali kamu masaknya? buat siapa itu?" tanya Melia.
"Buat kamu, Mel! biar makan banyak," kata Rena.
Rena menyiapkan semua masakannya di meja makan, dia juga membersihkan rumah Melia yang perabotannya tampak sudah berdebu.
Melia sampai malu melihat Rena membersihkan rumahnya, dia meminta Rena untuk beristirahat. "Pantas saja Devan begitu mencintai Rena, dia sangat pengertian sama semua orang. Maafkan aku, Rena," ucap Melia dalam hati.
Rena kemudian berpamitan pulang karena semuanya sudah selesai, ia takut suaminya sudah pulang karena waktu sudah hampir sore.
__ADS_1
Baru saja melangkahkan kaki keluar dari dalam rumah, Rena melihat mobil suaminya menuju ke rumah Melia. Rena kaget karena tidak memberitahu Devan, kalau dia sedang berada di rumah Melia.
Ternyata yang membawa mobil Devan adalah Andra, ia keluar dari dalam mobil sembari menenteng tas plastik yang berisi makanan.
"Andra!" kaget Rena. Ngapain kamu di sini?" Lanjutnya.
"Gue bawa ini buat Melia," ucapnya menunjukkan tas plastik yang dia bawa.
"Kamu kenal Melia juga? sejak kapan, kok gak bilang-bilang," ucap Rena.
"Jangan keras-keras, nanti Melia dengar! jadinya kan gak surprise," kata Andra dengan pelan.
Rena tetap bersikukuh meminta penjelasan pada Andra, sejak kapan mereka mengenal. Karena Melia tidak pernah bercerita soal Andra, begitu juga dengan Andra.
"Udah lu, pulang sana! entar keburu pulang Devan, gue jelasin kapan-kapan," kata Andra.
Rena kemudian bergegas pulang ke rumah Mamah Nadia, sebelum Devan pulang ia harus lebih dulu sampai di rumah.
"Untung saja Mas Devan belum pulang," ucap Rena setelah sampai di rumah Mamah Nadia. Ia kemudian membersihkan tubuhnya lalu menunggu kedatangan suaminya sembari berbincang-bincang dengan Minah, mereka saling bertukar cerita tentang rumah Minah di kampung.
"Non, kalau Minah mudik ikut yuk! kita keliling kampung," kata Minah.
"Sekalian diajak aja, Non! sambil bulan madu gitu, entar sewa kamar Minah boleh. Ranjang Minah terbuat dari kayu dan bambu, enak buat tidur," ucap Minah.
"Jangan percaya sama Minah, ngibul dia kak! mana ada empuk," sahut Devia yang baru saja bangun dari tidur.
"Ini lagi anak gadis baru bangun tidur," ucap Minah. Kalau di desa Minah tidak diperbolehkan tidur diwaktu sore hari, menurut warga desa tidak baik atau mereka menyebutnya pamali.
"Dev, kita jajan di depan gang yuk! beli siomay," kata Rena.
Devia tidak mau karena belum mandi, akhirnya Rena mengajak Minah sekalian jalan-jalan di sore hari. Rena juga membeli untuk dia bungkus. n
Minah sangat senang, selain dibelikan siomay dia juga mendapat bonus berkenalan dengan satpam komplek, dia sangat senang karena langsung diberi nomer ponselnya.
"Ternyata gak sia-sia diajak beli siomay sama kamu, Non," ucap Minah.
"Kamu genit juga ya, Minah," kata Rena.
Mereka berdua lalu menepi dipinggir jalan, setelah mendengar suara klakson mobil Devan. Rena ingin sekali marah pada suaminya, karena membuat mereka berdua kaget terutama Minah.
__ADS_1
"Turun!" teriak Minah.
"Jangan marah-marah, entar cepat tua," ucap Andra sembari membuka kaca mobil.
Devan menyuruh Rena dan Minah masuk ke dalam mobil tetapi mereka menolak, karena ingin jalan kaki.
"Kita mau jalan aja, Mas," ucap Rena.
"Entar lama sampai rumah," kata Devan.
Karena mereka berdua tidak mau akhirnya Devan dan Andra pulang lebih dulu, sampai di rumah mereka makan siomay bersama-sama.
"Rena, malam ini temani Mamah ya! ke pesta ulang tahun teman Mamah," ucap Nadia.
"Gak ada pesta! Mamah, kenapa pesta terus? bisa gak sehari di rumah," ucap Devan.
"Iya, Mah! Devia dari dulu juga sama pengasuh terus," timpal Devia sembari mengerucutkan bibir.
"Kalian kompak amat? Di pesta kita juga cuma makan-makan, kenapa kalian protes," ucap Nadia.
Devan dan Devia menjelaskan pada Nadia, kalau mereka seperti kurang kasih sayang karena Mamahnya sibuk dengan kegiatan yang menurut mereka tidak jelas. Sedangkan Papah mereka juga sibuk mencari uang, dari kecil mereka berdua ikut dengan asisten rumah tangga. Terutama Devia yang paling menyedihkan.
"Mamah minta maaf! karena kegiatan Mamah kalian menjadi kurang kasih sayang, apa uang kalian sudah habis?" tanya Nadia.
"Mamah!" teriak Devia kesal.
"Dari dulu juga gitu, Mah! tiap salah minta maaf, besok juga diulang lagi," ucap Devan kesal dengan Mamahnya.
Devan mengajak Rena ke kamar, dia mengajak istrinya pindah rumah lagi, karena tidak suka dengan kelakuan Mamahnya yang selalu mengajak ke pesta Rena.
"Mas, jangan mudah marah! selama ini kita tidak tau apa yang Mamah lakukan, kalau kegiatannya menguntungkan," ucap Rena.
"Iya, Sayang! tetapi masalahnya jarang di rumah, kalau kegiatannya memang baik," kata Devan.
Rena menyuruh Devan untuk mandi, karena tubuh suaminya sudah bau keringat. Kemudian dia hendak membuatkan minuman dan membantu Minah untuk menyiapkan makan malam.
Terdengar suara orang melemparkan kerikil ke jendela, Devan dan Rena keluar rumah untuk mengecek tetapi tidak ada orang sama sekali.
"Kejadian yang sama, dengan di rumah Melia tadi," ucap Rena.
__ADS_1
"Mas akan cari tau," ucap Devan. Kamu jangan takut," Lanjutnya.