Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 44


__ADS_3

Andra lalu mengambilkan minum untuk Melia, dia sangat khawatir dengan Melia. "Untung lu masih bisa gue selametin! kalau tidak kasus ini," ucapnya.


"Gue keselek karena udang itu," ucap Melia menyesal makan bareng Andra yang ujung-ujungnya hampir saja kehilangan nyawanya.


Melia tidak mau melanjutkan makannya, membuat Andra kesal dan marah-marah. Dia juga tidak mau membantu Melia kalau makanannya tidak habis.


"Nyesel gue! ajak lu jauh-jauh kesini gak mau makan," kata Andra.


"Iya, gue makan! ini lihat," ucap Melia terpaksa menuruti permintaan Andra.


Saat ini orang yang paling mengerti dan selalu ada untuk dirinya adalah Andra, jadi Melia harus menghargai apa yang menjadi keputusan Andra.


"Gue gak suka sama orang yang boros, gak menghargai makanan atau suatu hal yang paling kecil," ucap Andra.


"Namanya juga makan, pasti milih yang enak, banyak biar kenyang," kata Melia.


"Itu namanya berlebihan! maruk," kata Andra.


"Susah ya, jelasin ke orang pelit," ucap Melia.


"Apa lu, bilang," ucap Andra.


Melia berlari meninggalkan Andra sembari meledeknya, lalu Andra mengejar dan melempar Melia dengan pasir pantai.


"Cukup, Ndra! jangan kejar gue lagi, capek gue," ucap Melia.


Tanpa aba-aba Andra menggendong Melia lalu melemparkan ke air laut, membuat mereka berdua tertawa.


"Pulang, yuk!" ajak Melia.


Mereka kemudian pulang ke rumah Melia lebih dulu, baru Andra pulang ke apartemen Devan yang dia tempati selama ini.


Pagi hari kebetulan Devan pergi kantor, Andra lalu membicarakan soal masalah Melia. Dia hendak membantu Melia mendapatkan rumah dari Devan, karena kalau tidak Melia tidak tau akan tinggal dimana.


Devan memutuskan kalau rumah itu hanya dipinjamkan untuk Melia, karena kalau diberikan suatu hari nanti Rena pasti akan mengetahui. Jadi Devan tidak mau mengambil resiko yang membahayakan pernikahannya dengan Rena.


"Van, rumah lu dah banyak! kasih aja buat Melia," ujar Andra.


"Rena belum tau semua soal pernikahan gue sama Melia, jadi gak ada alasan buat gue kasih rumah," kata Devan.


Devan tidak ingin memberikan apapun pada Melia, tanpa ada keputusan dari Rena. Karena ia menganggap semua harta yang dia miliki adalah milik Rena juga.


"Dia menyerahkan semua fasilitas dari bokap nya, semua demi bisa cerai sama lu," kata Andra.

__ADS_1


"Serius!" ucap Devan kaget.


Sebenarnya Devan sangat bahagia mendengar kabar ini, karena ini yang dia mau. Bisa cerai dari Melia adalah kebahagiaan tersendiri, dia bisa terlepas dari beban membohongi istrinya. Walaupun suatu saat pasti Rena harus dan pasti mengetahui semuanya, jadi Devan mempersiapkan diri dari sekarang. Dia tinggal mengatur waktu kapan Rena harus tau semua, tentang pernikahannya dengan Melia.


"Lu, gak percaya! Melia itu cerita apa-apa ke gue, dia gak mau membuat Rena menderita juga," ucap Andra.


"Tapi lu, gak ada perasaan kan ma dia?" tanya Devan.


"Ngawur lu! gue anggap Melia seperti saudara sendiri, kalau dia baik gue juga harus lebih baik," ujar Andra.


"Baguslah! gue lega kalau lu gak suka ma dia," ucap Devan.


Andra kemudian berpamitan untuk pulang lebih dulu, karena ada janji dengan Melia. Mengantarkan Melia ke cafe milik temannya, Melia hendak berkerja di sana.


Devan juga pulang ke rumah, dia menyerahkan urusan pekerjaan pada Tasya dulu. Dia hendak menemani Rena, jadi Devan berkerja dari rumah lagi.


***


"Minah, aku ingin makan nasi goreng tapi buatan Mas Devan," kata Rena yang dari pagi belum sarapan.


"Aduh Non! tunggu Den Devan datang ya, sekarang Non makan yang ada dulu," ucap Minah.


Rena tetap tidak mau makan, dia bersikukuh ingin makan masakan suaminya. Padahal Minah sudah menyiapkan berbagai makanan di meja makan.


Devan menolak permintaan Minah, dia tidak memasak apalagi harus menggoreng nasi.


"Den, ini yang meminta Non Rena! dari pagi belum makan," kata Minah.


Devan kemudian menuju ke ruang makan, dia menemui istrinya yang saat ini duduk sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.


"Sayang, ayo makan dulu! kasihan anak kita, dia juga butuh nutrisi," ucap Devan dengan lembut.


"Rena maunya makan nasi goreng buatan Mas," ucap Rena.


"Mas gak bisa masak, sayang! makan yang ada saja ya," ucap Devan


Rena tetap tidak mau makan, hingga akhirnya bisa meluluhkan suaminya. Devan akhirnya memasak nasi goreng untuk Rena.


"Minah, yang dimasukan apanya dulu?" tanya Devan yang tidak pernah memasak.


Rena tersenyum melihat suaminya bingung dalam memasak, sebenarnya dia hanya mengerjai suaminya itu.


Setelah selesai Devan memberikan sepiring nasi untuk Rena, dengan lahap Rena menghabiskan nasi goreng buatan suaminya itu.

__ADS_1


"Sayang, rasanya bagaimana? enak tidak?" tanya Devan.


"Enak, Mas! apa Rena boleh nambah," ucap Rena.


"Sayang, kamu sudah makan banyak sekali! nanti lagi ya," ucap Rena.


Padahal nasi goreng buatan Devan rasanya sangat asin, tetapi Rena hanya berpura-pura ingin menambah lagi. Dia kemudian mengambil satu piring nasi goreng lagi, ia menyuruh Devan untuk memakan nasi buatannya sendiri.


"Sayang, kenapa bilang enak? ini asin sekali! kasihan anak ku makan banyak garam," ucap Devan.


"Bagi Rena enak kok, Mas," ucap Rena menahan tawa.


Minah yang menyaksikan keduanya juga ikut tertawa, dia sebenarnya sudah tau kalau asin. Dia mengambil nasi yang tidak jadi dimakan oleh Devan, Minah ingin memberikan nasi goreng itu untuk Devia.


"Jangan Minah, nanti Mamah marah," kata Devan yang sebenarnya malu karena tidak bisa memasak nasi goreng dengan enak.


"Gak papa, Den! biar tau rasa asin itu lidah Devia," kata Minah.


Devan kemudian mendekati Rena, dia mengelus perut Rena yang masih datar. "Sayang, maafkan Papah ya? sudah membuatmu makan garam," ucap Devan.


"Devan, ada orang dari kantor didepan," ucap Mamah Nadia, yang kebetulan dari pergi.


"Iya, Mah," ucap Devan.


Sudah tiga orang dari kantor yang mengantarkan berkas untuk Devan, sampai Minah marah-marah karena dari ketiga orang hanya Devan yang dia cari.


"Minah!" teriak Nadia.


"Iya, Nyah! ada apa lagi? makan tinggal makan," ucap Minah keceplosan.


"Ini makanan apa? kenapa rasanya garam," kata Nadia.


"Harga garam naik! jangan boros, Minah," kata Mamah Nadia.


"Itu yang masak Den Devan! perhitungan amat sih, Nyah," kata Minah.


"Kamu bantah aja dibilangin," kata Mamah Nadia.


Tak lama kemudian ada suara orang mengetuk pintu, Minah segera membuka pintu. Kali ini orang yang datang ingin bertemu dengan Devan langsung, tetapi yang menemui adalah Nadia.


Sebuah surat panggilan dari pengadilan, proses perceraian Devan dengan Melia. Nadia langsung menyimpan surat itu, dia hendak memberikan pada Devan tanpa sepengetahuan Rena.


"Mah, surat buat Mas Devan ya," ucap Rena.

__ADS_1


"Kami dari pengadilan...


__ADS_2