
Semua keluarga sekarang berkumpul di ruang makan, mereka hendak makan malam bersama. Rena dan Devan datang paling terlambat, membuat Devia dan Nadia tersenyum melihatnya.
"Devan, ternyata kamu sudah pulang ya," Ucap Nadia yang duduk disebelah Devia.
"Kebetulan tadi di kantor tidak ada kerjaan, Mah! jadi bisa pulang cepat," Kata Devan menarik kursi untuk Rena.
Nadia berganti menatap Rena, sambil senyum-senyum. "Rena, kalau kamu masih capek istirahat di kamar aja, biar Minah antar makanan," ucap Nadia.
"Mamah, coba Devia yang di kamar! jebol tuh pintu," ucap Devia mengerucutkan bibirnya.
"Rena kan butuh istirahat, Devia! biar cucu Mamah cepat jadi," kata Nadia dengan rasa bahagianya.
Rena langsung melotot ke arah Suaminya, dia terkejut mendengarkan ucapan mertuanya.
"Mah, makan dulu! jangan bahas yang aneh-aneh," kata Devan sadar kalau istrinya malu.
"Devia, kata Minah kamu nyariin aku! ada apa?" tanya Rena.
"Gak jadi Kak," ucap Devia tersenyum ke arah Rena.
Andra datang mengejutkan mereka, dia langsung ikut makan bersama. Dia pulang malam karena tadi di kantor, menyuruh karyawannya untuk lembur. Semua gara-gara Devan yang tidak kembali ke kantor, jadi pekerjaannya bertambah banyak.
"Rena, kasih tau suami lu biar gak seenaknya ninggalin kerjaan! mentang-mentang yang punya gitu," ucap Andra saat selesai makan dan sekarang mereka berada di ruang keluarga.
Rena langsung melihat suaminya, yang nampak tersenyum penuh kemenangan. "Mas, kenapa gak tanggung jawab," ucapnya.
"Sayang, jangan dengarkan Andra! Mas tanggung jawab kok," ucap Devan membela diri agar Rena tidak marah.
"Jangan percaya, Rena! buktinya aku pulang malam," ucap Andra.
Karena sudah mengantuk Rena meninggalkan mereka berdua. Tak lama kemudian Devan masuk ke kamar juga, sedangkan Andra pamit pulang tadi dia datang hanya mampir makan.
***
Melia malam ini berada di jalan, dia jalan kaki sambil menangis. Rasa sakit dan kecewa pada orang tua angkatnya, sungguh sangat menyiksanya. Seandainya dia tidak melakukan kesalahan menikah dengan Devan, mungkin rasa bersalahnya berkurang.
Di atas jembatan dia berteriak, seakan seperti orang gila. Walaupun di jalan, banyak kendaraan berlalu lalang dia tidak peduli lagi.
__ADS_1
Kini dia merasa menjadi orang paling jahat, yang sudah tega menusuk sahabatnya dari belakang. Bahkan disaat senang maupun sedih Rena selalu ada untuknya, bahkan dia orang yang pertama kali membelanya ketika ada yang menyudutkannya.
"Rena! gue jahat sama lu, suamimu sudah aku ambil!" teriaknya dengan kencang.
"Gila ya itu orang! teriak-teriak," ucap orang yang lewat melalui Melia.
Melia tidak menghiraukan ucapan orang, dia justru memanjat besi jembatan itu. Dia merasa lebih baik mati, dari pada hidup menyakiti sahabat sendiri.
Banyak orang yang melihat Melia, mereka ada yang mau menolong ada juga yang mencibir. Mereka semua sampai memadati jalan.
"Ada apa sih, orang pada bikin macet jalan aja!" gerutu Andra.
Kemudian dia turun dari mobil dan bertanya pada orang, mereka mengatakan kalau ada orang yang mau bunuh diri. Andra kemudian mendekat ke arah jembatan, ternyata Melia sambil teriak.
"Woy! buruan lompat, dasar hidup nyusahin orang!" teriak Andra dengan lantang.
"Lu, ngapain di sini!" teriak Melia.
"Gue mau lewat! tapi lu bikin macet aja!" protes Andra.
Melia kemudian turun dari besi yang dia panjat, karena alas kaki yang dia pakai sehingga membuatnya hampir terjatuh. Untung saja Andra dengan sigap menangkap Melia, sehingga membuat mereka jatuh berdua dan saling menindih.
"Gue kira jatuh ke kasur," kata Andra lalu bangkit dari atas tubuh Melia.
"Gara-gara lu, gue udah gak suci lagi! suamiku saja belum pernah nyentuh," kata Devia membuat Andra tertawa
"Emang lu, dianggap!" ketus Andra.
Melia terdiam, dia mengingat perlakuan Devan jangankan menyentuh melihat saja dia tidak peduli. Dia kembali menjadi sedih lagi.
Orang-orang yang melihat mereka menyuruh untuk minggir, karena mengganggu lalu lintas. Andra mengajak Melia masuk ke dalam mobilnya, dia mengajaknya ke rumahnya.
"Ini rumah, lu? kok gue ragu," kata Melia.
"Terserah lu aja! mau rumah gue atau bukan," kata Andra dengan ketus.
"Gak usah marah, cepat tua entar," kata Melia. Walaupun dari tadi mereka berdua hanya berdebat, tetapi kedatangan Andra mampu membuat Melia gagal melompat jembatan.
__ADS_1
"Lu, ada masalah apa sampai mau bunuh diri?" tanya Andra penasaran.
"Gue merasa gagal menjadi sahabat yang baik untuk Rena, suaminya udah aku rebut," ucap Melia dengan wajah sedihnya.
"Lu, gak perlu merasa gitu lagian juga gak seratus persen kemauan lu," ucap Andra menenangkan.
Melia kemudian mengutarakan semua yang menjadi keluhannya saat ini, berat buat dia karena sudah terlanjur memilih jalan yang salah.
"Besok gue coba ngomong sama Devan, biar lu diperhatikan, tapi gue kasihan sama Rena.
"Jangan! gue gak mau tambah menderita lagi," ucap Melia.
Andra kemudian memberikan kunci rumahnya yang di tempati oleh Melia. "Lu, tinggal di rumah kemarin aja!" kata Andra.
Karena sudah larut malam Andra menyuruh Melia untuk tidur di kamar tamu, dia juga harus segera istirahat besok ada pekerjaan.
Pagi hari Melia masih tertidur dengan pulas, hingga membuat Andra tidak tega untuk membangunkannya dari tidur. Andra kemudian pergi ke kantor, dia harus banyak berkerja.
"Van, semalam Melia mau bunuh diri! jangan kasar-kasar lu ma dia," ucap Andra saat sudah berada di ruang kerja Devan.
"Baru mau kan? gimana ceritanya bisa gagal," kata Devan.
Andra kemudian menceritakan kejadian tadi malam, respon Devan tetap biasa saja. Dia masih kesal dengan Papah Melia.
"Bilang ma dia gak usah cari perhatian, dasar gitu aja mau bunuh diri," ucap Andra.
"Van, lu gak boleh jahat gitu ma itu cewek! bagaimana pun juga dia istri lu bukan orang lain," kata Andra.
Devan kemudian mengajak Andra untuk menyelesaikan pekerjaannya, karena sudah melewati batas. Dia sudah pusing dan merasa sangat bersalah dengan masalah Melia.
***
Rena hari ini tidak masuk kuliah lagi, karena tadi malam dia kebetulan tidak bisa tidur. "Mas Devan kok gak bangunin aku, malah berangkat duluan," ucapnya.
Kemudian dia bangun dan membersihkan tempat tidur, lalu mandi. Selesai mandi Rena menuju ke dapur untuk membantu Minah memasak.
"Non, jangan bantuin! Minah gak enak sama Nyonyah," kata Minah.
__ADS_1
"Mamah gak akan marah, Mbak," ucap Rena menenangkan Minah.
Karena tidak ada kegiatan lagi, Rena memasak untuk ia antar ke kantor Devan. Rena sengaja tidak memberitahu Devan lebih dulu, dia ingin melihat gimana suaminya berkerja untuk mencari nafkah.