Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 42


__ADS_3

Untuk malam ini dokter Alex meminta agar Rena istirahat di rumah sakit lebih dulu, karena kondisinya yang masih lemas. Dokter takut kalau sampai di rumah Rena tidak beristirahat, dan bisa membahayakan janin.


"Lu, jangan modus ya! jangan bilang biar bisa menyentuh istri ku," ucap Devan.


"Kamu tidak perlu cemburu, Van! karena aku seorang dokter jadi bebas menyentuh siapa saja saat memeriksa," ucap Alex tersenyum lalu keluar dari ruangan itu.


Melia yang saat ini sedang memberikan selamat pada Rena, harus ikhlas menerima kenyataan kalau dia sudah tidak ada harapan lagi mendekati Devan.


"Melia, kita pulang yuk! gue banyak kerjaan," ucap Andra.


"Gue mau nunggu Rena sampai sembuh," ucap Melia.


"Kalian pulanglah, istirahat dulu! aku ada Mas Devan yang jagain," kata Rena tersenyum walaupun kondisinya masih sedikit lemas.


Rena teringat kalau dia ingin mengenalkan Melia dengan suaminya, lalu meminta Devan berkenalan dengan Melia.


Devan menuruti apa kata istrinya, dia dan Melia bersepakat kalau tidak saling mengenal didepan Rena. Andra menahan tawanya, hingga membuat Rena mengernyitkan dahinya.


"Rena, lu ngidam apa?" tanya Andra mengalihkan suasana hening setelah Melia dan Devan berkenalan.


"Aku tidak menginginkan apa-apa," ucap Rena yang memang belum ada rasa menginginkan sesuatu.


"Lu, jangan ngada-ada napa! gue gak jadi naikin gaji lu entar," kata Devan.


"Mas, gaji Andra naik ya? kalau begitu jatah aku juga naik," ujar Rena dengan tiba-tiba meminta jatah. Padahal ATM yang Devan berikan tidak pernah dia gunakan. Untuk kebutuhannya Rena menggunakan uang pribadinya, dari perusahaan Ayahnya.


"Sayang, bukannya uangmu sudah banyak," ucap Devan.


"Mas, kalau sudah diberikan ke istri anggap saja habis! tanya saja sama Melia kalau tidak percaya," kata Rena.


Melia hanya tersenyum, karena Devan tidak pernah memberikan uang sepeserpun untuknya.


Andra kemudian mengajak Melia pulang, karena sudah malam. Di dalam mobil Melia hanya diam, dia tidak mengeluarkan kata-kata. Andra yang berada disebelahnya sesekali melirik ke arah Melia, yang nampak diam tidak seperti biasanya.


"Kenapa diam? sakit hati, kecewa? gue sudah pernah bilang kan, jangan terlalu berharap sama Devan," ucap Andra.


"Gue gak seperti yang lu bilang! males aja ngomong," ucap Melia.


"Udah gak usah bohong! nangis aja, kalau pingin nangis," kata Andra.


Melia mengatakan kalau dia merasa tidak diperlukan dengan adil oleh Devan, itu yang membuat dia kelihatan seperti orang asing.

__ADS_1


"Lu, sabar aja! siapa tau bisa cepat cerai dari Devan," ujar Andra sangat mendukung perceraian itu.


"Rugi gue sedih! Devan aja selalu bahagia tanpa ingat ma gue," ucap Melia dengan jujur.


Andra mengantarkan Melia sampai rumah, dia langsung pulang karena sudah lelah dan sudah malam juga. Dia tidak enak dengan tetangga Melia.


*


Keesokan harinya Rena sudah diperbolehkan untuk pulang, dia keluar dari rumah sakit menuju ke mobil digendong oleh Devan. Sekarang dia lebih memperhatikan Rena, dan banyak melarang Rena untuk melakukan kegiatan apapun.


"Mas, Rena baik-baik saja! jangan terlalu berlebihan, ayo turunkan Rena," ucapnya saat berada di depan rumah hendak masuk ke dalam kamar.


"Sekarang kamu tidak boleh melakukan apapun, sayang! kalau butuh apa-apa bilang sama Minah," kata Devan.


Rena sebenarnya merasa malu, karena Devan memperlakukannya seperti seorang putri. Apa saja hendak ia layani, sampai tidak mau pergi ke kantor.


Orang kantor bergantian berdatangan untuk meminta tanda tangan dan melaporkan keuangan. Devan untuk beberapa hari kedepannya memilih kerja dari rumah.


"Mas, jangan memperlakukan Rena seperti anak kecil," ucap Rena yang hendak ke toilet tetapi Devan langsung menggendongnya.


"Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita, sayang," ucap Devan.


"Sayang, tubuhmu polos saja Mas sudah pernah melihat! apa yang perlu ditutupi," ucap Devan.


Rena bertambah malu mendengar ucapan suaminya, dia tetap bersikukuh menyuruh Devan untuk keluar dari toilet.


Devan pun mengalah, dari pada istrinya harus menahan buang air.


"Sayang, udah belum?" tanya Devan yang menunggu dibalik pintu.


"Udah, Mas," ucap Rena sembari membuka pintu.


Devan hendak menggendong Rena lagi, tetapi Rena menolak karena jarak toilet dengan ranjangnya tidak jauh.


"Kak Rena, sakit apa?" tanya Devia tiba-tiba masuk ke kamar Devan.


"Jagain kakak kamu, dia lagi mengandung ponakan mu," ucap Devan.


"Serius! kabar bahagia ini, Mamah harus tau," ucap Devia kemudian keluar dari kamar Rena.


"Devia! tunggu!" teriak Rena.

__ADS_1


"Udah sayang, biarin aja! biar Mamah cepat pulang," ujar Devan.


Devia memberitahu Mamah Nadia soal kabar gembira ini, dia sudah tidak sabar melihat bagaimana reaksi Mamahnya kalau sebentar lagi hendak mempunyai seorang cucu.


Setelah memberitahu Mamahnya Devia kembali ke kamar Devan lagi, dia mengatakan kalau Mamahnya akan segera pulang nanti.


Minah juga ikut bahagia mendengar kalau Rena hamil, dia juga tidak sabar ingin mengendong bayi Rena.


"Non Rena, ingin makan apa?" tanya Minah.


Rena saat ini belum merasakan ingin memakan sesuatu, dia hanya ingin beristirahat karena masih lelah kemarin dia jalan kaki lumayan jauh.


"Sayang, nanti kalau butuh apa-apa panggil Mas atau Minah ya! Mas harus lanjut kerja dulu," ucap Devan hendak ke ruang kerjanya.


Rena hanya menganggukkan kepalanya, setelah Devan keluar dari kamar ia merebahkan tubuhnya dan meluruskan kaki-kakinya yang terasa capek.


***


Melia pergi ke kantor Salman, ia ingin mencari berkas yang ditandatangani oleh Devan waktu pernikahan mereka.


"Melia!" kaget Salman. Kedua wanita yang ada disebelah kanan dan kirinya seketika berdiri dan merapikan bajunya.


"Kenapa Pah? kaget," ucap Melia tidak menyangka kalau kelakuan Papahnya di kantor seperti itu.


"Kenapa datang tidak bilang? apa yang membuatmu datang ke kantor Papah," ucap Salman.


"Melia ingin Papah segera mengurus perceraian Melia dengan Devan! Melia malu, Pah," ucap Melia.


"Dasar bodoh! Papah sudah banyak berjuang demi pernikahan kamu, agar hidup mu terjamin," ucap Salman.


Melia mengatakan kalau hidupnya bukan terjamin tetapi hancur, karena ulah Papahnya sendiri. Salman sangat marah mendengar ucapan Melia, dia hampir saja melukai Melia.


Bahkan Salman sampai mengatakan kalau Melia anak pungut yang tidak tau malu, sudah diberikan fasilitas tetapi tidak bersyukur.


"Kenapa Papah dulu ambil Melia, besarkan Melia?" ucap Melia.


Salman terdiam, dulu dia mengambil Melia karena ingin dianggap baik oleh semua orang. Dulu saat Melia masih kecil perusahaan Salman berkembang dengan pesat, berbeda dengan sekarang yang hancur karena ulahnya sendiri.


"Melia kembalikan semua fasilitas dari Papah, asalkan Melia bisa cerai dari Devan," kata Melia mengembalikan kartu kredit, ATM dan kunci mobil dia letakan di atas meja kerja Papahnya.


"Apa kamu yakin dengan keputusan mu? coba pikirkan lagi?" ucap Salman.

__ADS_1


__ADS_2