
Ayah Rena mengatakan kalau dirinya sangat bahagia dengan kehamilan putrinya, tetapi dia tidak bisa menunggu saat lahir. Jadi dia berpesan pada Devan agar menjaga anak dan cucunya, semuanya ia pasrahkan pada Devan.
Sampai di rumah sakit nyawa Ayah Rena sudah tidak tertolong lagi, beliau menghembuskan nafas terakhir saat sampai di rumah sakit. Isak tangis sang putri menjadi saksi jika beliau sudah meninggal.
Karena kondisi Rena yang belum pulih, ia pun pingsan sehingga harus dirawat. Devan sangat kebingungan lalu menghubungi orang rumah dan Andra. Mereka semua lalu datang ke rumah sakit, Devan menitipkan Rena pada Mamahnya karena ia harus mengurus jenazah Ayah Rena.
"Ayah... " ucap Rena lirih saat sadar dari pingsannya. Ia hendak bangun tetapi Nadia menghalanginya, karena kondisi Rena yang masih terbilang lemah.
"Sayang, kamu yang sabar ya! ada Mamah disini yang akan menjaga kamu," ucap Nadia sembari berurai air mata.
"Mah, Rena sudah tidak punya siapa-siapa lagi," ucap Rena memeluk Nadia.
Melia juga datang dan melihat kejadian itu, dia menyaksikan sendiri kalau Nadia begitu sayang sama Rena.
"Rena," ucap Melia langsung memeluk Rena.
Nadia menatap sengit Melia, dia tidak menyangka jika Melia mempunyai hubungan baik dengan Rena. Bahkan Melia juga sudah menganggap Ayah Rena sebagai orang tuanya sendiri, yang membuat Nadia bertanya-tanya kenapa Melia tidak dari dulu meminta cerai dengan Devan.
Mereka semua akhirnya pulang ke rumah Ayah Rena, karena jenazahnya akan dimakamkan sekarang juga.
Walaupun kondisinya masih lemah Rena ikut mengantarkan sang Ayah ke peristirahatan terakhirnya.
"Sayang, kita harus ikhlas dengan kejadian ini. Agar Ayah juga tenang," ucap Devan menenangkan istrinya yang saat ini masih memeluk pusara sang Ayah.
"Rena mau disini, Mas," ucapnya.
"Sayang, kasihan janin kamu! ayo kita pulang," ajak Devan.
Rena baru mau diajak pulang, setelah Devan mengingatkan soal janinnya. Devan berusaha menenangkan istrinya, agar lebih tenang. Dia juga menyuapi makanan untuk Rena, karena dari tadi belum makan.
Dokter sebenarnya menyarankan agar Rena kembali dirawat lagi, tetapi Rena tidak mau kembali ke rumah sakit.
"Tidak, Mas! Rena mau istirahat di kamar Ayah," kata Rena masih sangat sedih karena kehilangan Ayahnya.
"Baiklah! Mas akan temani kamu," ucap Devan.
"Rena, izinkan aku menemanimu juga," ucap Melia.
Rena mempersilahkan dan memperbolehkan siapa saja yang mau menemaninya, dia tidak mau mereka semua ikut sedih karena memikirkan keadaannya.
__ADS_1
Melia langsung mengantarkan Rena kedalam kamar, dia menemani Rena beristirahat.
"Melia, aku belum ngantuk! jangan paksa aku buat tidur," ucap Rena.
"Kamu harus memperhatikan janin mu juga, Ren! jangan egois. Aku panggilkan Devan ya," kata Melia.
"Mas Devan pasti juga sangat lelah, Melia. Biarkan dia istirahat, aku tidak mau menggangunya," ucap Rena.
Kemudian mereka berdua bercerita tentang Ayah Rena yang begitu penyayang pada Rena dan Melia, mereka minta apa saja pasti dibelikan. Rena kangen sekali dengan kebersamaannya dengan Ayahnya, bagi Rena Ayahnya adalah segalanya. "Ayah bisa menjadi seorang Ibu buat aku, dari kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang Ibu. Tetapi Ayah selalu meyakinkan aku, kalau kasih sayangnya sama dengan Ibu. Bahkan Ayah rela meninggalkan apa yang tidak aku suka, waktu aku kecil beliau juga rela membuatkan aku sarapan," ucap Rena.
"Rena, aku tau apa yang kamu rasakan. Bahkan aku sendiri ternyata juga tidak pernah merasakan kebahagiaan dengan orang tua kandung ku," ucap Melia.
Rena memeluk Melia, bahkan mereka hampir sama bedanya kalau Melia bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu. Mamah Ema sangat menyayangi Melia dari bayi, berbeda dengan Papah Salman yang ternyata hanya memanfaatkannya demi ambisinya.
Rena sudah tertidur dengan pulas, begitu juga Melia yang berada disebelah Rena. Mereka berdua sangat lelah, karena seharian hampir tidak ada waktu untuk istirahat. Melia besok juga izin tidak masuk kerja, karena dia ingin menemani Rena terlebih dahulu. Untuk masalah pekerjaan dia tidak peduli, karena baginya Rena lebih penting.
###
Tiga bulan kemudian.
Kini Rena tinggal di rumah Ayahnya, sejak kepergian sang Ayah. Dia tinggal bersama Melia, Devan dan Andra.
Di depan Rena Devan dan Melia bersikap seperti orang yang tidak saling mengenal, bahkan hampir tidak ada komunikasi sama sekali. Rena sendiri juga bersikap seperti biasa, sama sekali tidak menaruh rasa curiga.
"Emang kita artis," kata Devan yang paham dengan ucapan Andra.
"Selama gue tinggal disini, kalian tau gak? pengeluaran gue berkurang banyak," kata Andra.
"Perhitungan sekali jadi orang," sahut Melia.
"Harus! soalnya masih banyak cita-cita yang belum terwujud, salah satunya menghalalkan lu," ucap," Andra.
"Ogah gue! bisa-bisa beli cilok dihitung," kata Melia.
"Hemat pangkal kaya Mel, terima aja Andra kalau halalin kamu," kata Rena yang perutnya mulai terlihat buncit.
Devan tersedak makanan yang dia makan, Rena lalu mengambilkan minum dengan cepat. "Hati-hati Mas kalau makan," ucapnya.
Andra menahan tawanya, dia tau apa yang dipikirkan oleh Devan. Sedangkan Melia mengajak Andra untuk berangkat berkerja, karena sudah mulai siang.
__ADS_1
Proses perceraian Devan dan Melia saat ini tertunda, karena kesibukan masing-masing. Devan juga belum bisa mengurus lagi, karena ada istrinya yang harus dia perhatikan.
"Sumpah gue gak enak sama Rena, Ndra! apa gue balik ke rumah aja ya," ucap Melia saat berada didalam mobil.
"Lu, gak usah mikir yang tidak-tidak! Devan gak punya rasa cinta sama lu," kata Andra.
"Itu mah gue sadar! maksudnya gue makin nyesek kalau Rena tau semuanya, gue bener-bener merasa bersalah," ujar Melia.
Tak terasa mereka sudah sampai, diperjalanan mereka sambil bercerita. Melia kemudian turun dari mobil Andra, karena harus segera berkerja.
"Pagi Melia," ucap Desi menyapa Melia.
"Pagi juga, Desi! Tumben sudah datang?" ucap Melia.
Desi datang lebih awal karena ingin meninggalkan cafe untuk beberapa hari ke depan, dia hendak pergi keluar negeri bersama teman-teman yang sama punya usaha.
"Gue nitip cafe, Melia! entar gue kasih bonus," ucap Desi.
"Sendiri lagi gue," ucap Melia yang sebenarnya sedih juga.
Kini tugas Melia bertambah berat, dia harus menjaga cafe milik Desi.
*
Devan tidak berangkat ke kantor lagi, ia di rumah menemani Rena yang kadang masih sedih. Padahal Rena sudah mengizinkan Devan berangkat ke kantor.
Hari ini Rena mengajak Devan ke makam Ayahnya, dia kangen dengan sosok Ayah yang sudah membesarkannya.
"Ayah, Rena datang. Lihat perut Rena sudah mulai membesar, Yah," ucap Rena.
Devan tersenyum bahagia melihat istrinya, sekarang Rena sudah bisa menerima kenyataan ini. Kehilangan bagi Rena adalah sesuatu yang paling menyakitkan, bahkan lebih sakit dari apapun yang pernah dia rasakan.
Selesai dari makam mereka berdua langsung pulang, Devan tidak mau Rena capek lagi. Dia sangat menjaga dan melindungi istrinya.
"Mas, ini sudah malam! kenapa Melia belum pulang," ucap Rena dengan rasa khawatir.
"Kamu jangan memikirkan dia! pikirkan kesehatan kamu," kata Devan.
"Mas, kenapa Mas seperti membenci Melia?" tanya Rena karena sering sekali Devan bersikap seperti itu.
__ADS_1
Devan terdiam, dia harus memulai dari mana untuk menceritakan semua.
"Mas, kenapa diam?" tanya Rena lagi. Devan masih diam, dia seperti sedang memikirkan sesuatu.