
Andra menyodorkan sebuah buku menu restoran itu, pada Devan.
"Apaan lu? gue gak mau makan!" ketus Devan.
"Minim lu pesan kopi, entar gue bayarin," kata Andra sembari mengintip orang yang mengikutinya dari tempat duduknya.
"Sok banyak duit lu! ujung-ujungnya kas bon," kata Devan yang memang seperti itu temannya.
Orang yang mengikuti mereka turun dari mobil, mereka dua orang laki-laki yang tidak di kenal Andra. "Coba lihat! kenal gak sama itu orang," ucap Andra
"Itu kan orang yang nangkap gue di toilet dan menikahkan ku dengan Melia, berati dia anak buah Papah Melia," terang Devan.
Kebetulan Fira mengajak Devan untuk bertemu, Devan memanfaatkan Fira. Dia menanyakan keberadaan Fira, lalu menuju ke tempat Fira berada. Orang itu pun masih mengikuti Devan.
Devan dan Andra masuk ke sebuah cafe, di mana Fira berada. Mereka sengaja menemui Fira untuk mengetahui apa tujuan orang itu mengikuti Devan.
"Devan, akhirnya kamu datang juga! kenapa ngajak orang ini," kata Fira tidak suka dengan Andra.
"Nama gue Andra! bukan orang ini," sahut Andra.
"Ada apa lu ngajak ketemuan?" tanya Devan dengan ketus.
"Aku gak terima kamu nikah, Devan! ceraikan saja istrimu, aku ingin kita kembali seperti dulu," ucap Fira sembari memegang tangan Devan.
Devan menolak apa yang menjadi keinginan Fira, dia lebih memilih Rena. Andra hanya bengong melihat Devan, karena banyak sekali perempuan yang ingin menjadi kekasih Devan.
"Pergi belum orangnya, Ndra?" tanya Devan sudah tidak sabar ingin menyusul Rena.
"Gue sampai lupa, gara-gara liat lu berdua," ucap Andra sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Orang apa sih? aku ke sini sendiri kok," sahut Fira.
Orang yang mereka maksud saat ini sudah pergi, mereka menemui orang yang menyuruh mereka.
"Tuan, ini foto-foto aktivitas Devan," ucap orang itu.
Orang itu mengepalkan tangannya saat melihat foto Devan bersama Fira, Devan tidak takut jika Rena tau karena ada Andra.
🥀🥀
Melia saat ini keadaannya sudah agak tenang, dia banyak bercerita dengan Ayah Rena.
__ADS_1
"Ayah, sebenarnya aku juga sudah menikah. Tapi suamiku sudah mempunyai istri," kata Melia dengan wajah sedihnya.
"Asal kamu ikhlas dan suamimu memperlakukan mu dengan adil , kamu pasti bahagia," kata Ayah Rena.
"Dia lebih menyayangi istrinya, bahkan di saat Melia sakit dia tidak datang. Melia menyesal, Yah," ucap Melia.
"Ayah, kok bilang gitu! namanya diduakan pasti gak bahagia, Yah. Kalau semua itu terjadi pada Rena gimana," ucap Rena sembari meletakkan teh dan kue di meja.
Ayah Rena terdiam, dia juga tidak rela kalau hal seperti yang di alami Melia terjadi pada putri kesayangannya.
"Kue nya enak! aku makan lagi," kata Melia untuk mengalihkan pembicaraan ini.
"Itu beli di depan," kata Ayah Rena.
Rena kemudian mengambil martabak yang dia beli tadi, ternyata masih berada di dalam mobil.
Malam hari Devan juga belum datang, karena saat ini dia masih bersama Andra. Di meja makan Ayah Rena menanyakan menantunya itu.
"Rena, kok Devan belum datang juga," kata Ayah Rena.
"Mungkin sibuk, Yah! sekarang dia masih di mall, ada pekerjaan katanya," jelas Rena.
Perasaan Melia tidak enak mendengar nama Devan, dia mencoba berfikir positif. Dia sama Rena mempunyai banyak kesamaan.
Devan saat ini sudah berada di jalan menuju ke rumah Ayah Rena, dia bersama Andra.
"Ingat jaga sikap! jangan asal bicara, kalau ada di sana," ucap Devan memperingatkan Andra yang biasanya asal bicara.
"Oke boss! ingatin aja kalau salah," kata Andra.
Mereka berdua sampai juga di rumah Ayah Rena, begitu mendengar suara mobil Rena langsung keluar menyambut suaminya.
"Maaf kemalaman, sayang," kata Devan berada di depan pintu hendak mengetuknya tetapi Rena sudah lebih dulu membuka pintu itu.
"Gak papa, Mas! ayo masuk," ucap Rena dengan tersenyum.
"Rena, aku gak di suruh masuk! suruh jaga pintu," sahut Andra.
"Maksudnya kalian berdua," kata Rena.
Mereka kemudian masuk ke ruang tamu, Ayah Rena juga keluar menyambut mereka. Tidak dengan Melia yang masih sedih teringat Arvin dan sakit hatinya karena di usir Devan.
__ADS_1
"Mas, aku siapkan kamar dulu ya! soalnya kamar Rena ada Melia," ucap Rena.
Andra langsung menatap tajam Devan, dia kaget kenapa Melia berada di rumah Rena.
"Iya, iya, sayang! aku tidur sama Andra aja," ucap Devan.
"Gue ogah! mending tidur di luar dari pada sama lu," kata Andra.
Ayah Rena mengajak Devan ke ruang kerjanya, mereka membahas soal pekerjaan.
"Devan, ini semua berkas penting. Nanti semua akan menjadi milik Rena, setelah lulus kuliah nanti bantu Rena mengurus perusahaan Ayah," ucap Arman.
"Pasti, Yah! Devan akan bantu Rena mengelola perusahaan Ayah," kata Devan.
"Sebenarnya Ayah tidak punya apa-apa, kecuali raga ini. Harta Ayah hanya Rena, jadi jaga baik-baik! bagaimana perusahaan kamu?" tanya Arman.
"Mana tau dia, Om! kerjaannya akhir-akhir ini selalu pamit jemput Rena, kan Rena bisa pulang sendiri," kata Andra.
Devan menginjak kaki Andra sebagai tanda pengingat agar hati-hati bicara, Andra langsung paham maksudnya. Untung saja Ayah Rena tertawa, ketukan pintu harus menghentikan percakapan saat ini.
Rena mengajak mereka untuk makan, sedangkan Ayah nya hendak istirahat karena lelah.
Andra heran dengan sikap Devan yang begitu perhatian dengan Rena, berbeda saat dengan mantan pacarnya dulu.
"Kenapa lu, malah bengong," kata Devan seraya mengoyak tangan Andra.
"Heran aja sama lu, kesurupan apa gitu," kata Andra.
Rena menyuruh mereka untuk makan dulu, karena sudah malam. Selesai makan mereka membersihkan diri terlebih dahulu, Rena sudah menyiapkan semuanya.
"Mas, aku tidur sama Melia dulu ya! kasihan dia butuh teman," ucap Rena.
"Jangan begadang ya, sayang! perhatikan kesehatan mu," kata Devan sembari mengelus dengan lembut pipi istrinya. Biasanya perempuan akan betah mengobrol sampai malam saat ada temannya, jadi Devan berpesan seperti itu pada istrinya.
Rena kemudian masuk ke dalam kamarnya, ternyata Melia sudah terlelap. Kemudian dia menyelimuti tubuh Melia, kemudian berbaring di sebelahnya.
Tengah malam Melia terbangun dari tidurnya, dia hendak mengambil minuman di dapur. Melia mencoba membangunkan Rena yang tidur di sebelahnya, tetapi Rena tidak bangun dia hanya menggeliatkan tubuhnya.
"Rena, kamu memang sahabat terbaik ku, selalu ada di saat aku kesusahan," ucapnya dalam hati sembari memandang wajah cantik Rena.
Melia kemudian keluar dari kamarnya, dia lalu pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Karena gelap ia hendak menghidupkan lampu, tetapi malah menabrak orang.
__ADS_1