Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 19


__ADS_3

Devan meletakkan ponselnya di atas meja karena baterai habis saat menelpon istrinya, padahal dia masih merindukan istri cantiknya itu. Dia segera menarik selimut lalu beristirahat.


"Van, Melia kasihan juga ya? gak pernah lu perhatiin," kata Andra sembari membuka selimut yang dipakai Devan.


"Lu, apaan sih, tarik-tarik selimut gue! Soal Melia udah gue ajak cerai," kata Devan membenarkan selimutnya.


"Bener-bener gak punya hati ya! harusnya perempuan itu lu jaga perasaannya, jangan sampai sakit," kata Andra menasehati Devan.


"Letak salah gue dimana? yang niat nikahin dia juga siapa," ucap Devan menatap jengah Andra.


"Salah lu, gak perhatian sama Melia," kata Andra.


"Kalau perhatian ma dia, entar dia berharap sama gue! sama aja gue nyakitin Rena," ujar Devan melemparkan bantal ke muka Andra.


"Bagus dong! entar Rena bisa nikah ma gue," ucap Andra asal.


Devan tidur membelakangi Andra yang masih ngomong sendiri, sembari menutup kepalanya dengan bantal.


Keesokan paginya Devan bangun lebih dulu, dia bersiap-siap untuk mengecek proyek yang akan dia kerjakan. Dia membangunkan Andra yang masih tidur dengan pulas.


"Ndra, bangun! udah siang ini, telat meeting entar," kata Devan sambil berkaca dan menyisir rambutnya.


"Ganggu aja lu! gue masih ngantuk, bentar lagi," ucap Andra memeluk guling.


Devan lalu menarik gulingnya dan menyuruhnya untuk segera mandi. "Kaya anak kecil aja, lu," ucapnya.


"Cepetan! gue tunggu dibawah," kata Devan kemudian ia turun ke lantai bawah.


Devan merebus air untuk membuat kopi dan menyiapkan sarapan roti yang telah dia beli tadi malam, saat ini mereka berdua tinggal di rumah milik Papah Devan yang berada di luar kota.


Rumah ini hanya ditempati saat ada kepentingan seperti sekarang, biasanya kosong tetapi setiap seminggu sekali ada petugas kebersihan dari kantor.


"Kemarin lu ajak Rena gak repot bikin kopi, Van," ucap Andra yang baru saja turun.


"Enakkan lu, gue bawa Rena! nih kopi lu," ucap Devan memberikan secangkir kopi untuk Andra.


Sembari menikmati secantik kopi, Devan menghidupkan ponselnya yang semalam mati karena kehabisan baterai. Pesan yang masuk dari Rena begitu banyak dan beberapa panggilan, Devan tersenyum kemudian menghubungi Rena. Tidak ada jawaban dari Rena, mungkin dia sedang berada di jalan atau sibuk. Devan kemudian mengirimkan pesan, dia mengatakan kalau baik-baik saja. Ia juga mengirimkan beberapa foto, agar istrinya tidak khawatir.


"Van, udah belum main ponselnya! ayo berangkat keburu gak kelar kerjaan," omel Andra sudah sadar dari kemalasannya.

__ADS_1


"Bentar, ini Rena belum jawab pesan gue," kata Devan.


"Kalau dia balas nanti siang, lu tetap mau nungguin," ucap Andra.


"Bawel aja lu, kaya emak-emak aja," kata Devan.


Mereka kemudian berangkat menuju ke sebuah mall untuk mengecek proyek yang mereka kerjakan. Andra sangat semangat saat ini, karena banyak wanita cantik.


"Van, tanyain dong itu cewek namanya siapa," kata Andra dengan pelan.


"Lu, sempat-sempatnya mikirin kenalan ma cewek! ini kerjaan banyak," kata Devan.


"Entar gue sulap! kelar ini kerjaan, gue bisa jalan sama itu cewek," kata Andra.


Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat kelakuan temannya saat ini, Andra mendekati perempuan yang dia anggap cantik tadi dan meminta nomor ponselnya.


"Yuk lanjut! udah dapet gue," kata Andra.


"Tobat! sebelum kiamat, jangan suka mainin perempuan," kata Devan.


"Kaya lu gak aja! istri malah dua," ucap Andra meledek Devan.


"Permisi, Pak! apa anda perwakilan dari perusahaan MH grup," ucap perempuan itu.


"Kebetulan saya pemiliknya, Mbak," ucap Andra dengan yakin.


"Mari saya antar ke ruangan meeting," ucap perempuan itu, kemudian menunjukkan dimana ruang meeting karena dari tadi sudah ditunggu.


Di ruang meeting Andra yang melakukan presentasi, dia memang sangat cekatan dalam berkerja. Devan hanya memberikan ide, dan mengawasi kerja Andra jika ada yang salah baru dia membenarkan.


***


Rena hari ini tidak berangkat ke kampus, dia berada di rumah membantu Minah membersihkan rumah dan memasak.


"Non, jangan bantu Minah! itu ponselnya bunyi, nanti Nyonyah ngomel," ucap Minah.


"Biarin aja, Mbak! paling juga Mas Devan," ucap Rena sembari membereskan meja.


"Takutnya penting, Non. Lihatin dulu, biar Minah yang beresin meja," kata Minah mengambilkan ponsel milik Rena.

__ADS_1


Rena menerima ponselnya, lalu membuka pesan yang ternyata dari suaminya. Dia tersenyum mendapat kabar kalau Devan baik-baik saja, dan tadi malam ponselnya mati hanya karena kehabisan baterai.


"Minah, bikinin mie rebus dong! laper nih," ucap Devia baru bangun tidur lalu duduk didepan Rena yang memainkan ponselnya sambil tersenyum.


"Bikin sendiri, Non! tanggung ini baru bersihin meja," tolak Minah.


"Benar gak mau! teriak Mamah nih," ancam Devia.


"Aku bikinin, Dev," sahut Rena masih fokus dengan ponselnya.


"Kakak, sehat kan? kok senyum sendiri," ucap Devia menutup layar ponsel Rena dengan tangan.


Rena memperlihatkan ponselnya pada Devia, saking kesalnya sama suaminya. "Dev, kamu mau oleh-oleh apa? ini kakak mu tanya," ucapnya


"Gak usah kak! oleh-oleh dari kak Devan gak bisa dimakan," kata Devia lalu mengambil panci hendak merebus air, karena tidak ada yang membuatkan dia mie.


"Mbak Minah, mau gak oleh-oleh?" tanya Rena.


"Gak Non! udah kapok," menolak tawaran Rena.


Rena bingung karena tidak ada yang mau dibelikan oleh-oleh suaminya, kemudian dia bertanya pada Devia. Biasanya kalau ada yang pergi, Rena senang jika dibelikan oleh-oleh.


"Kenapa pada gak mau, Dev?" tanya Rena mendekatinya Devia.


"Kak Devan pelit, kak! dulu pernah dia pergi ke pantai, Minah minta oleh-oleh ikan. Dia bawakan ikan asin satu ekor, itu pun kecil sekali. Gak bisa dong kita makan bareng-bareng, alasannya mobilnya nanti bau kalau bawa banyak," jelas Devia.


Rena tersenyum menahan tawanya, lalu dia mengirimkan pesan pada suaminya minta dibelikan buah khas kota itu. "Aku coba minta buah, Dev! coba dibelikan berapa," ucapnya.


"Entar minta ongkos, itu orang! sama adiknya aja pelit, apalagi sama orang. Padahal yang kak Devan banyak banget, kak," ujar Devia.


"Kok kamu tau? aku gak pernah tanya sih," ucap Rena.


"Tanya sama asistennya itu kak, dia sama pelitnya! cuma pamer aja kerjaannya," kata Devia.


"Rena, jangan percaya sama Minah dan Devia! sama Mamah gak pelit kok," ucap Nadia membela anak kesayangannya.


"Devia!" teriak Minah membuat kaget semuanya.


"Berisik, Minah!" teriak balik.

__ADS_1


"Kalian berdua teriak-teriak! awas saja bikin mantu ku gak betah," ucap Nadia melotot ke arah Devia dan Minah.


__ADS_2