
"Melia, lu cerai aja sama Devan! entar nikah sama aku," sahut Andra.
"Diem lu! gak usah ikut campur, ini urusan rumah tangga," kata Melia.
Andra menyarankan agar mereka segera bercerai saja, karena kalau terlalu lama mereka bisa terbiasa kemungkinan akan ada perasaan antara mereka. Devan sangat setuju dengan ide Andra, dia juga tidak mau menyakiti hati Rena.
"Kalian sekongkol! aku tidak mau kita cerai," kata Melia.
Devan marah dengan Melia, dia menganggap Melia tidak perduli dengan sahabatnya. Dia juga menyuruh Melia pergi dari kantornya.
"Suatu hari nanti Rena akan tau semua, gue takut kehilangan dia," ucap Devan ketika Melia sudah pergi dari kantornya.
"Lebih baik lu segera adakan pesta pernikahan, biar semua orang tau kalau Rena istri lu," kata Andra.
Devan kemudian berfikir kalau dia sampai merayakan pesta pernikahannya, pasti banyak orang yang akan mengadukan pada Rena soal Melia. Tetapi dia tidak akan ambil pusing, Devan tetap akan melaksanakan pesta.
"Siapkan semua minggu depan," kata Devan.
"Oke! lu mau gimana konsepnya? di gedung, hutan atau rawa," kata Andra menatap Devan.
"Di ranjang," ucap Devan lalu keluar dari ruangannya.
Andra tertawa mendengar jawaban Devan, ia lalu mengejar Devan.
"Pak, siapkan mobil! kita harus ke perusahaan milik Salman," ucap Devan menyuruh sopir kantornya.
"Kok lu, gak ajak gue! gak adil ini," kata Andra.
"Dua jam lagi ada meeting, lu yang wajib hadir! gue pergi dulu," ucap Devan kemudian masuk ke dalam mobil.
Di perusahaan milik Salman, Devan disambut dengan sopan oleh semua karyawan. Mereka tidak mengetahui kalau yang datang adalah menantu pemilik perusahaan. Devan diantar oleh dua orang anak buah Salman, menuju ke ruang kerja Salman.
"Silahkan masuk, Pak! Tuan besar ada didalam," ucap seorang wanita cantik bertubuh langsing dan berpakaian sexy. Devan memalingkan muka ketika wanita itu menyambutnya.
Wanita itu membuka pintu ruang kerja Salman, saat Devan hendak masuk ia kaget melihat pemandangan yang tidak senonoh. Ingin rasanya dia mengumpat, tetapi bukan di ruang miliknya.
Salman duduk di kursi kerjanya, dengan pendamping dua wanita sexy disisi sebelah kanan dan kiri. Kedua wanita itu bergelayut manja disisi Salman, membuat Devan jijik saat melihat kelakuan mertuanya.
Begitu melihat Devan, salah satu wanita itu menyambut Devan dengan mendatanginya dan menggandeng tangannya untuk membawa Devan duduk.
"Lepaskan!" bentak Devan pada wanita itu.
__ADS_1
"Jangan galak-galak dong! nanti gantengnya ilang," ucap wanita itu seraya mempererat pegangan tangganya.
Devan berusaha mengibaskan tangan wanita itu, kemudian dia membalikkan badan hendak keluar dari ruang kerja Salman.
"Devan, tunggu!" teriak Salman berdiri lalu membenarkan dasinya yang berantakan.
"Anda mengundang saya kesini hanya untuk melihat seperti ini," ucap Devan menunjuk kedua wanita itu.
"Sesama laki-laki gak usah munafik! aku meminta kerjasama," ucap Salman tersenyum tipis.
"Baiklah! tapi ada syaratnya," ucap Devan sudah tau apa rencana busuk mertuanya.
Devan kemudian menyampaikan apa syaratnya, tetapi Salman menolak dengan tegas.
"Aku sengaja membuat mu menikah dengan anakku dengan susah payah! kamu meminta perceraian, tidak semudah itu," kata Salman.
"Dasar licik!" ucap Devan dengan keras.
"Sebentar lagi perusahaan kamu akan hancur ditangan ku," kata Salman dengan penuh percaya diri. Salman menunjukkan surat-surat yang dia tandatangani saat pernikahannya dengan Melia.
Devan kemudian pergi meninggalkan kantor Salman, dengan muka yang menahan amarah. Dia menggerutuki kebodohannya sendiri.
"Sayang, maafkan suamimu yang bodoh ini," ucapnya dalam hati sembari memukul stir mobilnya.
Sampai di rumah dia langsung masuk ke kamarnya, kebetulan istrinya sedang tiduran di kamarnya.
"Mas, sudah pulang? maaf tadi Rena ketiduran," ucap Rena kemudian bangun dan menyambut suaminya.
Devan langsung memeluk Rena dengan erat, tak terasa air menetes dari sudut matanya. Ia segera mengusapnya sebelum istrinya mengetahui kalau dia menangis.
"Ditanya diam aja! Mas, lagi ada masalah," ucap Rena.
"Iya sayang, apapun yang terjadi jangan pernah meninggalkan Mas... " ucap Devan lirih.
Devan lalu mencium kening istrinya dengan lembut dan penuh dengan kasih sayang.
Rena meminta agar Devan menceritakan masalahnya, agar lebih tenang dan beban yang dia rasakan sedikit reda. Walaupun tidak menghilangkan dan menyelesaikan masalah itu.
"Mas hanya merasa takut kehilangan kamu, sayang. Gak tau juga kenapa dari tadi kepikiran kamu terus," ucap Devan menatap sendu istrinya.
"Rena janji tidak akan pernah meninggalkan Mas, dalam keadaan apapun," ucap Rena menenangkan Devan.
__ADS_1
"Kalau Mas miskin? misal perusahaannya bangkrut," ucap Devan.
"Kita bisa mulai dari awal, Mas. Harta, uang hanya titipan tidak akan menjamin kita bahagia," ucap Rena tersenyum.
"Sayang, kamu wanita terbaik yang pernah ku temui dalam hidup ini. Aku sangat beruntung memilikimu," ucap Devan.
"Mas, jangan berlebihan gitu! entar kalau Rena pergi gimana," kata Rena.
"Pergi ke mana?" tanya Devan ekspresinya langsung berubah.
"Mau tidur, Mas," ucap Rena lalu naik ke atas ranjangnya dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Devan tidak diam begitu saja, ia langsung menyusul istrinya dan entah apa yang terjadi dengan mereka.
***
Devia keluar dari kamarnya, dia mencari Rena di dapur karena biasanya Rena membantu Minah menyiapkan makan malam.
"Minah, Kak Rena mana?" tanya Devia melihat sekeliling dapur.
"Dari tadi sore gak keluar kamar, Non," jawab Minah sambil memotong cabe untuk memasak ikan.
Devia meninggalkan dapur, lalu menuju ke kamar Devan,
"Kak, Rena," ucap Devia memanggil Minah.
Tidak ada sahutan, padahal dia sudah mengetuk pintu dengan keras. Devia tidak tau kalau didalam kamar ada Devan yang sudah pulang dari kantor, ia langsung membuka pintu kamar Devan.
"Kak...
Devia kaget dengan apa yang dia lihat, Kakak dan kakak iparnya tertidur dengan pulas tanpa mengenangkan sehelai benang, untung saja tubuh polosnya masih tertutup selimut.
Devia menutup kembali pintu kamar kakaknya, lalu ia memejamkan mata.
"Devia! kamu ngapain di depan kamar Devan?" tanya Nadia kebetulan lewat.
"Anu, Mah! Mamah lagi dibuatin cucu," ucapnya lalu berlari.
"Dasar anak nakal!" teriak Nadia. Penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Devia, Nadia membuka pintu kamar Devan lalu menutupnya kembali. Nadia tersenyum bahagia, kemudian pergi ke dapur.
Di dapur Devia minum air begitu banyak, dia menstabilkan nafasnya seperti orang kecapaian.
"Ketemu gak, Non?" tanya Minah.
__ADS_1
"Gak ada! padahal penting mau tanya Kak Rena," ucapnya bohong karena malu.
"Masa sih! coba Minah yang cari," kata Minah tetapi dicegah oleh Nadia.