
"Jadi gara-gara wanita ini kamu putusin aku, Devan!" teriak Fira membuatnya menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Kalau iya, kenapa?" tanya Devan.
"Mas, siapa dia? kalau ada masalah selesaikan baik-baik," ucap Rena.
"Nanti aku jelaskan, sayang," ucap Devan dengan lembut.
"Devan! keterlaluan kamu, urusan kita belum selesai," kata Fira.
Devan mengusir Fira dari restoran itu, karena sudah mengganggu dan membuatnya menjadi pusat perhatian. Rena mengajak Devan untuk pulang, dia tidak jadi makan.
"Sayang, kita makan dulu," ajak Rena.
"Mas, jelasin dulu di rumah! soal makan gampang," kata Rena.
Mereka berdua akhirnya tidak jadi makan dan langsung pulang ke rumah, padahal Devan sudah memesan makanan. Rencana Devan dia ingin memberikan kejutan pada istrinya, tetapi semua gagal karena Fira.
"Sayang, kamu marah?" tanya Devan duduk di ranjang sebelah Rena.
Rena menggelengkan kepalanya, ia terdiam sejenak menenangkan pikirannya.
"Fira adalah mantan pacar Mas, dia tidak terima hubungan kita berakhir," ucap Devan.
"Sebelum kita menikah, Mas?" tanya Rena yang saat ini sudah mulai punya rasa cemburu.
"Iya, sebelum kita menikah. Mas lebih dulu pacaran sama dia," ujar Devan.
"Berarti pernikahan kita merusak hubungan Mas, sama dia dong! Maafkan Ayah, Mas," ucap Rena.
"Tapi kan, Mas gak suka sama dia! Jadi tidak ada istilah merusak, sayang," kata Devan terus berusaha meyakinkan Rena.
Dia juga mengatakan pada Rena, kalau Fira memang suka mengejarnya agar Rena tidak kaget kalau bertemu dengan Fira lagi.
Rena akhirnya bisa mengerti, setiap orang pasti mempunyai cerita dan masa lalu. Dia tidak mempermasalahkan soal Fira lagi.
"Mas, aku masak dulu ya," ucap Rena kemudian bangkit dari duduknya.
Devan mengikuti Rena ke dapur, dia membantu istrinya memotong sayuran dan menggoreng ayam.
"Sayang, sepertinya ada yang ketuk pintu," ucap Devan sambil membalik ayam yang dia goreng.
"Aku buka pintu dulu, Mas," ucap Rena.
Rena lalu membuka pintunya, ternyata yang datang adalah mertua dan adik iparnya.
__ADS_1
"Mamah, Devia!" kaget Rena.
"Iya, Rena! kita datang gak kasih tau dulu," ucap Mamah Nadia sembari tersenyum ke arah menantunya itu.
Rena kemudian menyuruh Mamah mertuanya dan adik iparnya masuk ke dalam rumah. Mereka ngobrol di ruang keluarga, Rena kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan minum dan memberitahu Devan.
"Siapa yang datang, sayang?" tanya Devan.
"Mamah sama Devia, Mas," jawab Rena sembari mengambil gelas hendak membuatkan minuman.
"Sekalian kita bisa makan bareng, udah mateng ini ayam," kata Devan mengangkat ayam goreng yang dia tiriskan tadi.
Rena lalu membawa minuman yang dia buat ke ruang keluarga, lalu dia kembali lagi ke dapur untuk menyiapkan makan malam Devan juga ikut membantu istrinya.
"Kak Devan, kamu gak sakit kan?" tanya Devia saking terkejutnya melihat kakaknya membantu istrinya menyiapkan makanan.
"Dih! gak usah ngeledek gitu," kata Devan melotot ke arah Devan.
Rena kemudian mengajak mertua dan adik iparnya untuk makan bersama, karena makanan sudah siap.
"Kalian masak apa?" tanya Nadia.
"Kak Devan goreng ayam, Mah," ucap Devia menahan tawanya.
"Sejak kapan kamu bisa masak, Devan? biasanya juga di rumah gangguin," kata Nadia heran juga mendengar kalau anaknya habis goreng ayam.
"Mah, Rena gak nyuruh lho! Mas Devan sendiri yang mau," kata Rena.
"Sayang, aku ngelakuin semua buat kamu," ucap Devan. Jadi kemauan aku sendiri," Lanjutnya.
"Sok romantis kamu, Van," ujar Nadia.
Devan kemudian menyuruh Mamahnya dan Devia segera makan, dia sudah malu dari tadi diledek terus. Selesai makan mereka ke ruang keluarga, Rena dan Devia masih berada di dapur untuk membereskan meja makan.
"Devan, kamu bahagia tidak dengan Rena?" tanya Nadia dengan pelan agar Rena tidak mendengar.
"Sangat, Mah! Rena sangat mandiri dan cantik, semua keperluan Devan dia tau," ucap Devan.
"Terus gimana istrimu yang satu?" tanya Nadia lagi.
"Sudah Devan usir dari rumah," kata Devan sembari melirik ke arah dapur takut Rena mendengar.
Kemudian Devan meminta agar Mamahnya tidak membahas masalah Melia, karena Devan takut sampai Rena tau dan terluka. Suatu saat nanti juga pasti ketauan, apalagi Melia adalah sahabat Rena sendiri. Sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai, pasti baunya akan ke cium juga.
"Mah, Kok Papah gak ikut ke sini?" tanya Rena.
__ADS_1
"Tadi sore berangkat ke luar kota, besok kalau pulang kamu ke rumah, Rena," ucap Nadia.
"Iya, kak! masakin buat kita hehehe... ," sahut Devia.
"Enak aja! kalau tamu itu disambut bukan disuruh masak," kata Devan mengacak-acak rambut adiknya.
"Kak Devan!" teriak Devia.
"Haduh! kalian berdua kalau lama gak ketemu," kata Nadia.
Mamah Nadia dan Devia kemudian berpamitan untuk pulang, karena sudah hampir larut malam. Rena dan Devan juga hendak istirahat.
🥀🥀🥀
Melia malam ini tidak bisa tidur, dia masih memikirkan Arvin yang tidak pernah menghubunginya. Sejak kepergiannya keluar kota ponsel Arvin tidak bisa dihubungi.
Air matanya menetes mengenang kisah cintanya dengan Arvin, dia sangat menyesal menikah dengan Devan. Apalagi setelah Devan mengusirnya dan menghilang begitu saja, Melia menjadi sangat membenci Devan.
Karena tidak bisa tidur, Melia pergi ke dapur. Ia mengambil buah untuk dia makan, tiba-tiba Mamahnya datang menghampirinya.
"Melia, kenapa kamu belum tidur? ini tengah malam," ucap Ema.
"Melia ingat Arvin, Mah! dia tega tinggalin Melia sendiri," ucapnya.
"Kamu jangan terlalu memikirkan orang yang sudah pergi, masa depanmu masih panjang," kata Ema.
Ema juga meminta Melia untuk meminta maaf pada Devan, walaupun dia tidak bersalah. Karena Melia tipe orang yang selalu kepikiran. Dia tidak mau melihat Melia sedih dan tidak bisa tidur lagi.
"Mamah buatin susu hangat dulu ya," ucap Ema lalu membuat susu dan diberikan pada Melia, ia juga menyuruh Melia agar cepat tidur.
Pagi ini bagun dari tidur Melia membersihkan tubuhnya, lalu berganti pakaian dan menuju ke ruang makan.
Semua keluarga sudah siap untuk sarapan pagi, tinggal menunggu dirinya.
"Pagi, Pah, Mah," ucap Melia.
"Pagi juga, sayang," sahut Ema. Gimana semalam bisa tidur nyenyak tidak?" Lanjutnya.
"Gak Mah! masih kepikiran Arvin," kata Melia.
"Maafkan Papah, sayang," sahut Salman.
"Papah, tidak perlu minta maaf! asalkan hentikan niat Papah untuk menghancurkan Papahnya Devan," kata Melia.
"Melia!" teriak Salman.
__ADS_1
Melia kemudian tidak jadi sarapan, dia langsung pergi ke kampus.Sampai di kampus Melia masih menunggu ke datangan Rena, ia ingin bercerita tentang apa yang dia rasakan saat ini.
Apa yang dia lihat saat ini membuatnya mematung dan merasa bersalah pada dirinya. Air matanya menetes, tubuhnya bergetar mau berucap seakan tidak mampu.