
"Semua ini gara-gara kamu, Melia! kenapa bahas masalah seperti ini di rumah," ucap Devan dengan kesal.
"Van, lebih baik kamu cari Rena! biarkan masalah ini kita tunda dulu," kata Hadi Mahendra.
Devan kemudian mengambil kunci mobilnya, dia hendak mencari Rena. Dia sangat khawatir dengan istrinya, hatinya benar-benar hancur.
Rena saat ini kembali ke rumah Ayahnya, dia tidak mau kemana lagi. Di dalam kamarnya dia menangis, tak menyangka ternyata suami dan sahabatnya tega membohongi dirinya. Rena berfikir kalau suaminya yang begitu perhatian benar-benar sayang, dan tidak ada wanita lain. Tetapi ternyata adalah suaminya sahabatnya sendiri, walaupun belum tau kejadian pastinya hati Rena tetap merasa sakit.
Devan menyusul Rena ke rumah Ayahnya, dia mengetuk pintu kamar Rena. Tetapi tidak ada sahutan dari dalam kamar itu, kemudian dia bertanya kepada asisten rumah tangganya.
"Mbak, istri saya didalam kan? mana kunci cadangannya?" ucap Devan.
"Maaf, Den! sepertinya Non Rena mau sendiri, tadi sudah diminta sama Non Rena," jawab asisten rumah tangga itu.
Devan kemudian keluar rumah, dia mengetuk jendela dari luar, tetap tidak ada sahutan. "Akhirnya yang aku khawatirkan terjadi! sayang, tolong jangan hukum Mas seperti ini," ucapnya.
Rena masih tetap tidak peduli dengan suaminya, dia masih bingung harus berbuat apa. Ia mengelus perutnya yang mulai membesar, dalam hatinya tetap akan mempertahankan buah hatinya.
"Den, lebih baik tinggalkan Non Rena lebih dulu, besok kalau sudah baikan bisa kesini lagi," kata asisten rumah tangga itu.
"Baik, Mbak! tolong jaga Rena, perhatikan makannya dia sedang mengandung," kata Devan lalu pulang ke rumah.
Setelah Devan pergi asisten rumah tangga itu menemui Rena, dia menasehati Rena agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Dia juga menyuruh Rena untuk makan, demi janin yang Rena kandung.
Keesokan harinya Rena mempersiapkan berkas untuk dia bawa ke pengadilan agama, dia yang ingin bercerai dari Devan. Rena tidak mau hidup dengan seorang pembohong, dan mempunyai sahabat yang tega mengkhianatinya.
"Nona, apakah anda sudah mantap untuk bercerai? kondisi Nona juga sedang hamil bukan," ucap pengacara keluarga Rena, kebetulan dia sudah memberitahukan masalahnya lebih dulu.
"Urus saja, Pak! lebih cepat lebih baik," kata Rena.
Pengacara itu kemudian mengurus semua permintaan Rena, dan menyuruh Rena untuk pulang dan istirahat.
**
__ADS_1
Devan yang saat ini berada di rumah kaget mendapatkan surat pengadilan, dia tidak habis pikir ternyata istrinya secepat ini mengambil keputusan. Dia menyesal saat Salman dan keluarganya datang tidak membawa Rena pergi, atau menghindarinya sebentar.
"Devan, antar Mamah ketemu Rena. Siapa tau Rena mau mendengarkan penjelasan Mamah," ucap Nadia.
"Percuma, Mah! Rena sangat marah, dia tidak mau bertemu dengan Devan lagi," ucap Devan.
"Kamu harus berusaha! jangan menyerah, sekarang pergilah dan jelaskan ke salah pahaman ini," ucap Nadia.
Devan setuju dengan apa yang diucapkan oleh Mamahnya, ternyata Rena sedang keluar dan tidak ada di rumah. "Katakan, Mbak! Rena pergi kemana? sama siapa?" ucapnya dengan sangat khawatir.
"Tadi bilang mau kuliah lagi," ucap asisten rumah tangga Rena.
Dengan cepat Devan pergi ke kampus, ternyata benar dia melihat Rena sedang duduk bersama teman wanitanya. Lalu ia mendekat ke arah Rena, hendak menjelaskan semua yang sebenarnya sudah terjadi.
"Sayang, dengarkan penjelasan Mas dulu," kata Devan sembari mencekal tangan Rena yang hendak pergi.
"Aku tidak mau bertemu dengan seorang pembohong, Mas! lepaskan," ucap Rena berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Devan.
"Selama ini Mas tidak bermaksud untuk membohongi kamu, sayang! cuma waktunya yang belum tepat," ucap Devan.
"Waktu yang sama dengan pernikahan kita, itu semua juga bukan keinginan Mas atau Melia, Sayang," jelas Devan.
"Mas, kenapa tidak bilang dari dulu! kenapa harus menunggu Rena menyerahkan semuanya," ucap Rena.
"Karena Mas, tidak mau kehilangan kamu! jadi Mas tidak berani mengatakan semua," terang Devan.
Kali ini Rena benar-benar tidak peduli dengan penjelasan Devan, dia tetap pada pendiriannya sendiri, yaitu tetap akan mengurus perceraiannya.
"Mas, sudah banyak berjanji pada Ayah! Tidak akan pernah menyakiti Rena dan selalu menjaga Rena tetapi apa kenyataannya? satu pun janji itu tidak ada yang Mas tepati," kata Rena lalu menginjak kaki Devan dengan keras sehingga cekalan tangan Devan terlepas, Rena kemudian pergi meninggalkan Devan yang masih mematung.
"Rena!" teriak Devan tetapi sama sekali tidak dipedulikan.
Rena pulang ke rumahnya, dia berpesan kepada asisten rumah tangganya untuk tidak membukakan pintu untuk Devan.
__ADS_1
Devan yang ternyata sudah berada di depan rumah, mendengar semua ucapan Rena pada asisten rumah tangganya. Membuatnya ragu untuk mengetuk pintu, padahal keadaan di luar rumah saat ini sedang hujan lebat disertai angin.
Ditepi jendela kamar Rena, Devan berteduh. Dia berharap Rena mau memaafkan kesalahannya, dan tidak menceraikannya.
"Sayang, percayalah Mas tidak pernah menyukai Melia," ucap Devan dari balik jendela.
Rena masih sama, tidak memedulikan ucapan Devan. Saat ini ia sedang belajar mengelola bisnis orang tuanya, dia ingin hidup mandiri tanpa kehadiran seorang suaminya.
Walaupun dalam hati sebenarnya Rena merasa kasihan dengan Devan, tetapi mengingat semua kebohongan yang sudah dilakukan oleh suaminya membuatnya sakit hati.
Bagi Rena kejujuran adalah hal yang paling utama dalam membangun rumah tangga, sebab secuil kebohongan bisa merusak semua.
Perlahan Rena membuka tirai jendela kamarnya, ternyata Devan masih duduk ditempat itu sambil memeluk kedua kakinya. Devan sepertinya sedang kedinginan karena baju yang dia kenakan basah kuyup.
"Mas, apa aku keterlaluan! tega membiarkan kamu kedinginan," ucapnya dalam hati.
Saat hujan sudah reda, Rena kembali melihat Devan lagi yang ternyata menggigil kedinginan dalam keadaan tidur sembari memeluk kakinya.
Rena lalu keluar dari dalam rumah, dia memastikan keadaan suaminya. Yang ternyata kedinginan, Rena lalu meminta asisten rumah tangganya untuk membantu membawa Devan masuk ke dalam rumahnya.
Walaupun dalam keadaan menggigil dalam hati Devan sangat bersyukur, ternyata istrinya masih peduli dengannya.
"Mbak, tolong buatkan teh panas ya," ucap Rena.
"Baik, Non," ucap asisten rumah tangganya yang bernama Ayu. Dia berkerja di rumah Ayah Rena menggantikan asisten rumah tangga yang lama, jadi setelah Ayah Rena meninggal dia tetap berkerja.
Rena membantu Devan menganti bajunya yang basah, dia juga meminta maaf sudah membiarkan Devan kedinginan.
"Minum dulu, Mas," ucap Rena masih belum bisa memaafkan Devan.
"Sayang, tolong dengarkan penjelasan Mas," kata Devan.
"Tolong jangan bahas masalah itu lagi, Mas! saya tidak mau mendengarnya.
__ADS_1
"Berati kamu sudah memaafkan, Mas?" tanya Devan.