Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 43


__ADS_3

Melia sudah sangat yakin dengan keputusannya, dia rela kehilangan harta benda demi bisa bercerai dengan Devan.


Salman segera memanggil pengacaranya untuk mengurus perceraian Melia dan Devan, dia juga menganggap kalau Melia anak durhaka berani membangkang perintah orang tua.


"Setelah kamu resmi bercerai, tinggalkan rumah Papah! dan jangan pernah kembali lagi," kata Salman.


Melia menangis dia rela meninggalkan orang tua angkatnya agar bisa bercerai, karena Papahnya yang keras dan tidak suka menerima penolakan. Dia kemudian menemui Mamah Ema di rumah, dia berpamitan pada Mamah Ema.


"Melia! akhirnya kamu pulang juga," ucap Mamah Ema memeluk Melia.


"Mah! maafkan Melia," ucapnya memeluk Ema dengan erat.


Melia lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi dengannya, dia terpaksa karena tidak punya pilihan lain. Keputusan yang sangat berat baginya harus segera dia ambil.


"Walaupun Papah kamu melarang kamu datang kesini, Mamah tetap menganggap kamu anak Mamah," kata Ema meneteskan air mata.


"Melia juga sayang sama Mamah! semoga ini hanya sementara, Mah," ucap Melia.


Melia melakukan ini karena merasa bersalah dengan Rena, yang sekarang sedang mengandung anak Devan. Dia tidak mau kalau anak Rena lahir, dia masih bersama Devan. Demi kebahagiaan Rena ia rela melepaskan kedua orang tua angkatnya.


"Melia janji tidak akan pernah melupakan keluarga ini! sampai kapanpun Mamah dan Papah tetap orang tua Melia... " ucap Melia lirih.


Sebelum Salman datang dan marah, Melia pergi meninggalkan Mamah Ema. Dia pulang ke rumah Devan yang dia tempati saat ini, tetapi jika rumah itu diminta oleh Devan dia tidak tau tinggal dimana lagi. Melia juga memutuskan untuk mencari pekerjaan dulu, demi menyambung hidupnya karena kalau melanjutkan kuliah dia sudah tidak mempunyai biaya lagi.


***


"Rena!" teriak Nadia saat sampai di rumah.


"Ngapain Nyah, teriak mulu! Non Rena istirahat di kamarnya," ucap Minah.


"Minah, kamu tau tidak? aku sudah tidak sabar mau bertemu dengan menantuku dan calon cucuku," ucap Nadia lalu pergi ke kamar Devan.


Kebetulan saat ini Rena sedang tidur pulas, Nadia mendekati menantunya lalu mengelus perut Rena. Dia sangat bersyukur karena apa yang diharapkan akhirnya menjadi kenyataan.


"Mamah! kapan datang?" tanya Rena terbangun karena merasa ada yang menyentuhnya.


"Baru saja, sayang! maaf Mamah ganggu istirahat kamu," kata Nadia.


Rena dari tadi juga hanya tidur, karena Devan melarangnya untuk beraktivitas. Jadi dia tidak marah walaupun Nadia membangunkannya.

__ADS_1


"Sayang, kamu mau makan apa? atau ingin apa?" tanya Nadia sudah tidak sabar membelikan sesuatu yang Rena inginkan.


Karena Rena tidak menginginkan makanan, Nadia mengajak jalan-jalan ke mall. Mertuanya itu tidak tau kejadian kemarin, yang dia tau Rena lagi hamil saja.


"Lain kali saja Mah, Rena lagi gak pingin apa-apa," ucap Rena.


"Kenapa sih! permintaan Mamah tidak pernah dituruti," kata Nadia.


"Mah, Rena lagi hamil muda! dia gak boleh capek-capek, apalagi ke mall," sahut Devan.


"Kok kamu ada di rumah, Van?" tanya Nadia.


Devan mengatakan kalau akan menjaga Rena setiap hari, jadi mulai sekarang dia berkerja dari rumah.


"Sampai segitunya, Van! Mamah juga bisa jaga Rena dan calon cucu Mamah," kata Nadia.


Keputusan Devan yang satu ini tidak ada yang bisa mengganggu gugat, karena bagi Devan menjaga Rena saat hamil adalah segalanya.


"Sabar ya, Mah! dari tadi Mas Devan terlalu berlebihan," kata Rena.


Mamah Nadia sangat memaklumi keputusan Devan, semua dia lakukan demi kebaikan Rena dan janin yang sedang dikandungnya.


***


"Ndra, lu ada waktu gak? gue butuh teman buat cerita," ucap Melia.


"Lu, gak tau apa ini berkas numpuk! entar sore aja," kata Andra menunjukkan berkas yang ada di meja kerjanya.


"Oke! entar lu jemput gue di rumah," kata Melia kemudian pergi meninggalkan Andra.


Pulang dari kerja tepat pukul empat sore, Andra langsung menjemput Melia dirumahnya. Dia mengajak Melia keluar, mereka berdua menikmati senja di pantai yang terdekat di kota itu.


Melia duduk di pasir tepi pantai, angin berhembus membuat sulur rambutnya berterbangan. Sesekali Melia merapikan rambutnya yang terurai.


Andra yang melihat Melia seperti tidak nyaman, lalu mengambil karet gelang untuk mengikat rambut Melia.


"Makasih, Ndra! baik juga lu," ucap Melia.


"Iya, sama-sama," kata Andra tersenyum.

__ADS_1


"Ndra, lu bisa bantu gue gak? gue gak tau harus bagaimana lagi," ucap Melia dengan wajah sedihnya.


"Bantu! kalau bisa, sih," ucap Andra.


Melia bercerita kalau dirinya membutuhkan pekerjaan dan tidak bisa melanjutkan kuliahnya lagi, karena semua fasilitas dari Papah angkatnya sudah dikembalikan. Ia melakukan semua agar bisa bercerai dengan Devan, apalagi Rena mengandung anak Devan. Dia tidak ingin membuat sahabatnya sakit hati, kalau mengetahui semuanya nanti.


"Masalah pekerjaan sih gampang! entar gue bantu bilang Devan, biar rumah itu jadi milik lu," ucap Andra.


"Gue diizinkan tinggal saja udah seneng," kata Melia.


Andra merasa kasihan dengan Melia, dia juga akan membantu Melia mendapatkan pekerjaan. Kebetulan temannya membutuhkan seorang pelayan di cafe, jadi untuk sementara waktu Melia bisa berkerja ditempat itu.


"Gue laper banget! seafood yuk," ajak Andra.


"Lu, gak usah mengejek! tadi aja ke kantor lu gue jalan kaki, boro-boro mau makan seafood," ucap Melia.


"Entar gue yang traktir," kata Andra.


Mereka berdua kemudian menuju ke sebuah resto seafood, kebetulan ditempat itu bisa memilih sendiri ikan dan sejenisnya yang ingin dimakan. Andra memilih satu kepiting untuk dirinya, sedangkan Melia memilih udang seperempat kilo.


"Banyak amat, Mel! buat siapa?" tanya Andra.


"Ini sedikit, Ndra! biasanya gue beli satu kilo," kata Melia.


"Namanya pemborosan ini," ucap Andra merebut udang itu, dan mengembalikan ke wadah. Andra mengambilkan dua ekor udang untuk Melia.


Melia protes pada Andra, karena udangnya tinggal dua ekor. Menurutnya Andra sangat pelit, karena mereka hanya memesan satu kepiting, dua ekor udang, dua piring nasi, dan dua gelas air putih gratisan.


"Seandainya gue punya duit, gue borong itu udang sama kepiting! gak kebayang jadi bini Andra, bisa-bisa gue mati keselek," ucap Melia dalam hati.


"Melia! makan dulu, ngelamun aja," kata Andra.


"Gue...


"Udah gak usah protes! bersyukur aja kita masih bisa makan," ucap Andra memotong ucapan Melia, padahal belum tau Melia hendak mengucapkan apa.


Melia lalu memakan nasi dengan lauk udangnya, tiba-tiba ia tersedak makanannya.


"Mel... Melia! kamu gak papa kan," ucap Andra dengan panik.

__ADS_1


__ADS_2