Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 31


__ADS_3

Melia sudah diperbolehkan untuk pulang, tetapi besok pagi karena sekarang sudah malam. Untuk hasil pengambilan darahnya tidak ada yang menghawatirkan, semua normal.


"Gue seneng banget, Ndra! besok sudah boleh pulang," ucap Melia reflek memeluk Andra.


"Lepasin gue! bisa masalah entar," kata Andra.


"Maaf, reflek! Lagian cuma meluk kok, gak pakai perasaan," kata Melia tersenyum.


"Coba ulangi lagi," ucap Andra.


"Modus lu!" ketus Melia sembari memukul lengan Andra.


Untuk merayakan kesembuhannya Melia ingin mentraktir Andra makan, mereka berencana hendak makan malam setelah Melia benar-benar pulih.


Andra juga berpesan pada Melia agar tidak ceroboh, dan memperhatikan kesehatannya. Demi kebaikan bersama, Andra juga menyarankan pada Melia untuk mencari cara agar bisa cerai dengan Devan secepatnya.


Mau berusaha seperti apapun Melia, akan tetap kalah dengan Rena. Devan sendiri sangat mencintai Rena lebih dari apapun, bahkan Rena juga memegang separuh hartanya tetapi Rena tidak menyadari itu semua.


Yang ada kalau Melia mempertahankan hubungannya dengan Devan, persahabatannya dengan Rena yang akan hancur. Rena memang berhak mengetahui semuanya, sekarang tinggal menunggu waktu saja. Bom waktu itu akan meledak saat waktunya tiba.


"Iya, gue akan berusaha! entah mengapa sekarang gue juga merasa iri dengan Rena, padahal lu tau kalau Rena selalu berusaha ada saat gue susah," ucap Melia.


"Bahaya juga menurut gue, kalau lu sampai suka sama Devan. Yang ada makan hati lu," kata Andra.


"Devan sayang banget ya, sama Rena? kok lu bisa bilang makan ati, padahal bisa saja hati Devan berubah suka ma gue," kata Melia.


"Gak usah ngarep lu! ingat Rena sahabat lu," kata Andra.


Melia tersenyum, dia sangat berterimakasih dengan Andra karena sudah menyadarkannya.


"Minum obat lu, terus istirahat," kata Andra mengambilkan minuman dan obat untuk Melia.


Pagi hari Andra masih tertidur dengan pulas di sofa, Melia berusaha membangunkan Andra, ia hendak meminta tolong Andra untuk mengurus administrasi.


Karena saat ini mereka tinggal menunggu administrasi saja, tidak mungkin Melia yang mendatangi petugas administrasi makanya ia hendak meminta tolong pada Andra.


"Ndra, bangun!" teriak Melia.


"Hmm... gue ngantuk," ucap Andra dengan mata masih terpejam.


"Bantuin gue dong! cuma urus administrasi aja kok, ini ATM gue," kata Melia.


Andra kemudian bagun lalu mencuci mukanya yang masih bau bantal, setelah selesai baru menuju ke petugas administrasi rumah sakit tersebut.


***

__ADS_1


"Minah!" teriak Devia.


"Apa, Non? gak usah teriak, kaya di hutan aja," kata Minah lari menuju dimana Devia berada sembari membawa sapu.


"Sepatuku mana? aku buru-buru, cepat ambilkan," kata Devia.


"Jangan diambilkan, Minah!" sahut Devan.


Minah menjadi bingung antara iya atau tidak, karena yang satu melarang satu menyuruh. "Minah nurut siapa ini?" ucapnya.


"Minah, cepat taruh sapumu! ayo kita ke pasar," ajak Nadia.


"Siap, Nyonyah," ucap Minah lalu menaruh sapunya dan mengikuti Nadia pergi ke pasar.


Devia marah pada Devan, dia tidak terima karena Minah tidak jadi mengambilkan sepatu, kemudian Rena datang membawakan sepatu untuk Devia.


"Makasih ya kak ipar ku yang cantik! Gak seperti kak Devan yang jahat sama adiknya sendiri," ucap Devia lalu memakai sepatunya.


"Lain kali ambil sendiri ya? kasihan Minah kerjaannya banyak," kata Rena.


Devan kemudian berpamitan untuk pergi ke kantor, kebetulan Rena hari ini tidak ke kampus. Dia sebenarnya ingin menjenguk Melia lagi, tetapi Devan melarang karena berangkat sendiri. Sebagai seorang istri yang berbakti pada suaminya, Rena menurut apa yang diperintahkan oleh suami tercintanya.


Karena tidak mempunyai kegiatan Rena meminta izin Mamah Nadia untuk memasak.


"Tapi, Mah! Rena bosan di dalam kamar terus," kata Rena.


"Turuti apa kata suamimu, Sayang! jangan kecewakan dia, Mamah sudah senang kalian akur jadi keluarga harmonis walaupun ada sedikit kerikil," kata Nadia.


"Kerikil? maksud Mamah?" tanya Rena.


""Iya... kerikil! itu maksudnya masalah kecil, kamu tau kan Devia gampang cemburu sekarang," kata Nadia.


"Benar juga kata, Mamah," ucap Rena tersenyum.


"Makanya kamu jangan memasak! nanti bau bawang, nanti kalau Devan marah Mamah ikut kena," kata Nadia.


Rena mengikuti apa kata mertuanya, dia pergi ke kamarnya dan tidak tau harus berbuat apa.


"Nyah, sayur mana yang mau dimasak?" tanya Minah.


"Terserah kamu saja! suka makan yang mana, nanti yang lain biar menyesuaikan sendiri," kata Nadia.


Nadia sebenarnya sangat baik pada Minah, bahkan dia sering membelanjakan keperluan Minah. Walaupun kadang sering teriak kalau memanggil Minah, karena sudah sifat Nadia memang seperti itu.


"Minah, saya harus pergi arisan. Nanti bilang sama Rena," kata Nadia.

__ADS_1


"Terserah, Nyah! orang kok tiap hari arisan mulu," kata Minah kesal karena majikannya jarang berada di rumah.


Dengan kehadiran Rena di rumah itu, mereka sebenarnya justru senang. Terutama Minah, ada yang membantunya.


***


Siang hari Devan menjemput Rena di rumah, dia ingin mengajak istrinya untuk makan siang di luar rumah.


"Sayang, ganti bajumu! Mas tunggu," kata Devan.


"Kemana, Mas? Rena di rumah juga tidak ada kerjaan," kata Rena.


Rena kemudian menganti bajunya dengan cepat, ia hendak berdandan tetapi Devan melarang. Devan tidak mau kalau sampai istrinya menjadi pusat perhatian orang lagi.


"Mas, gak malu Rena berpenampilan seperti ini?" tanya Rena.


"Itu lebih baik, sayang! dari pada banyak yang melihat kecantikan mu," kata Devan.


Mereka kemudian berangkat menuju ke restauran yang dekat dengan rumahnya. Rena tidak mau kalau jauh, dia takut suaminya telat ke kantor.


"Sayang, kita makan di mana?" tanya Devan.


"Didepan saja, Mas! yang dekat dari rumah," jawab Rena.


"Sayang, tempat itu Mas belum pernah ke sana. Jadi gak tau rasanya enak atau tidak," kata Devan.


"Mas, yang penting kita kenyang. Pasti masakan mereka juga enak, gak kalah sama masakan Minah yang serba masakan kampung. Lidah Devan juga sudah terbiasa merasakan khas daerah.


Selesai makan, Devan mengajak Rena ke rumah mereka berdua. Rumah mereka selalu bersih walaupun tidak ditempati, karena Devan selalu menyuruh orang untuk membersihkannya.


"Mas, kenapa pulang kesini?" protes Rena.


"Kalau kita berduaan biar tidak ada yang mengganggu kita," jelas Devan.


Rena mengatakan kalau sebenarnya yang Mamahnya lakukan itu baik, mereka hanya kesepian saja.


Devan membuka pintu rumah itu, lalu mengajak Rena masuk ke dalam.


"Mas, nanti terlambat ke kantor," kata Rena.


"Sayang, Mas kerja di kantor sendiri bukan punya orang," kata Devan.


"Tapi jangan seenaknya juga, Mas. Harus memberikan contoh yang baik untuk karyawan," ujar Rena.


"Rena, keluar kamu!" teriak seseorang dari luar Rumah.

__ADS_1


__ADS_2