Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 45


__ADS_3

Belum selesai berbicara, ucapan petugas pengadilan agama disahut oleh Mamah Nadia. Sehingga membuat orang itu tidak jadi bicara dan berpamitan pergi karena masih ada tugas mengantarkan surat.


"Ini memang surat untuk Devan, tetapi biar Mamah yang simpan," ucap Nadia membawa surat itu masuk ke dalam kamarnya.


Rena membawakan kopi ke ruang kerja suaminya, dan memberitahukan kalau yang datang petugas pengadilan agama bukan dari kantor.


Devan sudah memastikan kalau Salman pasti sengaja mengirim surat itu ke rumah, karena ingin menghancurkan pernikahan Devan dan Rena. Tetapi Devan merasa senang, ternyata Salman menepati ucapannya.


"Mas, ada perlu apa dengan pengadilan agama? kenapa petugas itu datang kesini," ucap Rena.


Devan beralasan tidak tahu, karena selama ini juga tidak pernah datang ke pengadilan agama. Rena juga langsung percaya begitu saja dengan suaminya, tanpa ada menaruh rasa curiga.


"Sayang, Mas minta kamu untuk istirahat kenapa buat kopi segala! entar kalau capek gimana," ucap Devan yang tidak suka melihat Rena melakukan aktivitas apapun.


"Mas, jangan terlalu berlebihan dong! Rena dan bayi kita baik-baik aja kok," ucap Rena menenangkan suaminya.


Rena menemani suaminya berkerja, sembari merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan itu. Saat ini dirinya merasa bahagia dan sangat beruntung, karena banyak orang yang menyayanginya.


***


"Ini cafenya, Ndra?" tanya Melia saat ini sedang berada di depan cafe milik teman Andra.


"Gimana lu suka gak?" tanya Andra. Mereka berdua saat ini masih berada didalam mobil Andra.


"Suka gak suka, namanya juga butuh pekerjaan. Dan ini akan menjadi pengalaman gue pertama kali berkerja! seru gak," ucap Melia tersenyum.


Andra kemudian mengajak Melia untuk turun dari mobil dan menemui pemilik cafe, yang tak lain adalah teman Andra.


Pemilik cafe itu menyambut kedatangan mereka dengan baik, bahkan sangat ramah.


"Desi, ini kenalin namanya Melia. Yang akan kerja disini," kata Andra.


Desi adalah pemilik cafe, dia teman Andra. Mereka berdua kenal saat diluar kota bersama Devan itu, Desi orangnya cantik dan mandiri.


Dia mempunyai banyak cafe, diluar maupun dalam kota.


Melia sangat senang bisa berkenalan dengan Desi, dia juga langsung akrab dengan Desi.


"Ndra, kayaknya gue mau langsung latihan kerja aja sekarang! lu bisa pulang dulu," kata Melia.


"Lu, giliran udah dapet ngusir gue! gak tau terimakasih bener," ucap Andra kesal.


"Gue yang harusnya berterimakasih, Ndra! lu udah bantu nyariin orang buat kerja disini. Sebagai ucapan terimakasih gue, lu bisa makan gratis di Deasy cafe cabang manapun," ujar Desi.


"Serius lu!" kaget Andra.

__ADS_1


Desi menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, bagi dia mencari teman seperti Andra sangat susah. Lucu baik dan suka membantu, itulah pandangan Desi pada sosok Andra yang pelit.


"Melia, ayo gue ajarin bikin kopi versi cafe ini," ucap Desi. Walaupun baru belajar tetapi Desi sudah menghitung gaji untuk Melia, karena cafe ini sangat rame.


Tugas untuk Melia hanya membuat kopi dan menyiapkan untuk dihidangkan pada pelanggan, baru berlatih beberapa kali Melia sudah bisa.


Desi sangat senang melihat kinerja Melia, bahkan dia bisa lebih tenang saat nanti meninggalkan cafe.


"Melia, kopinya sepuluh ya," ucap pelayan cafe itu.


"Oke, Mbak," ucap Melia dengan senang hati.


Andra melihat Melia berkerja ada rasa kasihan, biasanya hanya kuliah dan main-main menghabiskan uang orang tua sekarang harus banting tulang sendiri.


"Lu, gak jadi pulang?" tanya Desi.


"Gak, Des! gue temenin Melia dulu, kasihan juga itu anak harus kerja," ucap Andra.


"Lebai lu! namanya orang kerja pingin mandiri," kata Desi.


"Maksudnya dia baru pertama kali kerja, berbeda dengan lu ma gue! udah biasa banting tulang," ujar Andra.


"Dulu gue sebelum buka cafe, jual kopi di jalan. Banyak juga orang yang tidak suka, bahkan ada mengusir gue saat jualan. Akhirnya setelah gue ikut kegiatan usaha baru ada ide buat buka cafe, awalnya cafe gue satu, terus ada orang yang ingin kerja ya udah gue buka cabang," jelas Desi.


"Miris juga hidup lu! gak kaya gue, baru lahir udah langsung masuk got gara-gara nyokap melahirkan gue dijalan. Alhamdulillah gue gak jadi anak jalanan," ujar Andra.


"Bisa aja lu! Desi, lu gak ada rencana buat nikah gitu?" tanya Andra.


"Gak ada! gue trauma sama laki-laki, semuanya jahat gak ada yang baik! mereka dekat sama gue pling karena gue udah mapan aja, sering gue dikecewakan," ujar Desi.


Desi memang sudah berumur dan lebih tua dari Andra, jika sudah mengatakan kalau dia trauma pasti akan sulit untuk mengulang dari awal lagi. Tetapi Andra berencana untuk menghilangkan trauma Desi, ia berencana mengenalkan Desi pada teman kerjanya di kantor.


Andra kemudian berpamitan pulang lebih awal, karena Devan sudah menghubunginya. Ada masalah pekerjaan yang harus dia selesaikan, kalau tidak ada kepentingan pasti Andra sangat betah nongkrong di cafe. Apalagi kalau dikasih gratisan, pasti Andra maju paling depan.


Melia nanti pulang dari cafe malam hari, karena Desi tidak ada yang menemani di cafe. Karyawan cafe di sini juga belum banyak, karena Desi belum mencari lagi.


***


Devan mendatangi kantor pengadilan kemarin, dia sudah memulai mengurus perceraiannya dengan Melia. Dia juga sudah sangat tidak sabar masalah ini cepat selesai, karena sangat mengganggu kelangsungan rumah tangganya dengan Rena.


"Maaf, Pak! anda harus datang kesini dengan Ibu Melia agar perceraian ini cepat selesai," ucap petugas pengadilan Agama.


"Tapi Melia sudah menyerahkan urusan ini pada saya, tidak harus menunggu persetujuan darinya," kata Devan.


Devan sangat kesal karena urusan perceraiannya dengan Melia ternyata sangat ribet, kemudian Devan pergi ke rumah yang ditempati oleh Melia.

__ADS_1


Kebetulan Melia sedang berkerja, jadi rumah ini kosong. Devan menjadi sangat marah dengan Melia, karena harus mencarinya lagi.


Devan lalu pergi ke kantor lebih dulu, karena Andra menyuruhnya untuk menandatangani berkas yang akan digunakan untuk meeting nanti siang.


"Lu, kenapa?" tanya Andra melihat wajah Devan ditekuk seperti orang menahan emosi.


"Gue kesel sama Melia! dicariin malah gak ada di rumah, lama-lama gue jual itu rumah," ujar Devan.


"Dia kerja di Deasy cafe, kemarin gue yang antar ketemu Desi," ujar Andra.


Devan menyalahkan Andra karena tidak bilang lebih dulu, bagaimanapun status Melia masih menjadi istrinya. Walaupun selama ini Devan tidak pernah mengakui, kalau Melia adalah istrinya.


Selesai menandatangani berkas, Devan mengajak Andra untuk datang ke cafe itu. Ia ingin memberitahukan pada Melia kalau besok harus ke pengadilan agama.


"Melia, besok lu ikut gue ke pengadilan buat urus perceraian kita," ucap Devan.


"Ogah! gue lagi gak ada uang! lu lihat sekarang gue kerja, biar kita bisa cerai," ucap Melia.


"Gue gak nyuruh! pokoknya lu besok ikut gue, masalah gaji gue ganti dua kali lipat," kata Devan.


"Tidak! gue gak setuju, itu pemborosan uang perusahaan," sahut Andra.


"Diam lu!" teriak Devan dan Melia secara bersamaan.


"Kalian kompak bener! bau-bau gak jadi cerai nih," ujar Andra.


Devan langsung memukul Andra, dia tidak terima dengan apa yang sudah diucapkan oleh temannya itu. Karena dia dan Melia sudah sangat mantap untuk bercerai. Bagi keduanya tidak ada alasan mempertahankan pernikahan ini, apalagi tidak ada cinta, kasih, dan sayang diantara keduanya.


Devan segera berpamitan pulang, Rena ingin mengajaknya ke tempat Ayahnya untuk memberikan kabar bahagia ini. Ayahnya sama sekali belum tau, karena belum sempat mereka berdua datang kesana.


"Mas, akhirnya kamu sampai rumah juga! ayo kita berangkat," ajak Rena sudah tidak sabar.


"Sabar sayang, kita pasti kesana," ucap Devan membantu Rena membukakan pintu mobil.


Sampai di rumah Ayahnya Rena menangis, karena saat ini Ayahnya sedang sakit. Dia sengaja tidak memberitahukan kabar ini pada Rena, karena tidak mau membuat Rena sedih.


"Devan, ada yang ingin Ayah sampaikan sama kamu," ucap Ayah Rena.


"Ayah, ikut kita ke dokter ya! biar cepat sembuh, baru nanti bicara sama Devan," ucap Devan.


"Tidak perlu! Ayah ingin kamu menjaga Rena, menyayangi putri Ayah. Ini semua berkas penting dan sertifikat rumah, perusahaan atas nama Rena. Jaga anak Ayah," ucap Ayah Rena sembari memberikan berkas dan sertifikat pada Devan.


Wajah Ayah Rena saat ini sangat pucat , Rena sudah menangis dan tidak tau harus berbuat apa.


"Devan janji, Yah! akan menjaga Rena. Sekarang Rena sedang mengandung cucu Ayah, nanti Ayah tidak akan kesepian lagi," ucap Devan meneteskan air mata.

__ADS_1


Rena dan Devan segera membawa Ayahnya ke rumah sakit, karena keadaan Ayah Rena sudah lemas tidak berdaya.


"Ayah, harus bertahan! Rena tidak punya siapa-siapa lagi selain Ayah," ucap Rena.


__ADS_2