Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 48


__ADS_3

Mamah Ema terus memaksa hendak melihat siapa yang akan diculik oleh suaminya, tetapi gagal karena Salman menyuruh anak buahnya untuk segera pergi.


Dengan akal licik yang dimilikinya Salman mengajak istrinya pergi, dia tidak mau istrinya membahas soal ini lagi.


"Mamah tidak akan pergi, Pah! sebelum melihat foto itu," ucap Mamah Ema.


"Jangan membuat kesabaran saya habis! cepat pergi dari tempat ini!" bentak Salman.


Mamah Ema menangis dan keluar dari ruangan itu, baru ini rasanya begitu sakit dibentak oleh suami sendiri.


Mamah Ema kemudian menelpon Melia, dia ingin bertemu dengan Melia secepatnya. Karena Melia sedang berkerja jadi Mamah Ema yang diminta untuk datang ke cafe.


"Mamah, kenapa? kok menangis," ucap Melia lalu memeluk Ema.


"Mamah tidak menyangka ternyata Papah kamu jahat! mulai sekarang kamu harus berhati-hati, ini kunci mobil Mamah biar kamu aman," ucap Ema.


"Kenapa diberikan untuk Melia, kondisi Melia aman-aman aja kok, Mah," kata Melia tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Mamahnya.


"Papah kamu merencanakan kejahatan, Mamah takut kamu yang akan diculik," kata Ema.


Melia tidak akan takut dengan Salman, kalau sampai dia yang diculik Melia tidak segan-segan melaporkan Papahnya ke polisi. "Devan, dalam bahaya," ucapnya.


"Maksudnya, sayang?" tanya Mamah Ema.


Selama ini yang diincar Salman adalah Devan, jadi Melia menebak kalau yang akan diculik adalah Devan. Tetapi berbeda lagi dengan pendapat Ema, kalau dia menebak Melia yang akan diculik oleh Salman.


Ema memberikan mobilnya untuk Melia, dan memberikan sejumlah uang. Dia tidak akan rela kalau sampai Melia kenapa-napa.


"Mah, kalau Papah mamah tau mobil Mamah aku yang bawa bagaimana?" tanya Melia sedikit khawatir karena dia sudah berjanji tidak akan menggunakan fasilitas dari Papahnya.


"Sayang, ini harta milik Mamah sendiri! kamu tidak perlu khawatir. Mobil itu baru Papah kamu belum mengetahui," jelas Ema.


Setelah mendengarkan penjelasan Ema, Melia mau menerima uang dan mobil itu. Walaupun awalnya sangat ragu, ia takut ketahuan oleh Salman.


Ema kemudian berpamitan pulang, karena takut suaminya curiga dengan kepergiannya.


"Mah, sampai kapan pun Mamah tetap orang tua Melia," ucap Melia menatap kepergian Ema.


Melia menangis, ingin rasanya dia memeluk Mamah Ema. Karena dia sangat peduli dengannya walaupun hanya anak angkat, dia rela melakukan apapun bahkan lebih memilih membelanya dibelakang suaminya sendiri.


"Mbak, mana kopinya?" tanya seorang pelanggan yang dari tadi sudah memesan kopi.


"Iya saya buatkan lagi! Maaf, tadi ada masalah yang perlu saya selesaikan," ucap Melia beruntung saja orang itu bisa mengerti, jadi tidak marah pada Melia. Sebagai permintaan maaf, Melia juga memberikan kopi gratis pada orang itu.

__ADS_1


Malam ini Melia tidak pulang ke rumah Ayah Rena, karena dia masih merasa kesal dengan ucapan Devan. Semakin dia ingat rasanya semakin sakit hati, jadi Melia berusaha untuk menghindari Devan dulu.


***


"Mas, hari ini Rena ada jadwal cek up ke Dokter Alex," ucap Rena saat sarapan pagi.


"Sayang, kenapa tidak ganti dokter aja! cari yang perempuan," kata Devan.


Rena kemudian memberikan surat dari dokter Alex, memang kondisi tubuh Rena yang lemah jadi harus ditangani dokter yang sudah ahli seperti Dokter Alex. Dari pada membahayakan nyawa Rena, Devan akhirnya menuruti apa yang sudah dianjurkan oleh dokter tersebut.


Devan kemudian menelpon Dokter Alex, dia mengatakan kalau akan datang ke rumah sakit tempat Dokter Alex melakukan praktek. Kebetulan Dokter Alex hari ini ada beberapa pasien yang harus dia tangani, jadi Devan diminta untuk datang waktu siang hari.


"Sayang, kita ke kantor dulu ya! karena Dokter Alex baru bisa memeriksa nanti siang," ucap Devan.


"Terserah Mas, saja! Rena ikut asal nanti kita bisa lihat anak kita," ucap Rena.


Kemudian mereka berangkat ke kantor dulu, ternyata Andra sudah berada di ruang kerja Devan. Dia menyelesaikan pekerjaan kemarin yang belum selesai, karena kalau tidak diselesaikan akan menumpuk.


"Ngapain lu, datang terlambat," ucap Andra. Bawa istri lagi," Lanjutnya.


"Suka-suka gue dong! mau bawa siapa aja," ucap Devan lalu melihat berkas yang sudah dikerjakan oleh Andra.


Devan tersenyum melihat hasil kerja Andra, dia memang cerdas karena bisa menyelesaikan dengan baik. Andra mengatakan agar Devan juga berkerja, jangan hanya melihat hasilnya saja. Karena bagi Andra, kerjasama membuat pekerjaan akan terasa ringan dan cepat terselesaikan.


"Ngarang lu, masa gue mau lihat anak gak diperbolehkan," kata Devan.


"Sebenarnya aku mau minta antar kamu, Ndra! biar Mas Devan bisa istirahat," kata Rena.


"Enak aja gue! yang hamilin lu siapa," kata Andra.


"Tadi lu larang gue antar Rena, jadi ya wajar aja Rena minta diantar lu," ucap Devan.


Setelah melewati perdebatan panjang, akhirnya mereka selesai juga mengerjakan pekerjaannya. Devan mengajak Andra untuk ikut ke tempat Dokter Alex sekalian makan siang. Andra pun juga ikut, karena dia yakin Devan pasti mentraktirnya.


Walaupun tadi sudah menelpon Dokter Alex, Rena tetap mengambil nomor antrian seperti pasien lainnya. Dia tau gimana rasanya menunggu antrian yang lama.


Devan dan Andra juga ikut menunggu disebelah Rena, mereka tadinya menyuruh Rena langsung masuk ke ruang periksa lebih dulu. Rena menolak karena memang harus antri,


"Rena, buruan dong! biar gue sama Devan nunggu disini," ucap Andra.


"Belum juga dipanggil, sabar napa," kata Rena.


Andra lalu mencari suster yang bertugas, dia mengatakan kalau pemeriksaan agar dipercepat tetapi tidak bisa karena memang sudah prosedur.

__ADS_1


"Gila lu, Ndra! sabar dong, entar juga sampai giliran," ucap Devan.


"Tuh bapaknya aja paham, Pak," sahut Suster.


"Gue bukan Pak! masih muda nikah aja belum," ucap Andra.


Tak lama kemudian. Rena diperbolehkan masuk ke ruang periksa, Dokter Alex sudah menunggu.


"Hai Rena! gimana kabarnya?" tanya Dokter Alex.


"Gak usah basa-basi, lu! cepetan periksa bini gue," kata Andra.


"Jangan galak-galak," ucap Dokter Alex.


Dokter Alex kemudian mulai memeriksa Rena, baru saja ia menyuruh Rena untuk berbaring sudah mendapat pelototan mata dari Devan. Ingin rasanya, ia menyudahi pemeriksaannya.


"Keadaan janin kamu sehat, sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan," Ucap Dokter Alex setelah selesai memeriksa Rena.


"Rena senang, Dokter! kalau baik-baik saja," Kata Rena dengan tersenyum.


Setelah selesai Dokter Alex, menyuruh Devan untuk menebus obat lebih dulu dan menyelesaikan administrasi. Dokter Alex ingin menyampaikan sesuatu pada Devan.


Rena lalu keluar dari ruangan periksa, dia menunggu Devan bersama Andra.


"Van, lu harus perhatikan kesehatan istrimu! jangan sampai dia sedih," kata Dokter Alex.


"Jangan ngawur lu, gue selalu membahagiakan istri gue," ucap Devan.


"Gue serius gak bercanda! kondisi tubuh Rena masih lemah, dia juga harus banyak istirahat," kata Dokter Alex.


Setelah selesai Devan keluar lalu mengajak Andra dan Rena pulang, saat diperjalanan Andra mengingatkan kalau belum makan. Akhirnya mereka mampir disebuah Restoran.


"Sayang, kamu pilih aja mau makan apa," ucap Devan.


"Rena sebenarnya belum lapar, Mas. Nanti aja makan di rumah," ucap Rena.


"Kalian makan aja ribet," sahut Andra.


Karena Devan terus memaksa untuk makan, akhirnya Rena memesan makanan juga.


"Akhirnya gue kenyang," ucap Andra sembari mengelus perutnya.


Tiba-tiba ada orang yang memanggil Rena, membuat Devan kesal.

__ADS_1


__ADS_2