
"Eros!" kaget Rena ketika melihat temannya yang baru saja memanggilnya.
Eros menanyakan bagaimana kabar Rena, dia juga bertanya kenapa tidak pernah kuliah padahal dia sangat kangen pada Rena dan Melia.
"Kenalkan ini suamiku namanya Devan," ucap Rena tersenyum. Eros lalu menjabat tangan Devan, begitu pula dengan Devan yang juga membalas jabat tangan Eros.
"Suami kamu cakep, Rena! pantesan kamu sama sekali tidak pernah melirik ku, patah hati ini," ucap Eros.
Eros juga bilang kalau Devan sangat beruntung memiliki istri secantik Rena, dia juga berpesan agar Devan tidak mengecewakan Rena. Bagi Eros Rena dan Melia adalah kekasih hatinya, sampai kapanpun mereka tetap akan berteman.
"Mas, jangan diambil hati ucapan Eros! dia memang seperti ini," kata Rena.
"Iya, Sayang! Mas ngerti kok," kata Devan sudah mulai bisa memahami Rena.
Devan juga sudah tidak cemburu lagi, karena keanehan Eros yang membuat Rena dan Melia tidak tertarik pada Eros.
"Eros, kamu sudah berkerja atau belum?" tanya Devan.
"Masih kuliah, rencananya setelah lulus saya akan membuka butik. Kebetulan Rena adalah calon model di butik saya nanti," jelas Eros.
"Rena?" tanya Devan memastikan.
"Iya ganteng! kalau ganteng bersedia boleh jadi model laki-laki," ucapnya mencolek dagu Devan. Membuat Devan geli sendiri dengan teman Rena.
"Kalau gue jadi apa?" sahut Andra.
"Em... karena kamu gagah pantasnya jadi satpam aja! takut desain terbaik aku dicuri pesaing, jadi harus ada petugas keamanan," ucap Eros menatap Andra dari atas sampai bawah.
"Terus, kita digaji berapa kira-kira?" tanya Rena yang dari tadi menahan tawanya.
"Elah! kerja aja belum sudah tanya gaji," ucap Eros mengerucutkan bibirnya.
Karena sudah selesai makan Devan, Rena dan Andra berpamitan pulang. Sedangkan Eros masih di sana bersama temannya.
"Hati-hati kalian! jangan lupa rencanakan dengan matang kerjasama kita," ucap Eros lalu melambaikan tangan dengan lemah gemulai.
Didalam mobil Rena bertanya kepada Devan, apakah dia masih cemburu dengan Eros. Devan malu sendiri, karena sudah cemburu tidak pada tempatnya.
Andra yang ada di sebelah Devan menahan tawanya. "Van, lu emang gila," ucapnya.
"Diam lu!" bentak Devan.
Rena saja tidak habis pikir, semua teman laki-lakinya dicemburui dan akhirnya malu sendiri.
"Ndra, lu mau diantar kemana?" tanya Devan mengalihkan pembicaraan.
"Ke kantor lah! tau sendiri kerjaan gue numpuk, gara-gara lu juga sih," ucap Andra.
"Oke! lu turun depan gimana? gue kasih ongkos buat naik taksi," kata Devan.
Andra langsung melotot ke arah Devan, daripada disuruh naik taksi dia memilih ikut Rena dan Devan kemanapun pergi. Karena jalan yang tidak searah membuat Devan malas untuk ke kantor, sudah pasti macet dan panas. Devan juga memikirkan istrinya, yang harus banyak istirahat.
Devan mengajak Rena untuk pulang ke rumah Mamah Nadia, karena di rumah Ayahnya tidak ada yang membantu Rena. Semua dia lakukan demi kesehatan Rena dan anaknya.
Rena mau menuruti apa kata suaminya, asalkan Melia juga diajak. Rena khawatir Melia sendirian di rumah, takut terjadi apa-apa juga.
"Soal itu kamu tanya Mamah, Sayang! kan yang punya rumah Mamah," ucap Devan.
"Nanti Rena tanya, Mas! kalau tidak diizinkan gimana?" tanya Rena.
"Mending Melia biar tinggal sama gue! biar ada yang ngurusin gitu, masa dari zaman Devan masih kuliah gue hidup sendiri terus," kata Andra.
Melia juga belum tentu mau tinggal di rumah Mamah Nadia, karena masih kesal dengan kelakuan Devan.
Andra kemudian mengajak mereka mampir ditempat kerja Melia, kebetulan jalannya satu arah. Devan terpaksa setuju dengan ajakan Andra, karena istrinya juga sangat senang.
"Rena! kamu sama siapa? kok tau aku disini?" tanya Melia.
"Tuh! sama mereka," ucap Rena menunjukan dimana Devan dan Andra berada.
Melia kemudian menyiapkan tempat duduk untuk mereka berempat, dia juga membuatkan kopi. Kopi buatan Melia memang sangat enak, makanya pelanggan cafe ini sekarang beli besok pasti akan kembali lagi.
"Melia, kamu tadi malam kemana? kenapa tidak pulang ke rumah?" tanya Rena.
"Aku tidur di cafe, soalnya Desi pergi keluar negeri. Maaf, kemarin aku lupa tidak kasih tau," ucap Melia.
"Bukan begitu! kamu tidak marah atau kenapa-napa gitu kan," ucap Rena.
Melia meyakinkan Rena kalau dirinya baik-baik, bahkan dia justru mengatakan kalau menghawatirkan kesehatan Rena.
"Sayang, ayo kita pulang! ingat kata Dokter, kamu harus banyak ?istirahat," ucap Devan.
"Bentar, Mas! Rena belum selesai bicara dengan Melia," kata Rena.
__ADS_1
Rena kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan Melia, dia mengatakan kalau akan tinggal di rumah Mamah Nadia. Rena juga meminta agar Melia pulang kerja langsung menuju ke rumah Mamah Nadia saja.
Melia menolak, dia sudah lama meninggalkan rumahnya. Dia ingin tinggal sendiri saja, agar tidak merepotkan banyak orang.
"Melia, tolong kali ini aja! please," ucap Rena.
Melia melihat ke arah Devan, Devan memberikan isyarat agar Melia menuruti permintaan istrinya.
"Nanti, aku pulang ke rumah Devan," ucap Melia.
Rena kemudian memeluk Melia, pemandangan yang sangat indah kedua sahabat bisa akur tetapi apakah mereka akan tetap bersahabat kalau Rena mengetahui semuanya
Devan dan Andra mengajak Rena untuk pulang, karena sudah sore juga. Rena dari tadi belum istirahat, keadaannya juga mulai lemas.
Rena menahan rasa sakit yang ada didalam tubuhnya, walaupun dia merasakan sakit yang luar biasa. Dia tidak ingin merepotkan orang yang dia sayangi.
"Mah, Rena mau meminta izin boleh tidak?" tanya Rena pada Mamah Nadia setelah sampai di rumah.
"Katakan, Sayang! kamu kok pucat sekali," ucap Mamah Nadia memperhatikan Rena.
"Rena baik-baik aja, Mah. Rena ingin mengajak Melia tinggal di rumah ini, Mah! apa Mamah mengizinkan," ucap Rena.
"Sayang, tentu saja boleh," kata Mamah Nadia sembari tersenyum. Tadi sebelum Rena bertanya, Devan sudah lebih dulu membicarakan soal ini pada Mamah Nadia. Sebenarnya Mamah Nadia tidak mau mengizinkan, tetapi karena Devan memaksa terpaksa dia memperbolehkan.
Devan kali ini berusaha membuat istrinya senang dan bahagia, dia tidak ingin membuat Rena kecewa dalam hal apapun.
"Terimakasih, Mah," ucap Rena begitu bahagia lalu memeluk Mamah Nadia.
"Sama-sama, Sayang," kata Mamah Nadia.
"Mah, Mamah mau kan menyayangi Rena seperti anak Mamah sendiri. Rena ingin merasakan kasih sayang seorang Mamah, Rena belum pernah merasakan," ucap Rena membuat Mamah Nadia.
"Sayang, kok kamu ngomong gitu! Mamah juga senang kalau Rena mau menganggap Mamah, sebagai Mamah kandung Rena," ucap Nadia.
"Mamah... " ucap Devia lirih. Devia terharu juga melihat moment itu, ingin sekali dia ikut memeluk Mamahnya tetapi saat hendak melangkahkan kaki Devan mencekal tangan Devia.
"Biarkan dulu! aku juga sayang kalian semua," ucap Devan lalu memeluk Devia.
"Ih... Kakak! lepasin," ucap Devia sembari menginjak kaki Devan dengan sepatu yang masih dia kenakan.
"Aw... sakit!" teriak Devan membuat Rena dan Mamah Nadia menoleh ke arah mereka.
"Kalian ngapain disitu?" tanya Mamah Nadia sembari mengusap air matanya.
"Devia injak kakiku, Mah," kata Devan.
"Kalian berdua kebiasaan ya! berantem terus," kata Mamah Nadia kemudian mendekati kedua anaknya lalu menjewer telinga mereka dengan adil, hingga membuat mereka berdua menjerit kesakitan.
"Mah, belain aku dong," kata Devan.
"Ampun, Mah! sakit!" teriak Devia.
Mamah Nadia melepaskan tangannya, dia mengatakan kalau sekarang mempunyai anak baru yaitu Rena. Devan dan Devia dilarang menyakiti atau mengecewakan Rena dalam bentuk apapun, untuk merayakannya nanti malam dia hendak mengadakan pesta makan bersama keluarga.
Minah keluar dari persembunyiannya, dia mengatakan iri melihat Rena yang baru di rumah ini malah dianggap sebagai anak baru bukan sebagai asisten rumah tangga.
Mamah Nadia kemudian memeluk Minah dengan penuh kasih sayang, lalu memberinya sejumlah uang dan menyuruh Minah berbelanja untuk memasak nanti.
"Ogah Minah belanja, Nyah! soalnya gak ada Tuan besar," kata Minah.
"Papah pasti pulang nanti, cepat sana belanja," kata Nadia.
Minah kemudian mengajak Devia berbelanja, tadinya Rena yang ingin ikut tetapi dilarang oleh Devan.
"Tante, gue juga belum dapat bagian di keluarga ini," sahut Andra yang tiba-tiba muncul.
"Andra, lu kan udah jadi keponakan Tante yang terbaik," kata Mamah Nadia.
"Jatah keponakan mana?" tanya Andra.
Devan dan Devia langsung memukuli Andra dengan tangan. Kebetulan Devia belum berangkat belanja.
Mamah Nadia kemudian mengantarkan Rena untuk istirahat didalam kamarnya, karena nanti malam mereka pasti akan kecapean.
"Sayang, selamat istirahat ya," ucap Mamah Nadia mencium kening Rena.
Devan yang hendak masuk ke kamar dilarang oleh Mamah Nadia, karena takut mengganggu istirahat Rena. "Kamu tidur di sofa! jangan ganggu Rena," ucapnya.
"Tapi, Mah! Rena istri Devan pasti butuh pelukan dan kehangatan dari suaminya," ucap Devan.
"Gak ada!" ucap Mamah Nadia dengan tegas.
Devan tidak jadi istirahat karena sudah sore hari, dia mengajak Andra melanjutkan pekerjaannya dari rumah. Kebetulan tadi sudah menyuruh orang kantor untuk mengantarkan berkas ke rumah, mereka berdua takut pekerjaannya semakin banyak.
__ADS_1
*
Melia pulang lebih awal, dia langsung menuju ke rumah Mamah Nadia. Ia hendak mengetuk pintu rumah tetapi ragu, sebenarnya ia ingin kembali saja. Kebetulan Minah dan Devia baru pulang dari belanja.
"Devia, ada tamu sepertinya," ucap Minah.
"Kamu temui, Minah! nyari siapa dia, aku mau ke dalam dulu," kata Devia berlalu begitu saja didepan Melia tanpa menyapa.
Minah kemudian mendekati Melia, yang kebetulan masih berdiri ditempat. "Nyari siapa, Mbak?" tanyanya.
"Saya teman Rena, yang akan ikut tinggal disini," ucap Melia.
Minah mengajak Melia masuk ke dalam rumah, dia juga menyuruh untuk menunggu dulu di ruang tamu. Minah lalu memanggil Rena tetapi yang keluar Nadia, jadi Minah mengatakan kalau teman Rena datang. Nadia segera menemui Melia, sebelum Rena terbangun.
"Akhirnya kamu datang juga ke rumah saya," ucap Nadia.
"Tante, Rena mana?" tanya Melia.
"Rena sedang istirahat! kalau tidak karena Rena saya tidak sudi menerima tamu sepertimu, menginjakkan kaki di rumah saya," ucap Nadia.
"Saya tau Tante, kalau bukan karena Rena saya juga tidak sudi berkunjung apalagi tinggal di rumah ini! bagi saya ini neraka bukan rumah," kata Melia.
"Kamu! dasar tidak punya sopan santun," kata Nadia.
"Maaf, Tante! atas kekurangan saya," ucap Melia.
"Melia, kamu sudah datang," ucap Rena baru saja keluar dari dalam kamar.
Nadia kemudian berpamitan masuk ke kamar, dia malas meladeni Melia yang dia anggap sebagai anak yang tidak punya sopan santun.
"Baru saja kok, Rena! kamu pucat sekali, masih sakit ya," ucap Melia.
"Gak kok! aku baik-baik saja, tadi juga habis ke Dokter bayi ku juga sehat," jelas Rena tersenyum.
Mamah Nadia bersikap seperti itu, karena belum bisa sepenuhnya menerima Melia sebagai menantunya.
Tak lama kemudian Papah Devan datang, tetapi dia belum tau kalau malam ini ada acara makan bersama.
Mereka semua lalu menyambut Papah Devan dengan bahagia, mulai sekarang dia akan berada di rumah sampai kelahiran cucu pertamanya.
"Rena, Papah turut berdukacita atas meninggalnya Ayah kamu. Sekarang kamu juga anak Papah, jadi anggap kita berdua orang tua kandung kamu," ucap Papah Devan.
"Iya, Pah! terimakasih atas semua kasih sayang Papah dan Mamah," kata Rena tersenyum.
Semua keluarga Devan sangat menyayangi Rena dan menyambutnya dengan hangat, maka dari itu mereka terlihat sangat akur dan saling menyayangi.
Acara makan-makan dimulai, kebetulan Mamah Nadia mengundang temannya jadi orang tua bisa ngobrol dengan orang tua.
Melia bisa bernafas dengan lega, karena tidak duduk satu meja bareng Nadia.
"Mel, lu kenapa? jangan sedih gitu dong," ucap Andra.
"Gue gak sedih, Ndra! cuma gak habis pikir sama Mamahnya Devan, bisa-bisanya benci banget ma gue," kata Melia.
"Jangan mikir yang tidak-tidak! dia cuma belum bisa menerima kenyataan saja," terang Andra.
Andra menceritakan tentang Nadia pada Melia, kalau Nadia itu orang yang baik. Suka menolong siapa saja, bahkan sangat peduli dengan siapapun. Mungkin bersikap kurang baik sama Melia, karena Melia yang menyakiti Rena.
"Kalian ngobrolin apa? kenapa menyendiri," ucap Rena.
"Gue lagi bahas kerjaan, Rena. Sini gabung aja," kata Andra tersenyum.
"Kalian gak bohong? aku dengar lho," ucap Rena meledek mereka berdua.
"Serius, Rena! Sebenarnya kita....
Melia mencubit Andra tanpa sepengetahuan Rena, jadi Andra tidak jadi melanjutkan ucapannya. Dia takut Rena memikirkan sikap mertuanya, dan berakibat pada kesehatannya.
Kalau sampai semua terjadi pasti masalah akan menghampirinya lagi. Setiap ada masalah Melia sering disalahkan, dia merasa sudah lelah dengan semua.
Nadia memanggil Rena karena akan dikenalkan pada temannya, kebetulan saat ini Devan ikut bergabung dengan Melia dan Andra.
"Makan belum kalian? cobain, rasanya enak," ucap Devan membawa makanan dan diberikan pada Andra dan Melia.
"Pedes ini! gak suka gue," kata Andra.
Devan terus memaksa Andra agar mau mencicipi makanan yang dia bawa, lalu Andra mengeluhkan perutnya sakit. Andra lalu berlari menuju ke toilet, Devan pun tertawa terbahak-bahak.
"Seneng lu lihat orang menderita," kata Melia.
"Orang menderita bukan karena orang lain, tetapi karena kecerobohannya sendiri," ucap Devan.
"Gak usah nyindir juga! gue juga tau diri," kata Melia.
__ADS_1
"Mas," ucap Rena memanggil Devan.