
Devan baru ingat kalau dia menitipkan kartu ATM ke Andra, bisa jadi Andra belum memberikan pada Devia. Sampai di kantor Devan langsung mencari Andra, lalu menyuruh Rena dan Devia menunggu di ruangannya.
"Lu, masuk ke ruangan gue ketuk pintu napa," ucap Andra saat Devan masuk.
"Ngelunjak lu! Ndra, gue dulu nitip ATM buat Devia, udah lu kasih belum?" tanya Devan.
"Van, lu berlebihan! itu pemborosan, jadi ya gue sita dulu," kata Andra.
"Itu uang pribadi, bukan uang perusahaan," jelas Devan.
"Gue gak perduli itu uang haram, halal yang jelas tetap aja pemborosan," ucap Andra.
"Pelit amat lu! itu jatah jajan buat Devia," kata Devan.
"Kemarin udah gue transfer lima ratus ribu, Rena satu juta ini. Belum gue kasih sih," ucap Andra.
Devan hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal, kalau keuangan yang mengatur Andra pasti sangat ngirit.
"Mana ATMnya! mau gue kasih ke Devia," ucap DeVan.
"Gak bisa! sebulan ini lu hanya boleh mengeluarkan uang sepuluh juta, gak boleh nawar!" ucap Andra dengan tegas.
"Cara lu kaya gini, satu minggu nikah dicerai bini lu! perhitungan ngalahin emak-emak," kata Devan.
"Jangan menghina emak-emak lu, mereka paling pandai mengatur keuangan. Misal gue entar nikah, jatah istri sehari lima belas ribu buat makan," jelas Andra.
"Gue jadi bini lu, tidur di luar rumah! biar digigit harimau," ucap Devan.
Membutuhkan waktu beberapa menit untuk merayu Andra, agar mau memberikan ATM milik Devan yang akan diberikan oleh Devia. Andra memang dari dulu sangat perhitungan dalam mengelola uang perusahaan, walaupun dia bukan bagian keuangan tetapi selalu ikut campur. Semua dilakukan demi Devan dan kelancaran perusahaan.
Setelah kartu ATM dikembalikan, Devan pergi ke ruangannya. Dia memberikan pada Devia, Andra juga ikut menyusul dan memberikan uang satu juta pada Rena.
"Mas, ini uang apalagi? kenapa Andra kasih," ucap Rena bingung dengan uang yang dia pegang.
"Gak usah banyak nanya! sana buat beli cilok," ujar Andra.
Devan lalu mengajak Rena dan Devia pulang, karena dia tidak tega jika istrinya harus pulang ke rumah dengan adiknya naik kendaraan umum.
"Mas, nanti malam jangan lupa! jemput Rena di rumah jam tujuh," ucap Rena saat di perjalanan pulang ke rumah.
"Iya, Sayang! Mas ingat kok," ucap Devan tersenyum.
"Begini nasib jadi nyamuk," sahut Devia memainkan ponselnya.
"Hey... anak kecil gak boleh pacaran! awas aja kalau diam-diam pacaran," kata Devan.
"Kalian juga pacaran, kenapa aku gak boleh," kata Devia.
Devan menghentikan mobilnya karena ada kemacetan di jalan, Rena kemudian turun dari mobil karena tidak betah. "Pak, didepan ada apa ya? kok macet lama sekali," ucapnya pada seorang penjual tisu.
__ADS_1
"Ada orang mau bunuh diri, Neng! di tengah jalan, gak mau minggir dia," kata Penjual tisu.
"Makasih ya, Pak! atas informasinya," ucap Rena.
Rena berjalan ke arah depan, ternyata di jalan ada sebuah kendaraan besar yang berhenti karena ada seorang wanita yang minta ditabrak.
"Melia!" teriak Rena berlari ke arah dimana Melia berada. Rena menarik tangan Melia dengan sekuat tenaga, agar minggir ke tepi jalan.
"Lepaskan aku, Rena! ngapain kamu ikut campur, biar aku mati saja," kata Melia.
Tamparan keras mengenai pipi Melia, Rena tidak suka sahabatnya mengucapkan kata mati. "Maafkan aku, Mel... " ucapnya lirih. Rena melihat tangannya yang sudah menampar Melia.
"Tidak perlu minta maaf! lakukan lagi, biar kamu puas," ucap Melia sambil menangis.
Rena lalu memeluk Melia, dia tidak tega dengan sahabatnya itu. Melia wanita yang kuat, dia tidak menyangka akan melakukan hal seperti itu.
Mereka berdua kemudian duduk dipinggir jalan, Rena masih berusaha menenangkan Melia.
"Kalau kamu bunuh diri yang rugi kamu sendiri, sadar perbuatan seperti itu dosa," kata Rena.
"Aku gak akan lakuin itu lagi, Rena! aku janji," ucap Melia.
Melia melakukan hal itu lagi karena ia iri dengan Rena, ternyata setelah mencoba bunuh diri Rena orang yang peduli dengannya.
Karena sudah tidak macet, Devan melajukan mobilnya dengan pelan. Dia melihat ke tepi jalan mencari istrinya, setelah melihat Rena dan Melia ia baru menepikan mobilnya dan turun menemui mereka.
"Gak papa, Mas," ucap Rena menutupi perbuatan buruk Melia.
Devan mengajak mereka masuk ke dalam mobil, dan akan mengantarkan Melia lebih dulu ke rumah.
"Lama sekali, Kak! panas tau di dalam mobil," ucap Devia sembari mengipasi mukanya dengan tangan.
"Maaf, Dev! ini teman kakak lagi gak enak badan," kata Rena.
Devan menatap tajam Melia, tatapan seperti hendak membunuh musuh karena kesal harus bertemu dengan Melia saat bersama Rena.
Setelah sampai di rumah Melia, mereka semua turun dan mengantarkan Melia masuk ke dalam rumah.
"Sayang, waktu istirahat Mas sudah habis. Gimana kalau Mas balik ke kantor dulu," kata Devan.
"Iya, Mas! biar nanti kita pulang naik taksi online," ucap Rena.
Devan berpamitan dengan Rena, menunjukkan kemesraannya didepan Melia. Devia saja, sampai menutup mukanya sedang Melia menundukkan kepala.
"Melia, kamu gak papa kan?" tanya Rena setelah Devan pergi.
"Tidak, Ren! gue hanya merasa seperti orang yang tidak dipedulikan oleh siapa pun. Tadi mertua ku datang kesini, dia bilang aku harus menjaga hati istri pertama suamiku," kata Melia.
"Kamu jangan sedih lagi, kalau ada apa-apa cerita sama aku! aku akan selalu ada buat kamu, peduli sama kamu," ucap Rena menenangkan.
__ADS_1
Rena menghapus air mata sahabatnya itu, lalu memeluknya lagi dengan penuh kasih sayang.
"Beruntung kakak punya sahabat baik seperti kak Rena! kalau aku jadi kakak gak akan sedih," kata Devia.
"Apa aku kurang bersyukur dengan keberadaan Rena," ucap Melia sudah mulai bisa tersenyum.
Karena Melia dirasa sudah tenang, Rena dan Devia kemudian berpamitan pulang. Karena sudah hampir sore juga, tak terasa ternyata mereka lama berada di tempat Melia.
Tak lama kemudian Devan datang lagi ke rumah Melia, dia tadi sebenarnya tidak kembali ke kantor. Devan hanya mengintai dari kejauhan, untuk memastikan apakah Rena dan Devia sudah pulang atau belum.
"Bagus! pintar juga kamu bersandiwara," ucap Devan saat masuk ke dalam rumah sembari bertepuk tangan.
"Maksud kamu apa, Devan?" tanya Melia.
"Gak usah pura-pura bodoh! aku tau kamu hanya mencari perhatian Rena kan," ucap Devan asal menuduh tanpa memikirkan perasaan Melia.
"Aku tambah gak ngerti sama ucapan kamu! jangan menambah masalah lagi," ucap Melia.
"Kamu mencoba bunuh diri, buat cari simpati Rena kan? setelah Rena tau semua, seolah-olah biar aku yang disalahkan," kata Devan.
Melia menceritakan apa yang membuatnya hendak bunuh diri, Devan pun terdiam tak berucap sepatah katapun. Dia juga menyadari kalau Melia tidak sepenuhnya bersalah.
"Pulanglah, aku mau pergi ke pesta sekarang," ucap Melia
"Apa perlu aku antar?" tanya Devan hanya merasa kasihan dengan Melia.
"Tidak! ada Rena di sana, kalau kamu mau menjaga perasaan kita lebih jangan mengantarkan salah satu dari kita," kata Melia.
**
Rena saat ini sudah berdandan cantik, ia memakai gaun yang dia beli sendiri. Penampilannya malam ini seperti seorang putri, yang sangat cantik jelita dan tidak bosan dipandang oleh mata.
Dia berkaca dengan gerakan memutar, dengan kecantikan yang dimiliki pasti akan membius orang yang melihatnya.
"Menantu Mamah cantik sekali, mau kemana ini?" tanya Nadia kebetulan melihat Rena sedang berkaca.
"Mamah! ini mau ke pesta ulang tahun teman," ucap Rena tersenyum.
"Sendiri, sayang? gak boleh kalau sendiri," kata Nadia khawatir kalau Rena berangkat sendiri, dia takut ada laki-laki lain yang menganggu menantu kesayangannya.
"Mas Devan mau antar Rena, Mah," kata Rena.
"Oh, ya sudah! Mamah seneng dengarnya," ucap Nadia kemudian meninggalkan Rena.
Kini giliran Devia dan Minah yang memuji kecantikan Rena, terutama Devia yang suka meledek Rena.
"Bidadari mau ke pesta, pangerannya gak kunjung datang! luntur deh bedaknya," ucap Devia membuat Rena tertawa.
"Iya, Dev! ini sudah lebih lima belas menit, Mas Devan belum juga datang," kata Rena mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1