Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 25


__ADS_3

Rena membiarkan Tasya masuk ke apartemen Devan, untuk mencari keberadaan Andra.


"Andra!" teriak Tasya.


"Kamu ngapain disini? Masuk ke tempat orang tanpa permisi," sahut Devan keluar dari kamarnya.


"Maaf, Pak! saya kira Andra ada disini, kalau gitu permisi," ucap Tasya dengan rasa malu.


Rena menggelengkan kepalanya, dia nampak heran dengan kelakuan Tasya. Anak itu keluar dari apartemen Devan tanpa menyapa Rena.


"Mas, itu siapa? kenapa masuk tempat orang seperti di rumahnya sendiri," ucap Rena setelah Tasya pergi.


"Tetangga sebelah, sayang! dia kerja di kantor, yang bawa Andra. Taunya ini apartemen milik Andra," jelas Devan.


"O... gitu! kirain Mas juga yang bawa," ucap Rena.


Rena meminta Devan mengantarkan pulang, dia tidak enak karena seharian sudah pergi. Sampai di rumah mereka membereskan bajunya, Devan mengajak Rena untuk tinggal di rumahnya sendiri. Devan tidak tega kalau Rena tinggal bersama Mamahnya, ia takut istrinya kecapean. Tinggal bersama keluarga yang anggota keluarga banyak, pasti akan banyak aktivitas dan kurang beristirahat walaupun sudah ada Minah. Terlebih lagi Rena tidak tegaan kalau sama orang lain, dia pasti akan membantu kalau ada orang yang kerepotan.


"Kak, kok bawa koper lagi! mau liburan ya," ucap Devia saat Rena dan Devan keluar dari kamarnya, kebetulan dia baru pulang dari sekolah.


"Iya, kita mau liburan! kamu ikut gak? ke maldives lho," ucap Devan berbohong dengan adiknya.


"Aku gak percaya! ke sana butuh uang yang banyak sedangkan kakak aja pelit," ucap Devia.


"Kita mau pulang, Dev. Jangan percaya sama kakak kamu," ucap Rena.


Mamah Nadia keluar dari kamarnya, dia kaget juga melihat Devan dan Rena membawa koper keluar kamar. Mereka berdua kemudian berpamitan hendak pulang ke rumahnya, tetapi tidak diberikan izin oleh Mamah Nadia.


"Mah, Rena kalau disini terus entar gak bisa istirahat," ucap Devan.


"No! pokoknya anak-anak Mamah tidak ada yang boleh tinggal di rumah lain. Nanti Mamah akan jual semua rumah kamu Devan," ucap Nadia.


"Mah, jangan seperti anak kecil dong! kita sudah besar, Mamah mau gak punya cucu?" ucap Devan.


"Disini kalian juga bisa buatin cucu buat Mamah! udah pokoknya tinggal disini," ucap Nadia merebut koper yang dipegang Devan lalu membawanya ke kamar Devan lagi.


Rena masuk mengikuti mertuanya, dia membantu Mamah Nadia memasukkan baju ke almari lagi.


"Rena, kalau diajak Devan jangan mau napa! anggap saja ini rumah kamu," kata Mamah Nadia.


"Iya, Mah! ini tadi Mas Devan pingin kita pulang dulu aja kok, Mah," kata Rena.

__ADS_1


Devan melihat Mamahnya dan istrinya yang sedang memasukkan baju ke almari lagi, ia berdiri di depan pintu kamarnya dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.


"Devia, kamu telepon Andra sekarang juga! suruh dia kesini," kata Nadia yang tadi ada disebelah Devan.


"Ogah banget, Mah! Devia mau ke rumah Nesa," ucap Devia kemudian pergi dari kamar Devan.


"Rena, kamu istirahat sayang! biarkan suamimu kalau mau pulang ke rumah," kata Nadia.


Akhirnya Nadia menelpon Andra sendiri, dia ingin menanyakan aset yang dimiliki oleh Devan. Selama ini Devan tidak pernah tau soal apa saja yang sudah dimiliki anaknya, karena Devan juga tidak pernah cerita.


"Mamah, mau ngapain telepon Andra suruh kesini?" tanya Devan mengikuti Mamahnya berjalan ke ruang tamu.


"Nanti kamu juga tau," jawab Nadia.


Tak lama kemudian Andra datang juga, dengan membawa mobil milik Devan. Sedangkan mobil miliknya masih berada di kantor.


"Tante, ada apa nyuruh ke mari," kata Andra kemudian duduk.


"Mau tau aset kekayaan Devan berapa, dan dia punya rumah berapa," kata Nadia melirik ke arah Devan yang ada disebelahnya.


"Besok kalau Om pulang, kita tanya dia kasih warisan apa aja," kata Andra.


"Andra!" teriak Nadia.


"Iya, Tante! jawabannya salah ya," ucap Andra.


"Jawab dengan benar dan jujur! bohong tante lempar kamu ke got," ucap Nadia sembari melotot ke arah Andra.


Dengan terpaksa Andra mengatakan kalau Devan mempunyai dua perusahaan dan dua rumah, satu apartemen dan dua vila di daerah pantai.


"Rumah dan apartemen kamu jual! tante gak mau tau!" ucap Nadia dengan tegas.


"Tetapi rumahnya ditempati Melia, Tante. Apartemen juga Andra tempati," ucap Andra.


Devan langsung meninju lengan Andra, karena sudah membahas soal Melia. Nadia mengatakan kalau ingin bertemu dengan Melia, ia ingin berkenalan dengan menantunya yang satu.


"Jangan bawa ke rumah ini, Mah! bagaimana nanti dengan Rena," kata Devan.


"Mamah akan temui dia di rumah kamu, berikan alamatnya," kata Nadia.


Andra sudah diperbolehkan pulang oleh Nadia, tetapi dia tidak mau karena belum dikasih imbalan.

__ADS_1


"Tante, gak usah pelit! mana imbalannya, di dunia ini gak ada yang gratis. Kita kencing di toilet aja bayar dua ribu," ujar Andra.


"Matre amat lu, ma nyokap gue," sahut Devan.


"Udah kebiasaan ini anak! di tanya saja minta imbalan, kamu mau berapa?" tanya Nadia. Nyesel tanya ma orang perhitungan," Lanjutnya.


"Jangan gitu, Tante! lima ratus ribu aja," ucap Andra mengedipkan mata sebelahnya.


Nadia lalu mengambil dompetnya, dia memberikan uang dua ratus ribu pada Andra. "Ini aja! gak ada uang cash," ucapnya.


"Tante, ribet amat! kan bisa transfer," kata Andra menerima uang pemberian Nadia.


Nadia lalu berdiri dan memukul lengan Andra dengan dompet, karena gemas dengan kelakuan Andra. Kemudian dia pergi ke kamarnya.


"Makasih ya Tante ku, sayang!" teriak Andra.


Devan menyuruh Andra untuk pergi ke kantor lagi, karena masih ada yang seharusnya dia cek. Tetapi Andra malah pergi ke dapur.


"Minah!" teriaknya.


"Ngagetin aja, ini Om somplak!" kaget Minah.


"Kamu tau gak, kalau aku laper," ucap Andra.


"Bodoh amat, Om! kerjaan Minah masih banyak, nanti gak selesai marah Nyonyah," ucap Minah.


"Jangan sensi gitu dong! gue cuma minta bikinin makan," kata Andra.


"Cari sendiri di meja makan! jangan ganggu Minah," ucap Minah sembari memotong sayur untuk memasak nanti.


Andra kemudian pergi ke meja makan, saat membuka tutup makanan ternyata hanya tinggal kepala ikan keranjang yang dimasak dengan sambal. "Tega ini Minah, dikira gue kucing apa ya," ucapnya.


Andra kalau di rumah Nadia memang seperti di rumahnya sendiri, jadi penghuni rumah tidak akan ada yang marah.


"Minah, masak gue makan kepala ikan doang," kata Andra.


Andra memang sering menguji kesabaran Minah, kadang ingin sekali Minah mencincangnya dan menjadikan Andra sop.


"Apalagi? adanya cuma itu, ini lihat Minah masih potong sayur," kata Minah.


Kemudian dia menyuruh Andra membuka tutup panci kesayangan Minah, yang masih nangkring di atas kompor.

__ADS_1


__ADS_2