Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 8


__ADS_3

Melia bertemu dengan Andra di ruang kerja Devan, karena Devan sudah pulang dengan Rena. Andra juga tidak tahu kalau Melia adalah istri Devan juga, jadi dia mengatakan yang sebenarnya pada Melia.


Melia merasa kalau Devan memang tidak peduli dengannya, Dia juga mulai sadar kalau Devan lebih memperhatikan istrinya yang tak lain adalah sahabatnya.


"Mbak, Devan sudah pulang sama istrinya tadi. Mereka tadi kesini buat urus bulan madu mereka, ada perlu apa ya?" tanya Andra.


"Panggil saja Melia! mereka mau bulan madu kemana?" tanya Melia sedikit kepo.


"Istrinya pingin ke Bali, kalau Devan maunya di kamar," ucap Andra.


"Ya sudah, terimakasih informasinya. Saya pamit pulang dulu," kata Melia dengan wajah tampak kecewa.


Andra mengiyakan ucapan Melia, kemudian melanjutkan kerjanya lagi. "Wanita itu cantik juga! Jangan-jangan istri Devan," ucapnya dalam hati sembari menepuk jidatnya.


🥀


"Sayang, yakin kita bulan madu ke Bali?" tanya Devan meyakinkan.


"Yang dekat saja, Mas. Lagian mau ngapain di sana, kalau gak boleh ajak teman," kata Rena.


"Emang mau ajak siapa? kamu gak malu kalau temanmu ikut?" tanya Devan.


"Mas, kita liburan kan? kenapa harus malu, kalau diperbolehkan aku ingin mengajak Melia," ucap Rena.


Mendengar nama Melia, Devan kaget sehingga membuatnya menginjak rem mendadak, hingga membuat kepala Rena terbentur.


"Sayang, kamu gak papa kan? Maaf gak sengaja, tadi ada kucing lewat," bohong Devan sembari menepikan mobilnya.


"Gak papa, kok," ucap Rena dengan lembut.


Devan melihat kepala Rena yang terbentur, ternyata memar. Dia kemudian mengajak Rena untuk berobat dulu ke rumah sakit, tetapi menolak.


Sampai di rumah Devan sangat panik, dia langsung mengendong Rena ke kamarnya lalu mengambil air di dapur untuk mengompres Rena. Ponsel Devan berdering lagi ternyata ada pesan dari Melia, sebelum kembali ke kamar dia membalas pesan itu. Di dalam pesan itu Devan mengatakan kalau istrinya sedang sakit, jadi tidak bisa menemui Papah Melia.


"Mas, kamu berlebihan sekali. aku gak papa kok" ucap Rena.


"Sayang, ini memar gini," kata Devan sambil mengompres kepala Rena.


"Udah Mas, gak sakit kok," ucap Rena sembari tersenyum.

__ADS_1


"Sayang, maafkan aku ya! udah bikin kamu kaya gini," kata Devan seraya mencium kening Rena.


Melia bingung harus beralasan apa nantinya kalau Papahnya menanyakan suaminya, karena Devan tidak bisa datang. Dia kemudian menemui Arvin di cafe, karena tidak tau lagi siapa yang akan di ajak ngobrol.


"Kamu dari mana? kelihatannya kesal gitu," ucap Arvin sembari meletakkan satu cangkir kopi untuk Melia.


"Nanti Papah sama Mamah mau datang ke rumah, tapi suami gak bisa. Dia bilang istrinya lagi sakit, jadi harus jagain," jelas Melia.


"Baguslah kalau dia gak datang, nanti Papah kamu gak suka ma dia. Harusnya kamu senang, biar bisa cepat cerai," kata Arvin.


"Oh... iya! jadi biar dia gak datang aja ya, terus alasan ku apa," ucap Melia.


"Bilang aja lagi lembur kerja, atau keluar kota," kata Arvin memberikan ide gak baik buat Melia.


Arvin juga menanyakan kenapa Melia tidak meminta cerai, padahal sudah jelas kalau suaminya sudah mempunyai istri. Melia tidak bisa memberikan alasan, karena semua adalah keinginan orang tua Melia.


"Vin, kamu masih sayang sama aku kan?" tanya Melia.


"Kalau gak sayang, aku sudah mengusir mu," kata Arvin.


"Tunggu aku ya, Vin! buat selesaikan semuanya, tidak lama lagi aku sama Devan pasti bercerai dan kita bisa sama-sama lagi," kata Melia meyakinkan Arvin.


"Kalau kalian tidak bercerai, hubungan kita mau di bawa kemana ..." ucap Arvin lirih.


Arvin takut kehilangan Melia, mereka menjalin hubungan sudah hampir satu tahun. Kejadian ini saja sudah membuat Arvin sangat terluka.


Melia kemudian berpamitan pulang karena sudah hampir petang, dia juga harus menyambut kedatangan orang tuanya.


Tepat pukul tujuh malam orang tua Melia datang ke rumah, mereka sangat bahagia terutama Papah Melia. Melia mempersilahkan orang tuanya untuk masuk ke dalam rumah.


"Mel, suami kamu kemana? kok gak nyambut kita," kata Papah Melia.


"Pah, beneran kan yang Mamah bilang tadi," sahut Ema.


"Papah tanya sama Melia, Mah," ucap Papah Melia.


"Pah, Mah, suami Melia baru ada kerjaan. Jadi belum bisa pulang," jelas Melia. Dia terpaksa berbohong karena Devan saat ini sedang bersama Rena, apalagi mereka baru saja saling mengungkapkan perasaan yang sama. Jadi kemungkinan mereka sedang menghabiskan waktu berdua.


"Sesibuk apa? sampai mertuanya datang tidak bisa menyambut," kata Papah Melia.

__ADS_1


Melia menundukkan kepalanya, tak terasa air matanya menetes begitu saja. Dia takut Papahnya akan menemui Devan di kantor, Melia juga tidak mau di anggap sebagai perusak rumah tangga Devan.


"Sudah, Pah! ayo kita pulang saja, besok kalau Devan datang kita kesini lagi," kata Ema.


Melia sangat lega setelah Papahnya pulang, dia tidak tau harus menjelaskan bagaimana lagi. Semakin dia banyak berbicara akan banyak kebohongan yang dia ucapkan.


🥀🥀


Rena sedang duduk di tepi lapangan kampus tempat dia kuliah, sembari mengerjakan tugas.


"Boleh duduk di sini, Rena," ucap Melia.


"Melia!" teriak Rena kemudian memeluk erat sahabatnya itu.


Mereka seperti tidak bertemu lama saja, padahal baru beberapa hari yang lalu.


"Rena, aku bingung! menurutmu aku merusak rumah tangga orang gak sih," kata Melia.


"Kamu orang baik, Mel. Padahal kamu gak kenal sama istri suami kamu. Masih saja kamu merasa bersalah," kata Rena.


"Walaupun gak kenal, tapi suamiku sangat mencintai istrinya. Dia sangat melindungi istrinya, bahkan tadi malam dia gak pulang padahal Papah ingin bertemu," ucap Melia.


"Kamu yang sabar ya? semoga suami kamu bisa berubah," ucap Rena menenangkan hati Melia.


Seandainya Rena tau pasti dia akan lebih sakit, untuk menerima kenyataan yang sebenarnya.


"Tapi, aku ingin cerai saja! kita menikah bukan karena cinta," kata Melia.


"Aku menikah juga bukan karena cinta, tapi sekarang kita sudah saling menyayangi. Rasa itu tumbuh dengan sendirinya, dia juga sangat perhatian dengan ku," ucap Rena.


Mereka saling mendoakan untuk kebahagiaan mereka berdua, saling mensupport.


"Mel, rencananya kita mau bulan madu ke Bali. Aku ingin ngajakin kamu rencananya, kamu bersedia ikut kan," ucap Rena.


"Ogah! enak aja kamu," ucap Melia. Kalau sama Arvin boleh gak?" Lanjutnya.


Ponsel Rena berdering, ada panggilan masuk dari Devan. Dia mengatakan kalau sudah menjemputnya di depan kampus.


"Suamiku udah jemput, Mel," ucap Rena.

__ADS_1


Melia kemudian mengantarkan Rena, ke tempat di mana Devan sedang menunggu Rena.


__ADS_2