Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 47


__ADS_3

Devan mengatakan kalau dia sebenarnya tidak membenci Melia, tetapi karena dia tidak mau terlalu dekat saja apalagi Melia teman Rena.


Rena sendiri juga sangat percaya dengan Devan, ia sudah yakin kalau suaminya melakukan semua itu demi dirinya.


"Ayo kita tidur! jangan memikirkan Melia lagi, nanti dia juga pulang," ucap Devan.


"Mas, sebenarnya Rena juga belum ngantuk," ucap Rena.


Devan terus memaksanya istrinya untuk tidur, dia tidak mau terjadi apa-apa dengan janin yang dikandung Rena. Akhirnya Rena mau menuruti permintaan suaminya, tetapi ia berpesan agar Devan nanti mau membukakan pintu untuk Melia.


Tepat pukul dua belas malam, Melia baru pulang. Devan yang membukakan pintu untuknya, sesuai permintaan Rena.


"Lu, numpang di rumah orang gak ada etika ya! tengah malam baru pulang," ucap Devan.


"Tadi lembur terus jalan kaki! maaf, sepertinya minggu ini gue pulang tengah malam," kata Melia lalu melangkahkan kaki menuju kamar yang sudah disediakan untuknya.


Devan hanya menatap kesal Melia, lalu masuk ke dalam kamar. Untuk menyusul istrinya yang sudah terlelap.


Pagi hari Rena sudah bangun dan sudah selesai menyiapkan sarapan untuk mereka semua, karena semua berkerja kecuali dirinya.


"Maaf, aku bangun telat jadi gak bantu masak," ucap Melia yang baru bergabung di meja makan.


"Gak papa, disini gratis alias gak bayar," kata Andra asal bicara.


"Ayo Melia, ambil makanannya," ucap Rena tersenyum.


Devan saat ini sedang menikmati sarapan buatan istrinya dengan lahap, jadi tidak terlalu memperhatikan Melia dan Andra.


"Sayang, Mas berangkat dulu! kamu jangan capek-capek," ucap Devan sembari mencium perut Rena didepan Melia dan Andra.


"Mas, juga hati-hati," ucapnya sembari tersenyum.


Devan segera keluar dari rumahnya, tetapi Andra menyuruhnya untuk mengunggu dirinya karena ingin berangkat kerja bareng Devan.


"Tunggu, Mas!" teriak Rena.


"Ada apa lagi, Sayang?" tanya Devan.


Rena menyuruh Devan dan Andra untuk berangkat bareng dengan Melia, dia merasa kasihan dengan sahabatnya itu.


"Aku bisa berangkat sendiri, Rena! biarkan mereka duluan," kata Melia yang masih memakan sarapannya.


"Cepetan! jadi ikut gak!" teriak Andra. Gue ada meeting," Lanjutnya.


Rena terus memaksa Melia untuk segera berangkat, karena Devan dan Andra masih menunggunya. Karena tidak enak dengan Rena akhirnya Melia segera keluar dan menuju ke mobil Devan.


"Puas lu, bikin repot orang saja!" ketus Devan kemudian melajukan kendaraannya dengan kencang.

__ADS_1


"Ogah gue ikut lu! kalau gak karena Rena," ucap Melia.


"Udah jangan ribut! gitu aja pakai masalah," ujar Andra.


"Turunin gue didepan aja!" ucap Melia dengan kesal.


Devan diam tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia terus menambah kecepatan mobilnya. Membuat Andra berteriak ketakutan, dan berteriak dengan kencang. Begitu juga Melia yang berpegangan dan memejamkan matanya.


"Turun!" ketus Devan saat sampai didepan cafe tempat kerja Melia.


Melia membuka pintu mobil lalu keluar dari dalam mobil, dia tidak mengucapkan terimakasih pada Devan karena sudah terlanjur kesal.


"Van, lu gila! mau bunuh gue ya," ucap Andra yang duduk disebelah Devan.


"Dari tadi malam itu orang tidak tau diri bikin emosi saja! ngerepotin mulu," ujar Devan.


"Jangan galak-galak juga kali! Melia juga istri lu," ucap Andra.


"Terpaksa! kalau bukan karena ulah orang tuanya dia bukan istri gue," ucap Devan.


Sampai di kantor mereka langsung meeting dengan Dokter Alex, mereka hendak menjalin kerjasama lagi.


Dokter Alex meminta Devan untuk membangunkan sebuah rumah sakit, Devan sangat senang dan menerima kerjasama itu dengan baik.


"Kapan lagi kita ketemu, kalau tidak ada meeting! misal acara keluarga," kata Dokter Alex.


"Hahaha.... Jangan terlalu cemburu! gue berteman baik dengan Rena. Nanti kalau dia cek kandungan pasti ketemu," ucapnya tersenyum.


"Gue mau ganti Dokter untuk Rena, agar yang menanganinya Dokter perempuan! gue gak mau lu nyentuh istri gue," kata Devan.


Ucapan Devan membuat Dokter Alex terkekeh, dia lalu menyuruh Devan untuk berdoa agar bukan dirinya yang menangani Rena nanti saat persalinan. Kalau sampai itu terjadi, berarti adalah rezeki Dokter Alex.


Devan marah mendengar ucapan Dokter Alex, ia kemudian mengusir Dokter Alex.


"Pergi lu! pasien lu dah nunggu, dasar Dokter gak tau diri," ucap Devan.


"Gue libur! sebenarnya gue tadi mau ke rumah Rena," kata Dokter Alex.


Andra memberikan berkas dan desain rumah sakit pada Dokter Alex. "Kalau ada yang kurang cepat bilang, kita siap perbaiki," ucapnya.


"Oke! nanti aku pelajari dulu," ucap Dokter Alex.


"Udah pulang sono, lu!" ucap Devan yang dari tadi mengusir Dokter Alex.


Setelah Dokter Alex pulang, Devan juga berpamitan pulang dengan alasan khawatir dengan istrinya yang berada di rumah sendiri. Andra hanya bisa menepuk jidatnya, karena pekerjaannya bertambah banyak.


"Tasya, tolong kamu bantu Andra," ucap Devan.

__ADS_1


"Baik, Pak! kalau pekerjaan saya selesai, pasti akan saya bantu," kata Tasya.


"Bagus! jangan mengantarkan berkas apapun ke rumah istri saya," ucap Devan lagi.


Andra tidak mau sebenarnya dibantu oleh Tasya, karena pasti dia akan mengerjakan ulang. "Van, gue kerja sendiri aja! bukan bagian Tasya juga, ngapain lu suruh dia segala," ucapnya.


"Lagi marahan, ya," ucap Devan.


"Sialan lu!" teriak Andra saat Devan pergi meninggalkannya.


Andra juga meminta Devan untuk menjemputnya nanti saat jam pulang dari kantor, karena tidak membawa mobil.


***


"Culik wanita difoto ini! saya akan bayar berapapun kamu minta," ucap Salman memberikan foto ke orang suruhannya.


"Foto siapa ini, Bos? untuk apa juga menculik wanita seperti ini," ucap anak buah Salman.


"Diam! laksanakan saja perintah saya," kata Salman.


Salman mulai berulah lagi, dia hendak menculik seorang wanita yang dia anggap sebagai sumber kekayaan.


"Bos, harus cari dimana wanita ini? saya tidak pernah melihat,?" kata anak buah Salman lagi.


"Terserah kalian mau cari dimana, yang penting kalian culik," ujar Salman.


"Papah!" kaget Mamah Ema. Tidak sengaja dia mendengar semua ucapan suaminya. Dia hendak meminta foto itu, tetapi orang yang disuruh oleh Salman terlanjur menyembunyikan.


"Mamah, kenapa kaget seperti itu?" tanya Salman dengan santai.


"Lihat! foto siapa yang kalian pegang," ucap Mamah Ema.


Salman langsung menenangkan Mamah Ema, dia tidak mau kalau sampai istrinya melihat foto itu. "Mah, ayo kita ke mall saja," ucapnya.


"Mamah tidak menyangka ternyata Papah tega melakukan kejahatan! dimana hati nurani, Papah? tolong Pah, sadar," kata Mamah Ema.


Salman mengatakan kalau dia melakukan semua ini demi kesejahteraan keluarganya, bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Mamah Ema sangat syok sekarang, ternyata suaminya orang yang sangat jahat.


"Jangan-jangan Papah yang membuat Melia meninggalkan kita! pasti Papah sudah mengancamnya, katakan, Pah!" teriak Mamah Ema.


"Mah, semua harus Papah lakukan! bukannya niat kita dari awal ingin menguasai harta orang tua kandung anak pungut itu," kata Salman.


"Mamah saat itu tulus ingin mempunyai seorang anak, berarti Papah tau siapa orang tua kandung Melia," ucap Mamah Ema.


Salman memang mengenal orang tua kandung Melia, tetapi dia tidak membunuhnya. Peristiwa yang dialami oleh orang tua Melia, adalah murni kecelakaan.


Dulu Salman mengadopsi Melia berfikir kalau hartanya akan jatuh ke tangannya, ternyata dugaannya salah. Harta peninggalan orang tua Melia saat ini dihibahkan pada panti asuhan, dimana Melia dulu dirawat.

__ADS_1


__ADS_2