
Rena menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya, kemudian dia pergi ke dapur membantu Minah menyiapkan makanan.
"Non, biar aku saja! temani Den Devan aja," ucap Minah.
"Lebih baik kita kerjakan sama-sama, agar cepat selesai," ucap Rena sembari tersenyum.
Setelah makanan semua siap, Rena mengajak semua penghuni rumah untuk makan bersama. Devia paling susah diajak makan, apalagi ada Andra bisa membuatnya tidak keluar dari kamar.
"Devia mana? kok belum ke sini," ucap Devan dari tadi belum bertemu dengan adiknya.
"Rena panggil dulu bentar, Mas," ucap Rena lalu menuju ke kamar Devia.
Rena mengetuk pintu kamar Devia, tidak ada sahutan sama sekali lalu ia mencoba membuka pintu ternyata tidak dikunci.
"Dev, kamu ngapain dipanggil diem aja," kata Rena duduk di ranjang Devia.
"Ada Om Andra! males ketemu sama makhluk gak jelas gitu," kata Devia sibuk dengan buku dan pensilnya.
Rena terus memaksa Devia, hingga akhirnya anak itu nurut dengan kakak iparnya.
"Wow! ada makanan kesukaan aku, cumi asam pedas," ucap Devia lalu duduk di kursi depan piring yang berisi olahan cumi-cumi.
"Ini buat gua! lu, yang punya rumah ngalah sama tamu paling tampan," ucap Andra berpindah tempat duduk disebelah Devia.
"Mual aku dengar, Om," ucap Devia menirukan orang yang muntah.
"Kalian berdua kalau bertemu ribut mulu! akur bentar napa, kita makan dulu," kata Devan menatap tajam adiknya dan Andra.
Mereka terdiam tidak ada yang berucap, dan mengambil makanan sendiri-sendiri kecuali Devan sudah pasti istrinya yang melayaninya.
"Minah!" teriak Nadia dengan tiba-tiba.
"Iya, Nyonyah! baru cuci-cici," ucap Minah berjalan ke arah Nadia.
"Sini duduk! kita makan bareng, jangan sibuk sendiri," kata Nadia menarik kursi untuk Minah.
"Nanti aja, Nyah," tolak Minah hendak kembali melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
"Minta dipecat itu, Tan," sahut Andra menghentikan makannya.
"Hei! dasar Om, Omnya Devia," ucap Minah meledek Andra.
"Kok aku, Minah!" teriak Devia.
Suasana kembali ramai lagi, Devan menghentikan makannya. "Kalian kaya bocah, kalau aku jadi Papah udah pasti gak ada uang jajan buat semua," Ucapnya.
"Enak aja kamu, Devan! mau makan apa kalian kalau Papah gak kasih uang," ucap Nadia tidak Terima dengan ucapan anaknya.
Rena yang dari tadi hanya mendengarkan perdebatan mereka selesai makan lebih dulu, kemudian dia membereskan piring miliknya dan Devan. Lalu Devan mengajak Rena ke ruang keluarga, sedangkan yang lain masih makan.
"Tante, nginep sini boleh gak?" tanya Andra hendak pulang tetapi dia ingat kalau sekarang sudah pertengahan bulan. Uang gaji kerjanya sudah ia habiskan untuk makan dan keluar setiap harinya. Jadi dia bisa numpang makan.
"Kebiasaan, deh," kata Devia yang sudah hafal dengan Andra.
"Gaji belum dikasih sama bos! besok gue traktir," kata Andra mengedipkan mata satunya ke Devia.
Mamah Nadia selalu mengizinkan Andra nginep di rumahnya kapan dia mau, tetapi justru Andra yang sering menolak.
Selesai makan mereka menuju ke tempat dimana Devan dan Rena berada. Devan mengajak Andra ke ruang kerja milik Papahnya, mereka hendak membahas masalah pekerjaan.
"Ya udah kalau gak mau! gue mau tidur," ucap Devan sembari memegang tangan istrinya.
"Iya, yuk! besok biar bisa gajian," kata Andra.
Rena kemudian pergi ke kamar, dia menghubungi Melia, mumpung dia belum ada kesibukan yang lain.
Awalnya mereka berdua bercanda dalam percakapan itu, lama-lama membahas soal keluarga. Rena menanyakan soal suami Melia. Rena penasaran dengan suami Melia, dia menagih ucapan Melia yang mengatakan kalau hendak memperkenalkan suaminya pada Rena.
"Sayang, kamu kok belum tidur," tanya Devan baru saja selesai berkerja.
"Belum, Mas. Ini lagi telepon sama Melia," ucap Rena.
Rena kemudian menyudahi teleponnya, karena ada Devan. Ia tidak nyaman kalau mendengarkan percakapan mereka, walaupun Rena belum mengetahui semua.
"Sayang, boleh tidak Mas tanya sesuatu," ucap Devan duduk disebelah istrinya.
__ADS_1
"Tanya apa, Mas! sepertinya serius sekali," kata Rena menatap suaminya.
Devan bertanya pada Rena apakah dia merindukannya atau tidak, sungguh konyol pertanyaan Devan. Rena hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian Devan memeluk istrinya penuh dengan kasih sayang. Setelah itu mereka terlelap dan terbawa ke alam mimpinya masing-masing.
***
Melia menemui orang tuanya lagi, dia mengatakan kalau ingin bercerai dari Devan. Papahnya tetap tidak menerima keputusan Melia, mereka sampai berdebat lagi. Papah Melia sampai berkata kasar, dia mengatakan kalau Melia anak pungut dan meminta membalas budi dengan tidak bercerai dari Devan.
"Pah, masih banyak laki-laki yang kaya diluar sana selain Devan. Dia milik orang, dan aku tidak sanggup berumah tangga dengan Devan," jelas Melia sedikit ada rasa kecewa dengan Papahnya.
"Demi perusahaan kita, Melia! semuanya besok juga buat kamu," kata Papah Melia.
Melia kemudian berfikir kalau selama ini Devan tidak perduli dengannya, bahkan tidak pernah menyuruhnya untuk kembali ke rumah. Jadi dia mengambil keputusan dengan berat hati, tidak akan bercerai dari Devan. Walaupun Devan terus mendesaknya.
Salman begitu bahagia mendengarkan keputusan putrinya, ia merasa berhasil sudah membuat putrinya menuruti apa yang menjadi keinginannya.
Keesokan harinya Melia datang ke kantor Devan, dia ingin mengatakan kalau tidak akan bercerai dengan Devan.
"Devan, gue ingin bicara," ucap Melia saat sampai di ruang kerja Devan.
"Katakan," ucapnya sibuk dengan berkas.
"Gue sudah memutuskan kalau tidak akan pernah bercerai dengan lu," ucap Melia.
"Apa! lu sudah gila, Rena sahabat lu! bahkan dia sangat peduli sama lu, tega membuat sakit hati sahabat sendiri," kata Devan dengan penuh amarah.
"Asal lu tau, gue lakuin semua demi Papah gue! Soal Rena gue janji gak akan bilang," ucap Melia.
Devan sangat kesal dengan keputusan dari Melia, sampai tidak mau melihat muka Melia. "Gue ada meeting, lu pulang aja," ucapnya mengusir Melia.
Melia tidak mau pergi, dia tetap menunggu kedatangan Devan. Sebenarnya dia memiliki sedikit rasa iri pada Rena, karena perlakuan Devan yang terbilang begitu romantis.
Devan sudah selesai meeting, dia kembali ke ruang kerjanya dengan Andra. Dia tau kalau Melia pasti tidak akan nyaman jika ada orang lain, selain dirinya.
"Gak ada niatan untuk pulang ya? betah amat di sini!" ucap Devan dengan ketus.
Melia menunggu karena belum selesai bicara, dia mengatakan kalau ingin kembali ke rumahnya dulu. Andra mengatakan kalau rumah itu sudah laku, karena banyak yang ingin membelinya.
__ADS_1
Melia meminta Devan membelikan rumah lagi, Devan menyetujui permintaan Melia dengan syarat mereka bercerai.
"Sudah sana pulang lu!" kata Devan mengusir Melia.