Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 9


__ADS_3

"Rena, tunggu!" teriak Eros saat melihat Rena dan Melia berjalan.


Rena menghentikan langkah kakinya, ia menoleh ke arah Eros yang memanggilnya.


"Rena, aku antar pulang ya? kebetulan kan rumah kita satu arah," kata Eros menawarkan diri.


"Aku di jemput sama suami," jawab Rena tersenyum.


"Lu, mau rebut istri orang! yang lain aja banyak," sahut Melia


"Gue maunya Rena, sama lu aja gue ogah," ketus Eros.


Dari kejauhan sepasang mata mengawasi mereka, dia khawatir istrinya tergoda oleh laki-laki lain. Devan mengepalkan tangannya, dia hendak turun dari mobil. Setelah melihat Melia dia mengurungkan niatnya.


"Jadi selama ini mereka kenal," ucap Devan dalam hati.


Devan semakin mantap ingin segera cepat bercerai dengan Melia, dia tidak ingin istrinya tau dan sakit hati. Kemudian dia mengambil ponselnya, lalu menelpon istrinya agar lebih cepat berjalan.


"Suamiku telepon, lebih baik aku duluan," pamit Rena lalu mempercepat langkahnya.


"Rena!" teriak Eros lagi.


"Eros, gara-gara lu, Rena pulang dulu," kata Melia.


"Dia tadi bilang sudah di jemput suaminya! kamu gak dengar? aneh deh," kata Eros kemudian meninggalkan Melia.


Rena langsung menuju ke mobil suaminya, dia tidak enak kalau Devan terlalu lama menunggu. Dia memang orangnya tidak enakan, mending dia yang menunggu dari pada membuat orang lain menunggu.


"Mas, udah lama nunggu Rena?" tanyanya saat membuka pintu mobil.


"Engga, Sayang! ini juga baru datang," kata Devan.


Devan sebenarnya dari tadi, tetapi dia berbohong pada istrinya karena ingin mengetahui bagaimana kegiatannya. Dia juga ragu untuk bertanya soal Melia pada Rena, untuk membuktikan apa yang dia lihat tadi.


"Tadi aku mau kenalin Mas, sama Melia teman aku, dia baik orangnya tapi gak jadi. Rena tinggalin dia, takut Mas nunggu lama," ucapnya sembari tersenyum.


"Sudah lama kamu kenal dia?" tanya Devan.


"Udah Mas, kita sering jalan bareng kok! sejak dia kecelakaan itu, kita jadi jarang ketemu," jelas Rena.

__ADS_1


Devan mengangguk, lalu menjalankan mobilnya. Rencananya hari ini, dia ingin mengajak istrinya untuk jalan-jalan sambil mengecek proyek yang dia kerjakan. Tetapi melihat istrinya ketiduran di dalam mobil, membuat dia mengurungkan niatnya kemudian membawa istrinya pulang ke rumah.


Devan mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar, kemudian dia mengerjakan pekerjaannya dari rumah. Karena untuk pergi ke kantor, dia sudah malas. Di kantor juga sudah ada Andra yang meng-handle semua.


🥀


Melia yang masih berada di kampus dengan Eros, dia harus membayar semua makanan yang di makan Eros dan Arvin.


"Kalian tau gak cara dapetin Rena?" tanya Eros membuat Melia langsung melotot ke arahnya.


"Lu, gila ya! Rena sudah menikah," kata Arvin membuat harapan Eros patah.


"Aku gak percaya kalau tidak melihat sendiri," ucap Eros.


Melia kesal dengan Eros yang tidak percaya, karena belum pernah melihat suami Rena. Dia mengajak Arvin untuk pulang ke rumahnya. Arvin tidak bisa menolak keinginan Melia, dia hanya ingin membuat orang yang dia sayang bahagia.


Tak lama kemudian Devan datang ke rumah, dia marah-marah karena melihat Arvin. Saat ini Melia dan Arvin sedang berada di ruang keluarga, Devan langsung membawa Melia ke kamar dan mengajaknya untuk bicara.


"Mau lu apa!" teriak Devan.


"Harusnya aku dong yang tanya! kenapa sih lu, datang marah-marah," ucap Melia.?


Arvin menerobos masuk ke kamar, dia mau jelasin semuanya sama Devan.


"Kalian jangan berantem! biar aku pergi, maaf sudah membuat keluarga kalian ribut," ucap Arvin.


"Vin! jangan tinggalin aku, aku butuh kamu," kata Melia.


Devan langsung mengusir Melia juga, dia tidak peduli dengan orang tua Melia lagi kalau sampai tau.


"Oke! gue pergi!" kata Melia.


Melia kemudian berkemas -kemas , ia memasukkan semua bajunya koper kemudian membawanya ke mobil. Devan langsung mengunci pintu rumahnya kemudian pergi menemui Andra di apartemennya.


Andra kaget dengan kedatangan Devan, tidak biasanya Devan datang ke sana. Tadi Devan meminta Andra untuk ke apartemen miliknya. Andra pikir apartemen itu di suruh jual oleh Devan.


"Lu, gak sakit kan bro? sehat kan," kata Andra.


"Diem lu! jangan banyak omong," kata Devan melemparkan bantal ke muka Andra.

__ADS_1


"Butuh tempat curhat? ceritain apa keluhan lu," ucap Andra.


"Gue usir itu Melia! di bilang jangan bawa laki ke rumah, masih aja nekad," ucap Devan dengan wajah kesalnya.


"Bro, gue kasih tau! sebagai laki-laki kamu harus tegas, tindakan lu salah menurutku. Lu terlalu kasar sama itu Melia, harusnya kamu kasih pengertian dengan halus," kata Andra.


"Dari kemarin gue juga halus ngomongnya! dia aja yang gak tau diri," kata Devan.


"Eh... gue jadi ingat! kemarin ada perempuan datang ke kantor, nyariin lu namanya Melia. Gue bilang aja lu sama istri mau bulan madu," Jelas Andra.


"Pinter juga lu, biar kita cepat cerai," ucap Devan.


"Jadi Melia itu istri ke dua lu! cantik sih, tapi lebihan Rena," kata Andra lalu menyuruh Devan untuk menceraikan Rena saja. Andra mau menjadi pengganti Devan, asalkan wanitanya Rena.


Lemparan bantal kembali menghantam muka Andra, sampai kapan pun kalau Rena tidak akan dia lepas. Devan menanyakan kapan bisa meresmikan acara pernikahannya dengan Rena, dia sudah tidak sabar untuk mempublikasikan pernikahannya.


Andra meminta Devan untuk menyelesaikan dulu masalahnya dengan Melia, karena akan menjadi masalah nantinya kalau tidak di selesaikan salah satu.


🥀


Rena tidak tega melihat Melia duduk di tepi danau, Melia tadi mengajak Rena bertemu dengannya. Melia sangat menyesal sudah menikah dengan Devan, karena sikapnya yang terbilang kasar.


"Mau sampai kapan seperti ini, hapus air mata mu," ucap Rena sembari memberikan sapu tangan.


"Rena... " ucap nya lirih.


Rena langsung memeluk sahabatnya itu, dia ikut meneteskan air mata karena tidak tega melihat sahabatnya sedang terluka.


"Gue gak tahan dengan suami gue, Ren," ucapnya dengan isak tangis.


"Menangislah kalau bisa membuat kamu lebih terang," kata Rena masih memeluk Melia.


"Gue di usir! gara-gara pulang ke rumah sama Arvin," ucap Melia. Gue tau, tindakan gue salah," Lanjutnya.


Memang tidak seharusnya Melia mengajak Arvin ke rumahnya, tetapi semua ini di luar kendali mereka. Rena menyuruh Melia untuk meminta maaf pada suaminya, agar lebih tenang walaupun di terima atau tidak.


Rena menghapus air mata yang menetes di kedua pipi sahabatnya itu, dia sangat tulus memperlakukan Melia seperti saudaranya sendiri.


Ternyata ada sepasang mata yang mengawasi mereka berdua, orang itu ingin mendekat tetapi ragu.

__ADS_1


__ADS_2