Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 38


__ADS_3

"Yuk masuk lagi! paling juga kucing," ucap Andra yang tidak terlalu menghiraukan pot pecah.


"Ini sudah dua kali, Ndra! masa iya kucing, gak ada wujudnya lagi," kata Melia hendak membersihkan pecahan pot dan tanah yang berserakan di lantai.


"Gue pamit pulang dulu ya! mungkin untuk beberapa hari ke depan, gue jarang ke sini ada kerjaan," kata Andra.


"Terserah lu aja, mau datang atau gak! gue juga ada penelitian di pantai, mungkin menginap," kata Melia.


Melia merasa takut sebenarnya setelah kejadian pot pecah tadi, karena sudah dua kali terjadi. Yang dia takutkan adalah ada orang yang mencintainya. Setelah selesai membersihkan pot yang pecah tadi, Melia segera masuk ke dalam rumah, dia mengunci semua pintu lalu masuk ke dalam kamarnya.


***


Keesokan harinya di kampus Rena bertemu dengan Melia, mereka membahas soal kegiatan yang akan diadakan besok.


"Rena, gimana dapat izin tidak?" tanya Melia.


Rena menggelengkan kepalanya lalu tersenyum,


apapun alasannya Devan tidak akan memberikan izin.


"Aku bilang sama suami kamu boleh? atau gak usah minta izin aja," ucap Melia memberikan ide buat Rena.


"Jangan! ini masalah keluarga ku, jadi biar aku selesaikan sendiri.


"Waktu kita tidak banyak, hari ini penentuan ikut atau tidak," ucap Melia.


Melia tidak menunggu jawaban dari Rena, ia langsung pergi begitu saja ke kantor Devan. Kali ini idenya akan berhasil, ia sudah memastikan Devan tidak akan berkutik.


"Devan, ada yang harus kita bicarakan," kata Melia saat berada di kantor Devan.


"Gue sibuk! keluarlah, atau gue panggil satpam," ucap Devan.


"Panggil saja! kalau ingin rumah tangga lu dengan Rena hancur," ucap Melia mengancam Devan.


"Maksud lu apa! jangan ngelunjak, cepat katakan apa mau lu," ucap Devan.


"Izinkan Rena ikut kegiatan di kampus besok, kalau tidak gue bilang ke dia soal pernikahan kita," ucap Melia terpaksa mengancam Devan agar Rena bisa mendapatkan nilai yang bagus juga.


"Gila! itu urusan gue sama Rena, kenapa lu ikut campur," kata Devan melotot ke arah Melia.


"Terserah lu mau ngomong apa! cepat lu telepon Rena, bilang kalau diperbolehkan ikut penelitian," kata Melia.


Devan terdiam memikirkan ucapan Melia, ada rasa takut kalau Melia berkata jujur tentang pernikahannya.

__ADS_1


"Kenapa diam? gue gak punya banyak waktu, cepat ambil keputusan," kata Melia.


Melia hendak melangkahkan kaki keluar dari ruangan kerja Devan, dia sudah kehilangan akal lagi untuk berbicara dengan Devan.


"Tunggu! iya gue telepon Rena," ucap Devan lalu mengambil ponselnya.


Melia tersenyum lalu membalikkan badannya, ia kembali masuk ke dalam ruang kerja Devan.


Devan menelepon Rena, dia mengatakan kalau memberikan izin Rena ikut kegiatan di kampus. Walaupun sebenarnya dia terpaksa, semua itu dia lakukan demi rahasia pernikahannya dengan Melia tidak terbongkar. "Udah! puas lu," ucapnya setelah selesai menelpon istrinya.


Melia reflek memeluk Devan sembari mengucapkan terimakasih, dia sangat bahagia sahabatnya bisa ikut kegiatan di kampus.


Andra dari depan pintu menyaksikan Melia memeluk Devan, dia merasa dibohongi karena Melia mengatakan akan berusaha bercerai dengan Devan.


"Gue gak habis pikir," ucap Andra menuju ke meja kerja Devan.


Melia melepaskan pelukannya setelah mendengar suara Andra, dia sangat malu karena Devan juga tidak membalas pelukannya. Devan hendak menghindar sebenarnya, tetapi Melia terlanjur memeluknya dengan erat.


"Ini tidak seperti yang lu pikir, Ndra," kata Melia.


"Pergi lu!" kata Andra dengan keras.


Melia lalu pergi meninggalkan kantor Devan, dia hendak kembali ke kampus lagi. Karena Rena masih menunggunya di kampus.


"Keenakan aja lu, dipeluk Melia," kata Andra tak kalah kesal dengan Melia.


Devan menjelaskan pada Andra apa yang dilakukan Melia tadi, dia tidak ingin terjadi kesalahan pahaman nantinya. "Suatu saat kalau Rena mengetahui semua, lu saksi pertama bagaimana hubungan gue sama Melia," ucapnya.


"Iya gue mau! asal naikin gaji," ucap Andra mumpung ada kesempatan.


"Kerja dulu yang bener, tahun depan gue naikin," kata Devan.


"Harta lu dah banyak! semua itu gara-gara gue pelit," kata Andra.


"Gue dapat jeleknya," ucap Devan.


Mereka berdua kemudian melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena kedatangan Melia, Devan sampai membatalkan meeting nya karena sudah tidak fokus lagi.


***


Rena memeluk Melia, dia sangat bahagia karena Devan mengizinkannya untuk mengikuti kegiatan besok. Melia juga sangat senang melihat Rena kembali ceria, akhirnya usahanya berhasil.


"Mel, aku sudah mendaftarkan diri ikut penelitian. Gak tau ada angin apa Mas Devan tiba-tiba mengizinkan," kata Rena.

__ADS_1


"Mungkin suami mu tersambar petir, Ren," ucap Melia.


"Ngarang kamu! entar gak ada lagi dong yang cinta sama aku," kata Rena.


Rena mengajak Melia ke kantor Devan, dia ingin mengucapkan terimakasih pada suaminya karena sudah memberikan izin. Melia langsung menolak begitu saja, dia menghindari bertemu Devan bareng Rena. Melia tidak sanggup melihat kemesraan Rena dan Devan, dia akan merasa bersalah karena sudah menjadi orang ketiga dalam hubungan sahabatnya.


"Ayolah Mel! aku ingin kenalin kamu sama suamiku," kata Rena.


"Lain kali saja, Ren! aku mau pulang ke rumah Mamah," ucap Melia menolak ajakan Rena.


Rena tidak memaksa Melia, tetapi suatu hari nanti Rena tetap akan mengenalkan Melia pada Suaminya.


Rena saat ini sudah berada di kantor Devan, dia hendak melangkahkan kaki ke ruang kerja suaminya tetapi dilarang oleh salah satu karyawan di kantor Devan.


"Maaf, dilarang masuk ke ruang Pak Devan! beliau sedang meeting," ucap karyawan yang belum pernah Rena lihat.


"Saya ada perlu, Mbak. Kita sudah ada janji," ucap Rena.


"Tetapi tidak diperbolehkan masuk," ucap karyawan itu.


Padahal Rena mendengar kalau Devan sedang berbicara dengan seseorang didalam ruang kerjanya, ingin rasanya Rena berteriak tetapi sudah keputusan kantor.


"Mari ikut saya ke ruang sebelah," kata karyawan itu.


Rena mengikuti karyawan itu, dia dipersilahkan masuk ke dalam gudang. Saat Rena hendak bertanya pada karyawan itu, ia dipukul hingga pingsan.


Rena dikurung didalam gudang, dengan keadaan mulut dilakban dengan keadaan kaki dan tangan diikat. Orang itu pergi meninggalkan Rena begitu saja.


Tiga menit kemudian Rena mulai membuka matanya, dia terkejut dengan keadaannya saat ini. Hendak meminta tolong tetapi tidak bisa, Rena berusaha mengerakkan tangannya agar ikatan itu terlepas.


***


Devan sudah pulang dari kantor, dia tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya tetapi tidak mendapati Rena didalam kamar, kemudian Devan mencarinya di dapur.


"Minah, lihat Rena gak?" tanya Devan.


"Non Rena belum pulang, Den," jawab Minah.


"Apa? belum pulang dari tadi pagi?" tanyanya lagi.


"Iya, Den! Minah seharian di rumah sendiri," kata Minah.


Devan kemudian menelpon Rena tetapi tidak ada jawaban sama sekali, padahal teleponnya tersambung.

__ADS_1


__ADS_2