Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 28


__ADS_3

Perasaan Devan saat ini tidak tenang, pasti istrinya akan sangat kecewa dengannya. Demi menuruti apa kata Melia, ia mematikan ponselnya agar Rena tidak bisa menghubunginya.


Dia harus tega melakukan semua, walaupun dalam hatinya harus merasa menjadi seorang suami yang tidak berguna.


"Van, gila lu! kalau sampai terjadi apa-apa sama Rena gimana? pasti dia nekat berangkat sendiri," kata Andra.


"Lu, jangan nambahin khawatir! gue juga gak tega sebenarnya, tapi keinginan Melia begini," ucap Devan lalu menyesap rokoknya.


"Jadi laki-laki plin-plan lu! tegas dikit, yang punya pendirian," kata Andra dengan kesal.


"Gue juga mikir, kalau Rena sekarang lagi nungguin! pasti dia sedih, kecewa. Punya suami tidak bisa diandalkan gini," ujar Devan.


"Lu, aja yang bodoh! udah sana jemput Rena, mumpung masih ada waktu," kata Andra


Devan akhirnya pulang juga ke rumah, ia menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


***


Rena saat ini masih mondar-mandir menunggu kedatangan suaminya, sudah hampir tiga puluh menit dia menunggu.


"Devan gimana sih! masa lupa sama istrinya, awas saja nanti kalau gak pulang," omel Nadia.


"Mungkin Mas Devan sibuk, Mah! gak papa kok," ucap Rena masih bisa tersenyum.


"Gak bisa gitu dong! udah janji harus ditepati, gak boleh bikin kecewa," ujar Nadia.


Akhirnya Devan baru sampai di rumah, Rena tersenyum lega. Devan turun dari mobil ketika melihat wajah istrinya yang nampak bahagia, dia justru merasa bersalah tidak pulang dari tadi.


"Sayang, maaf! tadi ada perlu sama Andra," kata Devan.


Lagi-lagi Rena mengatakan tidak apa-apa, yang penting mereka bisa menghadiri pesta ulang tahun teman Rena.


Devan dengan cepat menganti pakaian lalu mengajak Rena segera berangkat, karena takut mereka telat.


Sampai di tempat pesta mereka hampir saja terlambat, untung saja masih ada kesempatan untuk mengucapkan selamat ultah tahun.


"Rena, kamu cantik sekali," ucap salah satu teman laki-laki Rena.


Devan sudah mengepalkan tangannya, banyak sekali teman Rena yang mengatakan Rena cantik. Ada juga yang hendak mengantarkan Rena pulang, padahal ada Devan disebelahnya.


Mental Devan saat ini benar-benar diuji, dia tidak menyangka banyak laki-laki yang mengagumi istrinya.

__ADS_1


"Sayang, lebih baik kita pulang! Tinggal makan kan, nanti Mas belikan apa yang kamu mau," ucap Devan yang sebenarnya menahan rasa cemburu.


"Bentar, Mas! Rena belum ketemu sama Melia," ucap Devan.


Tanpa menunggu persetujuan Rena, Devan langsung mengangkat istrinya seperti membawa beras satu karung. Dia melewati Melia, tak sengaja mata mereka saling bertemu tetapi Devan langsung memalingkan wajahnya.


"Mas, turunkan aku," ucap Rena.


Devan tidak menghiraukan ucapan istrinya, dia langsung membawanya masuk ke dalam mobil.


"Senang kamu banyak yang memuji," ucap Devan dengan wajah menahan amarah.


"Kenapa bicara seperti itu, Mas? Rena senang bisa mengenalkan Mas, pada teman-teman Rena," ucap Rena.


Devan lalu melajukan kendaraannya dengan kencang, dia sudah tidak peduli lagi dengan ucapan istrinya. Sampai di rumah, ia langsung membawa Rena ke dalam kamarnya.


"Pesta macam apa seperti itu! lain kali gak usah pergi ke pesta!" ucap Devan dengan keras.


"Mas, kenapa marah? Salah Rena dimana?" tanya Rena.


"Kamu senang dipuji banyak orang, tanpa memikirkan perasaan suami kamu!" ucap Devan.


"Maafkan Rena, Mas," ucap Rena dengan penuh penyesalan.


Rena berusaha bangun dari jatuhnya, tetapi kesulitan karena gaun yang digunakan terlalu panjang. Devan panik dan takut terjadi apa-apa dengan istrinya, ia lalu membantu Rena yang terjatuh karena ulahnya.


"Sayang, kamu gak papa kan? Maafkan Mas, sudah menyakiti mu," ucap Devan sembari membantu Rena berdiri.


Devan langsung memeluk istrinya dan mencium keningnya, dia merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya.


"Mas, Rena baik-baik aja kok," ucap Rena tersenyum.


"Mas gak suka teman kamu memuji seperti itu, Mas gak Rela," ucap Devan.


"Rena ngerti, Mas," kata Rena.


Devan kali tidak akan pernah mengizinkan Rena pergi ke pesta lagi, kalau tidak dengannya. Dia juga ingin melarang istrinya untuk pergi kuliah, tetapi teringat dengan cita-cita orang tua Rena.


Devan hanya cemburu melihat banyak orang yang mengagumi kecantikan istrinya, dia tidak suka dengan cara teman-teman Rena yang menurutnya kelewatan. Apalagi tadi disebelah Rena ada dirinya, Devan menganggap teman Rena tidak punya sopan santun.


***

__ADS_1


Melia masih berada di pesta ulang tahun temannya, dia merasa tidak dianggap oleh Devan. Ternyata Devan tidak menuruti ucapannya, dia tetap memilih mengantarkan Rena.


"Ngelamun lu, biasanya kaya cacing kepanasan," ucap Eros duduk disebelah Melia sambil membawa dua gelas minuman, yang satu dia berikan untuk Melia.


"Apaan sih! gak tau orang lagi kesel aja," ucap Melia menerima minuman itu, lalu langsung saja dia habiskan.


"Mel, itu... ucap Devan saat melihat Melia langsung menengguk minuman yang dia berikan.


"Nih gelasnya," ucap Melia.


"Untung gue gak kasih racun," ucap Eros.


Melia baru sadar biasanya Eros kalau di pesta selalu meminum minuman bersoda, Melia alergi dengan minuman bersoda. Dia langsung lari ke toilet untuk memuntahkan semua isi perutnya.


"Melia!" teriak Eros dari luar.


"Ngapain lu, ke toilet wanita! disangka ngintip orang entar," ucap Melia.


"Gue khawatir ma lu, gara-gara gue lu jadi muntah-muntah," ucap Eros.


Melia mengatakan kalau dia ingin pulang ke rumah, dia sudah capek kebetulan kepala Melia juga agak pusing gara-gara minuman tadi.


Sebagai bentuk permintaan maaf Eros mengantarkan Melia pulang ke rumah, tetapi saat diperjalanan Melia pingsan. Eros panik kemudian membawanya ke rumah sakit terdekat, ia hendak menghubungi keluarga Melia tetapi tidak tau siapa yang harus dia hubungi. Akhirnya ia memutuskan menjaga Melia sampai sadar.


"Gimana dok, keadaan teman saya?" tanya Eros khawatir.


"Dia hanya pingsan, mungkin terlalu banyak pikiran jadi kurang beristirahat," kata Dokter.


Dokter meminta Eros menjaga Melia lebih dulu, karena saat sadar nanti harus ada obat yang harus diminum oleh Melia.


"Mel... Melia... sadar dong! jangan bikin gue susah, kalau suami lu datang gimana?" ucap Eros dengan pelan.


"Seandainya yang gue tungguin ini Rena, pasti bisa menatap wajah cantiknya," ucap Eros dalam hati sembari menggenggam tangan Melia.


"Lepasin tangan gue!" teriak Melia menarik tangannya.


"Untung saja lu, sadar," kata Eros. Jangan banyak gerak dulu," ucapnya.


Melia hendak bangun dari tidurnya, tetapi kepalanya terasa pusing. Dia belum sadar kalau berada di rumah sakit. Eros memberitahu kalau dia tadi pingsan, dan dibawa ke rumah sakit.


"Kata Dokter lu, banyak beban pikiran! mending kabarin suami lu, gue harus pulang," kata Eros.

__ADS_1


Melia kemudian mengambil ponselnya, dia lalu menghubungi Devan. Untuk mencari tahu suaminya peduli tidak degannya.


"Lu, jangan pergi dulu! gue udah kasih tau suami, kita tunggu dia dateng gak," ucap Melia.


__ADS_2