
"Sayang, apa kamu tadi ke rumah Melia?" tanya Devan sebenarnya khawatir kalau Melia mengatakan semuanya.
"Iya, Mas. Kasihan Melia sendirian, suaminya saja tidak peduli," ucap Rena membuat Devan tersedak, Rena panik kemudian mengambilkan minum untuk Devan.
"Makasih, sayang," ucap Devan setelah minum.
Kebetulan mereka berdua sedang memakan camilan, sampai Devan tersedak saat mendengar ucapan Rena.
"Lain kali hati-hati, Mas," ucap Rena.
"Sayang, mungkin suami Melia tidak suka sama dia," ucap Devan.
"Kok Mas, tau! mereka memang menikah karena suaminya terpaksa," ucap Rena.
"Kamu kan pernah cerita, lagian sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah ada baiknya. Lebih baik dijalani dengan hati yang ikhlas seperti kita, lama-lama saling suka," ucap Devan menenangkan Rena.
Rena mengakui sebenarnya waktu pertama kali bertemu dengan Devan sudah menyukai, tetapi belum ada rasa karena belum tau sikap Devan seperti apa. Setelah mereka menjalani pernikahan ini, dan Devan ternyata sangat sayang begitu perhatian dengannya rasa itu mulai tumbuh.
Bahkan saat ini, jika Rena diminta untuk bercerai dengan Devan dia tidak akan mau. Dia sangat mencintai suaminya, walaupun pertemuan mereka sangat singkat. Tetapi jika Rena mengetahui tentang pernikahan Devan dan Melia, mungkin akan beda cerita lagi.
"Mas, gimana kalau Melia kita ajak tinggal bareng aja! kalau suaminya sudah memperhatikannya biar dia pulang," ucap Rena.
"Sayang, Melia punya keluarga! biar dia menyelesaikan masalahnya sendiri, kita tidak perlu ikut campur," kata Devan.
Apa yang dikatakan oleh Devan memang benar, memang seharusnya Rena tidak perlu mengajak Melia untuk tinggal bersamanya. Dia sebenarnya juga tidak ingin cepat ketahuan soal pernikahannya dengan Melia, kalau sampai terjadi entah bagaimana nasib pernikahannya dengan Rena. Intinya saat ini Devan belum siap dengan semuanya.
"Rena minta maaf, Mas! Rena hanya merasa kasihan dengan Melia," ucap Rena.
Devan membawa istrinya ke dalam pelukannya, dia tidak mempermasalahkan ucapan Rena tadi. Dia menjadi berfikir apakah selama ini sikapnya keterlaluan pada Melia.
***
Melia dan Rena hari ini sudah mulai masuk ke kampus, mereka berdua terlihat sangat akrab. Bahkan saat Devan mengantarkan Rena, Melia justru seolah-olah tidak mengenal Devan. Dia sudah bisa menerima kenyataan, semua itu berkat nasehat dari Andra.
__ADS_1
Melia juga berencana hendak mengambil berkas yang sudah ditandatangani oleh Devan, dia ingin membakar atau menghanguskan berkas itu agar bisa bercerai dengan Devan.
"Mel, bulan ini kita ada kunjungan ke pantai bukan! untuk penelitian," kata Rena.
"Kamu yakin mau ikut? apa diperbolehkan oleh suami kamu," ucap Melia yang sudah mendengar kalau sekarang Devan banyak melarang Rena.
"Aku tidak tau! sepertinya akan sulit meminta izin pada Mas Devan," ujar Rena.
Melia memberikan ide pada Rena, untuk mengatakan kalau mereka pergi beramai-ramai dan bersamanya. Tetapi Devan pasti tidak akan mengizinkan kalau menginap apalagi ada mahasiswa laki-laki, kecuali dia ikut.
Walaupun mengatakan bersama Melia dan tidak ada laki-laki, pasti Devan belum tentu mengizinkan karena takut Melia mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.
"Kalau gak ikut penelitian nilai ku pasti jelek," ucap Rena tidak tau harus bagaimana untuk membujuk suaminya yang sekarang over protective.
"Tanya saja sama suamimu, siapa tau dia kasih solusi yang terbaik," kata Melia dengan hati-hati, dia tau sifat Devan kalau terlalu mempengaruhi Rena.
Setelah kegiatan kuliah selesai, Melia berpamitan pada Rena. Dia hendak pergi ke rumah orang tuanya lebih dulu, sedangkan Rena menuju ke kantor Devan untuk meminta izin.
Di rumah orang tua Melia terlihat sangat sepi, dia menyusup masuk ke dalam rumah dengan pelan. Yang Melia tuju adalah ruang kerja Papahnya, dia nekad masuk ke ruangan itu tanpa meminta izin.
Terdengar suara ketukan alas kaki yang menyentuh lantai mengarah ke ruangan itu, Melia kemudian bersembunyi dibalik almari yang tidak mungkin disentuh oleh Papahnya.
Melia bernafas lega, ternyata yang memasuki ruangan itu adalah Mamahnya. Dia masih tetap bersembunyi, karena takut jika Mamahnya melaporkan pada Papahnya. "Hampir saja gue ketauan! Melia kangen, Mah," ucapnya.
Tidak sampai disitu, Melia terus berusaha mencari keberadaan berkas itu bahkan dia rela seperti maling menyusup kerumahnya sendiri. Dia hendak mencari di kamar orang tuanya, tetapi ada Mamah Ema.
"Non, Melia! sejak kapan datang kesini?" tanya seorang asisten rumah tangganya.
"Baru saja! Mamah mana?" tanya Melia pura-pura.
"Ada di kamarnya, Non! perasaan tadi gak ada yang ketuk pintu, kok Non bisa didalam," kata asisten rumah tangganya.
Melia lalu mengambil uang dan diberikan pada asisten rumah tangganya itu. "Ini uang tutup mulut, jangan katakan pada siapapun kalau aku datang," ucap Melia.
__ADS_1
"Baa... ik, Non," ucap asisten rumah tangganya ketakutan.
Melia meminta nomor ponsel asisten rumah tangga itu, dia meminta jika orang tuanya tidak ada di rumah agar diberikan kabar.
"Lebih baik sembunyi dulu, Non! sebentar lagi Nyonya pasti pergi," kata asisten rumah tangga yang bernama Susi.
Melia tidak mau mengikuti saran dari Susi, karena dia tidak mau sampai ketahuan jika datang ke rumah orang tuanya. Ia pun langsung pergi, tidak jadi melanjutkan mencari berkas itu.
***
"Sayang, kok gak bilang kalau mau datang," ucap Devan terkejut istrinya sudah berada di ruang kerjanya.
"Rena ada perlu sama, Mas," kata Rena sedikit takut tidak diberikan izin.
"Iya, Sayang! perlu apa," ucap Devan menghentikan pekerjaannya karena Rena terlihat sangat serius.
"Begini, Mas. Lusa di kampus Rena ada penelitian ke pantai dan sepertinya menginap. Apakah Rena boleh ikut?" tanya Rena.
"Sayang, kamu pasti sudah tau jawabannya sendiri. tidak perlu Mas perjelas kan," ucap Devan tidak mengizinkan.
Rena mengatakan kalau nilainya akan buruk jika tidak mengikuti kegiatan itu, kalau Rena tetap mau ikut Devan yang akan menggagalkan acara itu.
"Tapi, Mas! tolong kesampingkan ego dulu, Rena sampai kapanpun tetap mencintai, Mas! kecuali...
"Kecuali apa?" tanya Devan memotong ucapan Rena karena sudah tidak sabar hendak mengetahui apa maksud istrinya.
"Kecuali ada orang lain di hati, Mas," ucap Rena. Kenapa jadi bahas hati," Lanjutnya.
Rena terus berusaha meminta izin pada suaminya, dia tetap ingin mengikuti acara itu.
"Mas, tolong izinkan Rena ya? Rena janji tidak akan berbuat yang aneh-aneh," ucap Rena merayu suaminya.
Devan memikirkan kembali keputusannya itu, dia bingung antara mengizinkan atau tidak.
__ADS_1
"Mas, gimana?" tanya Rena.