Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 14


__ADS_3

Hadi tidak sabar ingin segera bertemu dengan Arman, yang merupakan sahabat lamanya. Dulu sebelum Hadi menjadi seorang konglomerat, Arman banyak membantunya sampai berhasil. Dia merasa bahagia mendengar nama Arman Wijaya, tetapi dia juga harus menelan kenyataan pahit kalau Devan juga menikah dengan anak orang yang dulu pernah menghancurkan usahanya. Semua sudah berlalu, dia akan mencoba melupakan kejadian pahit itu. Tetapi tidak semudah membalikkan telapak tangan, Hadi tidak tau harus berbuat apa. Apalagi keadaan Salman yang masih sakit, tidak mungkin dia akan menghancurkan balik orang yang sudah tidak berdaya. Dia curiga kalau selama ini Salman sudah mengintai kehidupannya, dan mencari kelemahannya.


"Awasi terus orang ini! dia sangat berbahaya," kata Hadi Mahendra sembari menunjukkan foto Salman yang tak lain adalah Papah Melia.


"Baik, Tuan. Kalau gitu saya permisi," pamit seorang suruhan Hadi Mahendra dengan sopan.


Hadi kemudian kembali menemui Rena dan Devan, dia hendak menanyakan kapan mereka akan meresmikan pernikahan mereka.


"Kalian kapan akan mengadakan pesta pernikahan?" tanya Hadi Mahendra.


"Tidak perlu, Pah. Yang penting buat kita adalah doa dari orang tua," ucap Rena lebih suka kesederhanaan dari pada kemewahan.


Menurut Papah Devan mereka harus segera menunjukkan ke semua orang tentang pernikahan mereka, agar tidak ada yang mengusiknya lagi.


"Devan, menurutmu gimana?" tanya Nadia meminta pendapat anaknya.


"Aku setuju dengan Papah, agar semua orang tau," kata Devan.


Banyak hal yang harus mereka pertimbangkan lagi, karena resikonya juga sangat besar jika mengadakan pesta. Apalagi Hadi Mahendra seorang pebisnis, pasti banyak pesaing dan orang yang ingin menjatuhkannya.


"Lebih baik kita tanya Ayah kamu dulu Rena, karena dia lebih berpengalaman dalam mengambil keputusan," kata Hadi Mahendra.


"Papah, tau dari mana?" tanya Nadia.


"Ternyata Rena anak Arman Wijaya, Mah! orang yang dulu pernah menolong Papah waktu kesulitan," jelas Hadi Mahendra.


"Kebetulan sekali dong! padahal kita dulu berencana untuk mencari dia," kata Nadia.


"Cari Ayah! ada apa, Mah?" tanya Devan.


"Kita mau mengucapkan terimakasih, beliau sudah banyak membantu keluarga kita," kata Nadia.


Mereka semua kemudian berencana besok akan datang ke rumah Ayah Rena, untuk berterimakasih dan membicarakan soal pesta pernikahan Devan dan Rena.


"Mas, kita pulang yuk," ajak Rena.


"Kalian mau pulang kemana? apartemen Devan yang sempit itu," kata Hadi Mahendra.


"Gak usah ngeledek, Pah! Devan bisa kok beliin rumah buat Rena," kata Devan.

__ADS_1


Selama ini Devan memang tidak pernah bercerita kalau perusahaan yang dia pegang maju pesat, banyak perusahaan lain yang menginginkan berkerjasama dengannya.


"Kak Rena, kita belum kenalan," ucap Devia dengan tiba-tiba.


Rena tersenyum mendengar ucapan adik iparnya, mereka kemudian saling berkenalan dan bertukar cerita hingga Rena dan Devan tidak jadi pulang.


"Minah!" teriak Nadia.


Devia menutup kedua telinganya, ketika sang Mamah sudah berteriak memanggil Minah kesayangannya. Minah berlari dari dapur menuju ruang keluarga, sambil membawa panci saking terburu-buru.


"Nyonya, jangan teriak napa! Minah lagi masak, kalau pas goreng minyaknya kena muka gimana! gosong dong muka Minah," kata Minah.


"Udah jangan banyak protes! sana bersihkan kamar Devan, dia mau nginep disini," ucap Nadia.


"Siap, Nyonya," kata Minah kemudian hendak pergi ke kamar Devan.


"Minah!" teriak Nadia lagi.


"Apa lagi, Nyonya," sahut Minah.


"Panci balikin dapur dulu!" teriaknya lagi.


"Sayang, kamu harus terbiasa mendengar Mamah teriak," ucap Devan sembari tersenyum ke arah Rena.


Dugaan Rena memang benar, tapi kalau Minah mendengar dia tidak akan terima jika dibilang gak dengar. Kadang Minah membersihkan rumah sambil joget dan mendengarkan musik.


Devia saja kadang menyuruh Mamahnya untuk memanggilkan Minah, kalau pas Minah pulang kampung rumah ini terasa sepi tidak berpenghuni.


Nadia pasti sibuk dengan ponselnya, sedangkan Devia sibuk dengan tugas-tugas dari sekolah. Karena Papah dan Devan jarang pulang ke rumahnya.


"Nyonya, kamarnya sudah bersih, kinclong seperti hati Minah," ucap Minah sembari menepikan sulur rambutnya yang menutupi muka.


"Emang yang mau pakai aku! kok bilang ke aku," kata Nadia.


Minah menirukan gaya bicara Nadia, hingga mendapat pukulan di lengan tangannya. "Den Devan, Non Rena, kamarnya sudah bersih," ucapnya.


"Iya Mbak, makasih sudah dibersihkan," ucap Rena dengan lembut.


"Tuh Nyah, contoh menantunya kalau bicara! biar Minah bahagia," kata Minah kemudian berlalu ke dapur sebelum Nadia ngomel lagi.

__ADS_1


Mereka semua hanya tertawa kalau terjadi kejadian seperti ini, apalagi Papah Devan yang memilih masuk ke ruang kerjanya atau menghindar.


**


Salman saat ini sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya, dia memangil orang suruhannya untuk masuk ke dalam rumah.


"Bodoh kalian!" teriak Salman.


"Maaf, Tuan! kita gagal mengikuti mereka," kata seorang suruhannya.


"Cari sampai ketemu, siapa istri Devan! aku ingin pernikahan mereka hancur," ucap Salman.


Melia mendengar semua percakapan Papahnya dengan orang suruhannya, dia tidak menyangka demi perusahaan rela melakukan apa saja. Bahkan menikahkan putrinya dengan orang yang akan dia hancurkan.


"Pah, hentikan semua!" teriak Melia sembari meneteskan air mata.


"Melia, masuk ke kamar!" teriak Salman yang sedang marah karena rencananya gagal. Dia sudah rela pura-pura sakit demi rencana yang dia jalankan.


Mamah Ema sebenarnya dia tau kalau suaminya jahat, tetapi dia berusaha menutupi semua demi kebaikan Melia. Ema sangat menyayangi Melia, makanya dia rela menutupi keburukan suaminya.


"Melia, maafkan sikap Papah kamu," ucap Mamah Ema.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mah! Besok Melia akan urus perceraian dengan Devan," ucap Melia.


"Mamah mohon jangan lakukan itu, Melia! Papah melakukan semua agar nanti hidupmu terjamin, kamu takkan kalau Devan seorang anak konglomerat," kata Mamah Ema.


"Bagaimanapun Devan mempunyai seorang istri, Mah. Tidak mungkin dia akan menyukai Melia, jadi percuma pernikahan ini dipertahankan. Lagian orang tua Devan juga belum tentu akan merestui pernikahan ini," ujar Melia.


Melia tidak mau mendukung kejahatan Papahnya lebih dalam, dia malu dengan Devan kalau semua ini terbongkar.


Ema kemudian menemui suaminya, dia meminta Salman untuk menghentikan perbuatannya.


"Pah, biarkan Melia bercerai dengan Devan. Pacar Melia kan juga kaya, kalau Melia menikah dengan Arvin hidupnya juga akan terjamin," kata Ema.


"Lebih baik Mamah tidak usah ikut campur! ini bukan soal jaminan hidup, tetapi rasa sakit hati," ucap Salman.


Ema bertanya-tanya, dia tidak paham dengan apa maksud suaminya. Yang dia tau, orang suruhan suaminya salah menangkap Devan.


"Jelaskan apa maksudnya, Pah," ucap Ema ingin tau kebenarannya.

__ADS_1


"Mamah, tau siapa Devan?" tanya Salman.


Ema menggelengkan kepalanya, karena dia memang tidak tau siapa Devan. Yang dia tau Devan anak seorang konglomerat yang kaya raya.


__ADS_2