Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 16


__ADS_3

Devan langsung kembali ke kampus istrinya setelah mendapat pesan, dia juga lupa tidak mengingatkan pada Rena. Setelah sampai Devan turun dari mobil, dia mencari keberadaan istrinya itu. Saat dia berjalan menjadi pusat perhatian mahasiswa, yang dia lewati. Ketampanan Devan membius para kaum hawa, apalagi dia begitu murah senyum membuat orang yang bertegur sapa dengannya terpesona.


Rena mengatakan kalau dirinya berada di perpustakaan kampus, Devan langsung menuju ke perpustakaan itu.


"Sayang, maaf aku tadi lupa tidak mengingatkan! ini bukunya," ucap Devan begitu lembut.


"Makasih, Mas. Sudah diantar sampai sini, padahal aku juga mau keluar tadi," ujar Rena tersenyum manis ke arah suaminya.


"Mas balik dulu ke kantor, sayang," pamit Devan kemudian melangkahkan kaki keluar dari perpustakaan.


"Mas!" teriak Rena membuat Devan menoleh ke arahnya.


"Hati-hati," Lanjutnya.


Devan tersenyum ke arah istrinya lalu pergi meninggalkan kampus.


"Kamu lama sekali, Melia! padahal aku tadi mau kenalin kamu sama suamiku," ucap Rena.


"Perutku sakit sekali tadi, gara-gara tadi pagi sarapan pedas," ujar Melia kembali duduk disebelah Rena.


Mereka berdua lalu berdiskusi soal tugas yang diberikan oleh dosen. Rena sangat bersemangat karena ingin mendapat nilai yang bagus dan pekerjaan yang bagus juga tentunya.


"Rena, kita makan di cafe tempat biasa nongkrong yuk! aku kangen sama Arvin," ucap Melia.


"Boleh! kebetulan aku juga sudah lama tidak makan bareng kamu," kata Rena.


Padahal mereka kemarin juga makan bareng waktu di rumah Rena, dulu mereka pulang dari kuliah langsung ke cafe milik Arvin. Mereka berdua di sana kadang sampai sore hari baru pulang, hingga pemilik cafe yang tak lain adalah Arvin selalu ikut menemani mereka. Waktu begitu cepat berlalu, kini kebersamaan mereka tinggallah kenangan yang tak bisa dilupakan.


Mereka akhirnya sampai juga di cafe milik Arvin, memang lokasinya tidak jauh dari kampus mereka.


"Mel, kamu mau minum apa?" tanya Rena.


"Samain ajalah! lagian selera kita juga sama," kata Melia.

__ADS_1


Rena kemudian memesan makanan dan minuman kesukaan mereka beberdua. Melia merasa kesepian selama Arvin meninggalkannya, masalah juga bertubi-tubi mendatanginya. Tetapi dia tetap semangat menjalani kehidupannya.


"Rena, ternyata aku bukan anak kandung Papah dan Mamah, mereka hanya mengadopsi ku dari panti asuhan. Sayangnya orang tua kandung ku sudah meninggal," jelas Melia.


"Masa sih Mel! aku gak percaya," kata Rena kaget.


"Buat membuktikan semuanya, kamu mau kan temani aku ke panti asuhan iu?" ucap Melia penuh harap.


"Ayo kalau mau kesana sekarang," ujar Rena.


Mereka dengan cepat menghabiskan makannya, kemudian menuju ke sebuah panti asuhan yang jaraknya tidak jauh dari cafe tempat Arvin.


Ibu panti menyambut mereka dengan baik, bahkan mereka juga langsung dipersilakan untuk masuk ke dalam.


"Apa keperluan kalian datang kesini, Nak?" tanya Bu Aminah selaku pemegang panti.


"Kita boleh bertanya tidak bu, soal kejadian dia puluh tahun yang lalu," jelas Melia.


"Baiklah, kalau bisa saya akan menjawabnya," kata Bu panti.


"Wulan Lesmana dulu adalah wanita yang pekerja keras, dia anak yang baik, sangat nurut dengan Ibunya. Tetapi karena cintanya tidak mendapatkan restu dia dan kekasihnya melarikan diri. Sungguh malang nasib Wulan, setelah menikah hidupnya tidak semulus yang dia jalani. Hingga pada suatu hari Wulan hamil, dia melahirkan seorang anak perempuan. Wulan dan suaminya tidak mempunyai biaya untuk membesarkan anaknya, karena suaminya baru saja terkena phk. Kemudian mereka berdua datang kesini, dan menitipkan anaknya untuk sementara waktu. Tapi naas waktu mereka kembali ke rumah, mereka kecelakaan dan keduanya meninggal. Sehari setelah mereka meninggal ada seorang pemuda yang baru saja kehilangan anaknya, dia meminta tolong untuk merawat bayi yang baru lahir. Dengan terpaksa kita memberikan karena pada saat itu, keadaan di panti juga belum banyak donatur. Kita takut tidak bisa memberi Susu, untuk anak itu," jelas Ibu Aminah.


"Ibu tau tidak, anak itu siapa?" tanya Melia.


"Aku masih sedikit ingat, nama anak itu Melia Lesmana. Yang mengadopsi orang kaya, mungkin sekarang sudah sebesar kalian," ujar Ibu Aminah.


"Anak itu saya, Bu," ucap Melia dengan berlinang air mata. Saya hanya ingin memastikan keberadaan orang tua kandung saya," Lanjutnya.


Ibu Aminah langsung bergegas memeluk Melia, dia sangat bersyukur bisa bertemu dengan Melia. Karena ada beberapa hal yang harus Melia ketahui.


Rena juga ikut bersedih dengan kenyataan yang baru saja dia dengar, Melia orang baik tidak adil kalau harus menderita terus.


Ibu Aminah menunjukkan dimana keberadaan makam orang tua Melia, dia meminta Melia untuk mendoakan orang tuanya.

__ADS_1


"Mamah dan Papahmu orang yang baik, Nak! semasa kerja selalu membantu panti, dia juga tidak pernah mengeluh walaupun hidup dalam kekurangan," jelas Ibu Aminah.


"Bu terimakasih banyak, sudah membantu kita. Ini ada sedikit uang untuk Ibu," ucap Rena.


Bu Aminah awalnya menolak uang itu, tetapi Rena terus memaksa. Mereka berdua kemudian berpamitan untuk pulang karena waktu terus berjalan dan sudah hampir gelap.


Rena pulang ke rumahnya sendiri, dan ternyata Devan sudah pulang.


"Mas, sudah pulang! maaf aku tadi mengantarkan Melia," ucap Rena merasa bersalah.


"Gak papa, sayang," ucap Devan dengan tersenyum.


"Mas, gak marah kan?" tanya Rena lagi.


"Sebenarnya mau marah, tetapi semua sudah terlanjur. jadi percuma marah," kata Devan.


Rena reflek langsung memeluk suaminya, saking senangnya Devan tidak marah.


"Sayang, kamu belum mandi! bau nih," ucap Devan meledek Rena.


"Maaf, Mas," ucap Rena hendak melepaskan pelukannya tetapi Devan justru mempererat pelukannya.


"Kamu tetap wangi kok sayang, walaupun belum mandi," ucap Devan sembari mencium pucuk kepala istrinya. Tetapi jangan diulang lagi," Lanjutnya.


"Iya, Mas! janji gak akan ulang lagi, besok Rena kasih kabar kalau pulang telat," ucap Rena tadi dia juga tidak memberitahu suaminya kalau pulang sore.


Devan kemudian menyuruh Rena untuk mandi, karena dia ingin mengajaknya untuk makan malam diluar. Gara-gara Rena pulang sore, jadi tidak ada makanan sama sekali. Mereka berdua sengaja tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga, karena ingin menghabiskan waktu berdua lebih dulu.


Mereka berdua berangkat ke restoran yang ada didekat kantor.


"Mas, kenapa ditempat seperti ini," protes Rena dia tidak suka ditempat yang mewah.


"Sekali-kali, sayang," kata Devan lalu tersenyum ke arah Rena.

__ADS_1


Devan kemudian memanggil pelayanan, dia hendak memesan makanan.


"Devan!" ucap seseorang orang duduk didekat meja Devan dan Rena. Dia lalu mendatangi Devan dan Rena.


__ADS_2