
Andra mengecek bagian mesin, tetapi tidak ada yang mencurigakan. Lalu dia duduk di pinggir jalan, sembari menghubungi Tasya.
Sepuluh menit kemudian Tasya baru sampai, karena tadi ada keperluan jadi tidak bisa datang cepat.
"Lama sekali! kemana aja, lu gak kasihan apa sama gue? bayangin aja dari tadi dipinggir jalan sendirian," ucap Andra.
"Kenapa marah? harusnya lu bersyukur gue malam-malam begini datang kesini," ucap Tasya. Padahal gue juga gak tau mau bantu apa," Lanjutnya.
Andra mengatakan kalau mobilnya Devan kehabisan bensin, terus dia meminta bensin pada Tasya. Beruntung Tasya baik, dia hanya disuruh untuk mengambil saja.
"Udah selesai! makasih ya, Tasya. lu emang tetangga gue yang paling baik, gue cabut dulu," ucap Andra meninggalkan Tasya begitu saja.
Tasya lalu masuk ke dalam mobilnya kemudian ia pulang ke rumah.
Andra sampai juga di rumah Melia, dia mengetuk pintu dengan keras. Melia yang ada didalam segera membukakan pintu untuk Andra.
"Kenapa mata lu? nangis lagi," ucap Andra.
"Gak papa! ayo masuk," kata Melia.
"Mel, gue bawain lu makanan ini! coba deh buka," ucap Andra memberikan kotak makanan yang isinya penuh.
"Pasti gak beli lagi! lu nyolong dimana, Ndra," kata Melia mulai membuka kotak itu.
"Bawa dari rumah Devan, tadi boleh kok sama Minah," kata Andra.
Melia langsung memakan makanan yang dibawa oleh Andra, dia memang sangat kelaparan tetapi malu untuk mengatakannya. Ia juga sangat berterimakasih pada Andra, yang telah sudi menemaninya disaat sakit dan memberikan makanan untuknya walaupun dia tidak membeli.
"Minum obat lu, gue pulang dulu! gak enak sama tetangga malam-malam nyamperin istri orang," kata Andra.
Melia menuruti apa kata Andra, kemudian dia mengantarkan Andra ke depan rumah.
Pagi hari saat hendak pergi ke kantor Devan mendapati Andra tidur didalam mobil, ia kemudian membangunkan temannya itu karena sudah siang. Mereka berdua pagi ini harus meeting dengan perusahaan A, tetapi Andra justru masih tidur.
"Van, ke apartemen dulu! dari kemarin gue belum mandi," ucap Devan.
__ADS_1
"Terlambat kita nanti, kalau ke sana dulu," ucap Devan melajukan kendaraannya dengan kencang.
Devan menyuruh Andra untuk mandi di kantor saja, kebetulan di kantor ada baju ganti milik Devan yang tidak dipakai.
"Van, lu gila deh! mana muat baju lu buat gue," kata Andra.
"Udah jangan protes mulu! buruan sana turun," kata Devan setelah sampai di kantor.
Andra beneran lari ke ruang kerja Devan untuk mengambil baju ganti, dia kemudian segera mandi karena harus segera meeting. Devan tertawa melihat tingkah Andra,
***
Rena hari ini pergi ke rumah Ayahnya, dia kangen dengan Ayahnya karena sudah lama tidak bertemu.
Dia memasak untuk Ayahnya, walaupun ada asisten rumah tangga tetapi Rena ingin membuatkan makanan dengan tangannya sendiri.
Selesai memasak, Ayah rena mengajak berbincang-bincang ditepi kolam. Kebetulan dipinggir kolam itu ada teman untuk nyantai.
"Rena, kamu masih ingat Saka? teman kamu waktu kecil itu," ucap Ayahnya.
"Masih, Yah! emangnya Mas Saka sudah pulang dari luar negeri," kata Rena.
"Rena salah, Yah! Maafin Rena, dulu kita sempat berpacaran," ucap Rena.
"Apa! kenapa kamu tidak mendengarkan Ayah," kata Ayah Rena.
Rena tidak tau harus mengatakan apa pada Saka, dulu mereka sempat berpacaran tetapi harus terpisah karena Saka melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
"Kenapa kamu pulang saat aku sudah menikah, Mas," ucap Rena dalam hati.
Dulu Rena sangat mencintai Saka, tetapi Saka menghilang tanpa kabar. Bahkan orang tua Saka tidak pernah menyukai Rena.
Rena teringat saat dulu masih bersama Saka, setiap hari ia diantar dan dijemput saat masih sekolah.
Rena sangat bersyukur bisa melupakan Saka dan menemukan Devan, karena hubungannya dengan Saka tidak sehat. Bahkan Rena sering mendapatkan penghinaan dari keluarga Saka. Itulah yang membuat sakit hati Ayah Rena, sehingga tidak menyetujui hubungan mereka.
__ADS_1
Yang mereka bahas ternyata datang ke rumah, Rena meminta izin Ayahnya untuk menemui Saka. Karena masalah kecil seperti ini harus diselesaikan, agar nantinya tidak menjadi duri dalam keluarga Rena.
"Rena, kamu cantik sekali! aku kangen sama kamu," ucap Saka hendak memeluk Rena.
Rena memundurkan diri ke belakang, dia menghindari Saka. "Maaf, Mas! bukan muhrim, Rena sudah menikah," ucapnya.
"Kenapa kamu meninggalkan aku, Rena? aku pergi ke luar negeri karena ingin merubah hidupku, agar bisa menikah dengan mu," ujar Saka.
"Mas, tolong ikhlaskan Rena. Dulu Mas tidak pernah ada kabar, kenapa sekarang Mas kembali baru mengatakan semua," ucap Rena.
Saka berusaha menggenggam tangan Rena, tetapi Rena menolak. Dia tidak bisa percaya lagi dengan Saka, yang suka mengobral janji.
"Ren, aku datang kesini awalnya ingin melamar mu tetapi kamu malah sudah menikah! aku kecewa sama kamu," kata Saka.
Saka ingin bertemu dengan suami Rena, dia ingin merebut Rena kembali. Dia tidak terima Rena sudah menikah.
"Saka, Om yang menjodohkan Rena dengan suaminya! seorang Ayah tidak akan pernah rela anaknya menikah dengan orang yang tidak jelas, seperti kamu," ucap Ayah Rena.
"Om, ini semua gak adil! kita saling mencintai," kata Saka.
"Dulu saat bersamamu Om perhatikan Rena sering sedih, mengurung diri, bahkan tidak mau makan! sedangkan kamu tidak pernah peduli dengan apa yang dialami Rena," kata Ayah Rena.
Ayah Rena berucap seperti itu karena dia tau kalau Saka suka nongkrong dan balap liar, bahkan sering membawa seorang wanita berganti-ganti. Jadi wajar saja kalau Ayah Rena juga tidak setuju dengan hubungan mereka, Saka selalu mengelak jika ada yang mengatakan seperti itu. Diam-diam Ayah Rena selalu mengawasi putri semata wayangnya, dia pergi kemana dan dengan siapa.
"Om, Saka menghilang tidak ada kabar karena sibuk! di luar negeri waktu Saka sangat terbatas," jelas Saka.
Rena memutuskan mulai sekarang hanya akan menganggap Saka sebagai teman, dan tidak lebih. Karena Rena sadar kalau sudah tidak ada perasaan lagi, dan sudah mempunyai suami. Walaupun Saka tidak peduli, tetapi Rena menolak dengan lembut dan tegas.
Saka pergi dari rumah Rena, karena mendapat telepon dari seseorang.
"Yah, maafkan Rena," ucap Rena lalu memeluk erat Ayahnya.
"Gak papa! semua sudah terlanjur," ucap Ayah Rena.
Rena tidak akan memendam semua ini sendiri, suatu saat dia juga akan menceritakan pada suaminya. Devan pasti juga akan memaklumi, karena semua orang tidak lepas dari masa lalu. Semua orang punya kisah sendiri, ada yang bahagia dan ada yang menyedihkan.
__ADS_1
Rena kemudian berpamitan untuk pulang, karena suaminya tidak bisa menjemput.
Ternyata Saka tidak pulang ke rumah, dia mengintai Rena. Dia mengikuti Rena pulang, karena penasaran dimana Rena tinggal.