Suamiku Suami Sahabatku

Suamiku Suami Sahabatku
SSS 56


__ADS_3

Devan menjelaskan soal rumah yang dimaksud oleh Melia, dia juga meminta kembali rumah itu karena mereka juga akan bercerai.


"Kalian keterlaluan," ucap Rena dengan kesal.


"Rumahnya aja diminta lagi, Rena! gak jadi bahagia ini," kata Melia.


"Kalau lu nanti jadi bini gue, rumah itu balik lagi! gue jamin," ujar Andra.


"Diam semua! rumah itu besok gue jual dua- duanya," kata Devan.


Setelah Salman dan Ema pulang, mereka segera berangkat menuju ke sebuah restoran. Di Sana mereka bisa memesan apa saja, karena menu nya sangat lengkap.


"Ini restonya?" tanya Andra.


"Iya, ayo kita turun," ucap Melia.


"Gila lu, Mel! masa warteg dibilang restoran," ujar Devan.


"Mas, disini menunya lengkap! langganan Ayah dulu sama Melia, kita bertiga selalu makan di sini," jelas Rena.


"Gak ada salahnya deh! yuk kita coba, siapa tau balik lagi besok," kata Devan.


Mereka berempat kemudian mengambil makanan yang sudah disediakan, lalu menuju ke meja makan.


Disela-sela makan Rena mengingatkan Devan, agar memberitahu Mamah Nadia kalau dia tidur di rumah Ayahnya. Karena dia tadi lupa tidak bilang.


"Sayang, kamu makan yang banyak dulu! nanti Mas bilang Mamah," ucap Devan.


"Rena tidak lapar, Mas! gak bisa dong makan banyak," ucap Rena.


"Apaan lu, Van! lebai jadi orang, Rena udah kenyang dipaksa," sahut Melia dari tadi memperhatikan Devan dan Rena.


"Mas, Melia masih istri Mas! jadi harus diperlakukan dengan adil," kata Rena.


"Nah! gue juga setuju," sahut Andra.


Devan menuruti kemauan istrinya, dia menyuruh Melia untuk makan banyak juga. Melia tidak mau, lebih baik dia tidak diperlakukan dengan adil karena disuruh melakukan hal yang menurutnya tidak baik.


Andra meminta tambah makanan lagi, karena dia yang paling lapar dan mumpung gratis. Andra selalu bisa memanfaatkan keadaan, karena baginya kesempatan emas tidak bakan datang dua kali.


"Ndra, lu nambah berapa kali?" tanya Melia.


"Tiga kali, Mel! lauknya ayam sama ikan dua," jawab Andra.


"Aku juga mau nambah," kata Rena.


"Sayang, ini belum habis! habisin baru boleh nambah," kata Devan.

__ADS_1


"Mau dibungkus, Mas! buat nanti malam kalau lapar," ucap Rena.


"Ayu sudah masak di rumah, sayang," kata Devan.


Rena tetap ingin membawa pulang makan yang dibungkus, Melia tetap menuruti sahabatnya itu. Andra paling banyak sendiri, dia melihat Rena membungkus juga ikutan.


"Mel, kamu gak nambah?" tanya Rena.


"Gak! ini aja udah habis banyak, kalian gak tau diri kirain ditraktir di warteg gak bakal habis banyak.Ternyata kalian sama aja, malah pada bungkus," ucap Melia.


Mereka bertiga kemudian menertawakan Melia, yang sok mau traktir dan mempunyai uang banyak.


Sampai di rumah mereka berkumpul di ruang televisi, Andra memangil Ayu minta untuk dibuatkan minuman dan camilan. Dia juga langsung membuka nasi yang dia bungkus tadi, saat hendak memakan tiba-tiba perutnya sakit.


"Akibat orang yang rakus," ucap Melia.


"Lu, sih! terlalu banyak traktir dia," ujar Devan.


Rena melarang Devan dan Melia menertawakan Andra, karena nanti bisa menular.


"Melia!" teriak Andra.


"Apa lu, gue masih dengar! gak usah teriak juga," ujar Melia.


Andra menyalahkan Melia karena mentraktir ditempat yang enak, jadi dia tidak bisa mengontrol mulutnya untuk tidak melahap makanan.


Rena mengatakan kalau dia sudah mengantuk, kemudian mengajak Devan untuk beristirahat. Sedangkan Melia masih berada di ruang televisi, ia menunggu Andra lebih dulu.


"Sayang, Mas tidur dimana? kenapa dipenuhi guling begini," ucap Devan melihat Rena tidur dengan kanan dan kiri ada guling.


"Biar Rena gak jatuh, Mas," ucap Rena sengaja kary tidak mau tidur satu ranjang dengan suaminya.


"Kan ada Mas, yang akan memelukmu," kata Devan masih merayu istrinya.


"Gak ada, Mas! Rena mau tidur begini pokoknya! Rena masih marah," ucapnya.


Devan mengalah, dia merebahkan tubuhnya di atas sofa karena tidak diberikan tempat oleh Rena.


Beberapa saat kemudian Rena melihat ke arah suaminya, dia sebenarnya dari tadi belum tidur.


"Mas, bagun! temani Rena makan," ucap Rena.


"Ngantuk, sayang! besok aja ya," kata Devan.


Rena tetap berusaha membuat suaminya bangun dari tidur, karena merasa terganggu Devan bangun. Rena mengajak Devan makan berdua, nasi yang dia bungkus tadi. Setelah selesai mereka kembali beristirahat lagi, Devan hendak kembali tidur di sofa.


"Mas, kenapa tidur disitu lagi? gak mau ya dekat Rena," ucapnya.

__ADS_1


Devan bingung sendiri dengan sikap istrinya, lalu dia tidur disebelah istrinya sesuai permintaan Rena.


Keesokan harinya seperti biasa, Rena sudah bangun. Kali ini dia meminta Melia untuk menemaninya jalan-jalan pagi, Rena ingin mengulang kembali apa yang pernah dia lakukan dulu di rumah ini.


"Rena, kita jalan kemana ini?" tanya Melia.


"Keliling komplek aja, aku tidak mau jauh-jauh," ucap Rena


Mereka berdua lalu berangkat untuk jalan-jalan, keburu matahari terbit dan panas.


Devan bangun tidur tidak mendapati istrinya, dia tidur sambil memeluk guling. Dia baru sadar kalau dari tadi yang dia peluk bukan Rena, tetapi sebuah guling.


"Sayang, kamu dimana?" ucap Devan mencari Rena.


Kemudian Devan mencarinya ke dapur, hanya ada Ayu yang sedang menyiapkan sarapan.


"Mbak, lihat Rena gak?" tanya Devan.


"Tadi keluar sama Melia, Den! paling juga jalan-jalan," jawab Ayu.


Devan lalu kembali ke kamarnya, dia melanjutkan untuk tidur lagi. Karena masih merasa ngantuk, kebetulan dia juga tidak berangkat ke kantor juga.


Setelah Rena pulang, Devan mengajaknya untuk sarapan lalu pergi ke rumah Mamah Nadia.


"Sayang, akhirnya kamu pulang juga," ucap Mamah Nadia memeluk Rena.


"Mah, tapi Rena boleh tidak tinggal di rumah Ayah sama Mas Devan?" tanya Rena.


"Sayang, kenapa begitu! Mamah ada salah," ucap Mamah Nadia.


Rena beralasan kalau dia ingin mandiri dan tidak merepotkan banyak orang. Agar Devan juga lebih bertanggung jawab dan tidak membohongi lagi, Rena takut dibohongi lagi oleh suaminya.


Setelah mendengarkan penjelasan dari Rena, akhirnya Mamah Nadia dengan berat hati memperbolehkan Devan dan Rena untuk tinggal di sana.


Rena sangat bahagia karena keinginannya diizinkan oleh Mamah mertuanya, dia juga mengatakan kalau akan sering mengunjungi Mamah dan Papahnya.


Minah yang mendengarkan percakapan mereka, menangis dengan tersedu-sedu.


"Minah, kenapa?" tanya Rena.


"Non, tolong jangan tinggalkan Minah! penghuni rumah ini galak-galak, nanti siapa yang akan belain Minah," ucap Minah.


"Minah! kamu keterlaluan sekali ya," ucap Mamah Nadia.


"Tuh kan, Non! beneran kan," ucap Minah memeluk Rena dari belakang.


Minah juga akan menjadi orang yang dirindukan oleh Rena nanti, saat tinggal di rumah Ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2