
Melia kemudian berdiri dari jatuhnya, lalu menghidupkan lampu dapur. "Ayah!" kagetnya.
"Kamu ngapain malam-malam ke dapur?" tanya Arman.
"Haus, Yah! ini mah ambil minum. Ayah, kenapa bangun," ucap Melia untung saja tadi tidak membawa gelas.
"Tadi dengar suara orang jalan, ternyata kamu," kata Arman.
"Melia dikira maling ya, Yah! untung saja tidak kena pukulan," kata Melia.
Arman tersenyum mendengar ucapan Melia, kemudian menyuruh Melia untuk kembali tidur. Melia didalam kamar tidak bisa tidur, dia menatap langit-langit kamar Rena sesekali melihat ke arah Rena yang tengah tertidur pulas.
Tak lama kemudian dia mendapat panggilan telepon dari Mamahnya, memberikan kabar kalau Papahnya dibawa ke rumah sakit. Melia kaget, kemudian langsung mengambil kunci mobil dan bergegas ke rumah sakit.
Melia sudah berpesan pada satpam yang jaga di perumahan tempat Ayah Rena tinggal, dia sudah tidak berfikiran untuk membangunkan orang.
Esok hari Rena membuka matanya, dilihat ke arah samping ternyata Melia sudah tidak ada di tempat tidur.
"Melia... Mel... !" panggil Rena.
Tidak ada sahutan dari Melia, ia mengira Melia baru mandi. Di kamar mandi pun tidak ada, kemudian Rena ke dapur.
"Mbak, lihat Melia gak?" tanya Rena pada asisten rumah tangga Ayahnya yang bernama Mbak Nur.
"Saya baru datang dari kampung, Non! ini baru mau masak," jawabnya.
"Pantesan kemarin gak lihat, Mbak," ucap Rena kemudian mencari Melia di sekeliling rumahnya.
Rena terkejut saat melihat mobil Melia sudah tidak ada, kemudian dia mengambil ponselnya dan menghubungi Melia. Tidak ada jawaban dari Melia, Rena lalu mengirimkan pesan.
Devan dan Andra sudah bangun, mereka sekarang sedang bersiap untuk pergi ke kantor.
"Om, saya pamit dulu ya! soalnya mau ke kantor," pamit Andra pada Ayah Rena.
"Sarapan dulu, dong," kata Arman.
"Ayah, Rena mana?" tanya Devan.
"Ada di kamarnya, Den," sahut Mbak Nur. Tadi nyariin Non Melia," Lanjutnya.
__ADS_1
"Melia kemana, Mbak? bukannya tidur di kamar Rena," kata Arman.
"Gak tau, Tuan! saya datang tadi belum ada yang bangun," ucap Mbak Nur.
Devan kemudian mencari Rena di kamarnya, ternyata Rena sedang sibuk dengan ponselnya. Devan langsung masuk ke dalam kamar. "Sayang, kok gak ikut sarapan," ucapnya.
"Mas, maaf ya! ini Melia gak ada disini, dia pergi gak tau kemana," kata Rena dengan wajah paniknya.
"Kamu tenang dulu, ya! nanti kita cari," ucap Devan menenangkan.
Ponsel Devan berdering ada panggilan masuk, tetapi tidak dia angkat karena itu dari Melia.
"Mas, kenapa gak diangkat? kebiasaan deh, nanti kalau ada hal penting bagaimana," ucap Rena.
"Orang kantor, sayang. Nanti biar Andra yang atur, paling soal kerjaan," bohong Devan.
"Mas, aku mandi dulu ya! tunggu sebentar," ucap Rena kemudian mengambil handuk dan baju ganti.
Saat Rena berada didalam kamar mandi, Devan membuka ponselnya ternyata ada pesan dari Melia. Melia memberi kabar kalau Papahnya sedang berada di rumah sakit, dan mengharapkan kedatangan Devan.
Selesai mandi Rena melihat ponselnya lebih dulu, ternyata benar ada pesan dari Melia yang mengatakan kalau tadi buru-buru karena ada keperluan.
"Bentar, Mas! ini Melia sudah membalas pesanku, dia bilang kalau tadi ada keperluan," ucap Rena merasa tenang karena sudah ada kabar dari Melia.
Rena langsung membalas pesan dari Melia, lalu mengajak Devan untuk sarapan. Ayahnya dan Andra sudah menunggu sejak tadi.
"Om, ini yang masak Rena bukan?" tanya Andra.
"Itu yang masak," jawab Ayah Rena menunjuk Mbak Nur.
"Makan dulu, Ndra! masakan Mbak Nur emang enak dari dulu," ucap Rena sembari mengambilkan sepiring nasi untuk Devan.
"Jangan banyak-banyak, Sayang! nanti gak habis," ucap Devan dengan lembut.
Setelah sarapan mereka berpamitan pada Ayah Rena, kemudian mereka menuju ke kampus mengantarkan Rena lebih dulu.
"Nanti gak usah dijemput, Mas! Rena mau ke tempat Melia dulu, mau pastikan dia baik-baik aja," ucap Rena lalu tersenyum.
Devan tetap akan menjemput Rena nanti, karena dia tidak ingin membuat istrinya pulang sendiri.
__ADS_1
"Gue harus gimana ini! Papah Melia sakit, sekarang dirawat di rumah sakit," kata Devan saat berada diperjalanan menuju ke kantor.
"Lu, datang ke sana jenguk," ucap Andra.
Saran dari Andra memang ada benarnya, lebih baik dia menjenguk Papah Melia. Devan sebenarnya malas tetapi dia tidak punya pilihan lain untuk ini.
Andra teringat kalau dirinya tadi belum mandi saat di rumah Ayah Rena, kemudian ia meminta izin untuk pulang lebih dulu.
🥀
Melia sekarang sedang menunggu Papahnya yang terbaring di rumah sakit, dia tidak menyangka kalau Papahnya akan sakit.
"Pah, maafkan Melia! belum bisa menjadi anak yang membuat Papah bahagia," ucap Melia.
"Papah mau tunjukkan sesuatu," ucap Papah Melia mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku. Melia biasa aja saat melihat foto itu, dia justru memberikan nasehat pada Papahnya agar tidak memikirkan foto yang dilihatnya itu.
"Kenapa Papah, tega memaksa Melia menikah dengan Devan?" tanya Melia.
"Maafkan Papah! semua Papah lakukan demi kelangsungan bisnis kita, Papah sudah memantau Devan sejak sebulan yang lalu," ucap Papah Melia dengan jujur.
Melia kaget mendengar alasan Papahnya, selama ini dia tidak peduli dengan siapa Devan sebenarnya. Dia juga tidak menyangka kalau Papahnya sudah lama mengincar Devan.
"Papah, tau kalau Devan sudah mempunyai istri?" tanya Melia lagi.
"Tidak! Papah tidak bisa berfikir panjang saat itu, perusahaan Papah mengalami penurunan jadi hanya mengambil cara mudah," kata Papah Melia.
Karena semua sudah terlanjur Melia tidak bisa menyalahkan papahnya, percuma juga. Papah Melia dulu pernah berkerja sama dengan Devan dan beberapa perusahaan lainnya. Devan yang paling menonjol pemikirannya saat itu.
"Alasan Papah sungguh membuat Melia kecewa! hanya demi perusahaan Papah tega menghancurkan masa depan Melia, hidup Melia," kata Melia sembari menangis.
Melia saat ini juga dilarang untuk meminta cerai, karena Papahnya sudah bersusah paya membuat Melia menikah dengan Devan.
Melia tidak tau gimana cara pemikiran Papahnya, semua sudah cukup menyiksa. Apalagi hubungannya dengan Arvin harus kandas begitu saja.
"Pah, lebih baik Melia cerai dengan Devan! kasihan istrinya harus dibohongi, kalau semua itu terjadi pada Melia apa Papah terima," kata Melia.
"Tidak! Papah tidak mengizinkan kamu bercerai dengan Devan. dia harus tetap menjadi menantu Papah," kata Papah Melia.
"Percuma, Pah! Devan tidak akan pernah mengakui pernikahan ini didepan umum, karena dia sangat menyayangi istrinya lebih dari apapun," kata Melia.
__ADS_1
Papah Melia tidak mau mendengarkan alasan apapun saat ini, beliau tetap bersikeras untuk mempertahankan rumah tangga anaknya.