
Panci milik Minah gosong, karena Devia lupa tidak mengecilkan apinya tadi.
"Lihat dong, Nyah! ini senjata perang Minah gosong begini, pokoknya Minah minta baru," ucap Minah menunjukkan panci yang gosong pada Nadia.
"Siapa yang pakai? kok minta ganti aku," kata Nadia.
"Besok Rena ganti ya, Mbak! Maaf tadi gara-gara ngobrol sama Rena, Devia jadi lupa," ucap Rena.
"Yang ganti harus Devia!" ucap Nadia dengan tegas.
"Kok aku, Mah!" protes Devia.
Nadia lalu memutuskan yang menganti panci adalah Rena dan Devia, tanpa ada Minah rumah ini akan sepi. Buktinya masalah panci saja sampai membuat kehebohan.
"Minah sebenarnya gak mau kalau yang ganti Non Rena, dia gak salah! dari pagi udah bantu Minah, Nyonya aja yang ganti apa Devia," kata Minah.
"Ogah! gue mau makan diluar," ucap Devia kemudian berlari menuju kamarnya dan mengambil tas lalu pergi.
Rena kemudian membantu Minah menyelesaikan pekerjaannya, sebelum Mamah Nadia marah lagi.
***
Devan dan Andra sekarang sudah selesai menyelesaikan pekerjaannya, lalu mereka pergi ke pusat perbelanjaan yang ada di kota ini.
"Ndra, buah khas kota ini apa?" tanya Devan memang tidak tau karena jarang membeli buah, kali ini demi Rena ia rela mencari.
"Beliin apel sama jeruk aja udah kelar! buruan beli, gue mau ketemuan sama ma cewek yang tadi," ucap Andra.
Mereka berdua berjalan ke arah seorang penjual buah yang paling lengkap, Andra memilih buah apel yang warna hijau. Dia memilih satu buah apel merah dan satu warna hijau.
"Bu, saya beli ini aja," ucap Andra menunjukkan dua buah apel.
"Gak boleh kalau cuma dua biji," kata penjual dengan wajah tidak suka.
"Kalau beli banyak sayang, Bu! nanti gak bakalan habis," kata Andra.
"Minimal beli satu kilo, di sini harga grosir," jelas Penjual.
"Ya udah bungkus aja! Merah lima kilo, hijau lima kilo gak pakai lama," kata Devan kesal dengan Andra membeli buah dua biji.
"Banyak amat! itu pemborosan namanya, kamu tau banyak perusahaan bangkrut gara-gara pemiliknya terlalu boros dan hidup mewah," protes Andra.
"Lu, jangan bikin malu gue dong! ini buat istri, bukan buat Devia sama Minah," kata Devan.
__ADS_1
Penjual buah itu sudah selesai membungkus buah yang mereka beli, kemudian mereka kembali ke rumah. Andra pamit untuk menemui wanita yang dia minta nomor ponselnya tadi, sedangkan Devan istirahat di rumah.
"Ingat jangan lama-lama," kata Devan saat Andra hendak berangkat.
"Oke! siap bos ku," sahut Andra.
Devan sangat bosan di rumah sendiri, dia mengambil ponselnya lalu menelpon istrinya. Tak lama kemudian Andra sudah datang, dia pergi hanya sebentar.
"Gimana cocok gak?" tanya Devan.
"Cantik Rena, gue langsung pulang," kata Andra.
"Mending lu sama Tasya aja! dia juga cantik, mirip Rena," kata Devan.
"Ogah gue! bisa gila sama wanita bawel kaya dia," kata Andra. Mending gue jadi adik ipar lu aja," Lanjutnya.
"Gue pecat lu, berani deketin adik gue," ancam Devan.
Andra tidak mengalah begitu saja, dia masih bisa menjawab perkataan Devan. "Ikhlas kalau adik lu, dapat orang gak jelas," ucapnya.
"Yang gak jelas itu lu, setiap wanita mau diembat!" ketus Devan.
"Istri lu dua, yang semua diembat lu apa gue?" ujar Andra.
Kalau kata-kata itu sudah keluar dari mulut Andra, pasti Devan akan terdiam. Rasa bersalah semakin menusuk relung hatinya, walaupun bukan salah dia sepenuhnya.
"Van, entar sampai rumah lu, gue yang kasih oleh-oleh buat Rena," kata Andra.
"Terserah lu, aja!" ketus Devan.
Setelah tiga jam perjalanan mereka sampai juga di rumah Devan, mereka membawa kardus oleh-oleh. Kebetulan yang membukakan pintu adalah Rena, Andra langsung salah tingkah.
"Mas, Andra, kalian sudah pulang! ayo masuk dulu," ucap Rena dengan lembut lalu mempersilahkan mereka berdua duduk di ruang tamu.
"Sayang, gimana kamu betah disini? gak ada yang jahil kan," ucap Devan begitu khawatir dengan Rena.
"Keluarga disini semua baik, Mas! Rena ingin tinggal disini biar banyak temannya," ucap Rena.
"Rena, ini aku bawakan oleh-oleh pesanan kamu," kata Andra menunjukkan dua kardus buah apel.
"Terimakasih ya, Andra! kebanyakan ini," ucap Rena.
"Banyak sekali," ucap Minah datang membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi untuk Devan dan Andra.
__ADS_1
"Ini aku yang beliin," kata Andra.
Minah memanggil Nadia dan Devia, karena melihat Devan membawa oleh-oleh banyak. Mereka heran karena tidak biasanya Devan membawa banyak oleh-oleh.
"Apa Mamah bilang, benarkan," ucap Nadia.
"Tante, bukannya nawarin makan malah ikut lihat oleh-oleh! nyesel deh beli banyak," ucap Andra.
"Biasanya makan juga tinggal makan! pakai minta ditawarin," ucap Nadia.
"Gak ada jatah makan buat Andra! Minah masaknya udah pas," ucap Minah bercanda aja.
"Kalian gak ada yang ucapin terimakasih gitu! kesel deh," ucap Andra.
Beruntung Devia belum muncul, kalau sudah akan tambah lebih heboh lagi. Devan kemudian mengajak Rena untuk ke kamarnya, ia sudah pusing mendengar Andra dari tadi.
"Sayang, ini oleh-oleh buat kamu," ucap Devan memberikan sebuah kotak segi empat warna merah pada istrinya.
"Apa ini, Mas? boleh dibuka kan," ucap Rena.
Devan mengangguk, lalu Rena membuka kotak itu dengan pelan ternyata isinya adalah sepasang perhiasan yang sangat cantik.
"Gimana, sayang? kamu suka kan," ucap Devan.
Rena menyukai perhiasan itu, tetapi menurutnya sangat berlebihan karena pasti mahal harganya. Devan kemudian membantu Rena memakai perhiasan yang telah dia belikan.
"Mas, makasih ya? sudah memberikan tanpa Rena pinta," ucapnya kemudian memeluk suaminya. Rena merasakan bahagia, mendapatkan suami yang sangat perhatian.
"Sayang, Mas belum mandi lho," ucap Devan mencium pucuk kepala Rena dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Mau mandi atau tidak istrinya tidak mempermasalahkan, karena bagi Rena yang penting adalah kasih sayang dan perhatiannya.
Rena sampai meneteskan air mata di pelukan suaminya, dia sangat terharu.
"Sayang, kenapa menangis?" tanya Devan menghapus air mata istrinya.
Rena mengungkapkan apa yang dia rasa saat ini, semua keluh kesahnya semua dia ceritakan pada suaminya. Devan yang mendengar ucapan istrinya merasa semakin bersalah. Ternyata rasa cinta dan ketulusan istrinya begitu besar.
"Mas, lebih baik mandi dulu! bentar Rena siapkan," ucapnya sembari melepaskan pelukan suaminya.
"Sayang, tunggu! Mas mau bicara sebentar," ujar Devan.
"Seandainya Mas membuat kamu kecewa gimana?" tanya Devan dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Rena menjawab kalau Devan tidak akan setega itu, mengecewakan atau membohonginya.
"Ada yang harus kamu tau, sayang... " ucap Devan lirih.