
Sesampainya di rumah mewah milik keluarganya Choky, Mbok Tut mengantarkan aku sampai dikamar. Dia hendak membantuku untuk melakukan apapun. Tapi aku hanya ingin duduk saja. Setelah bertemu Reno tadi, terasa malas untuk melakukan apapun. Rasanya cuma pengen diem dan nangis.
"Mbok, bisa minta tolong?" Pintaku.
"Bisa Non. Apapun pasti akan saya lakukan."
"Tolong jangan ceritakan kejadian saat laki-laki tadi menggendongku masuk kedalam mobil ya. Jangan ceritakan itu pada Choky. Aku nggak mau kalau nanti dia marah karna itu." Aku berusaha menyembunyikan fakta bahwa dia adalah bagian dari masalaluku.
"Saya pikir Tuan tidak akan marah Non. Tadi itu kan Tuan Reno adik ipar nya Tuan Choky."
"Iya Mbok. Tapi waktu itu aku berpelukan dengan sepupuku, Choky sudah mengancam akan membunuhku. Aku nggak mau ada masalah saja Mbok. Bisa kan?"
Terlihat Mbok Tut terdiam dan berfikir sejenak. "Baik Non."
Aku tersenyum lega. "Terimakasih ya Mbok. Sekarang tinggalkan saja aku sendiri. Aku ingin sendiri dulu Mbok."
"Baik Non. Kalau Non butuh sesuatu, bisa panggil saya. Saya permisi."
Aku hanya mengangguk dan Mbok Tut berlalu meninggalkan kamarku yang cukup luas. Dikamar yang seluas dan semewah ini, aku merasa sangat kesepian. Bahkan terasa lebih nyaman berada di kamar kost ku yang sempit dan berantakan itu. Aku memutar roda kursi menuju jendela kaca yang bisa dibuka itu. Aku diam didepan jendela sambil menerawang jauh.
Sekarang, perasaan yang campur aduk. Rasa cintaku pada Reno yang sudah terlalu dalam dan rasa sakit yang sangat dalam pula. Semua itu mampu membuatku merasa sangat terpuruk. Awalnya saat aku mulai mengenal Choky, aku merasa aku bisa move on dengan mudah. Bahkan aku bisa membuang Reno dari pikiranku. Aku bisa terbebas dari keterpurukan yang hanya membuatku menangis setiap saat. Tapi sekarang, dia hadir lagi dihidupku. Sebagai suami adik iparku. Sebuah kenyataan yang tak akan pernah bisa aku tolak. Apalagi merubahnya. Itu tak akan mungkin.
Bagaimana jika suatu saat nanti Choky tau semuanya. Dia tau jika aku sudah tak perawan dan itu aku lakukan dengan Reno. Apakah dia akan menceraikanku? Ah itu masih mending. Bagaimana jika dia sampai benar-benar membunuhku atau memasukkan Ayah ke penjara? Aku rapuh lagi Tuhan. Aku menangis sesenggukan didepan jendela.
Tiba-tiba terasa sebuah sentuhan lembut menyentuh pundakku. Buru-buru aku mengusap pipiku sang basah.
"Panda lo ngapain?" Sudah jelas itu suara Choky.
Aku menarik nafas dalam. Mengatur nafasku. "Nggak ngapa-ngapain kok. Cuma liat luar aja."
"Lo nangis?" Dia putar kursi roda yang aku duduki. Sekarang terlihat kedua mataku yang memang basah. Aku mengelapnya lagi dengan kasar. Choky duduk jongkok didepanku.
"Sayang, lo kenapa nangis? Gw bikin lo sedih ya?" Pertanyaan Choky dengan wajah yang sangat polos. Membuatku merasa sangat bersalah padanya. Air mataku kembali menganak sungai.
"Hiks hiks hiks gw pengen dipeluk." Lalu aku meraih leher Choky. Aku memeluknya. Menangis dipundaknya.
__ADS_1
Choky hanya terdiam menerimanya. Dia elus punggungku dengan sangat lembut. Cukup lama aku menangis memeluknya. Saat aku sudah merasa lebih tenang, aku melepaskan pelukanku. Kembali mengusap kedua mataku.
"Makasih ya Chok." Ucapku dengan suara yang masih sesenggukan.
"Makasih buat apa? Ini gw malah ngerasa gagal. Gw dah janji sama Ibuk untuk nggak bikin elo nangis. Tapi kenapa sekarang elo nangis? Dan gw nggak tau masalahnya apa." Terlihat wajah Choky yang bingung.
Apa yang harus gw jelasin sekarang. Masa' iya gw jujur sama dia. Ini bukan saat yang tepat. Gw nggak bisa bayangin seperti apa reaksinya dia jika gw jujur sekarang.
"Gw boleh kerja nggak?"
"Kerja?" Choky balik nanya. " Buat apa lo kerja?"
"Gw masih punya tanggungan yang harus gw bayar."
"Tanggungan?"
Aahh malu kalau harus ngomong ini. Pasti dia bakalan ejek gw.
"Tanggungan apaan? Kemarin gw kan udah beli elo 1 milyar. Itu kan bisa buat nyekolahin sampai masuk kuliah adik elo. Kenapa elo masih punya tanggungan juga."
"Hey." Dia sentuh bibirku yang mengerucut dengan tangannya. "Tanggungan apa?"
"Cicilan motor gw belum kelar. Boleh ya kerja bentar aja. Sekarang pun motor gw masih dibengkel belum jadi. Gw bayarnya gimana. Nggak papa ya gw kerja." Akhirnya ngomong juga. Walaupun sebenernya bukan ini yang membuatku menangis.
"Hahahahah..." Tawa Choky lepas. Tu kan, gw dah tau dia bakalan ngejek gw.
"Jadi elo nangis sesenggukan cuma karna mikirin cicilan? Hahahaha" Dia masih tertawa lepas.
Aku memilih diam melihatnya tertawa. Aku dah tau, pasti uang segitu nggak ada seujung jarinya. Tapi aku pengen beli motor itu dengan hasil keringatku sendiri.
"Hhhhhppppp" Choky berusaha menghentikan tawanya. "Pandaku sayang," Dia pegang pipiku dengan kedua tangannya hingga mulutku mengerucut. "Itu hal yang mudah. Kemarin gw kasih elo kartu atm kan. Itu bisa lo pake buat ngelunasi semua kekurangan pembayaran motor elo. Elo nggak perlu kerja. Sekarang elo udah jadi istri sah gw. Semua kebutuhan elo, gw yang akan tanggung."
"Tapikan...." Masih dengan mulutku yang mengerucut.
"Kamu imut banget sayang. Bikin gemes." Dia mulai mendekatkan wajahnya padaku.
__ADS_1
Tok tok tok
"Tuan, dokternya sudah datang." Terdengar suara Mbok Tut diluar kamar.
"Suruh masuk Mbok." Choky melepaskan kedua tangannya. Lalu mendorongku mendekati ranjang. Dia menggendongku dan menurunkanku ditepi ranjang. Meluruskan kakiku.
Klek
Suara pintu kamar terbuka. Terlihat seorang dokter laki-laki masuk kedalam kamar.
"Permisi Tuan." Sapa Dokter itu.
"Sini Dok. Tolong cek kaki istri saya." Balas Choky.
Dokter itu langsung masuk dan mengecek kaki kananku. Dia mengoleskan seperti jel dikakiku yang bengkak. Lalu membungkusnya dengan perban.
"Sudah Tuan. InsyaAlloh dua hari lagi retaknya sudah sembuh. Tolong jangan banyak beraktifitas ya Nona. Biar kakinya tidak bengkak. Ini obatnya, bisa dioles setiap pagi dan malam sebelum tidur." Dokter itu menyerahkan sebotol obat pada Choky.
"Ok. Makasih ya."
"Kalau begitu saya undur diri." Menganggukkan kepala dan pergi keluar kamar.
Krucuk krucuk
Suara dari dalam perutku. Aku memegangi perutku yang memang dari pagi belum terisi. Choky pun menatap perutku yang berbunyi.
"Tunggu sini ya." Dia pergi keluar kamar.
Tak begitu lama, dia kembali dengan membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas susu. Dia sudah duduk disampinggu memegang sendok hendak menyuapiku.
"Ayo buka mulutmu." Perintahnya.
"Gw makan sendiri aja ya."
"Elo kan lagi sakit. Udah nurut aja."
__ADS_1
Akhirnya aku nurut. Membuka mulutku. Masuklah sesendok makanan kedalam mulutku. Dua sendok, tiga sendok dan seterusnya sampai piring bersih tak bersisa.