Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 22(pergi ke klinik)


__ADS_3

"Tuan Reno, apa yang sedang anda lakukan?" Terlihat Mbok Tut sangat kaget saat mengetahui Reno sedang menggenggam lenganku. Apalagi melihat mataku yang basah.


"Aku sedang menyelamatkannya Mbok. Tadi dia takut karna ada kecoak yang besar di atas kompor. Sampai dia menangis saking takutnya." Jawab Reno dengan sangat santai. Dia mencoba untuk berbohong, menutupi sebuah kebenaran.


"Kenapa pegang pisau?" Tanya Mbok Tut lagi. Dia memang peduli dengan semua yang berhubungan dengan Choky. Dia sangat menyayangi Choky.


"Ya buat bunuh kecoak lah. Masak buat bunuh Kakakku yang semok ini. Ya nggak mungkin kan?" Lalu Reno melepaskan tanganku. Melempar pisau itu di atas meja. Dan dia ngeloyor pergi meninggalkan dapur.


Aku mulai bisa bernafas lega. Mengatur nafasku agar aku tetap terlihat baik-baik saja.


"Nona, anda tidak apa-apa kan?" Mbok Tut mendekatiku dan memperhatikanku.


"Nggak papa kok Mbok." Aku tetap berusaha tersenyum.


"Apa benar yang Tuan Reno tadi bilang?" Dilihat dari caranya bertanya, Mbok Tut sepertinya sudah curiga.


Apa aku jujur saja ya. Tapi bagaimana nanti dengan Vera. Bagaimana jika Vera tidak percaya dan dia malah menyalahkanku dan mengadu dengan Choky. Ah aku harus bagaimana?


"Nona." Panggilnya lagi, karna aku hanya terdiam.


"Iya Mbok. Reno memang sedang menolongku. Dia itu teman kerja saya dulu. Dia atasan saya."


"Jadi Nona sudah mengenalnya lama?"


"Iya Mbok. Tapi tidak terlalu dekat."


"Mbok Tut bisa bantu saya buat opor ayam nggak?"


"Bisa Non."


---------------------


Aku duduk sendirian di ruang terbuka di taman. Memberi makan pada ikan-ikan yang menurutku jenuh. Setelah itu aku memainkan ponsel pintarku. Mencari pengobatan alternatif buat Choky. Mataku sibuk mengamati setiap tulisan yang muncul. Ada banyak pengobatan alternatif ternyata. Tapi aku tidak boleh sembarangan memilih, kita harus pintar-pintar atau malah akan mengakibarkan tambah penyakit. Pertama aku melihat testinya dulu. Ada yang banyak komentar baik, ada yang buruk juga.


Mataku tertuju pada satu Klinik pengobatan alternatif Mak Urut. Ya memang wanita sih, tapi testinya bagus semua. Jaraknya dari rumah juga tidak terlalu jauh.


Ini baru jam 11 siang, lebih baik aku nanti kesana menanyakannya dulu.


I like your smile


I like your vibe


I like your style


But that's not why I love you


And I, I like the way, you're such a star


But that's not why I love you, hey


Do you feel,


Do you feel me,


Do you feel what I feel too


Do you need,


Do you need me,


Do you need me


Baru saja hendak berdiri ingin pergi, ponselku sudah berdering. Eh, nada deringku kok udah beda ya. Pasti Choky yang ganti kan.


"Hallo sayang." Sapaku pada si penelfon. Siapa lagi kalau bukan Choky.

__ADS_1


"Jangan lupa makan siang ya Pan. Nanti aku pulangnya agak malam. Soalnya aku harus ketemu sama buyyer dari luar negri."


"Iya sayang. Kamu hati-hati ya."


"Panda."


"Iya."


"Aku kangen."


Aku tersenyum mendengarnya. Dia yang aneh, bisa juga ya ngomong romantis. Bisa aku bayangin wajahnya seperti apa. Aku yang semula tersenyum, sekarang jadi tertawa kecil.


"Hey, dibilang kangen kok malah ketawa sih. Kamu nggak kangen sama aku ya?" Suaranya sudah terdengar agak sensi. Pasti dia akan marah.


"Aku juga kangen sayang." Pasti dia lagi ketawa sekarang. "Eemmm nanti jam 1 aku mau pergi ya."


"Kemana?"


"Ke klinik pengobatan buat kamu."


"Yaudah nanti aku pulang ya."


"Nggak usah sayang. Nanti aku pergi pakai motor aja. Aku juga sudah lama nggak naik motor."


"Nggak boleh! Aku nggak mau kamu jatuh lagi."


Huufft mulai kan dia. Yang kemarin itu kan kecelakaan. Motorku bisa berkarat itu kalau cuma aku anggurin aja.


"Panda kamu dengarkan?!"


"Iya aku dengar. Yaudah aku tunggu kamu pulang ya."


"Nah gitu dong. Kalau sama suami nurut. Kan enak."


"Udah dulu ya sayang. Aku mau meeting sebentar sebelum makan siang."


"Ok sayang. Jangan lupa makan siang ya."


"Cium dulu dong."


Aku tersenyum lagi mendengarnya. "Muach."


Terdengar tawanya yang nyaring. Tapi langsung dia tutup telfonnya. Dasar aneh, tapi bikin gemes.


Aku tersenyum memandangi layar ponselku yang wallpapernya foto Choky. Dia sendiri yang memasangnya.


Suamiku, kamu sangat sempurna. Bahkan lebih sempurna dari Reno. Ah Reno, ternyata dia sangat menakutkan. Aku menyesal pernah mencintai orang gila seperti dia.


"Nona, makan siangnya sudah siap." Mbok Tut sudah berdiri disampingku.


"Baik Mbok. Tolong temani saya makan ya."


"Baik Non."


-----------------


Tepat jam 1 siang, mobil kerja Choky sudah ada didepan rumah. Dia langsung masuk kekamar mencari aku. Saat itu aku sedang duduk ditepi ranjang mengikat rambutku.


"Sayang, kamu pulangnya cepet banget." Sapaku.


Aku langsung berdiri hendak menyalami tangannya. Tapi dia langsung memelukku dengan erat. Dia sampai mengangkat tubuhku dan membawanya berputar. Karna memang posisi kedua tanganku ada diatas kepala sedang sibuk mengikat rambutku.


"Aaaaaa.....Sayang, turunin. Aku takut jatuh." Aku melingkarkan tanganku pada lehernya.


"Aku kangen Pan." Dia mendudukkan aku diatas meja riasku. "Panda, aku pengen cepet sembuh."

__ADS_1


Aku tersenyum melihat expresi wajah Choky yang bikin gemes. "Kenapa? Udah nggak sabar ya?" Aku meraba dadanya yang bidang dengan manja.


"Panda, jangan menggodaku. Itu sakit." Sekarang wajahnya terlihat sangat frustasi.


"Yaudah yuk kita langsung berangkat aja. Biar si anu cepet bangun."


"Ok. Ayo." Choky menurunkanku dari meja. Menggenggam erat tanganku dan mengajakku keluar dari kamar.


"Lho Kak, baru pulang kok udah mau pergi lagi?" Tanya Reno yang tiba-tiba saja berdiri di samping pintu utama.


Choky hanya menatapnya tanpa berbicara apapun. Lalu dia merangkul pundakku dan kami berlalu pergi.


Terlihat Reno mengumpat kesal sambil menendang angin.


----------------


Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ketempat Mak Urut.


"Ayo turun." Ajakku pada Choky.


"Nggak ah, aku nunggu disini aja. Aku malu."


"Yaudah, aku turun ya." Aku membuka sabuk pengaman dan hendak membuka pintu mobil.


"Kamu nggak bawa masker ya?"


"Buat apa?"


"Ya buat menutupi wajah kamu. Itu kamu kan dandan."


"Yaampun Sayang, Mak Urut itu wanita. Dia tidak akan melirikku." Huufftt dasar Choky! yang namanya Mak itu kan wanita. Dia sampai segitunya deh.


"Oh gitu ya. Ya udah sana masuk."


Aku langsung turun dari mobil dan langsung masuk. Antri dengan sekitar 5 orang. Menunggu cukup lama, dan sampai juga pada giliranku.


"Silahkan masuk Nduk." Ucap seorang wanita paruhbaya. Akupun langsung masuk dan berdiri didepannya. "Duduk sini." Aku duduk didepan Mak Urut berhalang sebuah meja persegi panjang. "Ada keluhan apa Nduk?"


"Suami saya sakit Mak."


"Sakit apa?"


"Itu nya selonjoran Mak."


"Oh itu." Mak Urut tersenyum dan berdiri mengambil sebotol obat disebuah laci. "Ini diminum sehari 1x. Dan ada proses penyembuhan secara pijat juga."


Aku menerima sebotol obat itu. "Proses pijat Mak?"


"Iya. Itunya dipijat. Ada caranya sendiri. Mau dipijat sendiri apa sekalian saya?"


"Pinjat sendiri dong Mak." iiiihhh enak aja mau pijit punya suami saya. Jangan dong.


"Kalau gitu, kamu tambah biaya kursusnya. Bisa datang kesini setiap sore jam 4 untuk kursus pijat."


"Ok Mak."


Setelah transaksi, aku langsung keluar dari rumah Mak Urut. Masuk kemobil. Terlihat wajah Choky yang penuh kekhawatiran.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Aku takut kalau sakitku nggak bisa sembuh. Aku takut kamu ninggalin aku."


"Yaampun sayang, kamu mikirnya jauh banget sih. Sakit kamu pasti sembuh. Percaya ya sama aku. Aku akan selalu bantuin kamu."


Aku meraih tubuhnya dan memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2