
Mengetahui Nova yang kehabisan nafas, Choky melepaskan ciumannya. Dia tersenyum melihat bibir bawah Nova memerah karna ulahnya. Tanpa berkata apapun, dia langsung berjalan meninggalkannya.
"Ngapain ngintip? Pengen ya?" Ucap Choky setelah berada didepan Mbok Tut.
"Saya sudah menutupinya Tuan." Balas Mbok Tut dengan menunduk.
"Apaan yang ditutup. Hidungnya doang. Mau lihat lagi nggak? Saya ulangi ya." Choky sudah membalikkan tubuhnya.
"Eh eh...Tuan ini." Mbok Tut berlari mendahului Choky dan berdiri didepannya. Terukir senyum jail dibibir Choky. "Itu didepan ada Tuan besar dan Nyonya. Mereka ingin bertemu Tuan muda dan Nona Panda."
Choky mengeryitkan keningnya. Mau apa mereka kemari. Bahkan aku tidak memiliki kepentingan dengan mereka. Choky menatap Nova yang kebetulan juga menatapnya. "Panda, tetap disitu ya. Jangan kemana-mana." Terlihat Nova hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Mbok saya nggak mau wanita itu ketemu sama Panda. Jadi jangan biarkan dia menemuinya. Jaga Panda baik-baik. Biarkan aku saja yang kedepan." Tuturnya pada Mbok Tut.
"Baik Tuan." Jawab Mbok Tut sambil menganggukkan kepala.
Choky bergegas keruang tamu menemui kedua orangtuanya.
Mama dan Papa yang tadinya duduk disofa, langsung berdiri ketika melihat Choky berjalan mendekat. Tanpa menyalami orangtuanya, Choky langsung duduk. Dan mereka ikut untuk duduk.
Papa yang tau gelagat Choky sudah tidak senang, mulai ragu untuk mengutarakan niatnya.
"Ada keperluan apa kesini?" Tanya Choky tanpa basa-basi.
Mama Sita celikukan mencari Nova. "Nova dimana Chok?"
"Istirahat." Jawabnya singkat.
"Bagaimana pembangunan lahan yang baru Chok?" Tanya Papa.
"Lancar." Jawabnya singkat.
Papa jadi bingung mau ngomongnya gimana. Tapi demi anaknya, dia tetap akan ngomong. Papa menarik nafas dalam-dalam, mengeluarkannya secara perlahan.
"Sebenarnya kami kesini mau memberi kabar baik." Mama yang mulai ngomong. "Vera sudah membaik dan sudah boleh pulang."
Choky hanya diam. Dia mengambil toples diatas meja yang berisi penuh camilan. Sibuk makan tanpa menatap yang lagi ngomong.
"Tapi kata Dokter keadaan psikologis nya Vera kurang sehat." Mama diam sejenak. Tak berani meneruskan kata-katanya. Mama menatap Papa.
"Biarkan dia pulang kerumahmu ya Chok." Lanjut Papa.
__ADS_1
Choky langsung berhenti mengunyah makanan yang sudah masuk kemulutnya. Ada amarah diwajahnya.
"Dia butuh teman untuk menghiburnya. Kamu kan tau, Reno harus bekerja. Dan Mamamu juga harus kembali ke Palembang. Disini kan ada Nova yang bisa menemani Vera."
"Apa kalian sedang memohon?" Tanya Choky dengan santai. Sebenarnya amarahnya sudah ada diubun-ubun. Tapi dia berusaha menahannya.
"Choky, Vera sedang sakit. Kamu juga tau dia baru saja kehilangan bayinya, baru saja operasi, kaki nya lumpuh." Tutur Papa.
"Apa semua itu ada hubungannya denganku?"
"Dia adikmu Chok." Tekan Papa.
Choky mendegus kesal. Dia mencibirkan bibirnya. "Kalian bahkan tidak pernah memikirkan bagaimana aku dewasa. Kenapa aku harus memikirkan gadis itu? Itu tidak penting untukku." Kembali Choky memasukkan makanan kemulutnya.
"Choky, Papa selalu memperhatikanmu. Kamu itu anak Papa. Tidak mungkin Papa tidak memikirkanmu. Kamu menikah dengan Nova, itu juga karna ide Papa kan?"
Choky mulai menatap Papa tajam. "Iya itu benar. Jadi Papa tidak ikhlas sudah menikahkan aku dengan Nova? Apa Papa ingin mengambilnya kembali? Bahkan aku menikahinya dengan uangku sendiri. Itu bukan keringat Papa."
"Papa tidak akan mengambilnya. Papa hanya memintamu untuk mengijinkan Vera dan Reno tinggal disini."
"Hey, wanita! Lihatlah, bukankah anak gadismu itu sangat merepotkanku? Bagaimana bisa kamu dulu bilang akan membantuku tumbuh dewasa?" Kembali Choky mencibirkan bibirnya. "Dasar benalu!!"
Senyum sinis terbentuk dibibir Choky. "Bagus. Suami yang sangat menyayangi istri keduanya."
"Maafkan Mama Chok." Ucap Mama, matanya sudah berkaca-kaca. "Seharusnya Mama memang tidak menikah dengan Papamu. Tapi Mamamu yang memaksa Mama. Dia ingin Mama mengurusmu. Karna dia percaya sama Mama." Papa mengelus punggung istrinya, untuk menguatkan hati istrinya.
"Sudah jangan diambil hati ucapan Choky itu. Kamu sudah kenal Choky lama kan. Dia ngomongnya memang suka bikin sakit hati." Bisik Papa pada Mama Sita.
Choky hanya diam, dia terlihat sedang berfikir. Bukankah besok pagi Nova sudah masuk magang. Tentunya tidak akan ada dirumah full time kan. Dan lagi, gadis itu cacat, tentu aku tidak akan sering melihatnya berkeliaran dirumahku.
"Baiklah. Mereka boleh tinggal disini. Tapi dengan syarat." Ucap Choky setelah sudah lama berfikir.
Terpancar senyum dengan mata yang berbinar. Papa dan Mama sangat bahagia mendengarkan persetujuan Choky. Tapi Papa kembali berfikir, pasti kali ini syarat Choky tidak akan mudah.
"Apa syaratnya?" Tanya Mama dengan penasarannya.
"Transfer ke rekening perusahaanku 1 milyar setiap bulannya." Dengan sangat santai Choky mengatakannya. Kembali dia asyik dengan toples didepannya.
"Apa???" Mata Mama membulat kaget. Pendapatan rumah makan Mama di Palembang memang terbilang besar. Tapi satu bulannya tidak sampai sebesar itu. Dia menatap suaminya dengan penuh harapan.
"Choky, apa tidak bisa lebih ringan lagi?" Papa mencoba bernegosiasi.
__ADS_1
"Ada. Kalian pilih saja. Biarkan Reno pergi ke Bengkulu mengurus proyekku disana. Atau 1 milyar setiap bulannya."
"Choky, Reno itu kan suaminya Vera. Vera sangat butuh dia untuk mendampinginya." Terlihat Papa tidak menerima syarat dari Choky. Tatapan Papa malah semakin tajam.
"Aku menyuruh kalian memilih. Pilihannya kan ada dua. Kenapa malah menatapku seperti penjahat begitu?"
Mama mengelus tangan Papa, agar suqminya lebih tenang.
"Jika tidak mau dua-duanya ya.....jangan harap bisa tinggal dirumahku."
Papa menghembuskan nafas kesalnya. "Apa itu bisa dicicil?"
"Hahahah...." Mendengar kata cicil, mengingatkan nya pada Nova yang menangis karna cicilan motornya. "Apa rumahku seperti pinjaman Bank?"
"Baiklah Choky. Mama menyanggupinya." Jawab Mama dengan mantap.
"Menyanggupi yang mana ini? Pilihan yang mana yang kau sanggupi?"
"Mama akan membayar 1 milyar setiap bulannya."
"Ma, kita tidak akan sanggup." Papa menekan tangan Mama.
Mama tersenyum menatap Papa. Mama tidak apa-apa, Mama akan menjual apa yang Mama punya. Agar Vera kembali ceria Pa. Cuma Vera yang Mama punya. Dia adalah harta Mama yang paling berharga." Mama menekan ujung matanya yang hampir meneteskan air mata.
Hati Choky tertawa terpingkal-pingkal melihat kedua orang tuanya sedang bersedih karna anak gadis itu. Dia sangat menikmatinya.
"Pasti ada cara lain Ma. Nggak harus ini." Papa menatap Choky. "Mana Nova. Biarkan Papa yang bicara sama Nova." Papa sudah berdiri hendak masuk kedalam mencari Nova.
"Berani masuk kamarku, jangan pernah menginjakkan kaki kemari lagi! Nova itu istriku. Segala sesuatu yang berhubungan dengan dia, harus dengan persetujuanku dulu."
"Choky! Bahkan apa yang sudah kamu katakan itu sama sekali tidak masuk akal. Dan kami ini keluargamu."
"Pa, berhentilah menyebut mereka keluargaku. Telingaku sakit mendengar itu."
Ditaman, Nova sedang memancing ikan bersama Mbok Tut. Awalnya Mbok Tut menolaknya.
"Ayo Mbok kita lomba memancing ikan ini." Ajak Nova.
"Jangan Non. Untuk apa memancing ikan. Didalam kulkas masih ada ikan. Lagian ini ikannya kan masih kecil-kecil. Belum enak dimakan." Tolak Mbok Tut.
"Biar ikannya nggak jenuh Mbok."
__ADS_1