Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 23(ngobrol dengan Vera)


__ADS_3

Setelah selesai acara makan malam, aku langsung masuk kekamar. Sudah mengambil dua botol air putih. Aku tak mau kejadian yang kemarin terulang lagi. Apalagi sekarang Choky belum pulang. Padahal ini sudah jam 9 malam. Pintu kamarku aku kunci dengan sangat rapat. Agak takut juga sih kalau nanti Reno tiba-tiba masuk kekamar.


Tok tok tok


Suara pintu kamarku diketuk.


"Kak Nova! Ini Vera."


Vera? Mau ngapain ya dia? Kok tumben banget. "Iya bentar Ver."


Aku berjalan menuju pintu, lalu membukakan pintu. Memang Vera berdiri didepan kamarku.


"Ngobrol diruang tv yuk Kak." Ajaknya.


Dan tanpa menunggu persetujuanku, dia langsung menarik tanganku menuju ruang tv. Kebetulan aku melihat Mbok Tut berdiri tidak jauh dariku.


"Mbok, tolong tutup pintu kamarku ya."


Aku mengikuti Vera keruang tv. Duduk disebelahnya. Reno duduk diteras rumah, menghisap sebatang rokok sambil ngopi. Dan Papa, dia pulang kerumahnya yang ada di kota P.


"Kata Mas Reno kamu dulu satu kerjaan ya sama dia." Pertanyaan Vera yang membuatku sangat malas untuk menjawabnya.


"Iya Ver kita satu kerjaan."


"Mas Reno kerja dibagian apa Kak?" Tanyanya dengan penuh semangat.


"Dulu dia jadi manager dibagian Chacier. Dan aku bawahannya."


"Waaahhh jadi kalian sudah kenal lama ya. Pasti sering ketemu kan? Mas Reno pernah cerita tentang mantan pacarnya nggak Kak?"


Hah sudah aku tebak, pasti dia akan tanya tentang ini. Malas sekali membahas Reno.


"Memangnya kenapa Ver?"

__ADS_1


"Mas Reno belum bisa melupakan mantan pacarnya itu Kak. Pernah waktu tidur dia ngigau panggil pacarnya itu."


Aku melotot kaget. "Masak sih Ver?"


"Iya Kak. Tapi dia bilang mantan pacarnya itu sudah menikah. Aku agak sedikit lega mendengar berita itu. Seperti apa sih Kak mantan pacarnya Mas Reno itu? Kalau kata Mas Reno sih mirip Kak Nova. Baner ya Kak?"


Reno bener-bener ya. Buat apa coba dia ngomong begitu sama Vera.


"Aku kurang tau juga sih Ver."


"Mas Reno selalu nyuruh aku makan yang banyak. Biar punya tubuh yang semok seperti mantannya dulu. Punya payudara yang besar. Katanya sih punyaku terlalu kecil."


Yaampun, Reno keterlaluan banget sih. Dia ngomong begitu sama istrinya. Banding-bandingin aku sama Vera. Kok tega sih.


"Aduh maaf ya Kak aku jadi crita begini sama Kakak. Tapi aku tu sebel sama dia. Dia tu komentari aku terus." Vera mengerucutkan mulutnya. Terlihat sekali dia kesal sama Reno.


"Nggak papa Ver, kita sama-sama wanita kan. Sejak kapan dia komentari kamu?"


"Belum lama ini Kak. Dulu aja pas awal nikah dia nggak begini. Malah cinta banget sama aku. Sama kaya' Kak Choky memperlakukan Kak Nova. Nempel terus begitu. Apa lagi pas malam pertama kita Kak. Dari malam sampai pagi dia benar-benar nggak tidur. Siangnya badanku sakit semua. Dia bisa buas banget mainnya. Udah gitu siang juga kita gituan lagi. Aku jadi iri lihat Kak Choky yang terusan mesra sama Kakak."


"Eemmmm Ver, kenapa Choky terlihat nggak welcome sama kamu?" Aku berusaha untuk mengalihkan tema pembicaraan. Ngomongin yang kaya' gitu bikin pengen main juga.


"Ya karna aku bukan saudara kandungnya Kak."


"Jadi mama kalian beda?"


Dia mengangguk. "Mama Papa kami beda semua Kak. Mamaku nikah sama Papa Haryono saat usiaku 4tahun."


"Tapi kenapa Choky bisa se nggak suka gitu sama kamu. Padahal menurutku kamu itu baik lho, nggak seperti saudara tirinya bawang putih."


"Hahahah... Kak Nova bisa aja. Aku seneng yang jadi istrinya Kak Choky itu Kakak. Kakak orangnya asik. Nggak jutek, nggak lebai dan satu lagi. Kakak nggak matre."


"Panda." Panggilan dari suamiku tercinta. Nggak ada yang lain yang panggil begitu kecuali Mbok Tut. Sampai sekarang Mbok Tut masih memanggilku dengan panggilan yang sama seperti Tuan mudanya.

__ADS_1


Aku menoleh kearah datangnya suara. Sudah aku lihat Choky berdiri menatapku. Masih dengan jasnya dan menenteng tas kerjanya. Aku tersenyum padanya.


"Besok kita ngobrol lagi ya Ver. Kakak mau nyiapin air hangat buat Kakak kamu mandi."


"Iya Kak."


Aku langsung berdiri dan berjalan kearah Choky. Meminta tasnya untuk aku bawakan. Tapi dia langsung mencium keningku. Merangkulku masuk kedalam kamar. Vera pun tersenyum gemes melihat kami.


"Aku siapin air hangat dulu ya." Aku taruh tas nya di laci meja. Tapi sebelum aku memasukkannya, ada yang jatuh dari dalam tas itu. Langsung aku ambil barangnya. Sebuah alat ***** getar warna hitam. Barang yang terbuat dari silicon yang bentuknya mirip banget sama barangnya pria. Sangat terkejut aku melihat alat itu. Aku langsung menatap Choky.


"Sayang, kamu kok punya kaya' gini? Buat apa?" Aku menunjukkan alat itu.


"Panda aku nggak bisa memuaskan kamu. Jadi aku membelikan itu untukmu." wajahnya terlihat sangat khawatir.


Aku mendekatinya. Membuang nafas kesalku. "Sayang kenapa kamu sampai seperti ini sih." Entah kenapa hatiku terasa perih mendengar perkataan Choky.


"Aku nggak mau kamu selingkuh Pan. Aku sayang banget sama kamu." Dia menekan kedua matanya. Menahan air mata yang hampir jatuh. "Maafkan aku sayang."


Aku langsung memeluknya erat. "Sayang kamu nggak perlu seperti ini. Aku nggak papa kok."


"Aku tau kamu itu wanita normal Pan. Kamu pasti menginginkannya setiap waktu. Dan aku tidak bisa memberikan itu. Aku bukan lelaki normal."


"Sayang aku mohon jangan pikirkan itu. Aku juga sayang sama kamu. Aku nggak akan selingkuh."


Dia elus punggungku dengan lembut. Terdengar isakannya. "Maafkan aku Panda."


Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya. Mengusap pipinya yang basah. "Sayang, kamu nggak boleh terlalu banyak pikiran. Apa lagi pikiran negatif yang membuat kamu jadi nggak tenang. Itu bisa menghambat kesembuhan kamu. Kamu harus yakin kalau kamu sembuh. Besok sore aku akan pergi ke klinik lagi. Aku akan mulai kursus untuk penyembuhan kamu."


Terbentuk senyum dibibir manisnya. "Makasih ya sayang. Tapi janji ya, jangan pernah selingkuh. Aku nggak akan membiarkan orang itu hidup jika sampai kamu selingkuh."


"Iya sayang. Aku janji, aku akan setia."


"Kalau kamu pengen, kamu bilang sama aku. Aku akan bantu kamu pakai alat ini." Dia memegang alat yang masih aku genggam.

__ADS_1


"Sayang, jangan ngomong gitu dong. Aku malu." Aku memanyunkan mulutku. Ingat saat pertama kali aku memintanya. Dengan sangat tidak sabar aku membuka celananya sampai sobek. Sangat memalukan. Udah gitu aku nangis, ngambek sampai berjam-jam mengguyur tubuhku dikamar mandi. Ingat itu, aku sangat malu.


__ADS_2