Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 27(kembali terpuruk)


__ADS_3

Duduk termenung didalam kamar. Hidup seperti tak hidup. Separuh jiwaku serasa menghilang. Rasanya tak ingin hidup lagi. Untuk apa tetap hidup, baru saja lukaku sembuh. Kini sudah tergores lagi. Bahkan lebih dalam. Lebih sakit. Aku merebahkan tubuhku diatas ranjang.


"Choky sayangku.......kenapa kamu nggak bisa menerimaku.....hiks hiks...Choky kenapa kamu pergi....Aku sayang sama kamu..hiks hiks hisk..." Aku tertidur sambil terus mengigau. Aku sudah sangat lelah. Habis main bola lebih dari 2 jam. Belum makan siang. Cukup lama aku tertidur. Dan sekarang sudah jam 6 sore menjelang malam.


Aku bangun, mataku sangat berat untuk terbuka. Tapi aku tetap membuka mataku. Aku masih ada dikamar ini. Ruangan terindah milikku dan Choky. Aku merindukanmu sayang. Aku menangis lagi.


Sekarang dia sudah pergi. Bahkan tak peduli dengan luka yang sudah dia goreskan. Sekarang bibirku bengkak begini. Tanganku juga sakit untuk gerak. Aku harus pergi dari sini. Untuk apa aku tetap disini, pemilik rumahnya saja pergi meninggalkanku.


Aku bangun, menuju kamar mandi. Membersihkan diri sebentar lalu berkemas. Aku pergi hanya membawa barang-barangku saja. Aku tidak akan membawa pakaian yang dibelikan Choky.


Setelah selesai berkemas, aku menggendong tas ranselku. Aku pandangi lagi ranjang tudurku dan Choky. Banyak kenangan diranjang ini. Kita memang belum pernah melakukan hubungan pasutri, tapi aku sangat menikmati setiap waktu bersamanya. Aku menyayanginya.


Menghirup nafas perlahan lalu aku keluarkan secara pelan-pelan. Aku harus kuat. Aku akan pergi. Selamat tinggal ranjangku sayang.


Aku mulai melangkah keluar dari kamar. Berjalan menuruni undakan kecil. Kulihat ada Mbok Tut sedang berdiri disana.


"Mbok, aku pamit ya."


"Nona mau kemana?"


"Aku harus pergi Mbok. Sudah tidak ada tempat untukku disini."


"Non, Tuan Choky sangat menyayangi Nona. Dia hanya sedang emosi. Tolong jangan pergi ya."


"Nggak Mbok. Aku harus pergi. Makasih ya, Mbok Tut sudah menjagaku dengan baik."


Aku berjalan keluar rumah menuju garasi. Mengambil helmku dan mulai menyalakan mesin motorku. Mbok Tut mengikutiku sampai garasi.


"Nona, jangan pergi Non."


Aku hanya tersenyum lalu mulai melajukan motorku meninggalkan plataran rumah Choky.


Pergi tanpa tujuan, hanya asal melajukan motor saja. Aku juga tidak mengecek isi bensin. Pikiran yang sangat kacau. Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, suara motor tiba-tiba ngadat dan berhenti. Aku menuntun motorku dipinggir jalan.


"Dasar motor. Nggak tau apa kalau gw lagi sedih. Kenapa harus macet sih. Nyebelin." Aku marah-marah sendiri sama motor. Aku melihat kesekeliling.


Ini gw dimana ya, kok tiba-tiba sampai sini. Batinku.


Jalan yang aku nggak kenal. Melihat jam ditanganku, menunjuk di angka 7 lebih. Tapi jalan ini masih ramai. Ada banyak warung makan.


Melihat spanduk gambar makanan, perutku jadi terasa perih karna dari siang belum sempat mengisinya. Baiknya ngisi perut dulu lah. Nanti aku jalan lagi. Aku menuntun motorku menuju parkiran depan rumah makan itu. Melihat isi dompet terlebih dahulu. Jangan sampai nanti perut udah kenyang tapi dompetnya nggak ada isinya. Kan itu lagu lama.


Masuk kedalam rumah makan itu, duduk di paling ujung.


"Mau makan atau minum saja Mbak?" Tanya Ibuk si pemilik warung.

__ADS_1


"Makan Buk. Paling murah lauknya apa ya?"


"Nasi sama tumis kangkung Mbak."


"Yaudah aku pesen itu tambah telur ceplok aja. Minumnya air putih aja ya."


"Baik Mbak." Si Ibuk pergi.


Mununggu 5 menit pesanan datang.


"Silahkan Mbak."


"Makasih Buk."


Tanpa basa-basi lagi, aku langsung memakan makanan dihadapanku. Nggak perlu waktu lama, makanan dipiringku langsung bersih. Isi gelaspun sudah kosong.


"Hah, sudah kenyang sekarang. Waktunya cari tempat tidur."


Aku beranjak dari tempat dudukku. Berjalan ketempat pembayaran makanan.


"Udah dapat orang belum Pak?" Tanya si Ibuk yang tadi.


"Belum Buk. Rani malah telfon katanya belum pasti mau baliknya kapan. Soalnya Bapaknya belum sembuh." Jawab si Bapak yang sepertinya adalah suami sang Ibuk.


"Maaf Buk, apa Ibuk sedang mencari pekerja?" Tanyaku saat sudah didekat mereka.


"Saya bisa Buk."


"Mbak nya serius? Tapi disini kerjanya harus cepet Mbak. Apalagi kalau jam makan siang dan makan malam. Pasti penuh."


"Insyaalloh saya bisa Buk. Misal Ibuk nggak suka cara kerja saya, saya nggak apa-apa disuruh berhenti."


"Baiklah kalau begitu. Besok jam 7 saya tunggu diwarung ini ya Mbak."


Aku tersenyum bahagia. Akhirnya ada kesibukan yang bisa aku lakukan. Aku mengulurkan tanganku. "Nama saya Nova Buk."


Ibuk itu menjabat tanganku. "Panggil saya Bu Siti."


"Buk, disekitar sini ada kost nggak ya?"


"Ada kok. Nanti saya antar ke kost nya adik saya ya. Saya mau beresin ini sebentar."


Menunggu Bi Siti beberapa menit, lalu berangkat ke tempat kost adiknya. Jaraknya nggak terlalu jauh dari warung tadi. Cuma memang kost nya terletak di gang-gang sempit.


"Fitri, kamar kost mu masih ada yang kosong nggak?" Tanya Bu Siti pada seorang wanita yang sedang duduk diteras rumahnya.

__ADS_1


"Nggak ada Mbak. Penuh semua. Tapi coba saya tanyakan si Jessy, kemarin dia nyari teman satu kamar. Katanya biar bayarnya murah. Mbaknya mau nggak kalau sekamar berdua?" Tanya Bu Fitri padaku.


"Mau Buk."


"Yaudah, mari saya antarkan. Kebetulan jam segini Jessy sudah pulang kerja."


Kami bertiga jalan lagi kebelakang rumahnya Bu Fitri. Mulai terlihat ada dua deretan kamar kost. Jika dihitung sekitar 30 kamar. Bu Fitri melewati kamar no 1,2,3.........dan berhenti dikamar nomor 14. Dia mengetuk pintu kamarnya.


"Jess! Jessy!" Panggil Bu Fitri pada si penghuni kamar.


"Iya bentar." Sahutan dari dalam.


Kriieekkk.


Pintu kamar terbuka. Seorang wanita yang sepertinya umurnya lebih muda dari aku, dia berdiri diambang pintu dengan handuk yang melilit rambutnya. Tercium aroma shampoo yang sangat wangi.


"Jess kamu jadi cari teman sekamar nggak? Ini Mbak siapa namanya ya?"


"Nova Buk." Jawabku.


"Nova ini nyari kost juga."


"Jadi kok Buk." Jawab Jessy dengan cepat.


"Mau kan sekamar sama Nova."


"Mau Buk."


"Yaudah." Bu Fitri menatapku. " Nov, bayarnya kamu sama Jessy aja ya. Soalnya kemarin Jessy sudah bayar full. Jadi kamu ganti uangnya dia aja." Tutur Bu Fitri.


"Baik Buk."


-----------------


Didalam kost, ngobrol perkenalan sama Jessy, sampai dia menyarankan aku untuk memasukkan lamaran kerja diperusahaan tempat dia bekerja.


Sekitar pukul 9 malam Jessy menunggu pacarnya yang katanya akan datang berkunjung ke kostnya.


Aku duduk didalam kamar, memegang ponselku. Mau ngapain ya sama ponsel ini. Disini cuma ada nomornya Choky dan keluargaku. Bahkan nomornya Ardi pun nggak ada.


Jahat banget ya Choky. Dia menghapus semua akun sosmedku, menghapus semua nomor yang tersimpan di memory telfon. Bahkan email di ponsel juga diganti. Aku kan jadi nggak punya teman.


Aku buka-buka galery di ponselku. Semua adalah foto Choky. Aku tersenyum melihat foto-foto itu. Kapan sih dia memasukkan foto-foto ini. Foto pernikahan kami dan foto prewedding waktu itu.


Dasar aneh. Mengisi semua dengan foto dia. Aku benar-benar nggak boleh menyimpan foto-foto sahabat ataupun temanku. Harus dia saja. Sebegitu takut nya kah dia ? Dia takut aku selingkuh, takut aku melirik yang lain. Aku ingat semua hal konyol yang Choky ucapkan. Aku tersenyum sambil menangis mengingatnya.

__ADS_1


"Choky, aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu."


__ADS_2