
"Jess gw nanti numpang di kost elo sebentar ya."
"Boleh Nov. Emang kenapa? Elo berantem lagi ya sama suami ganteng elo itu?" Tanya Jessy saat mereka berjalan kembali menuju kantor. Karna waktu istirahat sudah usai.
"Nggak sih. Nanti dia mau jemput gw." Nova duduk ditempat kerjanya.
"Bukannya elo bawa motor kan? Kenapa pakai dijemput segala? Manja banget sih lo? Beruntung banget lo punya suami perhatian begitu. Udah ganteng, perhatian, lo suruh-suruh gitu nurut juga. Kurang apa dia?"
Huuufftt Jessy kamu belum tau yang sebenarnya. Betapa anehnya dia. Asikan juga pulang sendiri. Bersyukur banget aku di ijinkan untuk kerja. Batin Nova yang memandangi Jessy mulai meninggalkannya.
Beberapa jam kemudian,
"Nov dipanggil Pak Doni. Suruh ke ruangannya." Bu Dewi sudah berdiri dibelakang komputer Nova.
"Ada apa ya Buk? Apa saya bikin salah?" Tanya Nova sambil mengeryitkan keningnya.
"Nggak tau juga sih. Kesana aja, biar tau." Bu Dewi pergi kembali ke ruangannya.
Nova langsung berdiri dan berjalan menuju ruangan Direktur Doni. Cukup jauh ternyata, harus menaiki undakan-undakan kecil juga. Dia berhenti di depan pintu yang ada tulisan R. Direktur. Dengan kepala yang penuh pertanyaan, dan takut karna dia mungkin akan kena marah, Nova menghirup nafas dalamnya dan mengeluarkannya perlahan. Untuk mengurangi perasaan takutnya.
Tok...tok..tok
"Permisi Pak. Saya Nova." Ucap Nova setelah mengetuk pintu itu.
"Masuk." Sahut orang yang didalam.
Kleek.
Suara gagang pintu yang terbuka. Nova melangkah masuk dan menutup pintunya. Dilihatnya Doni duduk dikursi yang kelihatannya sangat nyaman dengan menyilakan kakinya. Dia memandangi Nova dari atas sampai bawah. Kemudian tersenyum penuh arti.
"Bapak memanggil saya? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Nova dengan sopan.
"Ah iya aku memang sangat membutuhkan bantuanmu. Buatkan aku dokumen untuk meetingku besok pagi. Kamu bisa meminta tolong Dewi untuk mengajarimu."
"Tapi itukan bukan tugas saya Pak. Saya kan ada dibagian marketing. Dan tentang meeting, saya kan nggak ikut meeting juga."
"Mulai besok, kamu akan bekerja sebagai sekertaris pribadiku. Kamu nggak perlu magang lagi. Aku akan mengontrakmu." Doni mengeluarkan selembar kertas dari dalam lacinya. Lalu menaruhnya di meja. "Ini kamu tanda tangan kontrak sekarang."
Apa?? Sekertaris pribadi? Dan aku langsung disuruh tanda tangan kontrak? Sebenarnya ini kabar yang sangat menyenangkan. Tapi apa sih pekerjaan sekertaris pribadi itu? Kenapa terdengar sangat dekat dengat Direktur ya. Mungkin lebih baik aku bertanya pada Choky dulu.
"Maaf Pak. Apa saya boleh memikirkannya dulu?"
"Tentu. Saya beri waktu satu jam."
"Terimakasih Pak. Kalau begitu saya permisi." Nova membungkukkan badannya dan keluar dari ruangan Pak Doni.
Kembali duduk di tempat kerjanya. Mengambil ponselnya dan menelfon suaminya.
"Hallo sayang." Sapanya setelah telfon tersambung. "Tadi aku dipanggil Pak Direktur, dan diminta untuk langsung tanda tangan kontak selama dua tahun. Apa aku boleh melakukannya?" Terdiam mendengarkan penuturan suaminya. "Baiklah." Kembali memasukkan ponselnya kedalam tasnya.
-----------------
"Rosa, suruh Wildan keruanganku." Setelah berkata begitu, Choky langsung mematikan telfonnya.
5 menit kemudian.
__ADS_1
"Ada apa Tuan." Wildan sudah berdiri didepan meja Choky.
"Cari tau siapa Direktur Subroto Explore. Cari tau semua tentang direktur itu. Waktumu 5 menit dan cepat kembali dengan hasil yang memuaskan."
"Baik Tuan. Permisi." Wildan langsung melangkah mundur dan pergi dari ruangan Choky.
Siapa dia, berani sekali ingin bermain dengan wanitaku. Gumam Choky dalam hati.
Seperti permintaan Choky. Lima menit kemudian, Wildan kembali masuk ke ruangan Choky.
"Siapa Direktur itu?" Tanya Choky tanpa basa-basi lagi.
"Direkturnya bernama Doni Subroto, dia adalah anaknya Pak Yudi Subroto pemilik sah Subroto Explore. Dan sekarang perusahaan itu di jalankan oleh anak tunggalnya yaitu Doni Subroto."
"Apa dia sudah menikah?"
"Belum Tuan. Dia masih single. Tapi dia mempunyai banyak teman kencan."
Choky mengepalkan tangannya. Lalu menggebrak mejanya. Terlihat wajahnya sangat kesal. "Pergilah ke Subroto Explore. Jangan biarkan dia mendekati istriku."
"Tapi 5 menit lagi kita harus berangakt ke Cafe Red Tuan. Dan menurut anak buah saya, cliennya sudah dalam perjalanan menuju Cafe."
"Ah sial!!" Umpat Choky sangat kesal. "Ya sudah ayo kita berangkat." Choky mengambil ponselnya. Mengetik pesan.
[JANGAN DITERIMA!!!]
send *boneka Panda*
--------------------
Doni langsung bangkit dari kursinya. Dia berjalan mendekati Nova yang berdiri didepan meja kerjanya. Dia terlihat terkejut dengan keputusan Nova.
Bagaimana bisa dia menolak untuk dekat denganku. Setelah sekian lamanya. Dan aku saat ini bukanlah orang sembarangan. Gumam Doni dalam hati.
Nova menundukkan kepalanya saat melihat wajah Doni yang mulai terlihat marah dan tak suka mendengar penolakannya.
"Nova, apa kamu serius dengan keputusanmu itu? Kamu benar-benar menolak menjadi sekertaris pribadiku?" Ucapnya di samping Nova.
"Maaf Pak, saya sendiri belum faham apa itu tugas seorang sekertaris. Dan saya juga tidak ahli di bidang itu. Saya takut mengecewakan Bapak."
"Kamu bisa belajar dengan Dewi. Dan aku pasti akan membimbingmu. Ayo lah Nov, aku sangat membutuhkan sekertaris pribadi."
"Maafkan saya Pak. Bagaimana jika saya panggilkan Galih Pak. Mungkin dia lebih cocok Pak."
"Siapa itu?" Doni mengeryitkan keningnya.
"Dia itu teman magang saya Pak. Dia sangat pintar dan cekatan. Saya yakin pasti dia bisa."
"Laki-laki?"
"Iya Pak."
"Ah saya tidak berselera. Saya mau kamu. Saya hanya mau kamu. Bukan orang lain. Tolong fikirkanlah lagi. Besok pagi, menghadaplah keruanganku. Sekarang keluarlah." Doni kembali duduk ke kursinya dan membalikkan kursinya membelakangi Nova.
"Baik Pak. Saya permisi." Nova melangkah mundur dan keluar dari ruangan Direktur itu.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin dia masih saja menolakku? Setelah apa yang aku punya ini? Aku harus tau siapa kekasihnya Nova!" Ucap Doni dengan sangat kesal saat dengar pintu sudah tertutup kembali.
----------------
"Nov elo tadi kenapa dipanggil Pak Doni keruangannya?" Tanya Jessy saat mereka sudah berada di dalam kamar kost milik Jessy.
"Dia minta gw untuk jadi sekertaris pribadinya. Dan nyuruh gw buat langsung tanda tangan kontrak kerja selama 2 tahun."
"Apa??!!" Mata Jessy membulat kaget.
"Iiiihhhh lo kenapa sih Jess? Matanya sampai mau keluar gitu."
"Ya gw terkejut. Kok bisa Pak Doni minta elo jadi sekertaris pribadinya? Itu gajinya lumayan banget lho Nov."
Nova hanya nyengir. Sayangnya aku kerja bukan karna uang Jess, tapi karna aku jenuh dirumah. Kalau hanya uang, Choky akan memberikanku uang seberapapun yang aku minta. Batin Nova.
"Gw sebenernya tertarik itu. Gw butuh uang banyak buat tabungan nikah besok. Eh tapi kenapa elo tolak?"
"Gw nggak bisa. Lagian suami gw juga nggak ijinin."
"Ah iya gw lupa. Suami elo kan punya segalanya. Dan elo nggak butuh uang dari hasil sekertaris itu. Tapi kaya' nya Pak Doni itu suka sama elo deh Nov."
"Sebenarnya ya Jess, dia itu sudah suka sama gw sejak SMA dulu. Dia sering banget kirim surat cinta, kirim puisi-puisi. Kemarin dia juga nawarin mau antar gw pulang."
Jessy tiba-tiba mengedip-ngedipkan matanya. Mengkode sesuatu. Tapi Nova nggak tau maksudnya apa.
Nova mengeryitkan keningnya tanda tak mengerti. "Elo kenapa sih? Elo naksir sama Pak Doni ya?"
"Enggak Nov." Lalu dia tersenyum kearah pintu kamar yang memang terbuka.
Nova menoleh kearah pintu. Ternyata Choky sudah berdiri diambang pintu dengan melipat tangannya didepan dada.
"Sayang, kamu sudah datang. Maaf aku nggak tau." Nova langsung berjalan mengambil tasnya. "Jess, gw pulang dulu ya. Makasih tumpangannya." Lanjut Nova.
"Iya Nov. Sama-sama."
Nova langsung keluar dari kamar Jessy mengejar Choky yang lebih dulu berjalan meninggalkannya.
"Masuk ke mobil. Biarkan motormu disini." Perintahnya pada Nova yang sudah memakai helm.
Lalu dia copot lagi helm yang baru saja nempel di kepalanya itu. Buru-buru dia menyusul Choky masuk kedalam mobil. Mobil pun langsung melaju.
Didalam mobil, Choky hanya diam. Dia marah sama Nova karna tidak menceritakan tentang Doni yang termasuk masalalunya. Dan sekarang sedang berusaha mendekatinya.
"Sayang, aku bisa jelasin. Jangan marah ya." Ucap Nova sembari memohon.
Choky tetap diam, dia menyandarkan kepalanya di atas sandaran kursi mobil. Pandangannya lurus kedepan. Tapi wajahnya terlihat begitu marah.
"Sayang,...." Nova mulai mendekat ke arah Choky.
"Pak, tepikan mobilnya dan keluarlah sebentar." Perintah Choky.
"Baik Tuan." Pak Budi menepikan mobil di tempat yang sepi, jauh dari pemukiman.
Apa Choky akam meninggalkanku disini? Apa dia sungguh sangat marah padaku? Tapi aku kan tidak mengkhianatinya. Aku juga sudah menolaknya. Pikiran Nova sudah berlari kemana-mana.
__ADS_1