Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 31(bertemu Ardi)


__ADS_3

Pukul 9 malam mobil sport Choky membawaku menuju ke tempat kost ku. Selama perjalanan aku senyam senyum sendiri. Aku memang sedang bahagia. Aku bisa kembali berkumpul dengan suamiku lagi. Ditambah sekarang dia sudah sembuh. Walau terasa sangat melelahkan saat melayaninya, tapi aku bahagia. Aku sangat bahagia. Dia orang yang sangat aku sayangi. Aku baru menyadari setelah dia pergi kemarin. Ternyata aku sangat mencintainya. Dia sangat penting bagiku.


Kurang lebih 10 menit, mobil Choky sudah sampai diplataran rumah Buk Fitri. Dia hendak keluar dari mobilnya. Baru saja akan membuka pintu, aku menarik lengannya. Choky langsung menatapku.


"Sayang, kamu ajari aku membuka pintunya dong. Biar aku bisa buka sendiri. Jadi nggak ngrepotin kamu." Pintaku.


Dia tersenyum. "Nggak perlu. Sekalipun kamu nggak bisa buka pintu, aku tetap mencintaimu."


Hah? Netralku membulat. Sekarang, Choky bisa ngegombal juga? Aku tertawa kecil.


Tampa melihatku lagi, dia langsung keluar dari mobil, muter lewat depan dan membukakan pintu untukku.


"Silahkan kesayanganku." Ucapnya dengan tangan yang melambai juga. Membuat senyumku benar-benar menjadi sebuah tawaan kecil.


Aku keluar dari dalam mobil. "Kamu tunggu disini aja ya. Aku cuma ngambil barang kok."


"Ya nggak papa, aku antar sampai dalam kan boleh. Mereka juga sudah tau kalau aku ini suamimu."


Oo jadi kamu yang kasih tau semua orang? Pantesan. Gerutuku dalam hati.


"Bukan begitu sayang. Tapi didalam itu semuanya wanita. Udah kamu nunggu disini aja ya."


"Eemmmm....." Terlihat dia sedang berfikir. "Ok. Tapi jangan lama-lama ya."


"Siyap." Aku pun tersenyum lega. Aku nggak mau mereka cewek-cewek mupeng itu menikmati ketampananmu. Cukup aku saja yang menikmatinya. Aku melihat Bu Fitri yang duduk diteras sambil senyam-senyum menatap kami.


Tuh contohnya, si ibuk-ibuk sudah senyam-senyum kan. "Sayang kamu tunggunya didalam mobil saja ya."


"Cium dulu. Nanti aku masuk." Pintanya sambil menunjuk pipi kirinya.


"Jangan disini dong. Ini banyak orang. Terserah lah. Aku mau masuk ah." Aku langsung berjalan meninggalkannya.


Choky jadi aneh gitu sih. Perasaan semenjak sembuh dia jadi beda. Tapi aku tetep suka.


Terlihat Jessy sedang bersama seorang laki-laki duduk didepan kamar kost. Aku tebak, pasti itu pacarnya Jessy kan. Dilihat dari belakang gini, pacarnya Jessy keren juga. Tubuhnya atletis, bagus.


"Nova, lo mau ambil baju ya?" Sapa Jessy setelah melihatku.


Si cowok yang bersama Jessy langsung menoleh kearahku. Mataku membulat kaget. Aku reflek langsung memeluk cowok itu.


"Ardi gw kangen elo." Ucapku.


"Gw juga kagen." Balas Ardi sambil balas memelukku. Terlihat Jessy yang juga terkejut melihat aku berpelukan dengan Ardi didepannya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Ucapnya dengan kesal. Bahkan dia berkacak pinggang.

__ADS_1


Aku melepaskan pelukanku. "Jessy jangan marah dulu."


"Sayang, ini Nova sepupuku yang pernah aku ceritakan padamu dulu. Dulu aku pernah mengajakmu kepesta pernikahannya juga." Jelas Ardi sambil merangkul pundakku.


"Oh jadi dia orangnya. Aku nggak mengenalinya. Dia sangat berbeda Yang." Jessy mendekatiku, dia memelukku. "Maafkan aku ya Nov. Aku tidak mengenalimu."


"Nggak papa Jess. Kamu juga selalu baik padaku kok."


Kita bertiga duduk ngobrol didepan kamar kost. Ternyata Ardi dan Jessy ini kerja disatu perusahaan dekat warung makan Bu Siti. Bahkan Jessy adalah oacarnya Ardi.


"Jadi elo udah masukin lamarannya Nov?" Tanya Ardi.


"Sudah Di, tapi baru dua hari yang lalu. Lowongannya masih ada nggak?"


"Udah diisi sih. Tapi satu bulan lagi akan ada lowongan kerja. Besok gw cari punya lo ya. Gw simpen, terus gw panggil satu bulan lagi."


"Huufftt masih satu bulan ya." Aku menghembuskan nafas kesalku. Jadi aku masih harus nganggur satu bulan lagi dong.


"Elo kenapa sih? Emang Choky bangkrut? Kenapa lo sampai harus kerja?"


"Gw jenuh dirumah. Uang sih ada. Hanya saja, dirumah sendirian setiap hari, nggak punya kesibukan, itu sangat menjenuhkan." Aku mengerucutkan mulutku.


"Ooh jadi karna itu ya elo kemarin kost dan kerja diwarung?" Sahut Jessy.


Aku tersenyum, kemudian menganggukan kepala. "Tapi udah baikan kok."


I like your smile


I like your vibe


I like your style


But that's not why I love you


And I, I like the way, you're such a star


But that's not why I love you, hey


Do you feel,


Do you feel me,


Do you feel what I feel too


Do you need,

__ADS_1


Do you need me,


Do you need me


Ponselku berdering. Siapa lagi kalau bukan Choky. Aku langsung mengangkat telfon.


"Kamu ngapain kok lama banget?" Ucapnya saat ponsel baru saja aku tempelkan ditelingaku.


"Ah iya. Ini udah mau keluar kok. Aku tutup ya." Langsung aku matikan telfonnya.


Aku langsung berlari kedalam kamar mengemasi barang-barangku secepat mungkin.


"Jess makasih ya. Gw pulang dulu." Aku menjabat tangan Jessy dan memeluknya.


"Iya sama-sama Nov. Semoga besok kita ketemu lagi ya." Balasnya.


"Di jangan cerita ke orang rumah ya kalau gw kerja. Pokoknya cerita yang baik-baik aja." Aku kembali memeluknya.


"Iya santae aja. Aman pokoknya."


"Yaudah ya. Gw pulang, udah ditungguin. Da da..."


Aku melambaikan tangan pada mereka berdua dan berjalan meninggalkan mereka.


--------------


Sampai dirumah, aku langsung menyiapkan makanan diatas meja makan. Tadi aku mengajak Choky mampir dipinggir jalan untuk membeli makan. Selesai makan malam, kami langsung kekamar.


Aku merapikan barang-barangku yang aku bawa dari kost. Choky sibuk dengan laptopnya karna tadi dia nggak masuk kerja. Jadi banya email dan pesan masuk dari sekertarisnya.


Selesai membereskan barang-barangku, aku cari baju tidur untuk ganti pakaianku. Aku mencari baju tidurku yang biasa aku pakai. Tapi tidak ada. Semua baju tidur sudah berubah. Aku mengambil satu baju tidur berbentuk dress.


Ya hancur, ini baju apaan sih. Ini bukan baju. Buat apa pakai seperti ini. Pasti Choky sudah menggantinya kan. Menyebalkan sekali dia. Semenjak dia sembuh, dia jadi lebih menyebalkan.


Aku lirik dia. Dia masih fokus pada laptopnya. Apa aku tidur pakai begini saja ya. Ah tapi kan nggak nyaman.


Aku sudah memanyunkan mulutku. "Sayang apa kamu sudah mengganti semua baju tidurku?"


Dia menatapku. Tersenyum tipis. Lalu kembali menatap laptopnya. "Bukan aku. Tapi orang yang aku suruh."


Sama saja kan. Benar-benar ya. Apa malam ini dia akan menghabisiku lagi? Bahkan tadi siang dia sudah melakukannya juga kan. Hah, aku senang dia sembuh. Tapi kenapa jadi begini sih. Membuatku repot saja. Aku menggerutu kesal didepan lemari.


Tapi akhirnya aku tetap memakai baju tidur itu. Lalu aku bergegas naik keatas ranjang. Ambil posisi ditepi, memunggungi Choky. Menarik selimut sampai dileherku. Berharap dia nanti tidak mendekatiku.


Aku langsung memejamkan mataku. Belum tidur sih, masih dalam pikiran memikirkan Choky. Tapi lama-lama aku tertidur juga.

__ADS_1


__ADS_2