Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 42(masuk kerja 2)


__ADS_3

"Nov yuk makan siang bareng." Ajak Jessy yang sudah berdiri dibelakang komputer Nova.


"Sebentar lagi. Kok lo nggak sama pacar lo? Ardi kemana?"


"Dia nemenin Pak Doni."


"Eh Pak Doni itu ada dibagian apa?"


"Hey dia pemilik perusahaan ini."


Mata Nova langsung membulat. "Apa?" Tanya Nova tak percaya.


"Kenapa? Eh tadi katanya Pak Doni ngajakin elo kenalan ya?" Tanya Jessy dengan wajah keponya.


Nova mematikan komputernya. Lalu mengajak Jessy keluar kantor untuk makan siang.


"Nggak kenalan sih Jess, dia itu teman SMA gw dulu." Jelas Nova.


"Yaampun Nov kok bisa sih hidup elo penuh dengan orang-orang keren begitu."


---------------


"Di, jadi Nova itu sepupu elo yang kemarin elo rekomendasikan itu?" Tanya Doni saat clien mereka sudah pergi.


"Iya itu orangnya. Jadi elo teman sekolahnya Nova dulu?"


"Iya gw dulu pernah beberapa kali nembak dia. Tapi nggak pernah dia balas."


"Hahahah...."


"Puas lo bisa ketawa ngakak!"


"Menyedihkan sekali sih cerita SMA elo!"


"Kalau gw tembak dia dengan keadaan gw yang sekarang, pasti dia nggak akan nolak kan?"


"Jangan cari mati Don."


"Cari mati gimana sih, gw beneran masih mengaguminya. Apa lagi sekarang dia tambah bohai gitu. Lelaki mana sih yang nggak tertarik kalau lihat dia."


Seorang waiter datang membawakan pesanan mereka. Sejenak percakapan mereka terhenti. Menunggu sampai pelayan itu selesai menyajikan pesanannya.


"Silahkan di nikmati Tuan." Ucap pelayan itu dengan sopan. Lalu dia berlalu pergi. Kedua lelaki itu hanya mengangguk. Mereka mulai makan.


------------------


"Hey Nov, sekarang kamu tinggal dimana?" Tanya Doni, dia menunggui Nova yang sedang sibuk dengan keyboard dan menatap layar didepannya. Tentu perasaan yang sangat tidak nyaman, tapi ya mau gimana lagi. Dia boss di sini. Nova pun tak bisa berbuat apa-apa. Dia menjawab sekenanya dan tetap sibuk dengan pekerjaannya.


"Di daerah X Pak." Jawabnya tanpa menatap Doni.


"Jangan Pak dong Nov. Panggil Don aja. Kita kan teman."


"Saya akan panggil seperti itu jika kita bertemu diluar Pak. Tapi sekarang saya sedang bekerja di sini." Tolak Nova dengan sopan. Bahkan dia juga tersenyum sangat manis.


Ah Nova, sejak dulu senyummu itu selalu membuat hatiku bergetar. "Baiklah aku mengerti."


"Setelah jam kerja selesai, kamu mau kemana?"


"Pulang Pak." Jawab Nova tanpa melihatnya lagi.


"Dari dulu kamu nggak pernah berubah ya. Ngomongnya selalu to the point terus."


Ya itu kan karna aku memang tidak menikmati mengobrol denganmu. Dasar tidak peka. Gerutu Nova dalam hati.


"Kamu berangkat kerja naik apa? Aku antar pulang ya."


Kali ini Nova tersenyum kearahnya. "Nggak usah Pak. Makasih tawarannya."


"Bagaimana kalau nanti sebelum kamu pulang kita makan di luar sebentar. Saya yang akan traktir."


"Tidak perlu Pak. Saya harus langsung pulang." Tolaknya lagi.


"Memangnya kamu mau ngapain dirumah?"


"Akhamdulilah selesai juga." Ucap Nova dengan lega karna dia sudah bisa menyelesaikan tugasnya hari ini. Hari pertama kerja. Dia berdiri dan menatap bos nya. "Saya permisi dulu ya Pak. Saya mau mengembalikan ini pada Bu Dewi." Dia menunjukkan setumpuk map di tangannya.


Tanpa menunggu persetujuan Doni, dia langsung pergi meninggalkan tempat kerjanya.

__ADS_1


"Bu Dewi, ini laporannya. Sudah selesai saya kerjakan." Nova menyerahkan beberapa tumpukan map. "Taruh situ Nov. Saya masih harus nge-print ini dulu."


"Bu saya boleh nggak agak lama disini. Sampai Pak Doni pergi dari tempat saya duduk." Bisik Nova dengan lirih.


Bu Dewi mengeryitkan keningnya. "Memangnya dia kenapa sih Nov? Dia sepertinya naksir kamu deh. Padahal dia nggak pernah begitu. Apa lagi sama anak magang."


"Dia dulu teman sekolah saya waktu masih abu-abu putih."


"Mantan?"


"Bukan Bu. Teman satu sekolahan. Nggak lebih."


Bu Dewi malah tersenyum seperti tak percaya kata-kata Nova. Tapi Nova hanya bisa membuang nafas kesalnya.


Nggak bisa bayangin deh, kalau sampai Choky tau ini semua, pasti dia benar-benar akan dibunuhnya. Batin Nova. Ah tapi janganlah. Aku ingin merahasiakan identitasku.


"Nov, ngapain lo di ruangan Mbak Dewi? Itu lo ditungguin Doni disana." Goda Ardi yang sudah tau jika Nova tidak menyukai situasi seperti ini.


"Di, lo nggak cerita sama dia ya kalau gw dah bersuami."


"Kenapa harus cerita. Dia juga nggak nanya sama gw kok." Ardi tersenyum jail. Dia memang sengaja ingin tau seperti apa cara Doni ngejar Nova. Padahal dia tau, Choky adalah pemilik saham terbesar di perusahan Doni. Karna Ardi adalah sahabat, orang kepercayaan Doni sekaligus tangan kanan Doni.


Nova mengerucutkan mulutnya kesal. Dia terpaksa kembali ketempat kerjanya. Karna tinggal 5 menit lagi sudah waktunya pulang. Benar saja, baru saja sampai ditempatnya, Choky sudah menelfonnya.


"Hallo." Sapanya.


"Iya sebentar lagi aku keluar." Lalu dia tutup telfonnya.


"Apakah itu kekasihmu?" Tanya Doni yang masih ada ditempatnya.


Nova hanya tersenyum tanpa menjawab. "Saya permisi pulang dulu ya Pak." Dengan sopan Nova menganggukkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Doni.


Entah sedari tadi perut Nova bagian bawah terasa sangat nyeri. Seperti orang yang menahan kencing terlalu lama. Padahal dia tidak pernah menahan pipisnya. Dan Choky menyadari itu saat mereka sudah ada didalam mobil.


"Kamu sakit?" Tanya Choky. Karna dari tadi Nova memegangi perut bagian bawahnya. Dan wajahnya terlihat meringis menahan sakit.


"Nggak tau kenapa perutku sakit baget."


"Yaudah kita langsung ke Rumah sakit aja." Choky melaju dengan sangat cepat menuju Rumah Sakit.


Mereka berdua sudah berdiri di depan tempat pendaftaran.


"Keluhannya apa Mbak?" Tanya petugas Rumah sakit itu.


"Perut saya nyeri Mbak." Jawab Nova sambil memegangi perutnya.


"Saya arahkan ke dokter umum ya Mbak." Petugas wanita itu sibuk menulis data-data Nova. "Silahkan antri di sana."


Choky dan Nova berjalan menuju ruanga antri dokter umum itu. Antrian yang cukup banyak. Ada Bapak-bapak, Ibu-ibu juga, malah nenek-nenek juga ada. Mereka berdua duduk di deretan paling belakang.


"Sayang, aku ke toilet dulu ya. Nggak tahan, pengen pipis."


"Aku antar ya."


"Nggak usah nggak papa. Kamu disini aja. Tas ku aku tinggal ya."


Nova langsung berdiri dan pergi ke toilet. Choky duduk sendirian sambil memangku tasnya Nova. Ada seorang Ibu yang datang dengan wajah yang sangat pucat duduk disamping Choky. Tempat duduk yang tadi dipakai Nova. Karna memang tempat duduk yang lain sudah penuh.


"Buk...." Choky tak jadi meneruskan kata-katanya karna wajah Ibu itu sangat pucat. Sebenarnya dia sudah mau mengusirnya. Karna itu tempat duduk Nova.


"Kenapa Mas?" Tanya Ibuk itu dengan menatap wajah Choky. Terlihat kekaguman diwajah ibuk itu, dia sampai tak berkedip menatap Choky.


"Nggak papa. Maaf."


Ditoilet, Nova menggerang kesakitan. Karna terasa sangat sakit jika dia pipis. Kencing yang keluar pun tak banyak. Hanya beberapa tetes saja.


Aduh aku kenapa sih, kok sakit banget ya. Dia mengeluh dalam hati.


Lalu dia keluar dari toilet. Berjalan agak tertatih.


"Nova, kamu ngapain disini?" Sapa seseorang. Reno, dia juga baru saja dari toilet.


"Aku periksa. Kamu kenapa disini?" Nova balik nanya.


"Aku nungguin Vera lah."


"Ah iya, aku sampai lupa. Bagaimana keadaannya sekarang?"

__ADS_1


"Dia sudah membaik. Besok siang dia sudah boleh pulang."


"Baguslah. Maaf ya aku tidak bisa menjenguknya akhir-akhir ini."


"Tak masalah Nov. Besok kamu akan bisa terus bertemu dia."


"Maksudnya?"


"Kita besok pulang ke rumah Choky."


Mata Nova membulat. Dia terkejut. Kok bisa Choky mengijinkan mereka untuk tinggal bersamanya. Jelas-jelas waktu itu dia begitu marahnya mengetahui masalaluku. Kenapa sekarang dia begini?


"Kamu kenapa Nov? Seperti terlihat tak suka."


"Nggak begitu Ren. Aku pergi dulu ya. Mungkin sebentar lagi giliranku dipanggil untuk diperiksa."


"Ok. Semoga lekas sembuh ya."


Nova hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Reno yang tentu masih saja menatap punggung Nova.


Kok Nova pakai pakaian seperti seorang karyawan ya. Nggak biasanya dia pakai pakaian begitu. Batin Reno.


Sesampainya di ruang tunggu, Choky langsung berdiri menyuruh Nova untuk duduk dikursi yang dia duduki. Karna sudah tak ada tempat duduk yang lainnya.


"Kenapa kamu tadi lama banget."


"Tadi aku bertemu Reno saat di toilet."


"Apa?" Ucap Choky agak berteriak. Membuat seisi ruang tunggu itu menoleh kearahnya.


Nova yang menyadari itu, langsung menarik lengan Choky. "Sayang, kamu ngomongnya jangan kencang-kencang. Lihatlah, semua orang melihat ke arah kita."


Choky tersenyum kepada semua orang itu. Lalu dia jongkok disamping Nova. "Apa yang kalian lakukan didalam toilet?"


"Sayang, kita nggak satu toilet. Kita hanya bertemu saat sudah keluar dari toilet." Huufft Choky mulai ya. Sayang ingatlah, kita sedang di Rumah sakit. Dan disini banyak orang. Aku mohon jangan memperlihatkan keanehanmu di sini.


"Kamu.." Nova langsung menyentuh bibir Choky dengan jemarinya. Wajah Choky yang sudah terlihat garang, tiba-tiba meleleh. Dia diam sambil terus menatap Nova. Membuat seorang ibuk yang duduk disamping Nova menggigit jarinya sendiri.


"Sayang, kita sedang di Rumah sakit." Bisik Nova.


"Saudara Nova astria." Panggil seorang perawat dari ambang pintu ruang pemeriksaan.


Nova langsung berdiri dan berjalan menuju ruang pemeriksaan. Disusul Choky dibelakangnya.


"Silahkan duduk." Seorang Dokter wanita bernama Lira Diana M. Begitu yang tertulis di nameteks bajunya. Dia sejenak menatap Choky kagum. Lalu mulai tersadar dan beralih menatap Nova. "Ada keluhan apa?"


"Perut saya nyeri Dok. Seperti orang yang nahan kencing lama. Dan sakit kalau untuk kencing." Jelas Nova.


"Kita perlu tes urine ya." Dokter itu menatap perawat disampingnya. "Bantu dia untuk tes urine ya Mbak."


Perawat itu memberikan sebuah wadah kecil untuk urine Nova. Segera Nova masuk ke kamar mandi.


Setelah menyerahkan urine, Dokter meminta untuk menunggu kurang lebih 1 jam hasil lab keluar. Satu jam bukan waktu yang singkat, cukup lama. Apa lagi untuk seorang Choky yang tak pernah menunggu. Dia sudah kebanyakan tingkah. Memainkan jari-jemari Nova dari duduk hingga mereka dipanggil lagi oleh Dokter.


"Bagaimana hasilnya Dok?" Tanya Choky yang sudah penuh dengan ke khawatiran.


"Ada bakteri yang masuk ke rahim kamu Mbak. Sebelumnya saya minta maaf ya. saya ingin bertanya yang menyangkut sakitnya perut Mbak. Apa kalian pernah melakukan hubungan intim pada saat haid?" Tanya Dokter Lira.


"Pernah Dok. Apa itu berakibat fatal?" Dengan cepat Choky menjawabnya. Nova hanya diam dengan keterkejutannya.


"Tidak terlalu fatal. Tapi karna itu, ada banyak bakteri yang masuk ke kandung kemihnya. Jadi itu mengakibatkan perutnya sangat nyeri dan sakit dibagian kelamin saat kencing." Tutur Dokter itu.


Ada rasa bersalah diwajah Choky. Dia tertunduk.


"Tapi ada obatnya kan Dok?" Kali ini Nova yang bicara. Karna dia tak tega melihat wajah Choky.


"Ada. Kita akan memberikan obat anti bakterinya. Jangan berhubungan dulu ya selama kurang lebih 3 hari. Setelahnya, sudah tidak apa-apa."


"Baik Dok."


Dokter menuliskan resep obat yang harus mereka ambil. Dan Nova berkali-kali mengelus pundak Choky. Berharap bisa sedikit menenangkan perasaan Choky.


Setelah selesai mengambil obat di apotek, mereka kembali masuk kedalam mobil. Choky menatap Nova dengan sangat menyesal.


"Maafkan aku Pan. Aku tidak bisa menahan hasratku." Ucap Choky dengan penuh rasa bersalahnya. Semua karna ulahnya. Sejak dia sembuh dari sakitnya, dia tidak pernah bisa menahan hasratnya saat dekat dengan Nova.


"Sayang, nggak papa. Ini bisa diobati. Jangan merasa bersalah begitu ya." Nova meraih tengkuk Choky dan memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2