
Sudah siap untuk berangkat kerumah Ibunya. Nova hanya membawa sedikit barang didalam tas ranselnya.
"Ayo sayang kita kerumah Ibuk." Ucapnya sambil bergelayut manja dilengan Choky.
Choky tersenyum melihat tingkah istrinya yang tak seperti biasanya. "Kamu udah siap?"
"Udah. Ini aku udah bawain baju ganti kamu ditasku. Kita nginep semalam dirumah Ibuk."
"Susu nya kamu mau bawa yang rasa apa?"
"Susu buat ibu hamil ya?"
"Iya sayang. Kamu harus rutin minum dong. Biar anak kita nutrisinya tercukupi."
""Yang rasa kacang hijau aja Chok."
"Yaudah aku ambilin dulu ya."
Choky berjalan menuju kedapur untuk mengambil susu ibu hamil. Seperginya Choky, Vera datang dengan didorong Bik Darmi.
"Kak Nova mau kemana? Kok bawa tas ransel segala?"
"Mau pulang ke rumah Ibukku Ver. Aku dah lama nggak pernah pulang."
Vera langsung cemberut. "Aku nggak ada temennya dong."
Melihat Vera yang terlihat sangat sedih, Nova jadi nggak tega. Dia yang sudah menyebabkan Reno jadi nggak bisa jagain istrinya. "Kalau kamu mau ikut boleh kok Ver. Kita nginep dirumah Ibukku semalam."
"Beneran boleh Kak?" Wajah Vera terlihat berbinar.
"Iya boleh kok Ver."
"Kalau mau ikut Bik Darmi juga harus ikut. Jangan ngerepotin disana nanti. Kalau mau ngrepotin, cukup Bik Darmi aja. Dan lagi. Kamu naik mobil kamu sendiri. Nanti biar disupir sama Arif." Ucap Choky panjang lebar yang baru aja datang. Arif itu salah satu penjaga dirumah Choky.
"Iya iya Kak. Aku janji nggak akan ngerepotin." Vera kembali cemberut.
"Yaudah sana buruan siap-siap. Keburu malam." Perintah Choky.
Bik Darmi pun membawa Vera masuk kekamar untuk berganti pakaian dan menyiapkan keperluan yang harus dibawa.
"Sayang, kamu kok ngomongnya gitu sih. Kasian Vera lho."
"Biarin." Choky merangkul Nova dan mengajaknya berjalan menuju garasi. Lalu melepaskan tas ransel dipundak Nova dan memberinya pada Pak Budi.
"Pak Budi udah sembuh?" Tanya Nova yang tau saat kejadian waktu itu Pak Budi sempat digebukin.
"Sudah Non. Saya sudah sehat." Jawabnya sambil membungkukkan sedikit badannya.
"Ya syukur deh." Choky menarik tangan Nova untuk segera masuk kedalam mobil. Lalu dia ikut masuk dan duduk disamping Nova.
"Sayang, kenapa Vera nggak satu mobil aja bareng kita. Kan masih muat."
Choky mencibirkan bibirnya. "Nggak. Keenakan dianya. Aku cuma mau duduk berdua sama kamu. Nggak mau sama yang lainnya."
"Sini," Choky menepuk kakinya. "Kalau kamu mau bobok, boboknya sini. Berdua kan enak. Kamu bisa bobok santai."
"Nggak ah, nanti kaki kamu sakit lho. Rumah Ibuk kan lumayan jauh."
"Nggak papa Pandaku sayang." Choky melingkarkan tangannya dipinggang Nova.
Melihat Arif yang sudah selesai memasukkan tas dibagasi mobil Reno, Choky segera menyuruh Pak Budi untuk melajukan mobilnya.
Baru seperempat perjalanan, Nova sudah menyandarkan kepalanya dibahu Choky.
"Bobok sini sayang." Nova menurut dan tidur di paha Choky.
__ADS_1
Choky elus kepala Nova dengan lembut, dan tangan yang satunya memegangi perut Nova. Nova pun tertidur lelap.
Hingga perjalanan 1 jam lebih, mereka sampai di plataran rumah milik orangtua Nova.
"Panda, sayang. Bangun sayang." Choky menepuk nepuk pipi Nova dengan lembut. Nova membuka matanya perlahan. "Kita udah sampai didepan rumah Ibuk."
Nova langsung bangun dan membenarkan rambutnya yang berantakan. Pak Budi sudah membukakan pintu mobilnya. Lalu kembali ke bagasi untuk mengambil tas majikannya.
Ibuk Nova membuka pintu. Dia sangat terkejut melihat putri sulungnya pulang. Karna memang Nova tidak memberitaunya dulu.
"Nova." Seru Ibunya. Nova tersenyum bahagia dan berlari kearah Ibunya. Memeluk tubuh Ibunya yang sangat dia rindukan.
"Nova kangen Buk." Ucap Nova.
Ibuk melepaskan pelukannya. Dia tiba-tiba memeluk menantunya yang berdiri di samping Nova. Choky terlihat sangat kaget. Awalnya dia diam karna bingung harus bersikap bagaimana. Tapi perlahan dia membalas pelukan mertuanya ini.
Pelukan seorang ibuk yang terasa sangat nyaman. Begitu hangat dan menenangkan hati. Sudah sangat lama dia tak merasakan pelukan seperti ini. Choky menikmatinya, dia pejamkan matanya dan merasakan betapa hangatnya pelukan ini.
"Chok, udah peluknya." Bisik Nova.
"Bentar lagi Pan. Aku kangen dipeluk Mama. Dipeluk ibuk begini, rasanya nyaman banget. Nggak papa kan Buk."
Ibuk tersenyum didalam pelukan Choky. "Iya nak. Ibuk juga ibuk kamu. Ibuk juga sangat menyayangimu seperti ibuk sayang sama anak-anak ibuk."
Akhirnya Choky melepaskan pelukan ibuk mertuanya. "Makasih ya Buk. Makasih sudah mengijinkan saya menikahi Nova. Saya bahagia mempunyai Nova."
Kembali ibuk tersenyum dan mengelus lengan Choky. "Ibuk juga bahagia. Kamu sudah membuat Nova bahagia. Lihatlah." Ibuk memegang kedua pipi Nova. "Pipinya sangat cubby. Dia tambah berisi."
"Ini ibuk lagi ngatain Nova gendut ya?" Nova sudah cemberut karna tidak terima dibilang gendut.
Choky dan ibuknya tertawa bersama.
"Nova sekarang lagi hamil muda Buk." Lanjut Choky.
"Ha? Benarkah?" Terlihat wajah ibuk sangat terkejut mendengarnya.
"Itu Vera Buk. Adiknya Choky." Jelas Nova. "Dia cuma dirumah sendirian. Jadi kita ajak kesini. Kasian nggak ada temennya. Nggak papa kan Buk."
"Iya nggak papa kok."
"Selamat siang Buk," Sapa Vera lalu menjabat tangan Ibuk. "Saya Vera, adiknya Kak Choky. Saya boleh nggak ikut nginep disini? Soalnya dirumah nggak ada temennya."
"Nggak papa nak Vera." Jawab Ibuk dengan senyumnya. "Sekarang kita masuk ya."
"Ayah pulang jam berapa Buk?"
"Ayahmu lembur Nov. Dia pulang jam 7 malam. Itu ajak suamimu istirahat dikamarmu. Ibuk akan antar Vera untuk istirahat dikamarnya Lina. Biar nanti Lina tidur sama Fani."
"Mari nak Vera ikut Ibuk."
Bik Darmi mendorong Vera mengikuti Ibuknya Nova. Sedangkan Nova mengajak Choky masuk kekamarnya yang dulu.
Setelah memasuki kamar, Choky mengamati setiap sudut kamar Nova. Ruangan yang bercat putih, ada kamar mandi didalamnya juga. Tidak ada yang berubah.
"Duduk disana dulu ya Chok. Aku pasang sprainya dulu."
Nova segera memasang sprai dan sarung bantal. Lalu dia masuk kekamar mandi karna sudah kebelet pipis sedari tadi. Saat keluar kamar mandi, dia lihat Choky sudah tiduran diranjangnya sambil memainkan ponsel.
"Kamu istirahat dulu ya. Aku mau ngobrol sama Ibuk." Choky hanya menganggukkan kepalanya. Nova pun keluar meninggalkan kamar.
Dia mencari Ibuknya yang berada didapur. Ibuknya mencuci ayam di wastafle.
"Ibuk mau masak apa?"
"Ibuk mau bikin soto ayam kesukaan kamu."
__ADS_1
"Buk, selama hamil muda ini Nova nggak doyan makan nasi. Tiap liat nasi udah pengen muntah."
"Ya nggak papa Nov. Orang hamil muda itu memang begitu. Aneh-aneh. Bahkan selalu bertolak belakang dengan kebiasaan kita setiap harinya.
Walau kamu nggak doyan nasi, kamu harus tetap rajin makan sayuran lho. Itu nutrisi paling penting. Nanti ibuk rebusin telor ayam ya."
"Buat apa Buk?"
"Ya buat kamu makan. Itu juga bagus buat janin kamu nak."
"Kalo kamu nggak doyan nasi, nanti kamu makan sayurannya aja. Sama kuahnya. Kan itu seger."
"Iya deh."
"Permisi!" Terdengar suara seseorang diluar rumah.
"Siapa itu? Ibu buka dulu ya. Kamu kupasin bawang merah dulu."
Nova menurut. Dia duduk di meja panjang yang ada didapur. Tak lama kemudian, ibuknya masuk membawa dua kantong kresek.
"Apa itu Buk?" Tanya Nova dengan penasaran.
"Ini katanya pesenan kamu." Ibu taruh kresek itu diatas meja. Lalu ibuk buka isinya. Satu kotak kue dengan berbagai varian rasa. "Ini kue Nov. Buat apa kamu pesen kue?"
"Kue?" Tanya Nova meyakinkan. "Pasti itu Choky yang pesen Buk. Soalnya tiap hari aku selalu makan kue."
Ibuknya tersenyum. Lalu dia kasih kue itu ke Nova. "Ini dimakan. Ibuk tuh seneng banget. Suami kamu sangat menyayangimu. Hati ibuk rasanya sangat lega."
Nova mengambil kue donat rasa pisang. Lalu dia mulai memakannya. "Nova juga seneng Buk. Awalnya sih dia cuek, tapi lama-lama keliatan kalo dia sayang. Bikin nggak betah kalo lama-lama jauh sama dia." Nova tertawa kecil dengan kata-katanya sendiri. Karna dia mengingat semua hal aneh yang selalu dilakukan Choky.
"Iiihhh kamu, bikin ibuk jadi pengen muda lagi."
-----------------
Malam hari semua isi rumah termasuk Arif dan Pak Budi, berada di meja makan. Mereka makan malam bersama.
"Ayah seneng banget kita bisa kumpul begini. Rame bikin seneng." Ucap Ayah sebelum semua mulai makan.
"Iya ya Yah, udah lama banget Kak Nova nggak pernah makan bareng sama kita." Sahut Fani.
"Dulu kan Kakak juga kerjanya jauh Dek. Jadi mana bisa ikut makan bareng kek gini." Nova berdiri dan mengambilkan makan untuk Choky. Begitu pun Bik Darmi, dia mengambilkan makan untuk Vera. Kalo Pak Budi dan Arif, mereka ngambil sendiri.
"Sayang, kamu mau pake sambel? Kecap? Jeruk?" Tanya Nova oada suaminya.
Choky mengeryitkan keningnya. "Emang yang dimakan apaan? Kok pake jeruk juga?"
"Ini soto Kak. Soto ayam buatan Ibuk." Sahut Lina yang ngefans sama Kakak iparnya.
"Ini makanan vaforitnya Kak Nova lho." Fani ikut nimbrung.
"Iya, tapi sayang ponakan kita nggak doyan nasi. Jadi nggak ikut ngerasain sotonya deh." Lina menatap perut Nova yang masih tipis.
"Namanya juga hamil muda Lin. Ibuk dulu waktu hamil kamu malah tambah nyiksa. Wong kamu nggak mau makan apapun. Tiap Ibuk makan, pasti mutah terus. Empat bulan Ibuk cuma tiduran nggak kuat kemana mana." Sahut Ibuk.
"Masa' sih Buk." Lina yang antusias.
"Iya, makanya kamu jangan suka bantah Ibuk. Nurut kalo dibilangin."
"Eh kalo hamil Kak Nova dulu Ibuk ngidam apa?" Lanjut Fani.
"Ibukmu tambah malu-maluin kalo pas hamilnya Nova." Jawab Ayah. Terlihat Ibuk tertawa kecil.
"Emang ibuk ngidam apa Yah?" Nova ikut kepo.
"Ibukmu minta naik odong-odong yang model pesawat Nov. Itu yang didepan supermarket S. Beli koin sampe 10x lho, dia baru mau pulang."
__ADS_1
"Hahahahhhh..." Semua yang dimeja makan serempak ketawa.