Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 46(Choky marah)


__ADS_3

"Tinggalkan kami Pak." Perintah Choky pada Pak Budi.


"Baik Tuan." Pak Budi langsung turun dari dalam mobil.


"Sayang, maafkan aku." Ucap Nova sekali lagi. "Tolong jangan marah ya."


"Panda!! Kamu anggap aku ini apamu HA!!!??" Teriak Choky tepat di wajah Nova.


Nova hanya terdiam, dia tak berani lagi menatap wajah Choky. Dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya sembari meremas-remas ujung bajunya.


"Kamu bisa dengan santai menceritakan semuanya pada orang lain. Lalu aku ini apa mu NOVA??!! Apakah aku ini tidak penting??"


"Kamu sangat penting untukku."


Choky mencibirkan bibirnya. "Apakah karna direktur itu!! Kamu menolak untuk kerja bersamaku? Kamu menolak untuk tetap dirumah? Dengan alasan jenuhmu itu? Seperti itukah kamu dibelakangku?"


Mata Nova mulai berkaca-kaca. Dia tidak pernah mengira Choky akan berfikiran seperti itu. Dia diam tak menceritakan pada Choky karna dia takut tidak lagi diperbolehkan bekerja.


"Jawab Nova!!" Teriak Choky lagi, karna Nova hanya menunduk menahan tangisnya.


"Apa kamu mencintaiku?" Nova hanya menganggukkan kepalanya. "Apa itu bisa kamu buktikan?"


Bukankah aku selalu menuruti segala yang dia katakan. Kenapa dia meminta buktinya? Apa semuanya kurang jelas?


Choky bukan orang yang bisa sabar. Apa lagi melihat Nova yang hanya diam menunduk tak bicara apapun. Itu membuatnya bertambah kesal. Dia pegang kedua telinga Nova hingga wajahnya benar-benar menghadap Choky.


"Tatap aku!" Teriak Choky lagi.


Nova pun mulai memberanikan untuk menatap Choky. Perlahan air matanya mulai membasahi pipinya. Choky langsung mencium bibir Nova dengan sangat buas. Lidahnya bermain didalam rongga mulut Nova. Cukup lama hingga Nova kehabisan nafasnya. Nova memukuli dada Choky, berharap agar Choky melepaskannya. Setelah puas, Choky melepaskan ciumannya. Lalu menciumnya lagi. Dia gigit lidah Nova.

__ADS_1


"Aaawww!!!" Teriak Nova lirih.


Choky melepaskan tangannya dan membuka kaca mobil.


"Pak Budi, ayo jalan lagi."


Pak Budi langsung berjalan mendekat dan masuk kedalam mobil. Tanpa basa-basi lagi, mobil melaju menuju rumah Choky.


Beberapa menit berlalu, Pak Budi sudah membukakan pintu untuk Tuan dan Nonanya. Segera Choky dan Nova keluar dari dalam mobil.


Choky berjalan lebih dulu meninggalkan Nova. Tak menoleh atau pun melirik ke arah Nova sedikitpun. Hatinya terasa sakit jika melihat Choky seperti itu.


"Kak Nova!" Teriak Vera yang ada di ruang TV. Dia sedang duduk di sofa depan tv.


Choky dan Nova sama-sama menoleh mendengar teriakan itu. Setelah Choky tau disana tak ada Reno, dia kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya.


"Nggak papa Kak. Kakak tetap wangi kok." Vera tersenyum. Dia terlihat begitu bahagia bisa bertemu dengan Nova. "Kakak kerja sama Kak Choky ya?"


"Nggak Ver, kakak di tempat lain. Tapi memang berangkat dan pulangnya selalu bareng. Pandangan Nova menyapu ke sekeliling. "Kamu dari tadi cuma sendirian?"


"Tadi sama Mas Reno Kak. Sekarang dia baru mandi."


Syukurlah dia tidak disini. Bisa tambah marah Choky nanti. Batin Nova.


"Gimana keadaanmu sekarang?"


"Sudah baik Kak. Tinggal jahitannya yang belum sembuh sepenuhnya."


"Semoga cepat sembuh ya Ver. Kamu harus semangat, biar cepet sembuh." Ucap Nova sambil mengelus lengan Vera. Setiap Nova melihat Vera, dia selalu saja merasa sangat sedih. Membayangkan kaki yang lumpuh, rahim yang diangkat, kenyataan yang sangat pahit. Betapa tidak beruntungnya dia.

__ADS_1


"Makasih ya Kak." Ucapnya, suara Vera terdengar agak serak. Dia menahan tangis. Lalu dia memeluk Nova lagi. Pelukan yang hangat, terasa begitu damai. Aku menyayangimu Kak Nova.


"Ver, jangan sedih ya. Kakak akan selalu temani kamu. Tapi jika Kakak sedang tidak kerja." Vera melepaskan pelukannya. "Kakak mandi dulu ya. Udah nggak tahan ini. Lengket semua kulit tubuhku."


"Iya Kak. Nanti temani aku lagi ya Kak."


"Iya."


Nova berdiri dan berjalan meninggalkan Vera. Membuka pintu kamarnya, dilihatnya Choky sudah duduk ditepi ranjang dengan pakaian santainya. Tapi tak sedikitpun menoleh Nova. Dia cuek seperti tak ada orang yang datang. Choky mulai berdiri dan duduk di meja kerjanya. Dia mulai membuka laptopnya, Membuka emailnya dan mengetik sesuatu.


Nova memilih langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit berlalu, Choky sudah tak mendengar suara gemercik air dari kamar mandi. Pasti Nova sudah selesai mandi kan, buru-buru dia menutup laptop nya dan membawanya keluar dari kamarnya. Dia sudah membayangkan Nova pasti akan keluar dengan lilitan handuk yang melihatkan separuh dadanya itu. Dia pasti tak akan tahan melihatnya.


Choky duduk di ruang santai dekat meja makan. Kembali dia buka laptopnya itu. Tak begitu lama Nova keluar dari dalam kamar menggunakan kaos lengan pendek yang kebesaran dan celana dibawah lutut yang sangat longgar. Bisa bayangin, penampilan yang amburadul. Tanpa ada sedikitpun riasan di wajahnya. Tapi menurut Choky dia selalu mempesona. Ya mungkin itulah cinta. Choky melirik sebentar, lalu fokus lagi dengan laptopnya.


"Sayang, makan dulu yuk. Nanti lanjut kerja lagi." Ajak Nova yang sudah duduk di meja makan.


Tapi Choky tak menyahut. Dia tidak merespon sama sekali. Tetap diam menatap layar di depannya.


Nova yang merasa di cuekin, dia menghembuskan nafasnya perlahan. Hatinya terasa perih. Choky tidak mendengarkan penjelasan dari Nova lebih dulu. Dia hanya menyimpulkannya sendiri.


Choky meraih ponselnya dan menelfon seseorang. "Bereskan orang itu. Tempatkan orang yang aku kirim tadi di posisinya. Besok pagi, datanglah kesana untuk membereskan semuanya." Perintah Choky pada orang yang di telfon.


Apa yang sedang dia bicarakan? Apa yang dia maksud adalah Doni? Apa dia benar-benar akan membunuh Doni? Bahkan Doni tidak tau jika aku adalah istrinya. Kenapa dia begitu sih. Seandainya Doni tau, pasti Doni tidak akan menggangguku kan. Egois sekali dia. Bahkan penjelasan orang lain tidak penting sama sekali. Nova menyendok dan memasukkan makanannya dengan menahan pedih. Rasanya dia sudah tak bisa lagi menahan air matanya. Dia mempercepat makannya. Dan bergegas memberesi meja makan.


"Biar saya saja Non yang melakukannya." Mbok Tut sudah berdiri disampingnya.


"Makasih ya Mbok." Nova langsung berjalan sedikit berlari kekamar. Masuk kekamar mandi dan menangis sejadi-jadinya didalam kamar mandi.


Ya Tuhan, kenapa suamiku berhati batu begitu. Tidak bisakah dia mendengarkan kata-kata orang lain dulu. Bukankah selama ini aku sudah sangat menurut? Aku kurang bagaimana sih. Kenapa kau memberiku suami yang seperti ini Tuhan? Aku harus bagaimana? Apa dia benar-benar membunuh Doni? Apa aku harus membantu Doni?

__ADS_1


__ADS_2