
Nova mengeliatkan tubuhnya, matanya sibuk mencari cari seseorang didalam kamarnya. Tangan yang biasanya nempel didadanya, kaki yang menindih pahanya saat dia baru aja buka mata. Tapi sekarang nggak ada. Didalam kamar mandi pun sepi dan lampunya juga masih mati.
Habis nangis semalam, Nova langsung tidur. Sampai lupa kalau janji mau nemeni Vera. Dia juga nggak tau berapa lama dia menangis di kamar mandi. Sekarang matanya terasa sembam dan agak sedikit pusing.
Apa semalam Choky nggak tidur disini ya?
Kleek
Gagang pintu dibuka. Seseorang yang dia cari, masuk dan kembali menutup pintu. Dia sudah menggunakan kimono mandi. Rambutnya pun sudah basah. Tanpa menoleh Nova, dia langsung menuju lemari pakaiannya.
"Cepetan mandi. Hari ini berangkat lebih awal. Aku ada janji sama clien." Ucap Choky sambil mengambil setelan pakaiannya.
Nova beranjak turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Cepet-cepet dia mandi. Saat dia keluar, Choky sudah rapi dengan setelannya. Tapi lagi-lagi, dia tak melihat Nova. Dia langsung keluar kamarnya.
Nova bergegas memakai pakaian kerjanya dan merias diri di depan cermin. Tidak terlalu lama, dia keluar dari kamar sudah rapi dengan menenteng tas nya.
Dia lihat Choky duduk di meja makan. Dia pun berjalan mendekat ke meja makan. Mengambil kursi tepat disamping Choky. Tapi sandwick di piring Choky sudah habis. Choky meminum segelas susu putihnya dan berdiri.
"Aku tunggu di mobil. Cepetan." Dia berjalan pergi keluar rumah.
Selesai sarapan, Nova buru-buru keluar dan masuk kedalam mobil. Ternyata Choky duduk didepan disamping Pak Budi. Setelah tau Nova sudah masuk, Choky segera menyuruh melajukan mobilnya.
Choky melirik Nova melalui kaca mobil. Cantik sekali dia. Bahkan sudah dua malam aku tak menyentuhnya. Ternyata dia begitu membuatku merasa sangat candu. Bukankah nanti malam aku sudah bisa menyentuhnya? Baiklah. Nanti malam aku akan memberimu pelajaran. Sudah tak sabar menunggu matahari terbenam. Choky tersenyum nakal.
--------------------
Pagi sekali, Mobil berwarna hitam milik perusahaan Assefans Group yang memiliki pemimpin kejam itu sudah terparkir di tempat parkir perusahaan Subroto Explore.
Wildan, sekertaris pribadi Choky, turun dari mobil itu diikuti dua anak buahnya membawa tas kerjanya.
Selama ini memang Wildan tidak pernah muncul karna dia ditugaskan Choky membereskan seorang pengkhianat di Bima NTB. Sekaligus dia menangani kasus korupsi seseorang disana serta melanjutkan proyeknya disana. Dia kembali keperusahaan Choky belum lama. Baru ada dua minggu ini.
Wildan berjalan dengan tegap tanpa banyak menoleh ataupun tersenyum kepada setiap karyawan yang bertemu padanya. Padahal setiap orang itu selalu membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
"Bersiaplah kalian semua. Meeting akan saya mulai 10 menit lagi. Saya sendiri yang akan memimpin meetingnya." Wildan memasuki ruang Direktur Utama yang sudah lama tidak dipakai.
Karna Choky tidak pernah datang berkunjung pada perusahaan cabang ataupun ke kantor clien manapun. Paling maunya ketemuan diluar saja. Sehingga semuanya mengira jika yang paling berkuasa adalah Wildan. Wildan yang terlihat sangat kejam dan tanpa ampun itu.
Pada waktu yang tepat. Ruang meeting sudah penuh dengan semua karyawan termasuk yang bekerja di belakang dan para OB pun ada di dalam.
Wildan berjalan dengan gagahnya memasuki ruang meeting di buntuti satu anak buahnya. Yang satu berjaga di luar pintu. Mereka yang didalam, semua berdiri menyambut kedatangan Wildan. Baru setelah Wildan duduk, mereka baru ikut untuk duduk.
"Selamat pagi, Assefans group memiliki saham di perusahaan Subroto Explore sebanyak 50% dan kami sudah membeli saham 20% dari Wisnu Retail, itu mengartikan bahwa Assefans Group adalah yang paling utama disini. Presdir menginginkan Pak Doni Subroto untuk undur diri sebagai direktur. Dan presdir sendiri meminta agar Ardi Florepack menggantikan posisi Pak Doni Subroto sebagai Direktur di Subroto Explore." Begitulah yang di katakan Wildan. Bahkan panjang lebar. Dan menyuruh seluruh karyawan untuk tidak lagi menanyakan keberadaan Si Direktur Doni.
__ADS_1
Ardi yang tidak tau menau, langsung gelagapan mendengar namanya disebut.
Ini gw lagi mimpi apa gimana sih? Kok bisa tiba-tiba gw jadi Direktur sih? Tapi Doni kemana? Kemarin, apa yang terjadi? Gw kemarin kan keluar kota untuk tandatangan kontrak kerjasama. Batin Ardi. Tapi dia tetap berusaha tersenyum.
Tepuk tangan meriah dari rekan kerja menyambut Direktur baru di perusahaannya. Tak ada yang berani berbisik ataupun berkata lagi. Karna tadi sudah ada ancaman di kalimatnya. Mereka lebih memilih menikmati segala suasananya.
----------------
"Jess, emang Pak Doni kemana sih?" Bisik Nova saat mereka sedang makan diwarung.
"Gw nggak tau pastinya Nov. Tapi kata Ardi nomornya pun nggak bisa dihubungi." Jawab Jessy dengan lirih juga.
"Kasihan ya dia."
"Emang kenapa Nov?"
"Kaya'nya gara-gara gw deh Jess."
"Gimana sih maksud elo."
"Kemarin suami gw dengerin bembicaraan kita pas didalam kamar lo itu. Dia marah sama gw."
"Ya terus apa hubungannya sama kepergian Pak Doni?"
"Suami gw kalau marah bisa ngelakuin apa aja Jess."
Nova mengeryitkan keningnya, mencoba mencerna kata-kata Jessy. Tuan Wildan itu kan tadi dia dari Assefans Group. Perusahaan terkuat di muka bumi ini. Presdir perusahaan itu pun terkenal kejam dan tanpa ampun. Dia tetap akan menghukum orang yang menurutnya salah tanpa ampun.
Assefans, Assefans berulang kali Nova mengingat nama itu. Nama yang sangat tidak asing. Hah ketemu kan. Itu nama tengahnya Choky. Namanya kan Choky Assefans Winagung. Apa presdir yang kejam itu adalah Choky? Mending aku tanya langsung sama Ardi. Pasti dia tau kan.
---------------
"Di elo jujur ya, Assefans Group itu punya Choky bukan?" Tanya Nova yang sudah ada didalam ruang Direktur.
"Iya." Jawab Ardi singkat tanpa melihat Nova. Dia fokus dengan kertas-kertas dimejanya.
Nova membulatkan matanya. Jadi benar kan, Choky yang sudah menarik Doni dari jabatannya. Dan sekarang nggak ada yang tau dimana Doni. Kejam banget ya dia. Aku harus bicara padanya.
---------------
Sepulang kerja, mobil Choky sudah menunggu di depan. Pak Budi juga sudah membukakan pintu mobilnya. Lagi-lagi Choky duduk didepan disamping Pak Budi. Nova merasa canggung dengan Pak Budi jika harus ngomongin tentang Doni.
Akhirnya sampai dirumah, mereka tetap sama-sama saling diam.
__ADS_1
"Kak Nova." Sapa Vera yang baru saja keluar dari kamarnya. Ada Bik Darmi yang dibelakangnya.
Nova menghampiri Vera lebih dulu, sedangkan Choky langsung masuk ke kamar dan segera membersihkan diri. Sudah dengan pakaian santainya, dia keluar kamar dan duduk dimeja makan.
"Hey, Sauri! Biarin istri gw mandi dulu. Terus makan. Dia baru pulang kerja." Teriaknnya dari meja makan. Karna dari tadi Nova asyik ngobrol sama Vera.
Nova mengeryitkan keningnya. Sauri? Dia menatap Vera. "Dia panggil kamu Sauri Ver?"
"Iya Kak. Itu sih sudah lama."
"Apa itu Sauri? Kenapa dia bisa panggil kamu Sauri?"
"Saurada Tiri Kak."
"Hah??" Ada-ada aja ya Choky. Paling bisa bikin nama panggilan deh.
"Udah sana Kak Nova mandi. Nanti Kak Choky marah lho. Lagian besok hari libur. Kak Nova dirumahkan? Kita bisa ngobrol lebih lama."
"Iya juga Ver. Ya udah aku mandi dulu ya."
Nova bergegas masuk kekamar membersihkan diri. Dan keluar kamar untuk makan malam.
"Habis itu langsung masuk kamar." Perintah Choky. Dan dia pun bergegas masuk kekamar.
Dia kenapa sekarang? Apa udah nggak marah ya? Ya syukur deh kalau nggak marah lagi.
Seperti perintah Choky. Nova langsung masuk kemar. Dilihatnya Choky sudah duduk bersandar papan ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Ganti bajumu sana."
Nova langsung mengambil baju tidur yang biasa dia pakai. Dia melucuti pakaiannya didepan Choky. Melihat Tubuh Nova yang hanya pakai BH dan CD, membuat yang dibawah sudah meronta-ronta. Tapi dia tetap diam, stay cool dulu.
Selesai memakai baju tidur yang super nerawang, Nova naik keatas ranjang. Dia ikutan di samping Choky. Choky tetap diam. Hingga beberapa menit Nova mencoba untuk bicara.
"Sayang, aku mau tanya." Ucap Nova dengan menatap Choky lekat-lekat.
"Tanya aja." Choky masih saja memainkan ponselnya.
"Kamu kan yang sudah mengganti Doni dengan Ardi?"
Mendengar nama Doni, Choky langsung menatap Nova. Nama itu menyulutkan amarahnya. Saat menatap Nova, terlihat gunung kembar Nova yang sangat penuh. BH yang sepertinya terisi penuh dan hampir menumpahkan isinya itu. Seperti isinya itu melambai-lambai ke Choky untuk meminta di gapainya. Choky menelan salivanya.
"Panda, bisakah kita tidak membahas lelaki itu?"
__ADS_1
"Sayang, dia itu nggak salah. Dia aja nggak tau kalau aku ini istri kamu. Seandainya dia tau, dia pasti nggak akan gangguin aku."
"Kenapa kamu belain dia? Dia itu mantan kamu juga ya?"