Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 26(Choky tau masalaluku)


__ADS_3

Aku melihatnya sedang duduk berhadapan dengan Reno. Mereka terhalang meja ditengah-tengah. Choky melemparkan kunci ke meja depan Reno.


"Itu kunci rumahmu. Dan ini sertifikat rumah yang kamu beli. Sekarang juga, telfon istrimu bawa dia pergi dari rumahku." Ucap Choky dengan sangat lantang. Terdengar sekali jiak dia sedang marah.


"Terima kasih Kak. Kenapa harus sekarang?"


"Aku minta sekarang juga. Tidak perlu menunggu nanti sore atau pun besok pagi. Ingat! Perintahku tidak bisa ditawar!" Choky langsung berdiri, berbalik badan. Dia menatapku dengan tatapan membunuhnya. Berjalan kearahku. Lalu mencengram lenganku. Menariknya menuju kamar.


Reno masih diam tak mengerti dengan prilaku Choky. Tapi dia tetap menelfon Vera agar segera pulang dan berkemas.


Didalam kamar, Choky melemparkanku keatas ranjang. Mengunci pintu kamar. Tubuhku sudah gemetar, aku membayangkan jika dia benar-benar akan membunuhku. Lalu memasukkan Ayahku kepenjara.


"Sayang, aku bisa jelaskan. Tolong jangan marah dulu ya." Ucapku terbata-bata karna aku takut melihatnya yang sedang marah. Wajahnya sungguh menakutkan.


"Baiklah. Aku akan mendengarkan penjelasanmu dulu sebelum aku membunuhmu." Dia duduk ditepi ranjang. Menatapku dengan sangat menakutkan.


Berkali-kali aku menelan ludah karna aku benar-benar ketakutan. "Aku dan Reno, kita tidak mempunyai hubungan apapun. Memang beberapa kali dia mencoba mendekati aku. Tapi aku menolaknya."


"Aku rasa penjelasanmu itu sangatlah berbeda dengan orang suruhanku."


Orang suruhan? Siapa maksud Choky? Aku bahkan tak tau itu. Aku memutar kembali otakku. Apa dia sudah melakukan penelusuran tentang masalaluku?


"Aku memang menyuruh seseorang untuk mengorek masalalu lelaki bernama Reno itu. Dia bilang, lelaki itu pernah punya pacar yang satu kerjaan dengan dia. Dan mereka menjalin hubungan cukup lama. Bahkan hitungan tahun. Apa itu bohong? Apa orang suruhanku itu membohongiku? Bukankah kamu satu kerjaan dengan Reno? Sekarang aku mau mendengar dari mulutmu. Bagaimana masalalu Reno? Siapa pacarnya itu? Bisakah kamu memberi tau ku?"


Mulutku bergetar. Aku tak berani menatap Choky. Dia sangat menakutkan saat marah seperti ini. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku menggigit bibir bawahku sampai terasa sangat perih.


"Nova! Apa kamu mendengarkanku?!" Ucapnya dengan berteriak. Bahkan dia memanggilku Nova.


Aku hanya menangis. Aku tak tau harus bagaimana. Aku pasrah sekarang. Dia benar-benar sudah tau semuanya.

__ADS_1


"Berapa lama kamu pacaran dengan dia?! Apa saja yang sudah pernah kalian lakukan?! Jawab Nova!!!"


"Sayang, maafkan aku. Maafkan aku tak jujur padamu. Maafkan aku."


"Jangan lagi memanggilku sayang. Bahkan hatimu tidak mencintaiku."


"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Choky."


"Kamu menjadikanku pelampiasan karna dia menikah dengan adikku? Iya?!! Benarkah begitu??!!"


"Tidak. Aku tidak pernah menjadikanmu pelampiasanku."


"Lalu apa??!! Kenapa kamu tak pernah bercerita tentang semua ini? Kamu anggap aku apa Nov??!!" Choky mendekatiku. Meraih tengkukku. Lalu mencium bibirku dengan buasnya. Dia gigit bibir bawahku sampai mengeluarkan darah.


"Aaahhh..." Aku menangis. Aku benar-benar mengeluarkan air mata yang dari tadi aku tahan. Perih, sangat terasa perih.


Aku mengelap darah yang ada dibibirku. "Iya aku memang pernah menjalin hubungan dengan Reno. Tapi dia meninggalkanku. Dia meninggalkan aku setelah berhasil meniduriku. Dia menikah dengan adikmu. Sekarang aku tak lagi perawan." Aku kembali mengatur nafasku. "Aku butuh keberanian yang cukup untuk mengatakan ini padamu. Aku mencintaimu. Karna itu aku takut kamu marah dan meninggalkanku. Aku memilih menguburnya dalam-dalam. Aku tak ingin mengingat rasa sakitku karna Reno."


"Kamu sudah pernah tidur dengannya?" Wajah Choky nanar, dia terlihat sangat terkejut. Aku benar-benar pasrah. Aku hanya mengangguk dengan isak tangisku.


Terlihat dia menghela nafas kesalnya berkali-kali. Dia sangat kecewa padaku. Wajahnya memerah karna marah. Bahkan kedua tangannya sekarang mengepal.


Tanpa berkata-kata lagi, Choky mengambil koper diatas lemari. Memasukkan pakaiannya kedalam koper.


"Sayang kamu mau kemana? Jangan tinggalkan aku sayang. Aku mencintaimu. Aku mohon maafkan aku." Aku turun dari ranjang, berdiri dibelakangnya.


"Simpan rasa cintamu itu.!" Dia keluar kamar dengan membawa kopernya.


"Choky! Maafkan aku." Aku mengejarnya hingga teras rumah. Berlutut memegangi kakinya. "Aku mohon maafkan aku."

__ADS_1


"Lepaskan Nov." Karna tidak juga aku lepaskan. Di menghempaskan kakinya hingga aku terjatuh kelantai. Tanganku membentur tangga kecil hingga mengeluarkan darah. Lalu dia berjalan memasuki mobil. Sopir pribadinya membawa koper itu. Memasukkannya dalam bagasi.


Aku bangun dan berlari mengejarnya lagi. Sudah tak kuhiraukan tangan dan bibirku yang masih berdarah. Aku pukul-pukul kaca mobil itu. "Choky, aku mohon Chok. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku hanya belum bisa mengatakannya saja. Aku mohon mengertilah."


Namun semua sia-sia. Mobil hitam itu membawa Choky keluar dari plataran rumah megah ini.


Aku terkurai lemas dengan isak tangisku. Aku jongkok dilantai memeluk kedua lututku yang sudah tak bertenaga lagi.


Choky, dia benar-benar pergi meninggalkanku. Dia marah padaku. Dia tidak bisa menerima masalaluku. Tapi kenapa dia tidak bisa menerimanya? Sedangkan aku bisa menerima masalalunya, bahkan sakitnya dia. Kenapa dia tidak bisa menerimaku? Kenapa?


"Nona, mari saya bantu masuk."


Mbok Tut mengangkat lenganku, memapahku untuk masuk kedalam. Membantuku duduk disofa ruang tamu. Dia pergi mengambil sekotak P3K, lalu duduk di lantai bawah.


"Saya bantu obati lukanya ya Non."


Aku hanya diam tak membalas kata-katanya. Air mataku terus mengalir tak bisa berhenti. Rasa sakit ini melebihi sakit saat ditinggalkan Reno dulu. Kenapa aku bernasib seperti ini.


"Nona, itu luka yang di bibirnya." Mbok Tut memberiku kapas yang sudah ada obatnya untuk mengobati bibirku.


"Nggak usah Mbok. Aku mau kekamar saja." Aku berdiri hendak kekamar.


"Nona Panda, mohon maafkan saya Non. Saya tidak tau kalau akan berakibat seperti ini."


"Nggak papa Mbok. Makasih ya. Akhirnya nggak ada lagi yang perlu aku takutkan. Karna semua sudah terjadi."


Aku langsung berjalan meninggalkan Mbok Tut. Masuk kedalam kamar. Duduk ditepi ranjang. Mengingat semua kenanganku bersama Choky.


Apa semua ini juga akan menjadi kenangan?

__ADS_1


__ADS_2