Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 44(kejutan untuk Reno)


__ADS_3

*Disebuah kamar inap Rumah Sakit*


"Bagaimana keadaanya sekarang dokter?" Tanya Mama Sita saat dokter sudah selesai memeriksa kondisi Vera.


"Semua jauh lebih baik Buk. Sekali lagi, hindarkan Vera dari sesuatu yang membuatnya setres. Biarkan dia berfikir yang membuatnya bahagia saja. Karna itu akan sangat mengganggu mentalnya." Tutur Dokter Lira yang selalu menangani Vera.


"Baik Dok." Mama Sita tersenyum lega.


"Ingat ya, untuk rutin kontrol jahitan diperutnya dan kondisi psikologis nya."


"Iya Dok. Saya akan mengingatnya."


"Kalau begitu saya permisi ya Buk." Dokter Lira langsung keluar dari ruangan.


"Sayang, kamu seneng kan akhirnya sudah boleh pulang hari ini." Mama mengelus puncak kepala Vera dengan lembut.


"Seneng banget Ma. Apalagi nanti pulangnya kerumah Kak Choky. Bakal punya teman ngobrol Kak Nova. Ma, kak Nova itu orangnya baik banget lho." Terlihat penuh kebahagiaan dimata Vera saat dia akan pulang ke rumah Choky.


Hati Mamanya terasa sangat sedih. Sayang, andai kamu tau kami bayar hanya untuk membuatmu sebahagia ini. Batin Mama dalam hati.


"Vera tu gemes banget kalau lihat Kak Choky mesra sama Kak Nova. Melihat kebahagiaan mereka, aku juga sangat bahagia."


"Sayang, sepertinya kamu sangat bahagia tinggal bersama Kak Choky."


Vera menganggukan kepalanya dengan mantap. "Tentu Ma."


Kleekkk


Handle pintu terbuka. Reno muncul dari balik pintu bersama Bik Darmi. Mama dan Vera sama-sama menatap Reno.


"Mas Reno dari mana aja?"


"Mengurus kepulanganmu. Sekarang kita sudah bisa pulang." Ucap Reno dengan penuh kelegaan. Sebentar lagi, aku akan selalu melihatmu Nov. Batin Reno.


"Kemasi semua barangnya ya Bik. Kita langsung berangkat ke Rumah Choky." Perintah Mama pada Bik Darmi.


"Baik nyonya." Bik Darmi langsung mengepak barang-barang Vera kedalam tas.


"Ver, Mama mau beli minum sebentar ya."


"Iya Ma." Jawab Vera yang sedang merias wajahnya diatas brangkar.


Mama mengedipkan mata pada Reno. Reno pun paham dan membuntut Mama keluar ruangan.


"Ada apa Ma?" Tanya Reno saat mereka sudah ada diluar.


"Reno, Mama percayakan Vera padamu ya. Dan ingat. Jangan membicarakan hal yang membuatnya sedih. Katakanlah hal yang membuatnya merasa bahagia saja."

__ADS_1


"Iya Ma. Pasti Reno akan lakukan yang terbaik." Jawabnya mantap walau hanya dimulut saja.


"Dan satu lagi. Ajak Bik Darmi ke rumah Choky."


"Di rumah Choky kan sudah ada pembantu Ma."


"Choky yang minta. Dia tidak mau Mbok Tut melayani kalian. Jadi ajak dia bersama kalian. Choky yang akan membayar bulanannya Bik Darmi. Dia sudah katakan pada Mama kemarin." Jelas Mama.


Ternyata Choky orang yang sangat sulit kusentuh. Aku salah sudah meremehkanmu. Aku harus lebih pintar sekarang. Reno mengepal kesal.


-------------------


Selesai meeting, Choky langsung masuk keruang kerjanya. Duduk dikursi kesayangannya sambil berfikir memutar-mutar otaknya. Cukup lama.


Dan beberapa menit berlalu, dia mulai tersenyum licik. Dia mendapatkan ide. Dia raih gagang telfon diatas mejanya.


"Rosa, suruh Wildan keruanganku dalam waktu 5 menit." Langsung dia tutup telfon itu tanpa menungguh jawaban dari yang ditelfon.


Sedangkan yang ditelfon langsung berlari kelabakan mencari Wildan. Ponsel Wildan sedang di carger diatas meja Rosa. Dia bilang pada Rosa kalau mau keluar sebentar untuk merokok.


Wildan adalah sekertaris pribadi Choky. Dan Rosa adalah sekertaris keduannya. Mereka berdua sudah lama bekerja pada Choky. Jadi sudah sangat hafal dengan semua sifat dan sikap Choky yang memang seperti itu.


Tok...tok...tok


Suara ketukan pintu dari luar ruang kerja Choky.


Wildan masuk dengan wajah yang penuh pertanyaan. Karna seingat dia, selesai meeting ini jadwal Choky free. Masih ada waktu dua jam untuk istirahat sebentar sebelum berangakt ke cafe untuk ketemu clien baru.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"


"Pasang kamera CCTV di setiap rumahku. Termasuk didalam kamarku. Tapi khusus kamarku. Harus diprivasi sendiri. Ajak anak buah seberapapun yang kamu inginkan."


"Baik Tuan."


"Waktumu satu setengah jam mulai dari sekarang. Karna kamu harus segera menemaniku ke cafe Red." Lanjut Choky. "Cepat selesaikan. Aku tau kamu tidak akan pernah mengecewakanku. Itu alasanku menggajimu 4x lipat dari yang lainnya."


"Baik Tuan. Akan segera saya lakukan. Saya permisi Tuan." Wildan membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan ruangan Choky.


Setelah menutup pintu ruangan Choky, Wildan berjalan dengan cepat. Menuju meja Rosa, menggambil ponselnya. Dia sibuk menelfon beberapa orang. Setelahnya dia pergi dengan tergesa-gesa menuju parkiran. Masuk kedalam mobil dan melajukannya dengan cepat. Waktu yang diberikan Choky sangat mepet. Bahkan bisa dibilang sangat kurang.


Perjalanan dari kantor kerumah Choky dia tempuh hanya dalam waktu 13 menit. Biasanya 25 menit baru bisa sampai kerumah Choky. Sesampainya disana, sudah ada beberapa orang dan ada mobil hitam yang baru saja datang. Mereka adalah anak buah Wildan yang ditugaskan memasang CCTV di rumah Choky.


Mbok Tut sendiri bingung. Dari dulu Choky tidak pernah menginginkan CCTV dirumahnya. Dia hanya butuh 4 security yang ada di gerbang depan dan belakang rumah saja. Tapi entah kenapa tiba-tiba Tuannya menginginkan CCTV.


Saat mereka, orang-orang Wildan sedang sibuk memasang CCTV, mobil warna putih berhenti didepan rumah.


"Ma, kok ada banyak mobil dirumah Kakak?" Tanya Vera yang masih ada didalam mobil warna putih itu. "Apa ada tamu ya Ma?"

__ADS_1


"Mama juga nggak tau sayang. Ayo kita turun."


Reno pun juga heran, dari ke 4 mobil yang dirumah Choky, tidak ada mobil Choky yang biasa dia pakai untuk kerja. Itu artinya Choky belum pulang kan? Jadi siapa mereka?


Mama mendorong kursi Vera, Reno berjalan disebelahnya dan Bik Darmi membawakan koper serta tas mereka. Mereka langsung masuk rumah karna pintunya agak terbuka sedikit. Ada banyak lelaki yang sedang bekerja didalam rumah.


Apa mereka sedang memasang CCTV? Pertanyaan berputar dikepala Reno.


"Sekertaris Wil, ada apa ini?" Tanya Mama yang sudah sangat mengenal sekertarisnya Choky. "Apa ada maling atau perampok? Kenapa pasang CCTV disetiap sudut rumah?"


Wildan membunggukkan badannya. "Tidak ada Nonya. Tuan Choky yang menyuruh saya."


"Ya tapi kenapa ada disetiap sudut? Apa itu tidak sangat berlebihan?" Timpal Reno yang kelihatan sangat tidak setuju.


"Saya hanya menjalankan perintah Tuan." Jawab Wildan sekenanya.


"Ma, apa Choky takut kita akan mengambil sesuatu di rumah ini?" Tanya Reno pada Mama mertuanya. Berharap Mamanya bisa membantu sedikit saja.


Sama saja kan, dia tidak bisa mendekati Nova jika begini. CCTV yang sangat banyak, Choky benar-benar gila. Umpat Reno sangat kesal.


"Nggak begitu Ren. Kalau Mama fikir, dia mulai peduli dengan keselamatan penghuni rumah ini. Jika ada CCTV kan kita semakin aman juga." Sahut Mama.


"Iya Mas. Aku juga nggak keberatan Kok." Timpal Vera.


Mbok Tut berjalan menghampiri mereka yang masih berdiri di ruang tamu. Dia membungkukkan tubuhnya.


"Silahkan masuk untuk istirahan Nyonya, Tuan dan Nona Vera. Saya sudah menyiapkan kamarnya." Ucapnya pada mereka.


"Makasih Mbok." Jawab Mama.


"Kak Nova dimana Mbok?" Tanya Vera dengan sangat bersemangat.


"Nona sedang kerja Non."


"Apa!!!!??" Ucap Reno agak berteriak karna tidak percaya akan kata-kata Mbok Tut.


"Sudah dua hari ini Nona Nova bekerja." Lanjut Mbok Tut.


"Sama aja dong Mas, aku nggak ada teman di rumah ini." Rengek Vera.


"Tenang ya sanyang." Mama mengelus pundak Vera. Choky keterlaluan. Dia minta 1 milyar tapi istrinya disuruh kerja. Padahalkan tujuan kita adalah Nova. Benar-benar licik anak itu. Umpat Mama dalam hati.


"Ren, ajak Vera ke samping ya." Perintah Mama.


Reno pun mendorong kursi Vera menuju taman. Baru saja dia sampai di pintu taman, matanya langsung membulat, tangannya mencengkram erat kursi yang telah diduduki Vera.


Choky itu manusia bukan sih. Masak ditaman saja juga sampai dipasang CCTV. Ternyata dia bukan lawan sembarangan. Aku akan menyusun rencana baruku. Lihat saja nanti.

__ADS_1


__ADS_2