Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 19(mengetahui sakitnya Choky)


__ADS_3

"Aku sakit." Ucapnya dengan lirih.


Nafsuku yang sudah ada diubun-ubun, membuatku benar-benar berantakan. Aku menarik, melepaskan celananya dengan paksa. Hingga terlihat itunya Choky yang memang masih selonjoran.


"Hah?? Kenapa masih selonjoran?" Ucapku saat melihat itunya masih santai selonjoran tak bergerak sama sekali.


"Aku sakit Pan." Terlihat mata Choky yang berkaca-kaca.


Aku pegang itunya. Aku berusaha keras untuk membangunkannya. Cukup lama aku melakukannya. Tapi sia-sia. Dia tetap selonjoran tak mau bangun. Kesal bukan main.


Aku langsung lari kekamar mandi dengan tubuhku yang masih telanjang. Aku mengguyur tubuhku dibawah sower. Menangis sejadi-jadinya. Rasanya sakit sekali. Sakit semuanya. Nafsuku yang tak tersalurkan dan mengetahui suamiku yang ternyata sakit.


Setelah beberapa menit, bahkan mungkin jam, aku keluar dari kamar mandi karna aku sudah merasa kedinginan. Aku lihat Choky berbaring diatas ranjang, masih belum tidur. Matanya terlihat sembam sama seperti mataku. Aku duduk ditepi ranjang. Saat ini, aku tak tau apa yang aku rasakan. Aku juga tak tau harus bersikap seperti apa.


Tiba-tiba sentuhan lembut menyentuh rambutku yang basah.


"Aku bantu mengeringkannya ya."


Dengan sangat hati-hati dia mengelap rambutku dengan handuk kecil yang sedari tadi hanya aku genggam. Aku hanya diam menurut. Aku sedang tak ingin bicara padanya.


"Duduk disana Pan, aku keringkan pakai hairdrayer."


"Nggak perlu. Aku sudah sangat ngantuk. Biarkan aku tidur. Aku sudah lelah."


Tanpa melihat wajahnya, aku langsung merebahkan tubuhku miring membelakanginya dan memejamkan mataku. Dia menyelimutiku hingga leher.


"Selamat malam. Semoga mimpi indah." Ucapnya.


Dia juga merebahkan tubuhnya, karna terasa pergerakan dikasur yang bisa aku rasakan.


-----------------


"Ney,..." Bisikku dengan lirih.


Perlahan kubuka mataku. Terasa sangat berat. Aura tubuhku terasa sangat panas. Ada sesuatu yang menempel dikeningku. Aku melihat kesekelilingku. Ada Mbok Tut yang sedang duduk jongkok di samping ranjang, dia sedang memgompresku. Dan Choky duduk ditepi ranjang sampingku sambil memegangi tanganku.


Ah jadi cuma mimpi. Tadi aku mimpi tidur bersama Reno, dia sedang memelukku. Ternyata bukan dia.


"Panda, kamu sudah sadar." Sapa Choky dengan terus memegang tanganku.


Aku hanya diam tak menyahut. Kepalaku terasa sangat berat.


"Mbok, ambilkan makan ya. Biar Panda bisa minum obatnya."


"Baik Tuan." Mbok Tut berlalu pergi meninggalkan kamar.


"Panda, tadi kamu panggil siapa? Biar aku panggilkan kesini orangnya." Ucap Choky dengan sangat lembut.


Jadi tadi dia mendengarkan aku memanggil Reno dengan nama panggilan kesayanganku. Untung saja bukan namanya yang aku sebutkan. Aku benar-benar bisa mati jika Choky mendengar nama Reno yang aku panggil.

__ADS_1


"Nggak ada kok. Aku cuma ngigau aja." Aku berusaha untuk menyembunyikannya. "Kamu kenapa nggak kerja?"


"Kamu kan lagi sakit sayang. Aku nggak akan ninggalin kamu."


"Kamu juga sakit kan Chok."


Wajah Choky terlihat berubah. Seperti ingin marah tapi dia tahan. Dan akhirnya cuma diam.


"Kamu kenapa nggak berobat?"


"Aku sudah berobat. Aku juga rutin minum obat, rajin olahraga. Tapi itu belum berhasil."


"Panda, tolong jangan marah ya. Aku beneran sayang banget sama kamu. Aku nggak mau kamu marah. Aku akan terus berobat biar sembuh."


"Permisi Tuan." Mbok Tut sudah berdiri di depan pintu kamar.


Choky bangkit dan berjalan mengambil nampan yang dibawakan Mbok Tut. Lalu dia meletakkannya dimeja. Mengambil mangkok yang berisi bubur ayam.


"Makan dulu ya."


Dia mulai menyuapiku. Selesai makan, dia membantuku untuk meminum obat.


"Sekarang kamu istirahat ya." Choky mengelus ujung kepalaku. Lalu mencium keningku dengan lembut.


Tanpa terasa, air mataku menetes. Aku merasakan kasih sayang Choky yang jauh lebih besar dari yang aku rasakan saat bersama Reno. Dia hendak pergi meninggalkanku. Tapi aku meraih tangannya, aku menggenggamnya erat.


"Sayang," Ucapku lirih. Choky kembali menatapku, jongkok didepanku. "Maafin aku ya sayang."


Aku tersenyum lega. "Makasih ya sayang."


"Ya udah, sekarang kamu istirahat ya." Dia elus lagi puncak kepalaku.


"Temenin." Ucapku dengan manja.


"Waahhh manja ya sekarang."


Aku tersenyum malu. Choky naik keatas ranjang dan berbaring dibelakangku. Dia peluk tubuhku, dia lingkarkan tangannya diperutku. Tangan kami berpegangan dengan erat. Nyaman sekali, dia begitu hangat.


----------------


"Tuan, Tuan." Terdengar suara Mbok Tut diluar.


Aku membuka mataku perlahan. Tangan Choky masih melingkar diperutku. Ternyata dia juga tidur. Aku elus lengannya dengan lembut.


.


"Sayang, bangun sayang."


"Eeggghhh.... kenapa? Mau minum?"

__ADS_1


"Itu Mbok Tut diluar. Nggak tau ada apaan."


"Masuk Mbok." Perintahnya tiba-tiba. Dengan tangan yang masih melingkar diperutku.


"Sayang aku malu." Aku merusaha mengangkat tangannya. Tapi dia malah mengeratkan pelukannya.


Kleekk.


Pintu kamar terbuka. Terlihat Mbok Tut diambang pintu, tapi dia tidak sendirian. Ada Papa, dan ada orang lain juga dibelakang Papa.


"Sayang bangun. Itu Papa." Bisikku lirih.


Akhirnya Choky bangun, dia turun dari ranjang. Aku berusaha untuk duduk sandaran dipapan tempat tidur.


"Papa ganggu ya?" Sapa Papa. Sepertinya Papa sudah melihatnya tadi.


"Udah terlanjur Pa. Masuk aja." Balas Choky.


"Papa masuk ya."


Papa melangkah masuk diikuti dengan seseorang.


Deg.


Reno, iya dia Reno. Dia datang bersama Papa dan Vera istrinya. Aku sungguh sangat terkejut. Dia benar-benar muncul didepanku saat aku memikirkannya. Seperti ada ikatan antara aku dan dia. Tapi itu tidak mungkin. Aku sekarang membencinya. Aku sangat membencinya.


"Papa ngapain bawa mereka kemari?" Suara Choky yang terdengar sangat ketus. Dari suaranya, sudah menandakan ketidak sukaannya pada adik tirinya itu.


"Aku yang meminta Papa untuk kesini Kak. Aku mau menjenguk Kakak Iparku." Jawab Vera. Dia berjalan mendekatiku.


"Kami sangat panik waktu Kakak membatalkan semua meeting hari ini dengan alasan menjaga Kakak Ipar." Lanjut Vera. Dia duduk sampingku. " Kak Nova sakit apa?" Tanyanya.


Aku tatap wajahnya. Dia cantik, tubuhnya sexy. Berbeda dengan aku. Aku tidak sexy seperti dia. Apa mungkin karna aku tidak sesexy Vera jadi Reno meninggalkan aku. Adduuuhhh mikir apa sih aku.


"Cuma kecapean Ver. Tadi udah minum obat. Sekarang udah mendingan kok." Jawabku sambil tersenyum ramah.


"Nova, ini kita bawakan buah pir dan anggur kesukaan kamu. Semoga cepat sembuh ya." Ucap Reno. Dia meletakkan sekranjang buah-buahan itu diatas meja.


Ternyata dia masih mengingat buah kesukaanku. Tapi melihatnya seperti ini membuatku semakin membencinya.


"Makasih ya, sudah meluangkan waktu kalian untuk menjengukku."


"Nova, apa kamu hamil?" Pertanyaan dari Papa yang membuat semua mata melotot kaget.


Mana mungkin aku hamil Pa, aku baru disentuh Choky semalam. Itupun bukan dengan itunya. Tapi hanya dengan tangan dan mulutnya saja. Tidak mungkin aku akan hamil.


"Tidak Pa. Tadi Nova sudah aku panggilkan dokter. Dia masuk angin dan kecapean. Makanya demam tinggi. Tadi sudah aku kompres dan minum obat." Jelas Choky.


"Oh jadi tadi kalian mau istrirahat karna habis minum obat ya. Kalau begitu kita ngobrolnya diluar saja. Biarkan Nova istirahat dulu." Ajak Papa. Lalu semua mengikuti perintah Papa.

__ADS_1


Terlihat Reno yang dari tadi mengawasiku, memperhatikanku. Tapi aku cuek berusaha untuk tidak melihatnya. Aku tidak mau sampai mata kami bertemu.


Akhirnya mereka bertiga keluar dari kamarku. Reno memandangku cukup lama saat menutup pintu kamarku.


__ADS_2