
Dua minggu berlalu, setiap sore aku rajin ke klinik untuk kursus pijat. Tentunya diantar sama sopir pribadi Choky. Dia tetap tidak memperbolehkanku untuk pergi sendiri. Dan setiap malamnya aku ranjin memijatnya. Mempraktekkan apa yang diajarkan oleh Mak Urut.
Sekali lagi gaes, menahan itu rasanya sakit banget tauk. Dan setiap malamnya aku selalu menahannya. Si itu sudah dipegang dimainin didepan mata sampai tangannya lemes. Dia tetap aja santai selonjoran. Tapi tidak kutunjukkan kekesalanku. Karna pasti reaksi Choky akan lebih membuatku tidak tega.
Minggu pagi, Choky sudah tidak ada dikamar. Dia pasti sudah dilantai atas untuk olahraga. Aku jadi penasaran dengan isi lantai atas. Ada ruangan apa saja disana. Karna selama aku disini, aku belum pernah menginjakkan kaki dilantai atas.
Aku keluar kamar, langsung naik kelantai atas. Sebuah ruangan terbuka sangat luas, isinya semua alat fitnes. Waahhh seperti nggak percaya. Dirumahku, ada banyak peralatan fitnes. Aku melihat Choky sedang menggunakan chest press. Keringatnya yang sudah membasahi hampir seluruh tubuhnya, membuatku sulit untuk menelan ludah. Apalagi dia tidak menggunakan baju, hanya memakai celana boxer saja.
Ya hancur tolong, kuatlah wahai hasratku. Bagaimana ini, ada rasa yang ngilu dalam diriku. Tapi aku sudah melihat tubuhnya yang sangat bagus itu. Sungguh menggoda sekali.
Akhirnya aku balik badan, menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku. Mengatur nafasku dengan baik. Sampai pundakku naik turun.
"Panda, sini temani aku olahraga." Tu kan dia memanggilku. Aku sudah tau akan begini.
"Ada yang harus aku kerjakan sebentar sayang. Jadi aku belum bisa menemanimu. Kamu olahraga sendiri dulu ya." Aku berbicara tanpa menatapnya. Aku masih memunggunginya.
"Kamu ngomong sama siapa? Aku ada disini bukan disana."
Aku nyengir dan membalikkan badanku. Kulihat dia sudah berdiri mengambil handuk dan mengelap keringatnya. Dia berjalan mendekati salah satu alat olahraga yang cara mainnya mirip orang naik sepeda. Lalu melambaikan tangannya. Kode yang menyuruhku untuk mendekatinya.
"Sayang, aku siapkan makan saja ya. Kamu olahraga sendiri dulu."
"Panda aku sudah lelah. Aku sekarang ingin melihatmu olahraga."
Apa??!! Mataku membelalak kaget. "Tapi aku belum pernah menggunakan alat-alat seperti ini. Aku biasanya cuma pakai hulahoop saja. Aku belum pernah pakai semua alat yang ada disini."
"Hulahoop? Apa itu?" Choky mengeryitkan keningnya.
"Itu yang berbentuk lingkaran terus dimainkan diperut."
"Pantas saja makanmu banyak tapi perutmu terlihat tipis."
"Besok aku belikan itu ya. Tapi sekarang cobalah ini. Aku akan mengajarimu. Kemarilah."
"Sayang...."
"Jangan menolak."
Aku mengerucutkan mulutku. Iya tentu aku tidak mungkin menolak keinginanmu. Ini kan rumahmu, bahkan aku milikmu.
"Duduklah." Dia menarik tanganku dan menyuruhku duduk di alat recumbent bike itu. "Sekarang mainkan kakimu."
"Sayang ini tidak nyaman."
"Kenapa?"
"Aku olahraga dengan berpakaian seperti ini, rasanya terbakar."
"Besok aku akan membelikanmu baju khusus untuk menemaniku olahraga."
Ah iya kamu kan kaya. Punya banyak uang, jadi apapun akan kamu beli. Dan lagi, kamu memintaku untuk menemanimu olahraga, apa kamu tidak tau jika aku sedang menahannya.
"Tadi kenapa kamu mencariku?" Tanya Choky sambil memegang pundakku.
__ADS_1
"Aku tidak mencarimu. Aku hanya penasaran dengan lantai 2. Jadi aku melihatnya. Apa tempat ini memang sengaja kamu isi dengan alat fitnes begini?"
"Iya. Ini sudah lama. Aku melakukan olahraga ini sudah 5 tahun. Tapi belum juga ada hasilnya."
"Sayang." Aku menggenggam tangannya. "Jangan sedih ya. Aku yakin kamu pasti akan segera sembuh."
"Panda, makasih ya. Kamu selalu menguatkanku. Kamulah semagatku sayang."
"Tuan, makanannya sudah siap." Mbok Tut sudah berdiri disisi tangga.
"Baik Mbok, kita akan segera turun."
----------------
Setelah selesai sarapan, aku membantu Mbok Tut membereskan meja makan. Vera mengajak suaminya pergi untuk menemai mencari buku kuliahnya.
"Setelah ini Mbok Tut mau kenana?"
"Mau kepasar Non. Bahan-bahan dikulkas sudah habis."
"Apa aku boleh ikut?"
"Ikut?" Mbok Tut bertanya meyakinkan.
"Mbok aku jenuh dirumah terus."
"Tapi apa Tuan mengijinkan?"
"Aku akan meminta ijin padanya."
Aku langsung berjalan sedikit berlari menuju kamar. Aku melihat Choky sedang duduk disofa sambil menonton acara tv. Aku mendekatinya, duduk disebelahnya.
"Sayang aku boleh ikut Mbok Tut pergi kepasar nggak?"
"Kepasar?" Tanyanya meyakinkan. Aku hanya menganggukkan kepalaku. "Kamu mau ngapain kepasar? Dipasar itu bauk, panas. Apa yang akan kamu lakukan disana?"
"Ya berjalan mengikuti Mbok Tut belanja. Memangnya aku mau ngapain?" Memang itu kan yang dilakukan orang dipasar. Nggak mungkin kan kita akan nonton film atau kejar-kejaran. Aneh deh, emang dia belum pernah kepasar apa.
"Baiklah. Tapi kamu jangan main mata sama laki-laki ya."
Aku tersenyum mendengar perkataannya. Dipasar adanya bapak-bapak yang jualan. Paling juga tukang parkir.
"Kok malah senyum sih. Yaudah nggak usah aja."
"Iya sayang. Aku janji. Aku nggak akan melirik laki-laki. Dan aku nggak akan ngomong sama laki-laki yang ada dipasar."
"Nah gitu dong."
Aku langsung berdiri dan berganti baju. Menggunakan celana jeans panjang dan kaos warna merah lengan pendek berbalut kemeja wrna biru kotak-kotak lengan panjang yang sengaja tidak aku kancingkan. Mengikat rambutku keatas secara acak. Tanpa riasa make up. Karna pasti tidak dibolehkan merias wajah jika keluar tidak dengan dia.
"Sayang aku pergi dulu ya."
Dia melihatku dari atas sampai bawah. Sepertinya dia akan berkomentar padaku. Dan...
__ADS_1
"Ganti kaosmu." Dia langsung berdiri dari duduknya.
"Lho kenapa? Aku kan juga pakai kemeja lengan panjang."
"Lihat ini. Payudaramu sampai menantang seperti ini. Pasti membuat mata lelaki semangat untuk melihatnya kan." Dia memegang perutku bagian bawah payudaraku.
Aaahhh Choky, kamu memang ya! Begini saja nggak boleh. Ya payudaraku kan memang sedikit besar. Pakai kaos apapun pasti juga akan kelihatan menonjol. Dia benar-benar aneh.
Dia sibuk mencari baju untukku didalam lemari. Aku berdiri mematung melihatnya sambil menggerutu kesal. Cukup lama, dan dia berjalan kearahku memberikan sebuah sweater yang kebesaran untukku.
"Pakai kaos itu nggak papa, tapi luarnya pakai sweater ini."
"Baiklah." Dengan masih kesal, aku tetap menyetujuinya, karna aku memang sangat bosan dirumah terus.
Akhirnya aku memakai sweater kebesaran itu. Pamit padanya dan langsung keluar kamar untuk pergi kepasar sama Mbok Tut diantar sopir pribadinya Choky.
----------------
Malam hari sesudah makan malam dan membersihkan dapur, aku langsung masuk kamar. Tiduran bersandar papan ranjang sambil baca buku resep-resep makanan.
"Panda kamu mau nggak joget didepanku?" Pinta Choky dengan wajah yang serius.
"Apa??!" Permintaan apa ini? Kok dia makin aneh sih. Aku langsung meletakkan buku yang kupegang. "Kenapa Sayang? Apa kamu ingin melihat pertunjukan? Kalau begitu kita menonton vidio saja di tv."
"Nggak mau! Aku pengen lihat kamu joget didepanku."
"Ya tapi alasannya apa? Kenapa tiba-tiba kamu minta aku untuk berjoget?" Aku masih tak mengerti dengan dia. Dan lagi aku nggak suka musik dangdut. Gimana jogetnya coba.
Aku lirik apa yang ada dilaptopnya. Dia sedang melihat seorang wanita sedang main hulahoop dengan pakaian yang sangat ketat. Terlihat semua lekuk tubuhnya.
"Apa karna kamu sedang melihat wanita itu olahraga?"
Dia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Aku menepuk jidatku. Apa jika dia melihat orang naik tebing dia juga akan memintaku naik tembok? Benar-benar aneh dia.
"Sayang ayolah, aku ingin melihat kamu yang joget." Dia mendekatiku, hendak meraba pahaku.
"Ah iya iya. Aku akan melakukannya." Lebih baik joget dari pada dia melakukan pemanasan padaku. Nanti kalau tidak ada lawannya, aku juga yang sakit.
"Ganti bajumu dengan yang sexy ya."
Aku menghembuskan nafas kesalku. Mencari baju sexy didalam lemari lalu memakainya. Mulai berjalan kearahnya dan seperti yang dia minta. Aku menggoyangkan pingganggu, melenggok kekanan, kekiri. Menggoyangkan dadaku. Sungguh aku sudah seperti orang gila.
Choky mulai bergerak turun dari ranjang dan mendekatiku. Tiba-tiba dia mencium bibirku dengan lembut, tangannya bermain didadaku.
"Sayang, jangan seperti ini. Nanti sakit." Aku tidak mau putus ditengah jalan lagi yang membuatku frustasi.
"Sepertinya sekarang aku sudah merasa tegang."
Aku membelalak kaget. "Benarkah?" Dia mengangguk mantap. Aku memeluknya. Kucium bibirnya. Ciuman yang tadinya lembut, berubah menjadi sangat buas penuh nafsu. Tangan Choky mulai melakukan pemanasan di bagian bawahku. Setelah sudah puas, kami hendak melakukannya. Baru saja masuk di mulut, si anu sudah tidur.
"Yah, Tidur." Ucap Choky penuh kekecewaan.
"Hah? Kenapa dia tidur lagi? Belum juga masuk." Aku mengacak-acak rambutku. Kecewa sekali rasanya.
__ADS_1