Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 28(kedatangan Choky)


__ADS_3

Satu bulan berlalu, aku bekerja di warung makan milik Bu Siti. Bekerja dari jam 7 pagi sampai jam 8 malam. Pekerjaanku sangat melelahkan. Apalagi dulu aku bekerja ditoko yang hanya mengawasi anak buahku saja. Setelah ditoko, menikah dengan Choky, hanya dirumah jadi pengangguran.


Dan sekarang bekerja seperti ini, setiap pulang kerja aku langsung mandi dan tidur. Badanku terasa sangat lelah. Sampai aku benar-benar tak punya waktu untuk menangis. Tapi aku bersyukur dengan semua kesibukanku. Karna membuatku lupa untuk melamun dan merenungi nasib.


Aku sudah pasrah pada takdir. Sekalipun aku harus menjadi janda, aku siap. Ya karna memang itu yang harus aku lakukan. Sekalipun aku nggak mau diceraikan, tetap saja nanti aku akan ditinggalkan. Choky juga tidak mencariku ataupun menghubungi aku.


Sebegitu marahkah dia? Kenapa dia begitu sih? Bukankah setiap orang pasti punya masa lalu ya. Dia pun memiliki masalalu yang sulit. Begitu juga dengan aku. Tapi kenapa sih dia nggak bisa menerimanya? Tapi wajar lah jika dia marah. Karna masalaluku itu Reno. Suami adiknya. Coba yang jadi masalaluku itu orang lain. Pasti dia tidak akan semarah ini.


Hari ini aku pulang kerja pukul 9 malam. Karna warung sangat ramai jadi aku harus lembur membantu menyelesaikan pekerjaan yang belum kelar. Gajiku diberikan dengan hitungan mingguan. Untuk hari libur, aku bisa minta liburku sebulan sekali saja.


Aku pulang jalan kaki dari warung ke kost. Sampai dihalaman rumah Bu Fitri, aku melihat mobil hitam yang terparkir disana. Aku amati mobil itu. Seperti nya aku kenal sama mobil ini. Tapi milik siapa ya? Aku diam disamping mobil itu, aku ingat-ingat lagi. Tapi nggak ingat juga. Ah sudah lah untuk apa mengingatnya.


Aku kembali berjalan menuju kamarku. Aku sudah tidak tahan dengan bau tubuhku. Aku harus cepat mandi dan tidur. Hanya itu yang aku pikirkan. Karna memang itu yang aku lakukan setiap pulang kerja. Jessy sampai heran. Sering dia mengajakku keluar untuk sekedar jalan-jalan. Tapi aku selalu menolaknya. Ya karna memang aku sangat lelah.


Sampai diujung kost. Terlihat hampir semua penghuni kost mengeluarkan kepalanya di jendela ataupun di bibir pintu. Seperti sedang mengintai binatang buas.


Ini mereka sedang apa sih. Kok aneh semua ya. Batinku. Tapi tak kupedulikan mereka. Aku tetap berjalan melewati beberapa kamar tanpa bertanya kepada mereka.


Aku berjalan santai dengan memegangi pinggangku yang terasa sangat pegal. Sampai didepan kamarku, aku mengetuk pintu. Bahkan aku tidak sempat menengok kanan kiri. Aku sudah sangat lelah. Tanpa aku sadari ada seseorang yang sedang duduk mengawasiku.


"Jessy, Jess. Aku pulang."


Tak perlu menunggu lama, Jessy langsung membukakan pintu untukku. Dia menarik lenganku untuk segera masuk ke kamar.


"Nova, kok lo nggak bilang sih kalau lo dah punya suami." Ucap Jessy dengan berbisik. Dia seperti takut ada yang mendengarkan pembicaraan kami.


"Kok lo bisa tau sih?" Aku balik nanya. Karna memang aku tidak pernah menceritakan pribadiku pada siapapun.


"Emang lo nggak lihat?" Dia balik nanya lagi.

__ADS_1


"Lihat apa?"


"Suami lo!"


"Apa??!!" Suaraku agak berteriak. Karna aku memang kaget. Tadi mereka penghuni kost semua aneh, apa karna Choky disini. Buru-buru aku melihat luar kamar. Aku hanya mengeluarkan kepalaku saja dari ambang pintu. Dikursi depan kamar, Choky duduk disitu sambil menatapku. Tatapan membunuhnya yang masih ada. Aku kembali memasukkan kepalaku kedalam kamar.


"Dia benar suamimu?" Tanya Jessy yang terlihat tak percaya.


Aku hanya mengangguk. Lalu aku masuk kekamar mandi. Dengan cepat aku membersihkan diri. Bergegas keluar mengganti pakaian.


"Nova, kok bisa sih lo punya suami yang sangat tampan dan keren begitu? Lo dah lama ya nikahnya? Elo kabur dari rumah? Suami ganteng gitu kok lo tinggal pergi sih?"


Pertanyaan Jessy yang berturut, aku hanya tersenyum saja.


"Gw temui suami gw dulu ya. Kita ngobrolnya nanti lagi."


"Kenapa berdiri disitu? Gantilah dengan pakaian terbaikmu, berdandanlah. Kita pergi sekarang." Ucapnya dengan tegas.


Bahkan dia tidak menanyakan keadaanku. Jahat sekali sih. Apa dia tidak khawatir denganku. Dan wajahnya sangat santai begitu, setidaknya dia mendekatiku, menciumku atau yang romantis-romantis lah. Bener-bener ya.


"Nggak mau pergi ya?" Ucapnya lagi. Karna aku masih diam tak bergerak.


"Ah iya iya. Aku dandan dulu."


"Waktumu hanya 7 menit. Jangan sampai lebih." lanjutnya.


Aku langsung berlari kedalam. Merias wajahku dengan cermin kecil ditangan. Jessy mendekatiku, duduk disebelahku.


"Nov, elo dah lama ya nikah sama dia?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


"Belum Jes. Baru sekitar 6 bulan."


"Suami lo artis ya? Kok bisa dapat yang ganteng gitu sih?"


Tak lagi aku tanggapi kata-katanya. Setelah selesai berdandan, aku mengambil tas kecilku.


"Gw pergi dulu ya Jes."


Lalu aku keluar kamar. Rambutku masih sedikit basah, jadi tidak aku ikat. Choky memperhatikanku. Ada kekaguman diwajahnya. Tapi dia tetap diam sok cool.


"Ayo pergi." Tanpa menggandeng tanganku, dia berjalan sendiri didepan. Dasar ya. Datang-datang begitu.


Melewati kamar kost yang lainnya. Wajah-wajah mupeng ngeliat cowok ganteng para penghuni kost yang semuanya wanita. Membuatku sangat risih. Tapi Choky terlihat biasa saja. Sepertinya dia sangat menikmati setiap mata yang menatapnya. Dasar ya. Giliran aku aja, dilirik pun nggak boleh. Aku menggerutu sendiri dalam perjalanan menuju mobilnya yang terparkir didepan rumah Bu Fitri.


Terlihat Bu Fitri sudah berdiri di samping mobil milik Choky. Pak supir sudah membukakan pintu untuk Choky.


"Buk, Nova ijin pergi sebentar ya." Ucapku pada Bu Fitri yang sedang memperhatikan aku dan Choky.


"Iya Nov. Hati-hati ya, suaminya dijaga baik-baik." Balasnya dengan tersenyum centil.


Hah,?? Buk Fitri juga tau kalau Choky ini suamiku. Dari mana dia tau sih. Aku kan nggak pernah bilang.


Aku mengikuti Choky masuk kedalam mobil. Duduk disampingnya. Pak supir pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah Bu Fitri.


"Kita mau kemana?"


"Kesuatu tempat untuk membunuhmu." Jawabnya dengan sangat lantang tanpa menatapku. Sunguh kata-kata yang membuat nyaliku menciut.


Apa dia benar-benar akan membunuhku? Bahkan wajahnya sulit untukku tebak. Apa aku kabur saja ya. Aku loncat dari mobil saja sekarang. Ah tapi aku akan benar-benar mati. Aku memilih diam meremas jari-jariku. Pikiranku jadi tak tentu. Rasa lelah karna seharian bekerja sudah hilang karna takutku.

__ADS_1


__ADS_2