Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 16(permintaan Papa)


__ADS_3

Malam hari, malam yang sama seperti kemarin. Choky tidur terlentang disampingku. Hanya mengucapkan kata "selamat malam semoga mimpi indah". Lalu dia tidur disampingku. Tidak menyentuhku.


Sudahlah tak apa-apa. Mungkin karna kakiku masih sakit, tak boleh banyak bergerak, jadi dia memilih tidur tanpa berbuat sesuatu dulu. Aku pun menyusulnya tidur mengarungi mimpi.


Semalam tidurku begitu nyenyak, sepertinya pagi ini aku tidak bangun kesiangan. Aku melihat Choky yang tidur disampingku. Tapi orangnya sudah tidak ada. Ini kan masih sangat pagi. Kemana dia? Bahkan ini hari minggu, dia tidak mungkin kerja kan.


Aku berusaha bangun dan mengambil tongkat di sebelah ranjang tidurku. Berjalan keluar kamar dengan penuh perjuangan. Aku melihat Mbok Tut sedang sibuk didapur.


"Mbok, apa Choky sudah berangkat kerja?"


"Tuan sedang olahraga dilantai atas Non."


"Oh, yasudah. Aku mau ketaman belakang saja."


Aku berlalu meninggalkan dapur. Berjalan menuju taman belakang. Ternyata berjalan hanya dengan satu kaki aktif itu tidak mudah. Sangat melelahkan. Aku duduk diruangan terbuka waktu itu. Sambil memandangi ikan-ikan yang ada dikolam kecil. Ternyata jadi pengangguran itu menjenuhkan. Aku meraih ponselku. Mencari nomor Erik, lalu menelfonnya.


"Hallo." Sapa Erik disebrang sana.


"Hallo Rik. Udah mau berangkat kerja ya?"


"Baru bangun Nov. Hari ini gw masuk siang. Tumben telfon. Ada apa?"


"Nggak ada apa-apa kok. Gw kangen kerja. Jadi pengangguran itu nggak enak."


"Masak sih? Padahal lo dulu sering ngeluh kecapean kerja. Bilangnya pengen nganggur."


"Kalau tiap hari kayak gini, lama-lama gw bisa mati dimakan waktu."


"Hahahahhh emang dasar Nova! Dari dulu nggak pernah berubah."


"Motor gw jadi belum ya Rik?"


"Belum Nov. Besok kalau dah jadi pasti langsung gw kabari."


"Eh, si Sesil gimana?"


Aku keasikan ngobrol sama Erik ditelfon. Bercanda tawa sampai aku bisa tertawa lepas. Tanpa kusadari ada sepasang mata yang melihatku dari tadi. Dia berada dilantai atas.


Beberapa menit kemudian, seseorang tiba-tiba berdiri disampingku. Menyilakan kedua tanggannya didepan dada. Dia masih dengan sepatu olahraganya, baju dan celananya yang penuh dengan keringat. Aku menatapnya, wajah Choky udah garang. Pasti dia marah. Tanpa ngomong dulu sama Erik, langsung aku matikan telfonnya.


"Choky, lo nyariin gw?" Aku berusaha tetap tenang. Berharap dia tidak marah seperti yang aku bayangkan.


"Telfon siapa lo? Pacar?" Pertanyaan yang mengintrogasi. Dengan nada marahnya. Mati kan gw.


"Bukan kok. Itu sahabat gw saat kerja ditoko."


"Yang lo peluk waktu diatas panggung itu?" Sahutnya


Aku nyengir. "Iya yang itu."


"Mana telfonnya." Dia menengadahkan tangannya meminta ponselku.


"Buat apa?" Apa dia akan menyita ponselku? Bukankah dia tidak mencintaiku? Kenapa dia begini? Bahkan dia tidak pernah menyentuhku sama sekali.


"Mana?" Perintahnya lagi.

__ADS_1


"Maaf Tuan, Tuan besar sudah menunggu di meja makan." Mbok Tut sudah berdiri dibelakang Choky.


"Ok. Aku mandi dulu." Balasnya.


"Baik Tuan." Lalu Mbok Tut menganggukkan kepalanya dan pergi.


"Panda, lo temenin Papa ngobrol dulu ya. Gw mau mandi dulu. Ayo." Dia mengajakku untuk kedepan menemui Papanya.


Dengan lembut dia memapahku berjalan. Aku kira dia akan benar-benar marah. Ternyata dia nggak marah. Aku tersenyum sendiri.


"Kenapa seyum senyum?" Tanyanya. "Mana ponsel lo? Kasih ke gw." Tangannya udah kembali menengadah.


Hah kok dia tau sih apa yang aku pikirin. aku pikir dia nggak jadi minta ponsel. Aku menatapnya, sedikit pasang muka memelasku. Berharap dia membatalkan permintaannya.


"Mana?"


Pintanya lagi karna aku cuma diam. Lalu aku meraih ponselku disaku rok yang kupakai. Dengan cepat dia ambil ponsel yang kugenggam. Dia pencet tombol on nya. Muncullah layar kunci utama.


"Buka!"


Cuma bisa nurutin perintahnya. Setelah aku membukanya, langsung dia ganti kode kunci layar utamanya. Lalu dia genggam dan kembali memapahku.


Diruang makan terlihat Papa duduk sendirian didepan meja yang panjang. Segera aku dan Choky menghampirinya. Dia terlihat terkejut melihatku berjalan dengan bantuan tongkat.


"Nova, kaki kamu kenapa?" Tanya Papa dengan cemas.


Aku dan Choky menyalami tangan Papa, mencium punggung tangannya. Lalu Choky membantuku duduk disamping Papa.


"Kemarin sebelum nikah aku kecelakaan Pa. Ini retak ringan. Tapi sekarang udah mendingan kok." Jelasku.


"Kemarin waktu di pesta itu, kok kamu bisa berdiri tegak? Nggak jalan pakai tongkat?"


"Iya waktu itu sudah sembuh Pa. Karna kelamaan berdiri, jadi bengkak. Tapi udah diobati kok. Ini udah mendingan."


"Syukurlah kalau gitu." Papa membuang nafas lega. "Nova kamu sudah kenal sama Vera?" Tanyanya kemudian.


"Adiknya Choky ya?"


"Iya dia adik tiri nya Choky. Kemarin baru saja menikah juga. Suaminya juga kerja di toko tempat kamu kerja lho. Namanya Reno. Kamu kenal dia nggak?"


Haduuhhh ngomongin Reno lagi. Jelas kenal Pa. Malah lebih dari kata kenal.


Aku tersenyum. "Kenal Pa."


"Dia itu pinter banget lho. Sopan dan baik. Dia dulu kerja dibagian apa?"


Kenapa Papa jadi nanya-nanya tentang Reno sih. "Dia dulu manager di bagian chacier. Dia atasan Nova."


"Waah berarti kalian dekat ya?"


Aku membelalak kaget ditanya begitu. Maksudnya apa ini? Papa lagi ngomongin apa sih.


"Papa mau minta tolong kamu buat deketin Choky dan Vera. Mereka itu nggak pernah akur. Papa ingin melihat mereka berdua akur layaknya adik kakak. Kamu kerjasama sama Suaminya Vera ya. Nanti Papa kasih nomor telfonnya."


Gubraakk

__ADS_1


Permintaan apa ini? Apa lagi ini? Berusaha untuk tidak lagi memikirkan Reno itu sulit. Lha ini permintaan apa?


Hatiku semakin berkecamuk. Ingin teriak sekencang-kencangnya. "Tapi Pa, kaya' nya itu nggak mungkin deh."


"Maksud kamu?"


"Choky nggk bakal ijinin aku buat dekat sama laki-laki lain selain dia Pa. Jadi nggak mungkin aku akan berhubungan dengan suaminya Vera."


"Emang Choky seperti itu ya?"


Hah jadi Papa nggak tau kalau anaknya seperti itu? Malah selalu ada ancaman juga.


Terlihat Papa tertawa kecil. "Papa seneng banget." Papa membenarkan kaca matanya. "Itu artinya Choky sudah menyayangimu. Dia memang sudah tertarik padamu sejak awal melihatmu. Papa lega sekarang."


Apa?? Choky menyayangiku? Tertarik padaku? Cih, Papa bisa bilang begitu karna dia belum tau saja. Sebenarnya Choky begitu kan karna dia nggak mau uangnya terbuang sia-sia. Memang pandai sekali dia untuk mengelabuhi orang.


Choky sudah muncul dengan celana pendek dan kaos warna maroon lengan pendek. Terlihat rambutnya yang masih sedikit basah. Duuuhh ganteng banget dia. Bibirnya, heemmm sexy sekali. Rasanya pengen cium dia. Tapi itu tidak lah mungkin. Dia duduk di samping Papa.


"Papa tumben pagi-pagi kesini? Ada apa?" Tanyanya setelah duduk.


Mbok Tut sudah selesai menyiapkan makanan diatas meja. Mengambilkan nasi untuk Papa, sekalian lauknya. Lalu Choky menatapku. Dia berkedip kedip seperti mengisyaratkan sesuatu. Tapi aku tak tau itu apa. Dia menepuk jidatnya sendiri.


Dia kenapa sih, dia nyuruh aku ngapain. Aku kan nggak tau. Aku lihat dia membalikkan piringnya. Oh, dia nyuruh ngambilin nasi juga. Punya tangan buat apa coba. Dasar aneh!


Aku berdiri, mengambilkan secentong nasi kepiringnya. "Sayang, kamu mau pakai lauk apa?"


Dia langsung mendongakkan kepalanya menatapku heran. Ya sepertinya dia akan marah nanti, karna aku sudah memanggilnya dengan panggilan begitu. Tapi wajahnya terlihat sedikit tersenyum. Papa pun tersenyum melihat kemesraanku dan Choky. Ah iya, ini mesra. Aku merasa seperti sedang main film saja.


"Sayur kacang sama ikan."


Beberapa menit berlalu, kami sudah selesai makan dengan tanpa bersuara. Papa pun memulai pembicaraannya.


"Papa mau bilang sama kamu Chok. Vera dan suaminya mau ikut tinggal disini."


Kaget tentunya. Satu rumah dengan Reno apa yang akan terjadi padaku? Apa aku akan menangis sehari-hari?


"Nggak boleh!" Bantah Choky dengan tegas. Seperti dia tau isi hatiku yang juga menolaknya.


"Lho, kenapa nggak boleh?"


"Dia punya uang juga kan? Kenapa nggak beli rumah? Kenapa harus numpang disini?"


"Ini kan rumah keluarga Chok. Dia kan juga bagian dari keluarga kita."


"Dia bukan keluargaku Pa. Aku nggak pernah anggap dia keluarga."


"Choky,..."


"Kalau sampai dia tinggal disini, aku yang akan pergi dari sini." Lalu Choky pergi meninggalkan Papanya.


Papa menatapku penuh permintaan. Pliiss Pa, jangan memintaku untuk membujuk Choky. Karna aku sependapat dengannya.


"Nova, tolong bujuk Choky ya. Cuma kamu harapan Papa satu-satunya." Pinta Papa dengan wajah yang bikin nggak tega buat menolaknya.


Aku hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepala saja. "Nanti Nova coba ya Pa."

__ADS_1


__ADS_2