Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 37(pertemuan Erik dan Reno)


__ADS_3

Disebuah Rumah Sakit tepatnya didalam ruangan ICU.


Reno membuka matanya, tak dilihatnya Nova ada dipangkuannya lagi. Dia menyisir ke seluruh sudut ruangan, tapi tetap tak ada.


Sial, pasti dia sudah pulang kan. Padahal gw pengen melo-melo an sama dia. Umpatnya kesal. Apa gw telfon dia aja ya, gw suruh dia kemari. Tapi apa alasannya? Gw nggak punya alasan yang tepat. Dia memutar otaknya kembali. Cukup lama.


Lalu dia mencari nomor-nomor di ponselnya. Menelfon seseorang.


"Hallo, hari ini elo ada waktu nggak?" Tanyanya pada yang ditelfon.


"Ok. gw kerumah elo ya." Lalu dia tutup telfonnya.


Dia masuk kamar mandi, cuci muka lalu keluar lagi. Duduk disebelah istrinya. Dia genggam tangan istrinya, terasa ada sedikit pergerakan ditangan Vera.


"Ver, kamu sudah sadar?" Tanyanya dengan lembut.


Vera masih merem melek, dia belum sadar sepenuhnya. Reno langsung memencet bel diatas tempat tidur Vera.


"Mas...." Ucap Vera dengan sangat lirih.


"Iya sayang."


"Aku kenapa Mas." Suaranya masih terdengar tidak jelas.


"Kamu sakit. Jangan banyak gerak dulu ya."


Tak lama kemudian, seorang dokter dan dua orang suster datang.


"Biar saya periksa dulu ya Pak." Kata Dokter itu.


"Silahkan Dok." Reno mundur menyingkir dari samping Vera.


Cukup lama, ada suntikan juga yang diberikan oleh Dokter. Hingga Vera kembali memejamkan mata.


"Dia sudah melewati masa kritisnya. Tapi dia masih butuh istirahat penuh. Kami akan memindahkannya diruang rawat." Tutur Dokter itu.


Reno tersenyum bahagia. "Terimakasih Dok."


Setelah mengurus pemindahan ruang rawat Vera, dia langsung menelfon Mama mertuanya. Memberi kabar tentang keadaan Vera saat ini. Dan dia juga bilang jika ada keperluan penting. Jadi harus pergi sebentar.


Reno melajukan mobilnya dengan santai menuju kawasan rumah elit didaerah G. Dia menghentikan mobilnya tepat dideretan rumah paling ujung. Keluar dari mobil, langsung berjalan menuju pintu rumah itu dan memencet bel. Tak lama kemudian seorang lelaki membukakan pintu itu. Erik, sahabat Reno dulu.


"Masuk Ren." Ucapnya pada Reno.


Mereka berdua masuk kedalam dan duduk diruang tamu. Erik yang sudah tau sahabatnya akan berkunjung, dia sudah menyiapkan dua gelas minuman diatas meja.


"Tumben lo main kesini. Ada apa?" Tanya Erik.


"Gw butuh bantuan elo." Jawab Reno tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Apa yang bisa gw bantu?"


"Bantuin gw dekat sama Nova lagi ya."


Mata Erik membulat kaget. "Gw nggak salah dengar kan?"


"Rik, elo tau kan. Dari dulu gw cinta sama Nova. Gw nikah sama Vera karna nyelamatin pabrik keluarga gw."


Erik mencibirkan bibirnya. "Gw semakin nggak ngerti sama elo Ren." Erik mendegus kesal. "Maksud elo gimana?"


"Gw nyesel udah ninggalin dia."


"Elo sendiri yang bilang sama gw kalau Nova itu sudah nggak perawan kan? Dan karna itu elo nggak mau mempertahankan dia. Gw masih ingat kok."


"Gw salah Rik. Dia masih perawan. Hanya saja memang tidak ada selaput darahnya."


"Elo ngomongin apa sih Ren gw nggak ngerti."


"Jomblo nggak akan ngerti."


Erik melotot kesal. "Kalau gitu kenapa elo minta tolong ke gw? Gw kan jomblo." Balas Erik ketus.


"Maaf, gw cuma bercanda." Reno tertawa kecil.


"Terus sekarang mau lo apa?"


"Jadi elo nggak suka ya lihat dia bahagia seperti saat ini?"


"Gw mau dia bahagianya sama gw. Bukan yang lain."


"Ren, hidup elo sekarang kurang apa sih? Istri elo cantik. Jabatan, elo juga punya. Uang dan kekayaan sudah ada semua."


"Ada yang belum elo tau."


"Apa??"


"Istri gw baru saja operasi pengangkatan rahim."


Wajah Erik terlihat sangat kaget. "Jadi karna ini elo pengen balikan sama Nova lagi?"


Reno diam. "Ya bukan hanya karna itu sih."


Erik geleng-geleng kepala. Dia tak menyangka sahabat baiknya menjadi seperti ini. Reno adalah teman Erik sejak sekolah di SMA sampai kuliah. Hingga mereka berada dalam satu perusahaan. Sama-sama menjadi manager dibagian yang berbeda. Reno mulai melirik Nova sejak Nova magang di supermarket tempat mereka bekerja. Reno selalu menceritakan semua perasaannya pada Erik. Dan Erik lah yang membantu melancarkan setiap pertemuan mereka. Hingga hubungan mereka berjalan sangat lama. Yang akhirnya Reno menyimpang jalan. Dia mulai mengkhianati Nova tanpa Nova tau.


"Ren, elo nggak pernah tau kan, perasaan Nova dulu seperti apa. Dia sangat mencintai elo. Elo cinta pertamanya, elo pacar pertamanya Nova. Dia sudah menyerahkan seluruh hidupnya sama elo. Tapi dengan sangat mudah elo pergi ninggalin dia. Pernah nggak sih elo mikirin sakit nya dia gimana?"


Reno hanya diam mencerna ucapan Erik. "Gw tau Rik. Makanya gw mau menyembuhkan lukanya."


"Sekarang lukanya sudah sembuh Ren. Suaminya Nova itu sangat mencintai Nova. Bahkan cintanya dia lebih hebat dari pada cinta elo."

__ADS_1


"Elo kan jomblo Rik." Sanggah Reno lagi. Karna dia merasa jika dia lebih berpengalaman dibanding Erik.


Erik langsung melemparkan bantal kecil kearah Reno. "Lama-lama gw cekik juga lo!"


"Iya iya maaf. Cuma gw herannya, gimana elo bisa tau kalau cinta suami Nova lebih hebat? Emangnya elo dekat sama dia?"


"Ren, elo nggak tau setelah elo tinggalin, gimana sakitnya Nova. Dia benar-benar terpuruk. Hari-harinya cuma nangis terus. Apalagi elo udah pernah nidurin dia. Itu membuatnya lebih sakit. Dan dengan alasan elo itu. Dia gila Ren."


"Iya gw memang sudah menidurinya. Dan itu juga membuat gw nggak bisa move on sama lekuk tubuhnya dia. Apa lagi setelah dia menikah ini. Body nya tambah bohai. Gw jadi keinget dia terus."


"Ppcckkk.... Ren..Ren..." Erik benar-benar tak habis pikir dengan temannya ini. Ternyata Reno begitu mesum.


"Choky kok bisa sih nerima keadaannya Nova yang sudah nggak perawan. Dan nggak perawannya itu sama gw. Adik iparnya sendiri. Kok bisa sih dia dengan mudah menerima Nova. Benar-benar heran gw. Kok ada sih orang kaya' Choky."


"Elo tu yang aneh!" Sanggah Erik.


"Sekarang gw cuma punya satu cara untuk bikin Choky ninggalin Nova."


"Udah deh Ren. Jangan mikir gila lagi."


"Elo harus bantuin gw ketemuan sama Nova tanpa pengawasan Choky."


"Maksudnya?" Erik mengeryitkan keningnya. Dia semakin nggak ngerti.


"Gw pengen ketemu sama Nova tanpa ada yang ngikuti dia."


Lagi, Erik mengeryitkan keningnya. "Emang siapa yang ngikutin Nova?"


"Pembantu tuanya itu. Dia selalu mengikuti Nova kemana-mana. Gw jadi nggak leluasa deketi dia. Lo bantu gw ya."


"Apa rencana elo?"


"Gw pengen ajak dia makan bareng."


"Cuma itu?" Erik masih tak percaya. Pasti ada rencana yang lainnya juga.


"Ya..... cuma itu." Erik tau, dari wajah Reno, bukan cuma itu yang direncanakan Reno.


"Ren gw peringati elo ya. Kalau sampai lo berani nyakiti Nova untuk yang ke dua kalinya. Elo akan berhadapan sama gw! Gw nggak akan tinggal diam." Tantang Erik dengan sangat serius.


Sekarang gantian Reno yang bingung. "Elo kan temen gw. Kenapa elo jadi belain Nova?"


"Gw akan belain yang benar. Gw yang dampingi Nova saat dia terpuruk. Saat dia lo jatuhin didasar jurang. Betapa sulitnya buat naik ke atas lagi. Elo nggak akan tau itu. Gw nggak akan pernah rela elo sakiti dia lagi."


"Kaya'nya gw ngomong sama orang yang salah deh."


Reno langsung berdiri. Wajahnya penuh kekecewaan. Dia kecewa karna Erik harapan untuk melancarkan rencananya ternyata malah memihak ke Nova dan Choky.


"Gw pulang." Tanpa berkata lagi. Reno langsung keluar dari rumah Erik.

__ADS_1


__ADS_2