
Dengan tiba-tiba Reno memelukku. Dia memelukku sangat erat. Aku berusaha untuk tidak baper. Tapi sungguh, pelukan yang hangat, masih sama seperti yang dulu.
"Ren apa yang kamu lakukan? Lepaskan Ren." Aku berusaha melepaskannya. Tapi tubuhnya lebih kuat dariku. Aku pukuli punggungnya, berharap dia melepaskanku.
"Beib, maafkan aku. Aku menyesal sudah meninggalkanmu. Aku baru menyadari setelah menikah. Hanya kamu yang aku cintai." Bisiknya lirih. "Aku merindukanmu Beib."
Mendengar kata-kata Reno, air mataku langsung menetes tak bisa kutahan. Hatiku kembali terasa sangat perih.
"Maafkan aku yang sudah sangat bodoh. Aku tau itu pertama kalinya kamu melakukan padaku. Maafkan aku Beib. Aku mencintaimu. Aku masih sangat mencintaimu."
Kenapa baru sekarang Ren, kenapa kamu seperti ini? Aku juga masih mencintaimu. Dan rasa cintaku yang dalam itu, sekarang telah berubah menjadi rasa sakit yang sulit untuk aku sembuhkan. Kamu jahat Reno. Aku menagis, terus menangis dipelukan Reno.
Perlahan, Reno melepaskan pelukannya. Dia usap pipiku dengan lembut. "Maafkan aku Beib. Maafkan aku ya."
Saat itu juga, aku langsung berlari kekamar. Di depan pintu kamar, aku mengusap mataku. Mengatur nafasku agar Choky tak curiga. Lalu kubuka pintu perlahan. Choky masih ada ditempat semula. Aku menaruh botol minum itu dimeja. Lalu berbaring lagi disamping Choky. Aku menatap wajahnya, wajah yang sangat tampan. Dia juga baik, bahkan dia juga sangat mencintai aku. Tapi apa yang ada didalam hatiku. Aku belum bisa mencintainya. Hatiku seperti tertinggal direlung hatinya Reno. Rasa bersalah pada perasaan Choky. Aku kembali menangis. Entah berapa lama aku menangis, sampai aku tertidur.
--------------------
Merasakan sentuhan yang kenyal di keningku, lalu di pipi kiriku, pipi kanan, terakhir di bibir, cukup lama. Hingga aku membuka mataku.
Wajah Choky berada tepat didepan mata. Dia terdiam mencium bibirku. Aku tersenyum melihatnya. Langsung aku tarik dia hingga menindihku.
"Hey, kemejaku bisa kusut nanti." Teriaknya.
Kemeja? Choky sudah pakai kemeja? "Jam berapa sekarang?" Aku gelagapan langsung bangun, mencari ponselku. "Ah, aku bangun kesiangan."
"Tidak apa-apa sayang. Memangnya mau ngapain harus pagi-pagi?"
"Menyiapkan sarapan untuk keluarga. Papa kan ada disini."
"Tak perlu Pan. Aku sudah membuat sarapan untuk kita berdua. Kita sarapan dikamar saja." Choky membawa nampan yang berisi roti lengkap dengan selai dan dua gelas susu.
"Sayang, tapi kan Papa diluar."
"Memangnya kenapa?"
"Ya kan nggak enak sama Papa."
"Salah siapa membawa lali-laki masuk rumah. Pake acara nginep. Aku nggak suka liat dia memperhatiin kamu terus."
"Siapa?"
"Kamu nggak ngerasa?"
Jadi bukan hanya perasaanku saja. Reno memang memperhatikanku. Bahkan Choky pun menyadarinya.
__ADS_1
"Aku cuci muka dulu."
Masuk kamar mandi, sikat gigi, cuci muka. Setelah itu menemani Choky sarapan sebelum kerja. Aku sibuk mengoles selai di roti. Sedangkan Choky sibuk dengan laptopnya.
"Panda ingat ya, jangan dandan. Keluar kamar pakai sweater dan celana panjang. Atau rok panjang atau jaket." Tuturnya dengan menatapku.
"Iya sanyang." Mulai lagi dia. Apa sebegitu takutnya dia kehilangan aku?
"Lihat itu baju yang kamu pakai, seperti tidak pakai baju saja. Semua kelihatan dari luar."
"Oh ini. Semalam aku sengaja memakainya karna ingin membuat si anu berdiri. Tapi sepertinya sia-sia saja." Jelasku sambil memanyun manyunkan mulutku. "Menyebalkan bukan?" Aku mulai memakan roti yang sudah kuolesi selai. Choky terlihat menahan tawa mendengar ucapanku.
"Pantas saja aku menemukanmu menangis. Jadi karna kamu pengen main tapi nggak ada lawan ya?"
Aku melototinya. Jadi dia tau saat aku menangis semalam. Tapi syukurlah dia tidak tau jika aku menangisi perasaanku. Aku memanyunkan mulutku.
"Hey, bukankah yang membutuhkan bayak energi itu aku. Kenapa jadi kamu yang makan sendiri? Mendekat sini. Suapi suamimu." Perintahnya.
Aku pun mendekatinya, berdiri disebelahnya. Lalu mulai menyodorkan sesuap roti untuknya. Choky menutup laptopnya, dia taruh diatas meja.
"Sini." Sambil menepuk-nepuk pahanya.
Apa maksudnya? Apa celananya kotor lalu menyuruhku untuk mengelapnya? Dia selalu membuatku bingung. Karna aku hanya diam tak bergerak, dia tarik lenganku hingga aku duduk dipangkuannya. Aku sangat terkejut melihat tingkahnya yang seperti ini. Karna kemarin-kemarin dia tidak begini. Apa karna kehadiran Reno dirumah ini ya?
"Sayang, kamu ini apa-apaan sih. Nanti celana kerjamu jadi kusut." Aku hendak berdiri, tapi dia malah melingkarkan tangannya diperutku.
"Panda, apa kamu sedang mencoba menggodaku?" Dia bicara tepat didepan payudaraku. "Panda, kamu tau kan, menahan itu menyakitkan."
"Sayang, kalau begitu, lepaskan tanganmu. Biarkan aku turun ya."
"Panda, bisakah kamu hari ini mencari informasi tentang pengobatan alternatif?"
"Tentu sayang. Aku pasti akan membantumu." Aku tersenyum kemudian mencium bibirnya. Dari dulu, aku menyukai bibir manis Choky. Bibirnya sngat sexy. Tapi sayang dia belum memiliki apa yang dimiliki manusia normal.
"Aku akan setia menunggumu sembuh sayang." Bisikku. Dia pun tersenyum mendengarkan pernyataanku. Lalu dia mulai mencium bibirku. Dan memelukku erat. Ya hanya begini yang bisa kita lakukan.
Selesai sarapan, Choky menyuruhku untuk mandi dan memakai pakaian yang seperti dia inginkan. Tanpa merias wajah, dia langsung menggenggam erat tanganku. Meminta agar aku mengantarkannya keluar hingga berangkat meninggalkan rumah.
Selesai mengantarkan Choky, aku memasak didapur, Mbok Tut sedang mencuci baju di belakang. Tadi nggak jadi makan roti karna akhirnya dimakan Choky semua. Selesai memasukkan beras kedalam magicom, lalu beralih mengupas bumbu. Merasa seperti ada yang memperhatikanku, akupun menoleh kebelakang. Benar saja. Aku melihat Reno berdiri bersandar dinding. Dia sedang memperhatikanku.
"Kamu nggak gerah ya masak pakai baju seperti itu?" Ucapnya dengan terus memperhatikanku.
Aku hanya diam tak menanggapinya. Aku tak ingin terlibat obrolan dengan dia. Harus jaga jarak. Dia sudah beristri, begitu juga dengan aku.
"Nova, kamu bikin apa? Tadi aku juga belum sarapan lho. Nanti bagi ya."
__ADS_1
Aku tetap diam. Terserah dia mau bicara apa. Aku tak akan mempedulikannya.
"Kenapa cuma diem? Nggak boleh minta ya?"
"............."
"Aku bantuin ya."
".............."
Dia mulai berjalan mendekatiku. Aku mulai geram melihat tingkahnya.
"Jangan mendekat!" Teriakku sambil mengacungkan pisau kearahnya. Tapi dia tetap mendekatiku.
"Kamu nggak akan mungkin menyakitiku Nov." Dia meraih pisau ditanganku. Lalu memepetku hingga aku terpepet didinding. Dia genggam erat tanganku.
"Jangan gila Ren! Kamu sudah punya istri. Aku juga sudah punya suami."
Dia tertawa kecil. "Vera sudah berangkat kekampus. Papa sudah pergi kerja. Suamimu juga sudah pergi kan? Lalu tinggal kita berdua dirumah ini." Dia mulai menyentuh pipiku dengan tangannya yang satu.
"Kamu mau apa? Disini masih ada Mbok Tut." Dia meraba bibirku. Perasaanku jadi tak karuan. Tatapan Reno yang terlihat penuh nafsu. Seperti dia akan memakanku habis.
"Aku kangen bibir ini Beib. Aku tau tadi sebelum kalian keluar kamar, pasti dia sudah menghisap bibirmu."
"Apa sih yang kamu inginkan?" Suaraku sudah terdengar serak karna menahan tangis.
"Beib, aku hanya merindukanmu. Jangan menangis. Aku tak mungkin menyakitimu."
"Apa aku boleh menciummu?" Tangannya sudah memegang tengkukku. Dia yang dulu begitu kupuja, entah sekarang terlihat begitu menakutkan. Aku benar-benar menangis.
"Baby, apa aku sudah menyakitimu? Aku bahkan hanya menyentuhmu saja."
"Aku mohon Ren, jangan seperti ini. Aku takut."
"Aku menyayangimu Baby. Aku tak akan menyakitimu. Aku hanya ingin menyentuh setiap lekuk tubuhmu. Aku merindukannya." Dia mulai meraba dadaku. Aku langsung menepis tangannya dengan kasar.
"Jangan gila Ren! Aku tidak mau mengecewakan suamiku."
"Bukankah kamu masih mencintaiku? Apa kamu tidak merindukan sentuhanku? Apakah permainannya lebih memuaskan dari pada aku?"
Aku mendorong tubuhnya, hingga dia agak menjauh dariku. "Lepaskan tanganku! Atau aku teriak!" Aku melihat Mbok Tut dari pantulan kaca etalase tempat piring.
"Tuan Reno, apa yang sedang anda lakukan?"
*Maaf gaes, bar sempet posting. Hari ini agak sibuk. Maaf ya. Terimakasih sudah mampir membaca tulisan saya. Terimakasih untuk like dan koment nya.
__ADS_1
Salam kenal dari saya -wong jogja-